KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI



BAB I
PROSES KOMUNIKASI INSANI

APAKAH KOMUNIKASI INSANI ITU ?

 Komunikasi didefinisikan secara luas sebagai “berbagi pengalaman”. Sampai batas tertentu, setiap makhluk dapat dikatakan melakukan komunikasi dalam pengertian berbagai pengalaman.
 Komunikasi insani sebagai “proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih”.
 Pandangan transaksional memberi penekanan bahwa anda mengalami perubahan sebagai hasil terjadinya komunikasi.
 Perspektif transaksional memberi penekanan pada dua sifat peristiwa komunikasi, yaitu serentak dan saling menpengaruhi.

KOMUNIKATOR 1 : Pengirim/Penerima

Indera komunikator 1 diterpa oleh serangkaian rangsangan dari luar maupun dari dalam dirinya secara berkesinambungan. Semua pengetahuan dan pengalamannya dalam dunia fisik maupun sosial, diperoleh pertama kali – melalui inderanya. Seluruh rangsangan yang telah berlalu maupun yang sedang terjadi, yang memberikan informasi kepada kita mengenai dunia seisinya, kita namakan – meminjam terminologi komputer – masukan data mentah (rawdata input).

PESAN

 Verbal
 Non verbal
 Disengaja (intentional)
 Tak disengaja (unintentional)

Empat jenis pesan :

1. verbal disengaja.
2. verbal tak disengaja.
3. nonverbal disengaja.
4. nonverbal tak disengaja.

Pesan verbal.

Pesan verbal adalah semua jenis komunikasi lisan yang menggunakan satu kata atau lebih.
o Pesan verbal disengaja; yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan.
Aspek paling unik dalam komunikasi insani adalah penggunaan lambang-lambang verbal. Kata semata tidak memiliki makna apapun. Haney (1992) menamai hal ini sebagai “kesalahan wadah” (container fallacy).
Dengan kata lain, tidak benar bila kita menyakini bahwa makna dibawa atau dikandung atau diwadahi oleh kata-kata.
o Pesan verbal tak disengaja adalah sesuatu yang kita katakan tanpa bermaksud mengatakan hal tersebut.
o Pesan non verbal : ekspresi wajah, sikap tubuh, nada suara, gerakan tangan, cara berpakaian, dan sebagainya. Pesan-pesan itu meliputi semua pesan yang disampaikan tanpa kata-kata atau selain dari kata-kata yang kita pergunakan.
o Pesan non verbal disengaja : yaitu pesan nonverbal yang ingin kita sampaikan.
Misalnya, anda dapat menyapa seseorang dengan senyuman dan anggukan kepala atau anda dapat mengatakan “Halo” sekaligus sambil tersenyum atau melambaikan tangan.
o Pesan non verbal tak disengaja : adalah semua aspek non verbal dalam perilaku kita yang kita sampaikan tanpa kita kontrol.
“Bila kemampuan anda berkomunikasi meningkat, semakin berkurang pesan tak disengaja yang anda sampaikan”.

SALURAN

Saluran komunikasi tatap-muka adalah organ pengindera : pendengaran, penglihatan, dan perabaan.
Saluran dalam komunikasi organisasional adalah laporan berkala perusahaan, papan pengumuman, “bulletin boards”, memoranda. Dalam komunikasi massa, saluran utama adalah surat kabar, film, radio, dan televisi.

GANGGUAN.

Gangguan (interference) atau kegaduhan (noise), yakni segala sesuatu yang mengubah informasi yang disampaikan kepada penerima atau mengalihkannya dari penerimaan tersebut. Dalam teori komunikasi, interference dan noise merupakan istilah yang sinonim. Interference merupakan kata yang lebih sesuai, namun karena kata noise merupakan istilah pertama yang dipakai dalam bidang telekomunikasi.

Gangguan dapat dibedakan atas dua jenis : gangguan teknis dan gangguan semantik.
 Gangguan teknis adalah faktor yang menyebabkan si penerima merasakan perubahan dalam informasi atau rangsangan yang tiba.
 Gangguan semantik : muncul bila penerima memberi arti yang berlainan atas sinyal yang disampaikan oleh pengirim..

KOMUNIKATOR 2 : Penerima/Pengirim

MENDENGARKAN

Mendengarkan (listening) dan mendengar (hearing) bukanlah dua kata yang sinonim. Bila komunikator 2 (penerima/pengirim) sedang mendengarkan, ada empat proses berbeda – yang saling berkaitan – yang terlibat: memperhatikan, mendengar, memahami, dan mengingat.
Penerimaan pesan oleh komunikator kedua pada gambar 1.1 baru merupakan separuh jalan dari proses yang sedang berlangsung serta berkesinambungan – yakni komunikasi, sebab setiap penerima pesan juga merupakan pengirim pesan, oleh karena itu dinamakan “penerima/pengirim. Lebih lanjut lagi, keunikan orang tersebut sebagai manusia memastikan bahwa usahanya dalam berkomunikasi dapat amat berbeda dari usaha orang lain dalam model tersebut. Sebagai contoh latar belakang budaya komunikator 2 mungkin amat berbeda dari latar belakang budaya komunikator 1. Filter mereka, baik fisiologis atau psikologis, dapat berlainan. Lalu rangsangan yang mereka sampaikan juga tidak sama. Bahkan tidak hanya itu, pemilihan saluran dan sumber kesulitannya pun dapat berlainan.
Penyampaian dan penerimaan pesan tunggal hanya sebagian dari model ini. Komunikasi tatap muka khususnya ditandai oleh kesalingbergantungan para pelakunya serta umpan balik yang eksplisit dan segera di antara mereka.

UMPAN BALIK.

Luft (1969) menyatakan umpan balik (feed back) sebagai “balasan atas perilaku yang anda perbuat”. Bila umpan balik hanya dipandang sebagai istilah dalam konteks antarpersona saja, kita dapat lebih cermat lagi dan mengatakan bahwa umpan balik dapat memperteguh perilaku tertentu dan meniadakan perilaku lainnya. Misalnya, seorang dosen psikologi yang mengajarkan prinsip-prinsip “instrumental learning” dapat dikondisikan oleh para mahasiswanya. Para mahasiswa memutuskan untuk memberinya peneguhan dengan cara rajin mencatat, memperhatikan dengan baik, dan melontarkan pertanyaan bila ia bergerak ke arah kanan kelas. Bila ia bergerak ke kiri, para mahasiswa berusaha menghentikannya dengan cara tidak mencatat, tidak memperdulikannya, serta tidak melontarkan pertanyaan. Sejak menyadari hal ini, sang dosen selalu mangajar sambil berdiri di sudut kanan kelas.
Dengan mengakui adanya kesalingbergantungan berarti anda dipaksa untuk bertanya pada diri sendiri apa yang anda lakukan sehingga menerima respons seperti itu, dan apa yang dapat anda lakukan agar menerima respons sesuai dengan yang anda inginkan. Komunikator yang menyadari kesalingbergantungan ini juga akan menyadari bahwa masalah komunikasi merupakan hasil kontribusi bersama. Tidak ada seorang pun yang seluruhnya benar dan yang lainnya seluruhnya salah.

“Jadi, umpan balik merupakan ciri penting dalam suatu hubungan; ia berperan sebagai sumber informasi penting mengenai diri sendiri”.

WAKTU

Begitu komunikator 2 memberi respons pada komunikator 1, maka interaksi mereka dapat dilukiskan oleh sebuah lingkaran. Namun karena interaksi tersebut berlangsung terus sejalan dengan berlalunya waktu, hubungan di antara mereka akan lebih tepat lagi bila digambarkan dalam beberapa lingkaran. Sebenarnya, semua interaksi ini – kecuali yang paling singkat – memerlukan beberapa siklus komunikasi. Oleh karena itu, waktu merupakan unsur terakhir dalam model komunikasi ini.
Model spiral (atau helix) memberi tekanan pada pengaruh perilaku lampau atas perilaku masa kini ataupun perilaku yang akan datang. Dance (1967) menjelaskan hal ini sebagai berikut :
Setiap saat dan kapan saja, helix memberikan bukti geometrik yang mendukung konsep, bahwa ketika komunikasi bergerak ke muka ia juga bergerak mundur dengan sendirinya pada saat yang bersamaan dan gerakan ini dipengaruhi oleh gerakannya yang terdahulu… Proses komunikasi, sama seperti helix, bergerak maju secara konstan dan sampai tingkat tertentu selalu bergantung pada keadaan yang telah berlalu, yang menjelaskan keadaan sekarang dan yang akan datang. (hlm. 295)

Bentuk spiral juga menjelaskan bahwa peserta dalam proses komunikasi tidak dapat kembali ke keadaan awal. Hubungan yang terjadi pasti mengalami perubahan sebagai hasil setiap interaksi.
Dance (1967) menyimpulkan masalah ini dengan amat baik sehingga kita cukup mengutip pernyataannya sebagai berikut :
Alat untuk meneliti sesuatu yang statik dan tidak bergerak, amat berbeda dengan alat untuk meneliti sesuatu yang berjalan konstan, selalu bergerak dan berproses. Bila komunikasi dipandang sebagai suatu proses, kita harus menyesuaikan penelitian kita dan alatnya dengan sesuatu yang juga bergerak – sesuatu yang berubah bersamaan dengan penelitian yang kita lakukan. (hlm.293-294)

Conner (1993) mengemukakan bahwa kebanyakan orang yang disurvei belakangan ini menunjukkan bahwa kehidupan tampaknya berubah dengan kecepatan yang lebih besar daripada yang pernah terjadi selama ini. Ketegangan yang ditimbulkan oleh banyaknya tugas dalam waktu yang teramat sempit, ikut berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas komunikasi modern masa kini.

KONTEKS KOMUNIKASI

Ada enam konteks yang banyak dipakai dalam literatur komunikasi, yaitu :

1) Komunikasi dua- orang,
2) Wawancara,
3) Komunikasi kelompok – kecil,
4) Komunikasi publik
5) Komunikasi organisasional dan
6) Komunikasi massa.

Meskipun setiap konteks komunikasi memiliki ciri khusus, semuanya memiliki kesamaan yang merupakan proses menciptakan makna di antara dua orang atau lebih.

Komunikasi Dua-Orang

Komunikasi dua-orang atau komunikasi diadik (dyadic communication) adalah satuan dasar komunikasi.
Peristiwa komunikasi dua-orang mencakup hampir semua komunikasi informal dan basi-basi, percakapan sehari-hari yang kita lakukan sejak saat kita bangun pagi sampai kembali ke tempat tidur. Komunikasi diadik juga merupakan komunikasi yang mencakup hubungan antar manusia yang paling erat, misalnya komunikasi antara dua orang yang saling menyayangi.

Wawancara

Wawancara seringkali didefinisikan sebagai percakapan dengan maksud tertentu. Wawancara biasanya melibatkan dua orang, jadi dipandang sebagai bentuk komunikasi diadik yang khusus. Wawancara terutama ditujukan untuk melaksanakan maksud yang jauh lebih spesifik dibandingkan dengan kebanyakan komunikasi dua-orang lainnya. Ada banyak jenis komunikasi dua-orang yang dapat disebut wawancara, misalnya pembicaraan dengan calon pegawai yang melamar pekerjaan, konsultasi dengan professor mengenai tugas akhir, pembicaraan dengan pengamat pasar untuk menguji kekuatan suatu produk, atau dengan jaksa penuntut berkenaan dengan suatu kesaksian.

Komunikasi Kelompok – Kecil

Komunikasi kelompok-kecil diartikan sebagai “ proses pertukaran pesan verbal dan nonverbal antara tiga orang atau lebih anggota kelompok yang bertujuan untuk saling mempengaruhi. Seperti : di masjid, gereja, dalam lingkungan sosial, dalam organisasi, dalam bidang pengobatan, dan lain-lain.
Dinamika kelompok adalah bidang penelitian yang menarik untuk dikaji, yang cenderung diarahkan pada komunikasi kelompok-kecil yang berkecimpung dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Dengan demikian, komunikasi kelompok-kecil lebih banyak dilakukan sebagai cara untuk menyempurnakan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam kelompok. Tim kerja pengarahan-diri (self-directed work team) adalah suatu contoh kelompok kecil yang didirikan untuk menyempurnakan kinerja organisasi.

Komunikasi Publik

Konteks ini sering dinyatakan sebagai “berpidato di depan umum” (public speaking). Ada beberapa cirri yang dimiliki oleh konteks ini :
1. komunikasi publik lebih sering muncul di tempat umum daripada di tempat pribadi, misalnya: di auditorium, ruang kelas, ruang pertemuan, dan sebagainya.
2. komunikasi publik relatif lebih formal dibandingkan dengan komunikasi yang informal serta tidak terstruktur. Biasanya, masalah yang dibicarakan sudah direncanakan sebelumnya. Dalam wisuda sarjana, misalnya, dihadirkan sejumlah pembicara termasuk seorang pembaca doa dan beberapa orang untuk acara penyerahan penghargaan.
3. sejumlah norma yang cukup jelas, yang harus dipatuhi. Misalnya, pertanyaan hanya boleh diajukan bila si pembicara telah menyelesaikan pembicaraannya.

Dengan demikian, pembicara dalam komunikasi publik biasanya memerlukan persiapan yang matang, dan ia harus menghadapi keadaan yang lebih formal daripada dalam komunikasi dua-orang dalam komunikasi kelompok-kecil.

Komunikasi Organisasional

Komunikasi organisasional didefinisikan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling bergantung. Misalnya dalam perusahaan, rumah sakit, lembaga keagamaan, pemerintahaan, organisasi militer, maupun lembaga akademik.. Peranan komunikasi dalam meningkatkan atau menurunkan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Wall dan Rekan (1992) menyatakan :
Hierarki lama telah berakhir. Masa depan perusahaan bergantung kepada kepemimpinan, kepercayaan, dan partisipasi. Satu-satunya cara untuk mewujudkan hal-hal tersebut adalah melalui perluasan wawasan.
Penekanan yang lebih besar terletak pada perbaikan yang berkesinambungan. Di Jepang, dikenal dengan istilah “kaizen” (kai berarti “perubahan” dan zen berarti “baik” atau yang lebih baik”) (Imai, 1986). Contoh mengenai hal ini adalah kisah sejumlah pembeli yang sedang antri (ini bisa terjadi di mana-mana) menunggu giliran dilayani. Seseorang yang berada pada antrean depan ternyata mendapat layanan yang cukup baik; hal ini membuat yang lainnya marah. Mereka berkata: “Memangnya kamu ini siapa hingga diistimewakan? Seharusnya anda mendapat pelayanan yang sama buruknya dengan yang kami semua terima”. Ini hanya suatu indikasi bahwa organisasi harus terus berusaha keras agar selalu lebih baik daripada sebelumnya.

Komunikasi Massa

Konteks yang keenam adalah komunikasi yang menggunakan media. Sumber pesan dikomunikasikan melalui media cetak atau elektronik. Hubungan melalui media berbeda dengan hubungan pribadi.
Diantara keenam konteks komunikasi yang dibahas dalam buku ini, komunikasi massa merupakan komunikasi yang paling formal dan paling mahal. Iklan di televisi selama acara “Super Bowl”(sepak bola ala Amerika – peny.) Setiap Januari bertarif jutaan dolar per menit. Di samping itu, kesempatan memperoleh umpan balik agak terbatas, khususnya bila dibandingkan dengan komunikasi dua-orang ataupun dengan komunikasi kelompok-kecil. Komunikasi massa melibatkan sejumlah besar orang yang heterogen, dan tidak dikenal oleh sumber pesan. Juga komunikasi massa bersifat umum, cepat, dan sekilas.
Komunikasi Antarbudaya

Komunikasi antarbudaya – yaitu, komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda secara ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini).
Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.
Gudykunst dan Kim (1992) memberi contoh komunikasi antarbudaya sebagai berikut ini:
Perhatikan kunjungan seorang asing – yang menganut budaya bahwa kontak mata selama berkomunikasi adalah tabu di Amerika Utara. Bila si orang asing berbicara kepada penduduk Amerika Utara dengan menghindari kontak mata, maka ia akan dianggap menyembunyikan sesuatu tidak berkata benar.

TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Kita semua sudah akrab dengan dunia teknologi komunikasi yang dulu dianggap rumit. Misalnya, komputer pribadi kini menjadi kebutuhan sehari-hari bagi kebanyakan orang. Mahasiswa yang lalu lalang di kampus sambil mendengarkan walkman merupakan hal yang biasa. Mesin faksimili sudah popular sehingga restoran makanan-cepat (fastfood restaurant) seperti McDonald’s menggunakannya untuk menerima pesanan.
Dengan kemampuan komunikasi teknologi tinggi seperti ini, tampaknya segala sesuatu menjadi mungkin diperoleh melalui komunikasi insani dan boleh jadi kadar kemanusiaan komunikasi insani menjadi berkurang. Terlepas dari apakah anda setuju atau tidak pada inovasi-inovasi semacam ini, tak dapat diragukan lagi bahwa pengaruhnya amat besar dan bersifat permanen bagi komunikasi insani.

Etika Komunikasi

Tampaknya jarang suatu hari berlalu tanpa berita skandal, apakah skandal mengenai Senator Packwood dari Oregon yang dituduh melakukan pelecehan seksual, atau tuduhan memanipulasi dana riset yang dilontarkan kepada Universitas Stanford. Karena itu etika komunikasi seyogiyanya membekali anda dengan pengetahuan dan petunjuk untuk menghindari kesulitan yang mungkin timbul.

KOMUNIKASI EFEKTIF

Secara sederhana, komunikasi dikatakan efektif bila orang berhasil menyampaikan apa yang dimaksudkannya. Sebenarnya, ini hanya salah satu ukuran bagi efektivitas komunikasi. Secara umum, komunikasi dinilai efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksudkan oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima.
Bila S adalah pengirim atau sumber pesan dan R penerima pesan, maka komunikasi disebut mulus dan lengkap bila respons yang diinginkan S dan respons yang diberikan R identik (Goyer, 1970, hlm. 10) :

R
makna yang ditangkap penerima

S makna yang dimaksud pengirim

Nilai 1 – yang menunjukkan kesempurnaan penyampaian dan penerimaan pesan – jarang diperoleh. Kenyataannya, nilai ini tidak pernah dicapai, paling-paling hanya dapat dihampiri saja. Semakin besar kaitan antara yang kita maksud dengan respons yang kita terima, semakin efektif pula komunikasi yang kita lakukan. Bisa saja R/S bernilai 0, yang berarti tidak ada kaitan sama sekali antara respons yang kita inginkan dengan respons yang kita peroleh. Lambaian tangan orang yang hampir tenggelam, yang dimaksudkan untuk minta tolong, sama sekali tidak menghasilkan respons yang diharapkannya bila balasan yang diperoleh dari temannya, yang sedang di atas perahu layar, hanya sekedar lambaian tangan balasan.
Komunikasi efektif ini menekankan bahwa, kemampuan meningkatkan manfaat komunikasi antarpersona merupakan suatu keahlian istimewa “tidak hanya bagi pengembangan pribadi dan keluarga, namun juga bagi peningkatan karir”.
Komunikasi efektif tidak memadai adalah bahwa dalam berkomunikasi, mungkin kita menginginkan sebuah hasil atau lebih dari beberapa kemungkinan hasil yang dapat diperoleh.

Lima hal yang dapat dijadikan ukuran bagi komunikasi yang efektif, yaitu :
1. pemahaman,
2. kesenangan,
3. pengaruh pada sikap,
4. hubungan yang makin baik, dan
5. tindakan.

Pemahaman

Pemahaman adalah : penerimaan yang cermat atas kandungan rangsangan seperti yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Dalam hal ini, komunikator dikatakan efektif bila penerima memperoleh pemahaman yang cermat atas pesan yang disampaikannya (kadang-kadang, komunikator menyampaikan pesan tanpa disengaja, yang juga dipahami dengan baik).
Kegagalan utama dalam berkomunikasi adalah ketidakberhasilan dalam menyampaikan isi pesan secara cermat.
Semakin banyak jumlah orang yang terlibat dalam konteks komunikasi, semakin sulit pula untuk menentukan seberapa cermat pesan diterima. Ini merupakan salah satu sebab mengapa diskusi kelompok seringkali berubah menjadi “arena bebas”. Komentar demi komentar menjadi nyaris saling lepas, tanpa kaitan antara satu dengan yang lainnya. Bahkan kelompok yang sudah punya pegangan agenda pun, bisa saja mengalami kegagalan dalam mewujudkan resolusi yang diperlukan bagi pemecahan masalah mereka. Situasi semacam ini memerlukan lebih banyak lagi penjelasan, penyimpulan dan pengarahan pendapat kelompok.
Dalam komunikasi organisasional, salah satu hasil terpenting yang diharapkan adalah pemahaman pesan secara cermat. Mustahil suatu perusahaan akan berfungsi dengan baik bila para pegawainya tidak memahami tugas yang harus mereka kerjakan. Untuk mencapai hal ini, diperlukan pemahaman, baik atas petunjuk verbal dari atasan, maupun atas informasi yang disebarkan melalui memo perusahaan, buku pedoman pegawai, dan penjelasan lainnya yang merupakan kebijakan perusahaan.
Dalam komunikasi massa, penyebaran informasi juga sering menjadi tujuan utama (Siaran warta berita, film dokumenter, acara video tape, segera terlintas dalam pikiran). Mereka yang berkecimpung dalam media massa harus mampu mengembangkan keahlian komunikasi mereka sehingga mereka dapat mengatur, menyajikan, dan menafsirkan informasi dengan cara yang dapat meningkatkan pemahaman. Sebagai contoh, dalam waktu satu jam, sebuah acara khusus televisi mampu menyajikan masalah depresi: gejalanya, penyebabnya, serta penanganannya yang mungkin dilakukan. Namun, karena terbatasnya umpan balik, sulit untuk menilai tingkat pemahaman para pemirsanya.

Kesenangan
Tujuan mazhab analisis transaksional adalah sekadar berkomunikasi dengan orang lain untuk menimbulkan kesejahteraan bersama. Komunikasi semacam ini biasa disebut komunikasi fatik (phatic communucation) atau memperhatankan hubungan insani
Sapaan singkat seperti : “Hei”, “Apa kabar?”, “Bagaimana keadaanmu?”, merupakan contoh komunikasi jenis ini. Berkencan, minum kopi, dan ramah tamah merupakan acara yang sengaja dirancang agar orang dapat memperoleh kesenangan dari perjumpaan dan obrolan-obrolan tersebut. Tingkat kesenangan dalam berkomunikasi berkaitan erat dengan perasaan kita terhadap orang yang berinteraksi dengan kita.
Tujuan komunikasi publik dapat pula untuk kesenangan, misalnya ceramah setelah acara makan malam dan celoteh seorang penghibur yang sengaja dilakukan untuk menyenangkan hadirin.

Memperoleh Sikap
Menurut Acuff (1993), sepanjang sejarah belum pernah ada kebutuhan yang demikian besar akan keahlian berunding secara internasional – yakni kemampuan para perunding untuk mempengaruhi pihak lain dengan cara yang positif dan konstruktif. Ingatlah, memahami dan menyetujui adalah dua hal yang sama sekali berlainan. Ketika anda memahami pesan seseorang, itu dapat saja berarti anda tidak menyetujuinya, bahkan boleh jadi anda jauh lebih tidak setuju daripada sebelumnya.
Tindakan mempengaruhi orang lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai situasi kita berusaha mempengaruhi sikap orang lain, dan berusaha agar orang lain memahami ucapan kita. Proses mengubah dan merumuskan kembali sikap, atau pengaruh sikap (attitude influence), berlangsung terus seumur hidup. Dalam hubungan antara dua orang, pengaruh sikap sering disebut “pengaruh sosial”. Dalam obrolan dengan biro penasihat, hal ini disebut “bujukan halus” (gentle persuasion). Mempengaruhi sikap tidak kalah pentingnya dalam komunikasi kelompok-kecil atau organisasional.
Bila diterapkan pada konteks komunikasi publik dan komunikasi massa, proses mempengaruhi sikap disebut “membujuk” (persuasi). Pengkajian komunikasi massa terutama berkenaan dengan pengaruh persuasif pesan terhadap para pemimpin pendapat yang merupakan bagian dari khalayak yang lebih luas.

Memperbaiki Hubungan
Kegagalan utama dalam berkomunikasi muncul bila isi pesan tidak dipahami secara cermat.
Jenis pemahaman lainnya yang berpengaruh besar dalam hubungan insani adalah : memahami motivasi orang lain. Kadang-kadang komunikasi dilakukan bukan untuk menyampaikan informasi atau untuk mengubah sikap seseorang, tapi hanya untuk “dipahami” dalam pengertian yang kedua ini.

Tindakan
Mendorong orang lain untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan yang kita inginkan, merupakan hasil yang paling sulit dicapai dalam berkomunikasi. Tampaknya lebih mudah mengusahakan agar pesan kita dipahami daripada mengusahakannya agar pesan kita disetujui.
Beberapa prilaku muncul karena paksaan, tekanan sosial, atau karena peranan dokter; semua ini tidak memerlukan perubahan sikap terlebih dahulu.
Kemungkinan respons yang sesuai dengan yang anda inginkan akan lebih besar bila anda dapat :

1) memudahkan pemahaman penerima tentang apa yang anda harapkan,
2) meyakinkan penerima bahwa tujuan anda itu masuk akal, dan
3) mempertahankan hubungan harmonis dengan penerima.

Lima hasil yang dapat diperoleh melalui komunikasi insani yang efektif adalah pemahaman, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang lebih baik, dan tindakan. Demikian pula, konsep kepercayaan, kekompakan dan kredibilitas sumber, semuanya berkaitan dalam memperbaiki hubungan insani.

BAB 2
PERSEPSI MANUSIA

Seperti persepsi kita atas surat, kata-kata, dan objek, persepsi kita atas orang lain seringkali terikat oleh konteks, dengan demikian persepsi dapat keliru, dapat salah. Ketika kita saling mengungkapkan kesan tentang seseorang, kadang-kadang sulit untuk mempercayai bahwa kita membicarakan orang yang sama.
Jadi, kesan kita terhadap orang lain membentuk dasar bagi sejumlah keputusan dalam hidup kita, misalnya dalam pemilihan mata kuliah, membeli mobil dari agen penjual yang dapat dipercaya, memilih teman sekamar atau dalam memilih mitra bisnis. Dafta ini hampir tidak terbatas. Berikut akan ditelaah proses awal pembentukan kesan atas orang lain.

MEMPERSEPSI ORANG DAN MEMPERSEPSI OBJEK :
SEBUAH PERBANDINGAN

Kesadaran total kita mengenai dunia, kita peroleh melalui indera. Jadi semua persepsi kita apakah mengenai gambar, peralatan rumah tangga, atau orang lain memiliki basis yang sama. Meskipun demikian, kita seringkali menyaksikan perdebatan sengit antara dua orang dalam penilaian mereka mengenai orang ketiga.
Penyebab perbedaan persepsi seperti ini dapat menjadi jelas bila kita perhatikan kemiripan antara persepsi antarpersona dengan persepsi secara umum.

Dua Jenis Filter
Kemampuan anda untuk menyerap rangsangan inderawi terbatas. Anda tidak mungkin menyerap semuanya. Anda memiliki beberapa aspek tertentu dari lingkungan anda. Kesadaran anda antara lain ditentukan oleh masukan apa yang anda sebagai penerima pilih dari keseluruhan masukan. “ Kamu hanya mendengarkan apa-apa yang ingin kamu dengar saja,” gerutu seorang ayah yang sedang marah pada anak remajanya, “Ini yang ketiga kalinya pada siang hari ini aku bertanya padamu, kapan kau akan mencuci mobil”. Malam harinya, si ayah duduk tenang membaca Koran hari Minggu, tanpa mengindahkan pertengkaran anak-anaknya yang berlangsung sengit di ruangan yang sama. Kemampuan untuk memproses stimulasi tertentu dari stimulasi yang tersedia, serta untuk membuang/ menyaring yang lainnya disebut perhatian selektif (selective attention).
Dengan demikian, setiap orang hanya memperhatikan sebagian dari stimulasi yang tersedia sekaligus mengabaikan stimulasi lainnya dengan memanfaatkan filter. Ada dua jenis filter yang dilalui semua masukan atau sensasi : filter fisiologis dan filter psikologis.

Filter Perseptual
Salah satu struktur yang terdapat dalam organ pengindera kita adalah filter perseptual, yaitu keterbatasan fisiologis yang terbentuk dalam diri manusia dan hasil kerjanya tidak dapat dikembalikan ke keadaan semula. Keterbatasan dalam kemampuan mempersepsi ini muncul pada saat kita memperhatikan suatu objek atau seorang manusia. Hal ini tidak sama bagi setiap orang sehingga tingkat kecermatan setiap penginderaan yang dihasilkannya, akan berbeda pula.
Bagi seorang komunikator, salah satu filter perseptual yang menyulitkan adalah kemampuan mendengar yang terbatas. Kadang-kadang kita mendengar seseorang mengatakan sesuatu padahal sebenarnya ia mengatakan hal yang lain.

Perangkat Psikologis (psychological sets)
Perangkat psikologis yaitu harapan atau kecenderungan dalam memberi respons besar pengaruhnya terhadap cara kita mempersepsi suatu objek.
Dengan cara yang serupa, perangkat psikologis mempengaruhi persepsi antarpersona. Besarnya pengaruh pengalaman masa lalu pada cara pemilihan suatu stimulasi dari semua stimulasi yang tersedia; dan seringkali penilaian atas seseorang, paling sedikit pada awalnya, didasarkan pada keadaan atau konteks yang berkaitan dengan kesan pada perjumpaan pertama. Hal ini akan menjadi jelas dalam pembahasan mengenai stereotip.

Budaya dan Persepsi
Menurut ilusi Muller-Lyer, orang-orang yang hidup dalam lingkungan visual yang akrab dengan garis lurus dan sudut siku-siku “dunia para tukang” yang dibentuk oleh peralatan seperti gergaji, ketam, dan timbangan pengukur garis tegak lurus belajar untuk membuat kesimpulan-kesimpulan visual tertentu. Misalnya, mereka cenderung menafsirkan sudut lancip dan sudut tumpul sebagai sudut siku-siku yang diperluas dalam ruang.
Kita memiliki persepsi tidak hanya mengenai benda dan kata-kata, tapi juga mengenai orang lain: harus seperti apa mereka itu, bagaimana mereka harus bertindak, dan apa yang akan mereka katakan. Dalam budaya kita, orang yang berkecimpung dalam dunia usaha berharap agar setiap orang selalu menepati waktu bila membuat janji. Mereka tidak mau membiarkan menunggu terlalu lama. Bila semua orang sepakat untuk bersikap serupa, maka komunikasi di antara mereka akan menjadi lebih lancar.

Gambar 2.3

Pada saat dua orang berkomunikasi, masin-masing merumuskan idenya yang kemudian menjadi bahan dalam komunikasi tersebut. Kecermatan penerimaan pesan bergantung pada filter perseptual dan perangkat psikologis yang dimiliki si penerima. Ingatlah, karakteristik psikologis dan fisiologis akan mempengaruhi pemilihan stimulasi dan cara stimulasi tersebut dipahami.

Persepsi Selektif, Organisasi, dan Penafsiran
Persepsi adalah suatu proses aktif : Setiap orang memperhatikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan semua pengalaman secara selektif.
Pada umumnya, anda memperhatikan stimulasi yang kuat, yang diulang-ulang, atau yang sedang dalam proses perubahan. Setiap orang memilih stimulasi, bergantung pada minat, motivasi, keinginan, dan harapan. Terpukau oleh penampilan seorang gadis, seorang pria yang duduk disebelahnya dalam suatu pesta, melihat betapa berisinya betis si gadis sehingga ia hampir tidak memperhatikan apa yang dikatakan si gadis. Orang lain yang berada di dekat mereka mungkin akan lebih tertarik pada perkataannya mengenai pekerjaan di bagian personalia sebuah perusahaan besar, sebab orang tersebut sedang mencari lowongan kerja.
Perbedaan mengurutkan sebab akibat merupakan pangkal utama perbedaan persepsi. Setelah dimintai penjelasan, si suami bersikeras menyatakan bahwa ia berdiam diri semata-mata sebagai cara membela diri atas kecerewetan istrinya. Pada gilirannya, si istri memandang penjelasan tersebut sebagai penjungkirbalikan “kejadian yang sebenarnya”, yaitu ia cerewet karena kepasifan suaminya.
Setelah stimulasi dipersepsi dan diorganisasikan secara selektif, selanjutnya stimulasi ditafsirkan secara selektif pula, artinya stimulasi diberi makna secara unik oleh orang yang menerimanya.
Penafsiran pribadi didasarkan pada pengalaman masa lalu si penerima, asumsi tentang perilaku manusia, pengetahuan mengenai keadaan lingkungan orang lain, suasana hati/ keinginan/ kemauan pada saat itu, serta harapan.

Pengamat/Objek/Konteks
Seperti mempersepsi benda, mempersepsi orang lain dapat ditinjau dari tiga unsur: pengamat (perceiver), objek persepsi (dalam hal ini, manusia lainnya) dan konteks yang berkaitan dengan objek yang diamati. Sebagai pengamat anda juga dipengaruhi oleh atribut-atribut anda sendiri. Misalnya, orang cenderung membuat penilaian umum, positif ataupun negatif; tentu saja kita pernah bertemu dengan seseorang yang berpendapat bahwa “Tidak ada orang yang baik”, atau sebaliknya “Semua orang itu baik”.
Melalui mata pengamat, semua atribut orang kedua (atau benda) disaring.
Unsur yang ketiga, yaitu konteks psikologis dan fisik yang menyertai proses persepsi antarpersona.
Kecermatan persepsi. Sebagai contoh, bila saya tahu bahwa anda baru kembali dari pemakaman, maka berdasarkan pengalaman sendiri saya akan menafsirkan sikap pendiam anda sebagai depresi dan bukan sebagai sikap tidak peduli. Dipihak lain, kita sering salah tafsir mengenai apa yang kita persepsi karena kita berasumsi bahwa orang lain itu seperti kita. Bila saya berasumsi bahwa selera anda pada musik sama seperti saya, maka ketika anda menjawab “Oh, asyik!” atas tawaran untuk mendengarkan musik keras, saya akan menafsirkannya sebagai sikap antusias meskipun jelas bagi kebanyakan orang bahwa ekspresi wajah anda menunjukkan kesinisan.
Hal lainnya, yang membedakan persepsi antarpersona dari persepsi terhadap objek adalah hasil persepsi antarpersona (salah atau benar) akan terus menerus mempengaruhi interaksi kita dengan orang lain, karena mereka pun terus menerus memberi respons atas persepsi tersebut.
Dengan demikian, persepsi antarpersona merupakan bentuk persepsi yang khusus.sambil melanjutkan bahasan mengenai bagaimana kesan atas orang lain dibentuk, kita akan menyimak pula bagaimana anggota-anggota suatu budaya lain dipersepsikan.

PEMBENTUKAN KESAN

Memperhatikan Diri Sendiri
Bila anda diminta menggambarkan diri anda, informasi apa yang akan anda berikan – deskripsi fisik, umur, jenis kelamin, keanggotaan dalam sebuah kelompok etnik? Mungkin anda akan menggambarkan diri anda berdasarkan beberapa ciri tertentu atau berdasarkan apa yang anda lakukan.

Konsep-diri
Konsep-diri anda, yaitu kesan anda yang relatif stabil mengenai diri sendiri, tidak hanya mencakup persepsi anda mengenai karakteristik fisik anda, melainkan juga penilaian anda mengenai “ apa yang pernah anda capai, yang sedang anda jalani, dan apa yang ingin anda capai”.
Konsep-diri tumbuh antara lain melalui umpan balik yang diterima dari orang-orang di sekitar kita. Sebenarnya, teoretisi terdahulu pun percaya bahwa konsep-diri berkembang melalui hubungan dan interaksi dengan orang lain. Dengan perkataan lain, anda menilai diri anda terutama berdasarkan pada bagaimana “menurut anda” orang mempersepsi dan menilai anda. Pandangan seperti ini memberi titik berat pada pengalaman sosial semasa kanak-kanak.
Konsep-diri mempunyai dimensi komparatif. Misalnya, Kagan menulis : “Seorang anak tidak sekadar seorang perempuan, orang kanada, Katolik, bermata coklat, tapi ia juga lebih cantik daripada saudaranya, lebih cerdas daripada sahabat baiknya dan lebih takut pada binatang daripada saudara lelakinya “. Jadi penilaian anda mengenai diri sendiri berhubungan dengan bagaimana anda menilai diri anda dalam hubungan anda dengan orang lain.

Penghargaan-diri (self-esteem)
Salah satu tolok ukur dalam konsep-diri adalah penghargaan-diri, yaitu perasaan anda mengenai nilai-diri (self-worth).
Penghargaan-diri dapat dikaitkan dengan penampilan fisik, kecerdasan, profesi, berbagai kualitas, sifat, dan keanggotaan dalam suatu kelompok, namun semua ini dapat merupakan penilaian yang subjektif. Boleh jadi tidak ada kaitan sama sekali antara keadaan yang sesungguhnya (misalnya sifat anda, apa yang telah anda capai atau kemampuan anda) dengan perasaan mengenai nilai-diri.
Sejumlah penelaahan mengenai kanak-kanak menunjukkan perbedaan dalam penghargaan-diri antara anak laki-laki dan anak perempuan. Umumnya anak laki-laki cenderung melebih-lebihkan kemampuannya sedangkan anak perempuan biasanya mengecilkan kemampuan mereka. Menurut tradisi, budaya kita menyodorkan norma perilaku dan model peran yang berbeda bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Contoh :
Seorang anak lelaki yang dilibatkan dalam proyek penelitian komunikasi massa ditanya, seandainya ia seorang anak perempuan, ingin jadi apa ia kelak. “Oh,” ia menjawab, “andaikan saya seorang anak perempuan, saya tidak ingin menjadi apapun setelah dewasa kelak”.
Ringkasan hasil penelitian mengenai penghargaan-diri, mencakup perbedaan-perbedaan antara perempuan dan lelaki seperti berikut ini :
• lelaki memiliki tingkat harapan sukses yang lebih besar dalam keahlian nonsosial daripada perempuan; bahkan meskipun mereka tidak lebih ahli, orang akan tetap menganggapnya demikian.
• Wanita lajang memiliki penghargaan-diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang menikah.
• Anak-anak yang lebih tua memiliki penghargaan-diri yang lebih tinggi daripada anak-anak yang lebih muda.
• Kemiripan dalam penghargaan-diri tampaknya merupakan suatu alasan untuk memilih teman kencan atau mitra untuk suatu hubungan.
Umpan Balik
Banyak penelitian dalam umpan balik komunikasi lisan menunjukkan bahwa dugaan yang masuk akal ini memang benar: Bila anda memperoleh umpan balik yang positif, maka kepercayaan-diri anda bertambah. Umpan balik yang negatif akan membingungkan dan mengacaukan penyampaian anda; volume suara anda bisa berubah, atau anda menjadi terbata-bata, gelisah, demam panggung, menghindari kontak mata atau muncul gerakan-gerakan tubuh yang tidak tepat.
Penelitian baru-baru ini mengenai bagaimana kita “menilai” kemampuan diri, mendukung pendapat bahwa hubungan kita dengan orang lain merupakan dasar bagi pengembangan rasa-diri (sense of self) dan rasa mampu. Sejumlah peneliti percaya bahwa teori terdahulu mengenai konsep-diri, masih berguna sebagai dasar bagi penelitian selanjutnya mengenai bagaimana diri (self) berkembang dalam konteks sosial.

Rasa Malu
Kini sudah lebih banyak lagi yang diketahui mengenai rasa malu. Misalnya, para peneliti menemukan bahwa ada orang yang “condong bersifat” pemalu atau “secara genetik mudah” merasa malu; cukup menarik, sebab hal ini menyangkut beberapa ciri fisik yang berbeda bagi setiap orang: gemetar, detak jantung lebih cepat, bibir kering, berkeringat, atau wajah memerah. Orang pemalu lebih jarang berkencan, jumlah temannya lebih sedikit, “cenderung memiliki penghargaan-diri yang rendah dan pikirannya dipenuhi oleh pendapat bahwa secara sosial mereka tidak memiliki kemampuan”.
Karena mereka memiliki penghargaan-diri yang rendah, mereka juga cenderung melamar pekerjaan yang kualifikasinya lebih rendah daripada tingkat kemampuan mereka dan langsung menerima pekerjaan yang pertama kali ditawarkan kepada mereka. Secara umum, penghasilan mereka rendah dan kurang berkembang dalam pekerjaan mereka karena, seperti dijelaskan oleh para peneliti, “orang pemalu dengan sendirinya memilih untuk menjauhkan diri dari karier berpenghasilan tinggi”.

Ramalan yang Dipenuhi Sendiri (self-fulfilling prophecy)
Apa yang kita harapkan akan berpengaruh pada kesan kita terhadap orang lain. Mereka yang mengharapkan diterima oleh orang lain dan yang memandang orang lain sebagai bersahabat, seringkali muncul sebagai pribadi yang santai dan menyenangkan; perilaku ini membuat popularitas mereka baik serta mendapat respons positif dari orang lain. Sebaliknya, mereka yang mengharapkan penolakan seringkali memperolehnya pula. Orang-orang yang memandang orang lain sebagai bersikap bermusuhan atau tidak bersahabat, seringkali merekapun bersikap defensif atau sombong; perilaku mereka yang didasari oleh dugaan seperti ini boleh jadi memancing penolakan yang mereka khawatirkan.

Atribusi Perilaku
Serangkaian penelitian mengenal atribusi perilaku menunjukkan bahwa anda memandang perilaku anda sendiri sebagai suatu urutan respons yang diperlukan dalam “situasi tertentu”, tapi anda memandang perilaku orang lain yang sama wataknya, yaitu tabiat tetap atau kebutuhan tetap orang tersebut.
Disamping itu, penelitian mengenai atribusi perilaku menemukan hasil yang konsisten bahwa orang cenderung memandang keberhasilannya sebagai usahanya sendiri, sedangkan kegagalannya disebabkan oleh faktor di luar dirinya.
Ada dua alasan yang diajukan bagi perbedaan perseptual ini:
1. informasi yang tersedia bagi pelaku (yaitu orang yang melakukan tindakan) dan bagi pengamat belum tentu sama. Pengamat melihat pelaku hanya pada suatu penggalan waktu tertentu saja. Secara umum, pengamat tidak tahu latar belakang pelaku, sejarahnya, pengalamannya, motivasinya, atau keadaan emosinya saat itu; pengamat sekadar menduga semua ini.
 Jadi bila kita melihat seseorang bereaksi keras atas sesuatu yang tampak sepele, kita sebagai pengamat tidak tahu peristiwa apa yang mendahului kejadian tersebut, sehingga reaksinya seperti itu.
2. meskipun informasi yang tersedia bagi pelaku dan pengamat sama, mereka memprosesnya dengan cara yang berbeda, sebab aspek yang mereka pentingkan dalam informasi itu tidak sama.
Storms (1973) berpendapat bahwa perbedaan informasi antara pelaku dan pengamat disebabkan oleh cara pandang mereka yang secara harfiah amat berbeda. Anda tidak melihat diri anda bertindak; dalam keadaan biasa anda tidak dapat menjadi pengamat atas perilaku anda sendiri. Ketika anda menjadi pelaku, anda memperhatikan situasi yang melibatkan diri anda sebagai pelaku; tetapi pengamat lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memperhatikan anda, bukan situasinya.
Dengan cara memperlihatkan hasil rekaman video mengenai interaksi mereka. Rekaman video memberi perspektif baru pada pelaku, yaitu sebagai pengamat; hal ini seringkali mengubah pendapatnya mengenai mengapa ia berperilaku seperti itu. Setelah melihat diri sendiri dalam rekaman, kita cenderung menjelaskan perilaku kita sebagai refleksi watak pribadi daripada sebagai respons terhadap lingkungan.
Sementara perubahan orientasi visual tampaknya dapat meningkatkan kesadaran-diri (self-awareness), kemungkinan menyaksikan rekaman perilaku sendiri tidak menarik dan tidak mudah dilakukan, bahkan tampaknya juga tidak menyenangkan.
Meskipun demikian, kita harus tetap ingat bahwa persepsi kita mungkin keliru. Sebagai ulasan dalam penelitian atribusi, Ross dan Fletcher (1985) mengingatkan :
Yang harus digarisbawahi adalah : baik pelaku maupun pengamat hanya dapat menduga penyebab perilaku si pelaku. Bila ada perbedaan pendapat, si pelaku memiliki peluang lebih besar untuk benar sebab ia mempunyai informasi lebih banyak. Meskipun demikian, tidak beralasan untuk menyimpulkan bahwa penilaian si pelaku harus selalu sah.

Melihat Orang Lain (Looking at Others)
Seperti Matt, kebanyakan orang membentuk kesan atas orang lain dengan mudah, namun mereka meras sulit bila diminta menjelaskan prosesnya. Kenyataannya, banyak orang merasa bahwa mereka membuat penilaian secara intuitif.
“kesan” adalah kata yang kita gunakan untuk penilaian kita gunakan untuk penilaian kita. Kita katakan “berdasarkan kesan”, atau “kesan yang baik”. Sistem hukum tidak lepas dari peran kesan yang tercermin dari penilaian yang tergesa-gesa.
Penelitian Barge dan kawan-kawannya (1989) mengenai persepsi antarpersona dalam lembaga hukum, menyatakan bahwa persepsi seorang juri atas kredibilitas pengacara dan atas kesalahan terdakwa akan dipengaruhi tidak hanya oleh pernyataan pembukaan oleh pengacara, namun juga oleh berbagai petunjuk nonverbal ketika membacakan pernyataan tersebut.

Penulis : Fauziah Yanis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: