FILSAFAT ILMU


Pengantar

Mata kuliah ini mengkaji eksistensi ilmu dari perspektif filsafat. Diantaranya menelaah perbedaan terminologi: ilmu (science), pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (scientific knowledge). Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak. Artinya, apakah ilmu itu mempelajari yang ada (being) atau yang seharusnya ada (value). Serta bagaimana dampak ethis dari aplikasi ilmu dalam kehidupan sosial. Juga mengkaji pemikiran beberapa filsuf dari berbagai aliran filsafat dalam konteks ilmu.

Perkembangan ilmu-ilmu yang kita kenal sekarang sangat erat kaitannya dengan filsafat. Misalnya, fisika klasik Issac Newton (1642 – 1687) dalam karyanya Philosophical Naturalis Mathematica tahun 1686. Begitu juga dengan ekonomi Adam Smith (1723 – 1790) dalam karyanya The Wealth of Nations tahun 1776 yang tidak lain dari moral philosophy.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa logika, matematika, statistik dan bahasa bukan termasuk ilmu. Sebab ia punya metode sendiri dan hanya sekedar sebagai pengetahuan untuk mendukung metode ilmiah dalam rangka memperoleh ilmu yang tujuannya untuk memecahkan masalah (Suriasumantri, 1988).

Tulisan ini tidak berpretensi menjadi semacam bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Tetapi hanya sekedar memperlancar proses beljar-mengajar di ruang kuliah. Kritik konstruktif dari Anda sangat membantu demi sempurnanya tulisan ini. Termasuk kritik yang mengatakan bahwa tulisan

ini tidak ilmiah. Untuk itu semua saya tidak akan minta maaf. Sebab lebih adil bila Anda membuat tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya.

Terakhir, bila ada manfaat yang dapat Anda petik dari tulisan ini, menjadi cerdas bukan cerdik misalnya maka promosikanlah tulisan ini kepada kolega akademis Anda. Tetapi bila yang terjadi sebaliknya maka beritahulah saya. Itu saja kalau dapat. Sekian.

Jakarta, April 2009

Penulis,

Teguh Kresno Utomo, S.IP

I. Introduksi

Tulisan ini terdiri dari delapan bagian: Pertama, membahas perbedaan mendasar antara filsafat dengan ilmu. Kedua, menjelaskan konsep-konsep dasar kefilsafatan. Ketiga, memaparkan beragam aliran pemikiran dalam filsafat. Keempat, menganalisis perbedaan antara ilmu, pengetahuan dan ilmu pengetahuan dari perspektif filsafat. Kelima, mengkaji relevansi ilmu pengetahuan dari sudut epitemologi pengetahuan dan sosiologi pengetahuan. Keenam, mendiskusikan tipologi ilmu pengetahuan dari perspektif teori kritis. Ketujuh, mendeskripsikan perkembangan ilmu pengetahuan dalam konteks paradigma falibilisme dan revolusi ilmiah. Kedelapan, mengulas humaniora dari perspektif historis dan signifikansinya dalam tujuan ilmu pengetahuan.

II. Perbedaan Filsafat dengan Ilmu

Perbedaan filsafat dengan ilmu terletak pada pandangan dunia (world vie/weltanscaung) atau focus of interest-nya. Kalau filsafat membicarakan sesuatu secara komprehensif dan teleologis maka ilmu lebih banyak berbicara tentang fakta (fact). Singkatnya, pertanyaan filsafat selalu berkaitan dengan nilai dan makna (value and meaning). Sementara pertanyaan ilmu selalu seputar fakta.

Perbedaan lainnya berkaitan dengan obyek material (material object/subject matter) dan obyek formal (view of point) yang ditelaah. Obyek material filsafat adalah yang ada (being) yang terdiri dari: Pertama, ada dalam kenyataan (reality). Kedua, ada dalam pikiran (mind). Ketiga, ada dalam kemungkinan (possibility). Obyek formal filsafat adalah aspek keumuman (essence), yaitu: ada dalam dunia konsep atau akal budi (logos) yang berbeda dengan ada dalam dunia empiris (perceptual knowledge).

Di sisi lain perbedaan antarilmu lebih terletak pada obyek formalnya meskipun obyek materialnya sama. Sebagai ilustrasi perbedaan antara sosiologi dengan psikologi. Obyek material keduanya sama-sama prilaku manusia. Tetapi obyek formalnya yang berbeda. Kalau yang pertama melihat prilaku manusia sebagai bagian dari masyarakat maka yang kedua melihat prilaku manusia sebagai bagian dari individu.

III. Uraian Kefilsafatan

Pertama, ada (being): predikat universal dari setiap satuan yang ada dalam kenyataan (reality); ada dalam pikiran (mind); ada dalam kemungkinan (possibility). Misalnya, adanya Tuhan dimaknai sebagai ultimed being. Kedua, kenyataan/realitas (reality): ada yang dapat dipercaya secara subyektif. Singkatnya, sesuatu yang nyata sudah pasti ada. Tetapi sebaliknya sesuatu yang ada belum tentu nyata. Misalnya, mimpi seorang laki-laki yang bertemu seorang perempuan cantik berkulit merah yang ada dalam tataran subyektifnya. Ketiga, keberadaan/eksistensi (existence): ada dalam dimensi ruang dan waktu yang dapat dipahami secara intersubyektif. Singkatnya, sesuatu yang bereksistensi pasti nyata dan ada. Tetapi sebaliknya sesuatu yang ada belum tentu nyata apalagi bereksistensi. Misalnya, adanya perempuan cantik berkulit merah di atas tidak bisa ditarik dalam dimensi ruang dan waktu yang bisa dipahami secara intersubyektif oleh orang lain. Sebab ia hanya dimengerti secara subyektif via mimpi laki-laki ybs. Keempat, hakekat/esensi (essence): ada yang menyebabkan sesuatu menjadi sesuatu. Misalnya, esensi seorang mahasiswa apalagi dosen terletak pada kapasitas intelektualnya. Bukan pada panjangnya gelar akademiknya yang berderet-deret bahkan lebih panjang daripada namanya sendiri. Kelima, substansi (substance): unsur penyusun sesuatu yang beresensi baik dalam arti kongkrit maupun abstrak. Misalnya, piring plastik, gelas plastik dan sendok plastik. Substansinya plastik dan esensinya alat-alat makan dan minum. Keenam, materi (matter): secara sederhana dipahami sebagai substansi terdalam adalah materi dalam artian filosofis bukan sosiologis. Misalnya, substansi alam raya menurut filsuf Yunani kuno Thales (624 – 548 SM) adalah air (Hatta, 1986) Sementara marxisme menafsirkan materi dalam artian sosiologis yaitu: penindasan manusia atas manusia dalam bidang kepemilikan alat-alat produksi yang melibatkan majikan (kapitalis) dan proletariat (buruh). Ketujuh, bentuk (form): dipahami sebagai struktur atau pola sesuatu. Misalnya, konsep hylemorfisme Aristoteles (384 – 322 SM). Hyle (materi) adalah bahan untuk membuat sesuatu dan morfisme (bentuk) adalah ciri-ciri khas yang membedakan sesuatu. Kembali ke piring plastik, gelas plastik dan sendok plastik di atas. Bentuknya piring; gelas; sendok, Substansi materinya plastik dan esensinya alat-alat makan dan minum. Kedelapan, perubahan (change): peralihan dari bukan bentuk sekarang menjadi bentuk sekarang atau dari bentuk sekarang menjadi bukan bentuk sekarang. Misalnya, perubahan fisik manusia mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan tua. Kesembilan, sebab-akibat (causality): sebab adalah sesuatu yang menimbulkan perubahan. Meminjam konsep Aristoteles sebab (causa) terdiri dari empat jenis: materialis; formalis; efisien; finalis. Misalnya, piring plastik, gelas plastik dan sendok plastik di atas dapat dianalisis sebagai berikut: plastik (causa materialis); piring, gelas dan sendok (causa formalis); pabrik pembuatnya seperti Lion Star (causa efisien); alat-alat makan dan minum (causa finalis). Sedangkan akibat dipahami sebagai sesuatu yang dihasilkan oleh sebab. Misalnya, determinisme yang menganggap sesuatu semata-mata akibat dari sesuatu. Kesepuluh, hubungan (relations): dipahami sebagai koneksi atau proposisi dalam logika. Dalam konteks filosofis ada dua yaitu: realisme (hubungan luar) dan idealisme (hubungan dalam) (Katsoff, 1996).

IV. Ragam Pemikiran Filsafat

Pertama, idealisme: kenyataan terdalam adalah roh. Pemikiran ini berkembang di Prussia (Jerman). Ini dapat dilacak mulai dari pemikiran Plato (428 – 347 SM), Immanuel Kant (1724 – 1804) dan George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831).

Kedua, naturalisme: kenyataan terdalam adalah alam kodrat. Sebaliknya tidak mengakui adanya alam adikodrati (supranatural). Misalnya, tidak mempercayai adanya eksistensi Nyai Roro Kidul penguasa laut selatan dan jadi permasuri raja-raja Jawa.

Ketiga, materialisme: kenyataan terdalam adalah materi dalam artian filosofis. Misalnya, filsuf Yunani kuno Thales (624 – 428 SM) mengatakan bahwa air adalah substansi terdalam jagad raya (Hatta, 1986). Berbeda dengan materialisme dialektis yang menyatakan bahwa kenyataan terdalam bersifat materialis dalam artian sosiologis. Serta senantiasa berubah karena ada kekuatan yang saling berlawanan. Misalnya, dialektika materialis-historis yang dikemukakan oleh Karl Marx (1818 – 1883) yang menelaah sejarah peradaban manusia adalah sejarah penindasan manusia atas manusia dalam rangka kepemilikan alat-alat produksi (Magnis-Suseno, 1995). Varian marxisme sebagai alat analisis sosial berkembang menjadi: marxisme Soviet Rusia (Trotsky, Lenin dan Stalin); marxisme Eropa (Antonio Gramsci); marxisme Amerika Latin (Che Guevara); maoisme China (Mao Tse Tung); mahzab Frankfurt Jerman (Jurgen Habermas).

Keempat, realisme: kenyataan tidak tergantung pada subyek yang mengetahui (logos).

Kelima, empirisme logis: pernyataan tentang kenyataan tidak bermakna. Serta merendahkan tugas filsafat semata-mata hanya sebagai analisis bahasa dan makna.

V. Tinjauan Filosofis Ilmu Pengetahuan

Sebelumnya perlu dibedakan dulu beberapa istilah berikut: ilmu (science), pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (scientific knowledge). Dimulai dari Ilmu (science) adalah pengetahuan yang teroganisir (organized knowledge) yang mengembangkan model sederhana tentang kehidupan empiris dengan mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variabel yang saling terkait dan bersifat rasional. Sementara pengetahuan (knowledge) adalah khasanah kekayaan mental yang berkaitan dengan hukum alam yang bersifat subyektif untuk keperluan kehidupan. Sedangkan ilmu pengetahuan (scientific knowledge) merupakan pengetahuan yang terbuka terhadap segala pertanyaan yang membutuhkan jawaban logis konsisten dan dapat dimengerti secara intersubyektif.

Dengan demikian, dalam logika berbahasa sesuai terjemahan bebas dari Bahasa Inggris, ilmu pengetahuan dapat ditukartempatkan pengertiannya dengan pengetahuan ilmiah. Selanjutnya perlu dielaborasi lagi pengertian kata “ilmiah” itu. Ilmiah adalah kata sifat dari kata benda “ilmu”. Sementara ilmu satu akar kata dengan “alam” yang berasal dari Bahasa Arab. Alam dalam Bahasa Yunani disebut cosmos yang berarti teratur atau seimbang. Ini dilawankan dengan chaos yang berarti ketidakteraturan atau ketidakseimbangan. Cosmos terbagi dua: macro cosmos (universe) atau jagad raya dan micro cosmos (manusia) yang berintikan logos. Dengan demikian, bersikap ilmiah berarti menyelaraskan sikap dengan keteraturan alam.

Kalau kita proyeksikan dalam ilustrasi kehidupan sehari-hari, bila ada perempuan mengejar laki-laki maka itu disebut sikap tidak ilmiah. Sebab bertentangan dengan hukum alam yang dalam biologi diketahui bahwa spermatozoa yang mengejar ovum. Bukan sebaliknya ovum yang mengejar spermatozoa. Begitu pula ketika seseorang jatuh sakit yang berarti keteraturan atau keseimbangan micro cosmos-nya terganggu. Masalahnya, jika penyakit yang dideritanya karena perbuatannya sendiri. Misalnya, akibat mengkonsumsi narkoba. Itu berarti bersikap tidak ilmiah dengan merusak micro cosmos (baca: tubuh)-nya sendiri. Serta mengubahnya menjadi chaos.

Dalam dunia akademis, sikap ilmiah tercermin dalam dua pengertian: Pertama, konsekuen: antara cara dengan tujuan saling berkoherensi. Kedua, konsisten: antara satu cara dengan cara yang lainnya tidak saling menegasikan dalam rangka mencapai tujuan. Misalnya, ketika seseorang ingin menjadi sarjana maka ia harus mendaftar di perguruan tinggi dan mengikuti proses belajar-mengajar yang biasa disebut kuliah itu. Kalau kesarjanaan dianggap sebagai tujuan maka mengikuti kuliah dianggap sebagai cara mencapai tujuan.. Dengan demikian, jika ia sudah terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi maka ia sudah konseksuen. Tapi ini belum selesai, masalahnya jika ia jarang atau tidak pernah hadir mengikuti kuliah atau hadir dengan memalsu tanda tangan maka ia tidak konsisten. Andai kata dengan cara seperti itu pun ia berhasil menjadi sarjana maka jadilah ia sarjana yang tidak ilmiah. Jangan heran apabila kita sering kali menemukan pemikiran seseorang sarjana ternyata tidak lebih bermutu daripada pemikiran seseorang yang hanya lulusan sekolah menengah.

Secara filosofis ilmu pengetahuan dapat ditelaah dalam tiga bidang kajian yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya:

Pertama, ontologi: memulai penjelajahan pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman itu. Fungsinya sebagai alat bantu manusia dalam memecahkan masalah kehidupan. Muncul pertama kali untuk mengatasi hal-hal yang bersifat transeden menjadi imanen. Berbeda dengan filsafat dan agama, ilmu pengetahuan tidak berurusan dengan hal-hal metaempiris. Misalnya, kepercayaan pada adanya kehidupan sesudah kematian yang menjadi obyek kajian agama yang menuntut percaya dulu bukti kemudian. Sebaliknya dengan ilmu, bukti dulu baru percaya. Dengan demikian, kalau tesis kepercayaan ada kehidupan setelah kematian dijadikan obyek kajian ilmu pengetahuan maka masalahnya belum pernah ada orang mati yang bisa hidup kembali dan menceritakan pengalamannya kepada kita sebagai verifikasi kebenaran ilmiah. Ini selaras dengan pemikiran August Comte (1798 – 1857) yang mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan dalam konteks sosiologi melalui tiga tahap: teologis; metafisis; positivistis. Sosiolog Perancis yang lebih dikenal sebagai Bapak Sosiologi Positivistis ini mengatakan bahwa sosiologi adalah sejenis fisika sosial dengan karakter: obyektif; fenomenologis; reduksionis; naturalis.

Kedua, epistemologi: telaah tentang bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan. Antara lain terdiri dari: (1). Rasionalisme: pengetahuan diperoleh melalui kegiatan akal budi. Berkembang di Perancis dengan filsuf dan matematikus Rene Descartes (1596 – 1650) sebagai juru bicaranya. Ia menjadikan matematika sebagai model bagi semua ilmu pengetahuan. Dengan meminjam aksioma matematis yang sangat rasional ditarik kesimpulan logis yang tidak terbantahkan. (2). Empirisme: pengetahuan diperoleh melalui pengamatan indera. Berkembang di Inggris dengan John Locke (1632 – 1704) sebagai juru bicaranya. Locke menolak adanya konsep ide bawaan sejak lahir. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa akal budi ibarat sehelai kertas kosong yang hanya dapat diisi dengan pengamatan indera. (3). Fenomenologi: dipelopori oleh filsuf Jerman Immanuel Kant (1724 – 1804) sebagai jalan tengah antara rasionalisme dan empirisme. Ia berpendapat ilmu pengethuan berdasarkan pada indera tetapi tidak tergantung dari indera. Artinya, kenyataan diberi struktur oleh kegiatan akal budi melalui kategorisasi. Ditambahkannya, yang kita ketahui hanyalah fenomena (gejala). Sebab kenyataan sebagai mana adanya (das ding an sich) tidak akan pernah kita ketahui. Dalam karyanya Kritik der Reinen Vernunft (kritik terhadap akal murni) ia menyebutkan ada empat jenis pengetahuan yaitu: analitis apriopri (konsep/teori); analitis aposteriori (kimia); sintetis apriori (matematika); sintetis aposteriori (statistik). (4). Intuisionisme: diperkenalkan oleh filsuf Perancis Hendry Bergson yang mengemukakan ada dua jenis pengetahuan: diskursif-simbolik (knowledge about) dan intuitif (knowledge of). Yang terakhir ini merupakan pengetahuan dengan empati. (5). Logico-hypothetico: gabungan rasionalisme dengan empirisme yang meletakkan verikasi sebagai unsur utama metode ilmiah yang signifikan dalam ilmu pengetahuan (Brower, 1986).

Ketiga, aksiologi: membahas aspek ethis ilmu pengetahuan. Ia mempertanyakan apakah ilmu pengetahuan itu bebas nilai atau tidak. Ilmu sosial (logic of humanities) tidak bebas nilai. Sebab peneliti adalah bagian dari lingkup semesta yang sedang ditelitinya. Bahkan tindakan penelitian itu sendiri mengubah semesta tersebut (Soedjatmoko, 1994). Begitu pula dengan ilmu alam (logic of science), tidak bisa dicampuradukkan antara obyek ontologis (kenyataan) dengan obyek epistemologis (data) (Kattsoff, 1996). Singkatnya, hukum alam itu obyektif. Sedangkan ilmu pengetahuan alam itu subyektif.

Sebagian ilmuwan menganggap nilai bukan obyek ilmiah karena tidak bersifat empiris. Persoalannya, dalam hal ini harus ditelaah dalam tiga kriteria: (1). Nilai sebagai basis asumsi dan teori. (2). Implikasi nilai sebagai aplikasi ilmu pengatahuan. (3). Penilaian sebagai tindakan ilmiah (Kleden, 1988).

VI. Relevansi Intelektual atau Relevansi Sosial

Dalam dunia intelektual ada pemikiran yang rasional tetapi terlambat memenuhi kebutuhan sosial. Sebaliknya ada pemikiran yang compang-camping secara intelektual tetapi diterima secara sosial. Terjadi pergulatan intelektual manakah yang harus didahulukan: relevansi intelektual atau relevansi sosial. Di sini teori sosial dimaknai dengan tiga kriteria: Pertama, sebagai rekayasa sosial dan transformasi sosial dalam arti ia menjelaskan struktur sosial atau perubahan sosial (variabel independen). Kedua, sebagai legitimasi sosial atau kekuatan reflektif dalam arti ia turut menciptakan keadaan yang diprediksikannya atau memantapkan keadaan yang ingin dijelaskannya (variabel dependen). Ketiga, sebagai kritik sosial (Kleden, 1988). Yang terakhir ini dikembangkan dalam Die Frankfurter Schule (Mahzab Frankfurt) Jerman dengan tokoh utamanya Jurgen Habermas. Intinya, kritik terhadap hubungan sosial yang nyata dalam tradisi besar pemikiran Karl Marx (Magnis-Suseno, 1995).

Ada dua masalah utama yang dihadapi ilmuwan dalam dunia ilmu pengetahuan umumnya dan ilmu pengetahuan sosial khususnya adalah: Pertama, epistemologi pengetahuan: validitas suatu sistem pengetahuan berdasarkan ukuran-ukuran rasional. Sejauh mana ia benar dan dapat dibenarkan. Kedua, sosiologi pengetahuan: setiap pengetahuan kontekstual dan dipengaruhi oleh situasi dan nilai-nilai dari sistem pengetahuan. Obyektivitas tercapai bila prasangka sosial dieliminasikan.

Ini sejalan dengan pemikiran Peter L. Berger dalam karyanya The Sosial Construction of Reality yang menyebutkan masyarakat dan lembaganya bukan ada dengan sendirinya (given) melainkan dibuat oleh interaksi antarmanusia. Artinya, apakah struktur sosial yang menentukan sistem nilai (budaya) atau sebaliknya. Misalnya, apakah kemiskinan yang menyebabkan kemalasan atau kemalasan yang menyebabkan kemiskinan (Santoso, 1977).

VII. Tipologi Ilmu dalam Perspektif Teori Kritis

Kata “teori” berasal dari kata theoria (Yunani) yang berarti pandangan atau kontemplasi terhadap cosmos. Dengan demikian, berteori berarti melakukan kegiatan tertinggi manusia dalam rangka mengaktifkan logos (percikan Illahi). Dalam bahasa filsafat disebut mimesis, yaitu: menjadi manusia kontemplatif untuk meniru keabadian yang tercermin dalam struktur cosmos. Singkat kata, berfilsafat berarti mengembangkan ethos, yaitu: sikap teratur pada tatanan kosmis yang abadi.

Teori kritis dikembangkan oleh Mahzab Frankfurt Jerman dengan tokoh-tokohnya: Marx Horkheimer; Theodor W. Adorno; Jurgen Habermas. Aliran ini menggunakan dua pendekatan: Pertama, pendekatan historis: realitas sosial harus dipahami sebagai produk sejarah manusia. Kedua, pendekatan materialis: dalam artian sosiologis-marxisme bahwa sejarah manusia adalah sejarah penindasan manusia atas manusia dalam bidang produksi. Apapun yang bernilai bukan lagi karena nilai pakai. Tetapi sejauh mana ia laku di pasar yang sangat kapitalistik.

Menurut teori kritis, ilmu pengetahuan merupakan perwujudan kebutuhan manusia yang terungkap dalam suatu kepentingan yang fundamental. Ini dapat ditelaah dengan tiga jenis ilmu pengetahuan di bawah ini:

Pertama, ilmu-ilmu empiris analitis: Misalnya, ilmu pengetahuan alam dengan hukum pasti (nomologis). Tujuannya untuk menguasai alam, lingkungannya alam fisik dan kepentingannya teknis-proses produksi.

Kedua, ilmu-ilmu historis-hermeneutis: Misalnya, ilmu sejarah. Tujuannya memahami makna, lingkungannya inetraksi atau bahasa dan kepentingannya praktis (dorongan hidup dengan benar) dan proses komunikasi (interaksi).

Ketiga, ilmu-ilmu tindakan: Misalnya, ilmu politik. Tujuannya membantu manusia dalam bertindak bersama, lingkungannya kekuasaan dan kepentingannya politis dan proses emansipasi (Magnis – Suseno, 1995).

VIII. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Di sini akan dibahas dua paradigma sebagai berikut: Pertama, falibilisme yang dengan tokohnya Karl R. Popper yang mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan memerlukan falsifikasi. Intinya, semacam pengujian pengetahuan secara asimetris. Singkatnya, menurut Popper kebenaran merupakan dugaan tetapi kesalahan merupakan kepastian. Teori dikembangkan secara deduktif yang dalam bahasa logika apabila konsekuensi yang ditarik dari suatu teori salah maka teori itu pun juga salah. Test empiris diperlukan ketika pengetahuan itu diaplikasikan. Kedua, revolusi ilmiah dengan tokohnya Thomas S. Khun yang mengatakan perkembangan pengatahuan terjadi melalui dua tahap, yaitu: (1). Ilmu normal sebagai tahap teori dikembangkan dan diterapkan. (2). Revolusi ilmiah sebagai tahap teori di-test dan dijatuhkan. Artinya, teori baru muncul dari puing-puing teori lama yang merupakan akumulasi anomali.

IX. Seputar Humaniora

Humaniora tidak sama dengan humanities (human science). Sebab ia lebih dahulu ada sebelum humanities terbentuk. Intinya, suatu ilmu pengetahuan yang bertujuan bagaimana menjadikan manusia (humanus) menjadi manusiawi (humanior) yang terdiri dari trivium: Pertama, gramatika: membentuk manusia terdidik yang menguasai sarana komunikasi secara mutlak. Kedua, logika: membentuk manusia terdidik yang dapat menyampaikan pemikirannya yang rasional dan dapat dimengerti secara intersubyektif. Ketiga, retorika: membentuk manusia terdidik dengan kemampuan sesitivitas, adabtasi, simpati dan empati terhadap orang lain.

Singkatnya, humaniora bertujuan membentuk manusia akademis dengan kemampuan bernalar (gramatika/logika) dan bertutur (retorika) yang sistematis. Bernalar dapat diasah dengan matematika (kuantitas). Sementara bertutur diasah dengan kemampuan berbahasa (kualitas).

Dalam konteks historis bahasa humaniora adalah Bahasa Latin (lingua franca) atas desakan suku Latinum yang menguasai Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara. Bahasa Latin yang semula hanya menjadi bahasa hukum, administrasi dan politik berhasil mendepak Bahasa Yunani sebagai bahasa intelektual dan budaya. Ini seiring berkuasanya imperium Romawi dengan Bahasa Italic yang menjadi akar Bahasa Latin. Secara umum bahasa Indo Eropa terdiri dari bahasa: Yunani, Celtic, Italic, Slavic dan Indo Iranian.

Perkembangan humaniora melalui Bahasa Yunani diadobsi oleh Bahasa Arab (Spanyol) yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Kemudian berkembang di Eropa yang bermuara pada zaman pencerahan (renaissance) (Drost, 2002).

Dalam konteks kekinian yang termasuk humaniora antara lain: filsafat; bahasa; sejarah. Tujuannya untuk mengembangkan kerangka moral dan imajinatif dalam bentuk: Pertama, empati: kemampuan untuk sepenuhnya mengidentifikasikan diri dengan orang lain dalam rangka memahaminya. Kedua, toleransi: pengakuan terhadap pluralisme sebagai dasar hubungan damai antarkomunitas (Soedjatmoko, 1994).

Dalam hal ini posisi universitas sangat signifikan. Universitas dewasa ini yang dipengaruhi oleh pemikir Jerman Wilhelm von Humboldt lebih menitikberatkan pada mencari kebenaran. Bukan mengajarkan kebenaran. Ini sejalan dengan kebebasan akademik (Kurtz, 1994). Berbeda dengan universitas abad pertengahan yang tidak lain dari sekolah theologia untuk mengkaji mata kuliah ketuhanan dan ciptaan-Nya. Ia lebih tertarik pada upaya pewarisan pengetahuan yang diterima daripada mengembangkan pengetahuan baru.

Bibliografi

Brower, MAW. Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman. Bandung: Alumni, 1986.

Drost, J. “Humaniora” artikel KOMPAS, 17 Oktober 2002.

Hatta, Muhammad. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Tintamas, 1986.

Kattsoff. Louis O. Pengantar Filsafat (terj.). Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996.

Kleden, Ignas. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3ES, 1988.

Kurtz. Paul. Sidney Hook: Sosok Filsuf Humanisme Demokrat dalam Tradisi Pragmatisme (terj.). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994.

Magnis – Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Newlands, Kathleen (ed.). Menjelajah Cakrawala Kumpulan Karya Visioner Soedjatmoko. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1994.

Rais, M. Amien (ed.). Krisis Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pembangunan di Dunia Ketiga. Yogyakarta: PLP2M, 1984.

Santoso, R. Slamet Iman. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1977.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu: Suatu Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988.

Referensi :

Teguh Kresno Utomo

Dosen Fisip UNTAG JAKARTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: