Komunikasi Internasional


Pengantar

Tragedi 9/11 yang terjadi delapan tahun lalu masih meninggalkan trauma baik bagi AS maupun negara-negara muslim yang menjadi “kambing hitam” atas luluh-lantaknya WTC dan Pentagon: simbol kedigdayaan ekonomi dan militer AS. Sebagai mana diketahui, telunjuk bekas Presiden George Walker Bush langsung diarahkan kepada Osama bin Laden dengan Al Qaeda-nya sebagai dalang utama peristiwa September hitam ini. Epilognya sudah sama-sama kita ketahui, stigma teroris tidak hanya menempel pada sosok Osma bin Laden dan jaringan Al Qaeda. Tetapi juga meluas ke seluruh negara muslim. Pemerintah Taliban di Afganistan pun ikut terguling dari kekuasaan karena dianggap melindungi sang teoris yang paling diburu hidup atau mati itu, yang sampai tulisan ini dibuat masih tetap lolos dari kepungan mesin perang AS. Ironisnya, Bush Jr pun kini digantikan oleh Presiden Barrack Hussein Obama yang setengah negro dan berayah seorang muslim asal Kenya. Ini keluar dari mainstream politik AS WASP (White, Anglo Saxon, Protestant). Nama akhirnya pun sekilas mirip dengan musuh bebuyutannya. Hanya berbeda huruf “B” dan “S” saja.
Kita pun perlu bertanya: siapa sebetulnya yang layak disebut teroris itu? Osama, Bush Jr atau Obama yang mau tampil beda dan tidak mau disamakan dengan pendahulunya itu. Hanya sejarah yang mencatat dan waktu yang bisa menjawabnya. Kata “teroris” itu pun memerlukan telaah linguistik. Noam Chomsky menyebut istilah news peg yang sadar atau tidak dimanipulasi oleh media massa yang tidak hanya sekedar memetakan realitas. Tetapi sekaligus merekonstruksinya. Dalam konteks terakhir inilah terletak signifikannya kajian komunikasi internasional. Sebagai ilustrasi, eksistensi televisi satelit Qatar Al Jazeera sebagai televisi alternatif yang lebih dipercaya oleh Osama daripada televisi sekelas CNN menarik untuk dikaji. Reputasi CNN merosot drastis ketika tunduk pada kemauan pemerintah Bush Jr untuk tidak menayangkan rekaman video Osama. Sebab kuatir rekaman ini berisi semacam bahasa sandi untuk mengadakan serangan berikutnya. Kecaman pun bermunculan, termasuk dari bekas wartawan CNN Peter Arnett yang dulu sempat mewawancarai bekas Presiden Irak Sadam Hussein (alm) dalam era Perang Teluk. Tindakan ini juga bertentangan dengan amandemen pertama konstitusi AS.
Di sela-sela tugas mengajar yang menyita tenaga dan waktu, sebagai dosen yang mengajar mata kuliah: Komunikasi Internasional, saya pun berusaha menulis semacam diktat kuliahnya. Ini dengan harapan tulisan ini bukan dijadikan semacam bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Sebab ia hanya memuat pokok-pokok pemikian penulisnya. Kajian yang lebih rinci bisa dilihat pada referensi aslinya. Apalagi perkembangan ilmu pengetahuan via IT sangat pesat. Sehingga tidak tertutup kemungkinan referensi yang menjadi acuan tulisan ini pun sudah out of date.
Akhirnya, kutip-mengutip dalam karya ilmiah merupakan hal yang wajar sejauh menyebutkan sumbernya aslinya untuk menghindari tudingan plagiat. Jika terdapat banyak kekeliruan di sana-sini sehingga menurut Anda tulisan ini tidak layak dianggap sebagai tulisan ilmiah, maka sejujurnya maafkanlah saya untuk tidak minta maaf. Sebab lebih bermartabat jika Anda pun membuat tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya dalam rangka dialektika ilmiah. Sekian.

I. Introduksi
Pembicaraan tentang komunikasi internasional mencakup pula disiplin ilmu hubungan internasional; komunikasi politik; komunikasi antarbudaya. Ini dimungkinkan karena disiplin ilmu komunikasi umumnya dan komunikasi internasional khususnya bersifat interdisipliner (Bride, 1980). Misalnya, kutipan dari Encyclopedia Americana tentang konsep ilmu hubungan internasional sbb:
“International relationships denotes the interaction among nations or among individuals of different nations. Such relations maybe political, cultural, economic or military. The concept is closely related to, and often includes, such subject as international diplomacy, international communication and international organization”.
Jelas terlihat bahwa komunikasi internasional adalah bagian dari hubungan internasional. Selanjutnya, mengingat kajian komunikasi internasional ini menembus batas-batas negara dengan budaya yang berbeda maka kajian komunikasi antarbudaya pun tidak bisa dihindari. Pakar komunikasi budaya Edwin R McDaniel mengatakan, “intercultural communication occurs whenever a person from one cultural sends a message tobe processed by a person from a different culture”.
Dalam konteks komunikasi internasional dampak dari perkembangan IT terjadilah peluberan informasi (spill over of information) yang bisa melahirkan masyarakat informasi menurut Naisbitt atau semacam global village menurut Toffler yang bukan tidak mungkin berujung pada sejenis imperialisme budaya (Schiller, 1976);
Tulisan ini membahas enam pokok bahasan: Pertama, membahas konsep dasar komunikasi dan komunikasi internasional. Kedua, menjelaskan proses terjadinya komunikasi internasional. Ketiga, menganalisis perkembangan dan dimensi komunikasi internasional. Keempat, membandingkan sistem komunikasi internasional dalam konteks ideologinya. Kelima, memperlihatkan adanya ketimpangan arus informasi internasional antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang atau miskin. Keenam, memaparkan opini publik dan propaganda dalam komunikasi internasional.
II. Konsep Dasar Komunikasi dan Komunikasi Internasional
Sebelum berbicara panjang lebar tentang komunikasi internasional, sebaiknya dianalisis dulu apa yang dimaksud dengan komunikasi itu. Untuk melacak asal-usul komunikasi harus dikaji dulu perkembangannya di Eropa dan AS. Sebab dari yang disebut pertama, khususnya Jerman inilah cikal-bakal perkembangan disiplin ilmu komunikasi di Indonesia yang dahulu disebut publisistik. Ini berasal dari publizistikwissenshaft. Sementara kontribusi AS berujung pada mass communication science.
Publizistikwissenshaft yang diindonesiakan menjadi publisistik berasal dari zaitungwissenshaft (ilmu persuratkabaran). Perkembangan selanjutnya, obyek penelitian publisistik bukan lagi sekedar surat kabar, tetapi pernyataan umum (offeticheaussage). Artinya, ilmu ini mencoba memahami dan mengendalikan tindakan khalayak yang manisfestasinya terlihat dalam pernyataan umum yang aktual. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menempatkan pernyataan yang tidak umum dan aktual. Dari sinilah titik tolak kajian komunikasi.
A. Gambaran Umum Komunikasi
Seperti yang disebutkan semula, komunikasi berkembang di AS yang juga berasal dari jurnalistik, mirip zaitungskunde di Jerman yaitu sejenis ketrampilan dalam dunia persuratkabaran. Sebelumnya ia hanya bagian dari departemen Bahasa Inggris di berbagai perguruan tinggi AS dengan nama speech communication. Pasca PD II pakar politik, sosiologi dan psikologi seperti Harold D Lasswell. Paul Lazarfewld dan Cari I Hovland memperluas kajian jurnalistik ke bidang radio, televisi dan film. Kelak menjadi mass communication, peleburan speech communication dengan mass communication menjadi communication science. Konsekuensinya, obyek studi komunikasi bukan lagi sekedar pernyataan umum (publisistik); surat kabar (jurnalistik); retorika (speech communication); media massa (mass communication). Tetapi telah menjadi pernyataan antarmanusia (human communication).
Mengutip Wilbur Schramm, komunikasi itu sangat ekletif. Dengan sedikit anekdot ia mengatakan komunikasi ibarat jalan simpang yang ramai dengan segala macam disiplin ilmu yang melintasinya. Terlihat dari para pakar komunikasi yang berasal dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Misalnya, Harold D Lasswell (politik); Carl I Hovland (psikologi); Charles W Wright (sosiologi), Shannon dan Weaver (matematika); Wilbur Schramm (linguistik).
Pengaruh psikologi dan sosiologi jtermasuk fisika sangat besar terhadap disiplin ilmu komunikasi. Hal ini melahirkan berbagai paradigma komunikasi. Paradigma dimaknai sebagai pandangan mendasar suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi subject matter yang semestinya dipelajari. Menurut Thomas S Khun ilmu tidak berkembang secara kumulatif tetapi secara revolusioner. Begitu pula dengan ilmu komunikasi yang melahirkan dua kelompok paradigma: paradigma lama (mekanis) dan paradigma baru (psikologis; interaksional; pragmatis) yang akan dijelaskan di bawah ini:
a. Paradigma mekanis: dipengaruhi oleh fisika klasik dengan mengkonseptualisasikan komunikasi sebagai proses mekanistis antarmanusia. Pesan mengalir melintasi ruang dan waktu dari komunikator ke komunikan secara simultan. Lokusnya (eksistensi empirik) terletak pada channel. Doktrin mekanis ini berdasarkan logika sebab-akibat dengan tekanan pada efek, metode ekperimental dan kuantitatif.
b. Paradigma psikologis: komunikasi dimaknai sebagai mekanisme internal penerimaan dan pengolahan informasi pada diri manusia. Lokusnya pada filter of conceptual individu ybs. Pandangan ini dipengaruhi oleh psikologi sosial. Sehingga komponennya bukan lagi komunikator dan komunikan semata melainkan stimulus dan respon. Metodenya masih ekperimental dan kuantitatif.
c. Paradigma interaksional: dipengaruhi oleh sosiologi khususnya interaksi simbolis. Komunikasi dimaknai sebagaim proses interaksi manusiawi dengan lokus peran sosial manusia dalam tindakan sosialnya. Dunia panggung sandiwara, lagu yang dipopulerkan oleh vokalis God Bless Ahmad Albar sedikit banyak bisa menjelaskan paradigma ini. Metodenya fenomenologis, analisa kontekstual dan kualitatif.
d. Paradigma pragmatis: masih dipengaruhi oleh sosiologi khususnya teori sistem. Komunikasi dipahami sebagai sistem prilaku yang berurutan berupa pola interaksi, sistem, struktur dan fungsinya. Metodenya hanya dimungkinkan dengan menggunakan analisa kualitatif.
B. Komunikasi Internasional
“International relationships denotes the interaction among nations or among individuals of different nations. Such relations maybe political, cultural, economic or military. The concept is closely related to, and often includes, such subject as international diplomacy, international organization and international communication” (Encyclopedia Americana). Dari kutipan di atas terlihat bahwa komunikasi internasional adalah bagian dari hubungan internasional.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kajian komunikasi internasional ini menembus batas-batas suatu negara dengan politik dan kultur yang berbeda. Ini jelas memerlukan pula kajian komunikasi politik dan komunikasi antarbudaya. Sebab kajian komunikasi umumnya dan komunikasi internasional khsususnya sangat interdisipliner (Bride, 1980). Mengutip pakar komunikasi Gerhard Malezke: “Intercultural communication is an exchange of meaning berween culture. Meanwhile international communication take place on the level of countries or nations of different culture, which is to say across frontiers”.
Peluberan informasi (spill over of information) akibat perkembangan IT dalam konteks komunikasi internasional tidak tertutup melahirkan sejenis imperialisme baru berupa imperialisme komunikasi (Galtung, 1971) atau imperialisme budaya (Schiller, 1976). Disamping melahirkan revolusi komunikasi dengan global village yang diperkenalkan oleh Alvin Toffler atau masyarakat informasi menurut John Naisbitt.
Meminjam konsep Jalaluddin Rakhmat, komunikasi internasional dipahami sebagai komunikasi yang dilakukan oleh komunikator yang mewakili suatu negara untuk menyampaikan pesan yang berkaitan dengan berbagai kepentingan negaranya kepada komunikan yang juga mewakili negaranya dengan tujuan memperoleh saling pengertian. Konsep ini menjelaskan bahwa komunikasi internasional merupakan gabungan antara komunikasi dengan hubungan internasional yang bermuara pada diplomasi internasional melalui media massa yang secara teoritis lebih dekat pada komunikasi massa.
III. Proses Komunikasi Internasional
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam konteks teoritis komunikasi internasional termasuk pada kajian komunikasi massa. Dengan demikian prosesnya pun hamper sama dengan komunikasi massa. Mengutip ilmuwan politik AS Harold D Lasswell dalam karyanya Propaganda Technique in The World War, yang juga pendiri Institute for Propaganda Analysis untuk mengantisipasi NAZI Jerman, mengatakan mass communications is who says what in which channel to whom with what effect.
Terlihat jelas tesis Lasswell di atas termasuk dalam kategori paradigma mekanis yang diintrodusir Fisher dengan tekanan pada effect. Ia mengatakan communication is a process by which a source intentionally change the behaviour of a receiver. Pendapat ini juga didukung oleh Carl I Hovland yang mengatakan communication is the process by which an individual (source) change the behaviour of other individuals (audience). Meskipun agak berbeda, tetapi substansinya sama, pakar linguistik Wilbur Schramm dalam karyanya The Process and Effect of Mass Communication menggunakan istilah paradigma sirkular dalam mengkaji how communication work yang mencakup encoder interpreter dan decoder.
Kembali ke Lasswell, ia menyimpulkan bahwa proses komunikasi internasional sebagai berikut: Pertama, who: institutionalized person. Kedua, says what: a message has dimensions in the time and space. It has some structure, it may have a read or listen to or look at. The qualities too contribute to the total response a receiver makes to it. Ketiga, in which channel: the principle channel through which ideas are exchange among nations include international news service and the press, radio and television, film, book and other publication, cultural event and personal contacts pass through national boundaries. The mechanism, as well as, subsidiary ones such as international mail service, telecommunication and recordings are patched together to form a tangled network. Keempat, to whom: international audience. Kelima, with what effect: bullet theory or hypodermic needle (the all powerful media are able to impress ideas defenceless mind); limited effect model (such that opinion leader typically render mass communication a contributory agent, but not the sole cause, in a process of reinforcing the existing conditions); moderate effect model (audience perspective, the use and gratifications, the agenda setting and the culture norm theory).
IV. Perkembangan dan Dimensi Komunikasi Internasional
A. Masalah dan Bidang Perkembangan
Ada 4 (empat) masalah utama dalam perkembangan komunikasi internasional. Pertama, kebebasan versus kontrol terhadap arus informasi atau kebebasan dan keseimbangan arus informasi (free flow of information versus control of information or free flow and balance of information). Kedua, budaya dan imperialisme media (cultural and media imperialism). Ketiga, jaringan komunikasi antardua negara atau lebih yang menembus batas wilayah nasionalnya (communication network of two or more countries pass through national boundaries). Keempat, berita dan informasi versus hiburan dan materi budaya dalam perspektif analisis isi (news and information versus entertainment and cultural materials in content analysis perspective).
Sementara itu ada 4 (empat) bidang perkembangan komunikasi internasional, yaitu:
1. Penelitian:
a. Tidak jelasnya perbedaan antara kajian volume dan arus informasi internasional (transactional analysis technique) yang menggunakan statistik ekonometri dengan kajian liputan berita internasional di berbagai media massa (content analysis).
b. Jarang ada penelitian jangka panjang (longitudinal analysis) yang mempertimbangkan perubahan konstelasi politik dan hubungan internasional sangat langka. Misalnya, liputan pers tentang RRC dari masa Mao Tse Tung sampai masa Deng Xioping. Atau Iran di masa Syah Reza Pahlevi sampai di masa Imam Khomeini.
c. Langkanya analisis korelasional (correlational analysis) yang menelaah liputan dan arus informasi internasional dengan faktor-faktor struktural yang mempengaruhi proses komunikasi internasional.
d. Terjadi ketimpangan analisis pola arus informasi internasional secara menyeluruh. Sebab titik beratnya selama ini lebih tertuju pada kajian negara maju (baca: Barat) seperti AS, Amerika Utara dan Eropa Barat. Dalam konteks perbandingan media massa juga terjadi ketimpangan komposisi surat kabar, majalah, radio dan televisi.
2. Metodologi:
a. Pendekatan Geografis (geographical approach): mengkaji arus informasi dan liputan internasional pada suatu bangsa atau negara dengan lingkup dunia. Misalnya, karya H.D. Fisher dan John Merril (ed.) International and Intercultural Communication.
b. Pendekatan Media (media approach): mengkaji berita-berita internasional dalam suatu media atau multi media. Misalnya, karya Edwar W. Said Covering Islam: How The Media and The Experts Determine How We See The Rest of The World.
c. Pendekatan Peristiwa (event approach): membandingkan sistem pers antarbangsa atau negara. Serta menelaah penyebaran arus berita internasional berdasarkan ideologi negara ybs. Misalnya, karya L. John Martin dan Anju Grover Chaundhary Comparative Mass Media System.
3. Perspektif:
a. Jurnalistik: mempelajari aspek-aspek jurnalistik internasional dan dampak yang ditimbulkannya.
b. Diplomatik: dilakukan melalui jalur diplomasi antarpejabat tinggi negara untuk memperluas pengaruh dan mengatasi salah pengertian antara negara yang diwakilinya. Tekanannya pada proses dan teknik komunikasi dalam berdiplomasi. Bukan pada materi diplomasi yang menjadi obyek kajian disiplin ilmu hubungan internasional.
c. Propaganda: menelaah penggunaan media komunikasi internasional dalam rangka menuangkan ide atau gagasan untuk mengubah opini internasional yang ditujukan pada bangsa atau negara lain.
4. Teori:
Mengutip pakar komunikasi dan linguistik Wilbur Schramm terdapat 4 (empat) kajian sbb:
a. Pola arus berita internasional (the patterns of international news flow).
b. Sifat dan tipologi liputan berita internasional (the nature and type of international news coverage).
c. Struktur organisasi berita internasional dan prilaku jurnalisnya (the structure of international news organization and the behaviour of journalist in the organization).
d. Faktor-faktor struktural yang mempengaruhi arus dan liputan berita internasional (the structural factors affecting international news flow and coverage).
Menurut Schramm, keempat penjelasan di atas dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor berikut: the ownership of the great avenues or exchange agencies; the ownership of long distance telecommunication facilities; the concentration of wealth, technology and power in a few highly developed nations.
Ini dibenarkan oleh Guru Besar jurnalistik Universitas Georgia AS, Al Hester yang mengatakan arus informasi sebagai variabel bebas. Sedangkan kekuasaan, kesamaan budaya dan persekutuan ekonomi sebagai variabel terikat.
B. Dimensi Komunikasi Internasional
Pertama, politik: semua negara pasti merasakan pentingnya sistem komunikasi dalam kehidupan politiknya. Yang perlu dicatat corak atau bentuk sistem komunikasinya secara teoritis tergantung pada sistem politik yang berlaku di negara tersebut. Namun yang jelas semuanya bermuara pada kebebasan mengeluarkan pendapat. Tesis ini bisa dilacak jauh sampai kepemikiran Yunani kuno. Mulai dari zaman Sokrates, Plato dan Aristoteles yang menelaah konsep “yang baik”, “negara ideal” dan “politik”.
Kedua, ekonomi: perkembangan teknologi informasi yang diawali dengan penemuan mesin cetak oleh Gutenberg tahun 1453, radio telegram oleh Marconi tahun 1895 dan televisi pertama di AS tahun 1927 telah mengubah wajah komunikasi dari human communication menjadi mass communication. Komunikasi tidak lagi sekedar fenomena sosiologis tetapi sekaligus punya dimensi ekonomi. Dalam konteks Indonesia munculnya istilah pers konglomerat dan konglomerat pers seakan menjadi pembenarnya. Misalnya, Jakob Oetama dengan KKG (Kelompok Kompas Gramedia)-nya dan Surya Paloh dengan kelompok Media Indonesia-nya.
Ketiga, budaya: selain itu media komunikasi juga merupakan alat kultural. Inilah yang disebut Schiller sebagai imperialisme budaya yang disokong oleh iklan sebagai ujung tombak kapitalisme internasional yang didominasi Barat. Ia mengatakan, “the cultural penetration that has occurred in recent decade embraces all the socializing institutions of the host area and the impact of the penetration is felt through out the realm of individual and social consciousness in the penetrated provinces” (Schiller, 1976). Dengan demikian, ketika kita makan ayam goreng Kentucky Fried Chicken, minum Coca Cola dan menonton film Rambo maka semua itu bukan sekedar makanan, minuman atau tontonan. Tetapi sekaligus produk budaya. Budayawan dan bekas Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Goenawan Mohammad mengintrodusir konsep imogologi: ketika ideologi dikalahkan oleh realitas dan realitas dikalahkan oleh image.
V. Perbandingan Sistem Komunikasi Internasional
Perbedaan sistem komunikasi internasional didasarkan pada sistem politik (baca: ideologi) negara ybs. Mengutip Siebert secara garis besar ada 4 (empat) kelompok sistem komunikasi sbb:
A. Otoriter (authoritarian):
Sistem ini memandang kedudukan negara lebih tinggi daripada individu. Dalam konteks komunikasi, terjadi pengendalian yang ketat atas komunikasi massa. Secara filosofis, sistem ini dapat dilacak dari pemikiran filsuf Yunani kuno: Plato (428 – 348 SM) dalam karyanya The Republic yang mengemukakan tipe pemimpin ideal sebagai raja filosof; filsuf Italia Nicollo Machiavelli (1469 – 1527) dalam karyanya Il Principe (Sang Pangeran) yang intinya dalam situasi chaos dibutuhkan seorang pemimpin otoriter yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan; filsuf Inggris Thomas Hobbes (1588 – 1679) dalam karyanya Leviathan yang melihat manusia secara intelektual tidak jauh berbeda dengan hewan. Tesisnya yang sangat terkenal homo homini lupus; filsuf idealis Jerman Georg Wilhelm Friedrich Hegel yang mengilhami konsep negara fasis NAZI Hitler di Jerman. Ia mengatakan, “the march of God in the world, that the state is”.
B. Liberal (libertarian)
Sistem ini sangat mendukung the free market of idea. Dapat dilacak dari pemikiran filsuf rasionalis Perancis Rene Descartes, “Cogito Ergo Sum” (aku berpikir aku ada); filsuf empiris Inggris John Locke (1632 – 1704) dengan karyanya Social Contract dan John Stuart Mill (1806 – 1873) dengan karyanya On Liberty yang intinya menghendaki kebebasan berpendapat. Termasuk kebebasan berekspresi melalui media massa.
C. Komunis Soviet (soviet communist concept)
Konsep ini tidak lain dari new authoritarian yang berdasarkan pemikiran Karl Marx (1818 – 1883). Ia mengatakan ide adalah manifestasi dari dunia materi. Pemikirannya diadobsi oleh Bapak pendiri USSR Vladimir Oeljanov Lenin (1870 – 1924) yang mengatakan, “freedom of the press is one of the keynote of pure democracy. This freedom is a lie so long as the best printing works and the largest stocks of paper are in capitalist hands. Meanwhile the independence of the Bolshevic press rest in the closes dependence on the working class” (Martin, 1983).
D. Tanggung Jawab Sosial (social responsibility)
Ini tidak lain dari new libertarian sebagai reaksi atas konsep libertarian yang dalam tingkat praksis identik dengan kapitalisme dalam kepemilikan media. Hakekat sistem ini, setiap orang harus punya akses yang sama ke media massa (Rachmadi, 1990).
Mengakhiri topik ini akan dibahas sedikit tentang sistem komunikasi internasional di Barat: AS, Inggris dan Perancis. Media massa AS sangat private ownerships yang eksistensinya bertumpu pada advertising. Semangatnya free fight liberalism. Namun demikian, untuk mengawasi media massa agar tidak “kebablasan” ada lembaga FCC (Federal Communication Commission) yang berfungsi sebagai the watch dog of the press. Sejarah komunikasi AS dimulai dengan zaman keemasan radio tahun 1940 – 1950. Diantaranya CBS (Columbia Broadcasting System) dan ABC (American Broadcasting Company). Pengaruh iklan membuat mutu siarannya dianggap rendah. Kemudian muncullah ETV (Education Television) yang bersifat regional.
Di Inggris Sir Hugh Greene mendirikan BBC (British Broadcasting Coorporation) yang harus steril dari pengaruh para politisi. Kemudian muncul IBA (Independence Broadcasting Authority). Baik BBC maupun IBA diberi wewenang dalam siaran radio dan televisi di seluruh Inggris Raya. Struktur BBC terdiri dari 12 gubernur, redaksi, administrasi dan instalasi yang semuanya diangkat oleh Ratu Inggris atas usul parlemen. Tetapi sifatnya tidak partisan dengan masa jabatan 5 tahun. Sebagai media massa BBC bersifat publik dan tidak menerima pemasukan dari iklan sama sekali.
Berbeda dengan di Inggris yang media massanya berfungsi sebagai alat kontrol terhadap pemerintah yang berkuasa maka di Perancis sejarahnya dimulai sebagai transmisi tindakan pemerintah. Awalnya, baik radio maupun televisi didirikan oleh pendukung Jenderal De Gaulle pemimpin Perancis dalam PD II menghadapi fasis NAZI Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Didirikanlah ORTF (Organization de Radio Diffusion Television) yang merupakan subordinasi partai pendukung De Gaulle. Tetapi tahun 1975 dibubarkan oleh parlemen dengan membentuk Dewan Administratif yang terdiri dari dari 2 wakil pemerintah, 1 wakil parlemen, 1 wakil pers dan 1 wakil pegawai dinas kebudayaan. Untuk mengawasi kinerjanya Dewan Menteri di Paris membentuk Delegation Parlementerie Pour la Radio Diffusion Televison Francaise (Martin, 1983).
VI. Ketimpangan Arus Informasi Internasional
Johan Galtung dalam karyanya A Structural Theory of Imperialism menyatakan penyebaran informasi dari negara maju (baca: Barat) ke negara-negara berkembang dan miskin (baca: Non Barat) berpola interaksi feodal yang menguntungkan pihak pertama.
Dalam konteks komunikasi internasional manifestasinya berupa imperialisme media yang tidak lain berupa peluberan informasi yang tidak berimbang antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang dan miskin. Ini mencakup 3 (tiga) aspek: politik informasi (political aspect of information); hukum informasi (legal aspect of information); teknik dan keuangan informasi (technico-financial aspect of information).
Dengan kata lain, negara-negara berkembang dan miskin cenderung menjadi konsumen daripada produsen informasi internasional. Bisa dicermati di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Berita dari negara-negara berkembang dan miskin yang biasanya terletak di Asia, Afrika dan Amerika Latin biasanya didominasi informasi seputar kemiskinan, keterbelakangan, pengangguran, bencana alam, kudeta milter dll. Sebaliknya informasi dari negara-negara maju seperti AS dan sekutu Eropa-nya, biasanya berupa informasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dll.
Dalam konteks politik konflik Palestina versus Israel dapat dijadikan ilustrasi yang menarik. Dengan dukungan finansial dan lobby politik Yahudi di AS mereka mampu mempengaruhi opini dunia via media massa yang mereka kuasai untuk menciptakan stereotype bahwa Arab umumnya dan Palestina khususnya sebagai teroris (Azra, 1996). Terlebih pasca peristiwa black September 9/11 delapan tahun yang lalu. Serta menjadikan Osama ibn Laden dengan Al-Qaeda-nya sebagai terdakwa utama.
Berbagai usaha untuk memperbaiki kondisi ini pernah dijalankan. Diantaranya ide membentuk Tatanan Informasi Internasional Baru (The New World Information Order) dari pihak Barat pun terkesan bermakna ideologis (baca: pamrih). Ini dicetuskan oleh manajer eksekutif Associated Press Kent Cooper meniru Reuter Inggris yang menggunakan teknologi kabel laut yang mendapat dukungan Federal Communication Commission. Pasca PD II didukung lagi oleh American Society of Newspaper Editor. Selanjutnya pada bulan Februari 1945 di Mexico City gagasan ini diterima oleh Inter-American Conference on Problem of War and Peace. Kemudian dipraktekkan di negara-negara Amerika Latin dan berdasarkan resolusi no. 59 tanggal 14 Desember 1945 diterima oleh UNESCO-PBB sebagai hak atas informasi adalah hak fundamental manusia. Tahun 1948 di Jenewa-Swiss berlangsung konferensi PBB tentang kebebasan informasi dengan hasil: 30 setuju; 5 abstain (Cekoslavakia, Ukraina, Belarusia, Yugoslavia dan USSR); 1 tidak setuju (Polandia). Inilah kemudian yang mendasari Declaration of Human Right pasal 19 yang berbunyi’ “Hak kebebasan memegang keyakinan dan ide melalui media tidak mengenal perbatasan”.
Di sisi lain negara-negara berkembang dan miskin pun tidak tinggal diam mengatasi ketimpangan yang makin menganga dengan negara-negara maju. Sebab yang sebenarnya mereka butuhkan adalah tatanan kebebasan dan keseimbangan arus informasi (free flow and balance of information order). Ini mencakup beberapa faktor sebagai berikut: hukum internasional; politik internasional; teknologi komunikasi; hegemoni dan dominasi budaya. Dalam KTT Non Blok di Peru tahun 1975 muncul NANAP (Non Aligned News Agency’s Pool) dan BONAC (Broadcasting Organisation of Non Aligned Countries) di Sarajevo-Yugoslavia pada bulan Oktober 1977 yang mengajukan usulan A New World Economic Order dan A New International Information and Communication Order. Setahun sebelumnya dalam KTT Non Blok diadakan Symposium on Information di Tunisia tahun 1976 muncul IGC (Intergovernmental Council for the Coordination of Information and Mass Communication) yang menghasilkan free flow of news, cultural, imperialism, information order, technology transfer yang diajukan ke PBB dalam IPDC (International Programme for the Development of Communication).
Masalahnya, ini tidak menguntungkan negara-negara berkembang dan miskin. Dalam konteks negara-negara Amerika Latin ada ECLAC (Economic Commission for Latin America). Pakar teori ketergantungan Andre Gunder Frank dalam karyanya Capitalism and Underdevelopment in Latin America telah lama mengatakan hal ini. Ini diperkuat rekannya Theotonio Dos Santos yang mengindentifikasi dua jenis ketergantungan: kolonial dan finansial-industrial. Data dari Bank Dunia menyatakan bahwa sekitar 19% negara-negara maju memiliki 64,5% GNP dunia. Sebaliknya 32,6% sisanya bagi negara-negara berkembang dan miskin yang hanya berkisar 4,4% GNP dunia. Ironisnya, di sini bermukim sekitar 1,5 milyar manusia. Sementara UNESCO melalui International Comission for The Study of Communication Problem mencatat dua hal. Pertama, ketimpangan sistem informasi internasional: 2/3 didominasi oleh negara-negara maju. Sementara hanya 1/4 untuk negara-negara berkembang dan miskin. Kedua, informasi seputar negara-negara berkembang dan miskin pun didominasi oleh berita negatif. Kondisi ini diperparah dengan merajalelanya paham neoliberalisme yang berlindung di balik konsep globalisasi dengan pemain utamanya MNC’S. Mengutip Martin Albrow, “globalization refers to all those process by which the people of the world are incorporated into a single world society, global society to borderless world.
VII. Opini Publik dan Propaganda dalam Komunikasi Internasional
A. Proses opini publik
Mengutip Milton a Maxwell dalam Introductory of Sociology: “Public is the collectivity of people who are at the time interested in what is going to happen on social issues”. Sementara William Albig dalam Modern Public Opinion mengatakan: “Public opinion is any expression on a controversial topic or the expression of all those members of a group who are giving attention in any way to a given issue”.
Sementara proses terjadinya opini publik dalam 4 (empat) bentuk sebagai berikut:
1. Rasionalisasi: pembenaran dengan alasan semu (pseudologis). Misalnya, korupsi atasan dengan dalih demi kesejahteraan bawahan.
2. Proyeksi: pendapat penguasa yang dimanipulasi seolah-olah pendapat rakyat. Misalnya, iklan kenaikan harga BBM dengan tokoh Bajaj Bajuri sebagai representasi kaum marjinal yang menyetujui kenaikan harga BBM.
3. Identifikasi: penyesuaian opini individu terhadap opini kelompok atau opini umum. Misalnya, para personel F4 asal Taiwan dalam sinetron Mandarin Meteor Garden yang diidolakan oleh banyak remaja putri Indonesia. Secara individual bisa saja ada diantara mereka memiliki pendapat lain, tapi tidak berani mengutarakannya. Sebab kuatir dianggap out group oleh peer group-nya.
4. Efek band wagon: opini simultan atau ikut arus. Misalnya, teriakan-teriakan para demonstran yang senada menyetujui apa yang disuarakan oleh tokohnya. Tidak akan mungkin dalam situasi seperti itu muncul pendapat berbeda yang berlawanan arus.
B. Strategi propaganda
Dalam Public Opinion and Propaganda, Leonard W Doob mengatakan: “Propaganda can be called the attempt to affect the personalities and control the behaviour of individual towards ends considered unscientific or doubtful value in a society at particular time”.
Kata “propaganda” berasal dari propagare (Latin) yang berarti cara tukang kebun menyemaikan tunas suatu tanaman ke lahan untuk mereproduksi tanaman baru yang kelak tumbuh sendiri. Dalam konteks historis digunakan oleh Paus Gregorius XV dalam Congregatio de Propaganda Fide (The Congregation of Propaganda) tahun 1633 dalam rangka misi Kristenisasi. Sementara dalam konteks modern digunakan oleh Dr. Goebbels (menteri propaganda NAZI) dalam PD II dengan tujuan menguasai massa.
1. Klasifikasi propaganda:
a. Bentuk: revealed propaganda: sumber dan tujuannya jelas; concealed propaganda: sumber dan tujuannya tidak jelas biasanya berbentuk rumor atau gosip; delayed propaganda: sumber dan tujuannya tertutup tetapi terbuka bila kondisinya memungkinkan.
b. Bidang: commercial propaganda; political propaganda; cultural propaganda; religious propaganda; war propaganda.
c. Sifat: white propaganda; black propaganda; ratio propaganda; senso/mental propaganda.
d. Tujuan: conversionary propaganda: mengubah kesetiaan; divisive propaganda: memecah-belah; consolidation propaganda: mempersatukan.
e. Misi dan operasionalisasi: defensive propaganda: bertahan; offensive propaganda: menyerang; counter propaganda: menangkis.
2. Teknik propaganda:
a. Stereotype: pemberian julukan karikatural terhadap pihak lain.
b. Name calling: pencercaan dengan konotasi emosional.
c. Selection: pemilihan fakta yang sesuai dengan tujuan.
d. Down right lying: berbohong tujuan menghalalkan cara.
e. Repetition: pengulangan slogan yang menyudutkan pihak lain.
f. Assertion: penonjolan sisi dan menutupi sisi lainnya.
g. Delaying strategy: startegi penundaan dengan sengaja.
h. Favourable argument: alasan yang menyenangkan.
i. Appeal to authority or testimonials: pengutipan pernyataan pihak yang berwenang.
Bibliografi

Azra, Azyumardi, “Zionisme, Media Massa Barat dan Citra Islam” dalam Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme Hingga Post Modernisme. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1996.

Bride, Sean Mac. Aneka Suara Satu Dunia (terj.). Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1980.

Fischer, Heinz Dietrich and John C. Merrill. International and Intercultural Communication. New York: Hasting House Publisher, 1976.

Fisher, B. Aubrey. Teori-Teori Komunikasi (terj.). Bandung: Remadja Karya, 1986.

Martin, L. John and Anju Grover Chaudary. Comparative Media System. New York: Longman Inc, 1983.

McDaniel, Edwin R. et.al. Intercultural Communication A Reader. Nevada: ICC Macmillan Inc, 2009.

Rachmadi, F. Perbandingan Sistem Pers: Analisis Deskriptif Sistem Pers di Berbagai Negara. Jakarta: PT. Gramedia, 1990.

Said, Edward W. Covering Islam: How The Media and The Experts Determine How We See The Rest of The World. New York: Pantheon Books, 1981.

Schiller, Herbert I. Communication and Cultural Domination. New York: International Arts and Sciences Press, 1976.

!.

1) “Sengketa dari Perspektif Diplomasi Internasional”
2) “Regulasi Dunia Maya dan Komunikasi Interaktif: Studi Kasus dari E-Mail ke Penjara”
3) “Buruh Migran dan Peranan Media Massa”

Catatan: kurang lebih 15 halaman kuarto, spasi ganda, arial dalam bentuk cakram (CD RW) dengan nama file: nama Anda dikumpulkan minggu depan (Kamis,11 Juni 2009). Serta diakhir tubuh tulisan sertakan no. telepon seluler yang bias dihubungi. Sekian!

Jakarta, April 2009
Penulis,
Teguh Kresno Utomo, S.IP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: