KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI


BAB I
PROSES KOMUNIKASI INSANI

APAKAH KOMUNIKASI INSANI ITU ?

 Komunikasi didefinisikan secara luas sebagai “berbagi pengalaman”. Sampai batas tertentu, setiap makhluk dapat dikatakan melakukan komunikasi dalam pengertian berbagai pengalaman.
 Komunikasi insani sebagai “proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih”.
 Pandangan transaksional memberi penekanan bahwa anda mengalami perubahan sebagai hasil terjadinya komunikasi.
 Perspektif transaksional memberi penekanan pada dua sifat peristiwa komunikasi, yaitu serentak dan saling menpengaruhi.

KOMUNIKATOR 1 : Pengirim/Penerima

Indera komunikator 1 diterpa oleh serangkaian rangsangan dari luar maupun dari dalam dirinya secara berkesinambungan. Semua pengetahuan dan pengalamannya dalam dunia fisik maupun sosial, diperoleh pertama kali – melalui inderanya. Seluruh rangsangan yang telah berlalu maupun yang sedang terjadi, yang memberikan informasi kepada kita mengenai dunia seisinya, kita namakan – meminjam terminologi komputer – masukan data mentah (rawdata input).

PESAN

 Verbal
 Non verbal
 Disengaja (intentional)
 Tak disengaja (unintentional)

Empat jenis pesan :

1. verbal disengaja.
2. verbal tak disengaja.
3. nonverbal disengaja.
4. nonverbal tak disengaja.

Pesan verbal.

Pesan verbal adalah semua jenis komunikasi lisan yang menggunakan satu kata atau lebih.
o Pesan verbal disengaja; yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan.
Aspek paling unik dalam komunikasi insani adalah penggunaan lambang-lambang verbal. Kata semata tidak memiliki makna apapun. Haney (1992) menamai hal ini sebagai “kesalahan wadah” (container fallacy).
Dengan kata lain, tidak benar bila kita menyakini bahwa makna dibawa atau dikandung atau diwadahi oleh kata-kata.
o Pesan verbal tak disengaja adalah sesuatu yang kita katakan tanpa bermaksud mengatakan hal tersebut.
o Pesan non verbal : ekspresi wajah, sikap tubuh, nada suara, gerakan tangan, cara berpakaian, dan sebagainya. Pesan-pesan itu meliputi semua pesan yang disampaikan tanpa kata-kata atau selain dari kata-kata yang kita pergunakan.
o Pesan non verbal disengaja : yaitu pesan nonverbal yang ingin kita sampaikan.
Misalnya, anda dapat menyapa seseorang dengan senyuman dan anggukan kepala atau anda dapat mengatakan “Halo” sekaligus sambil tersenyum atau melambaikan tangan.
o Pesan non verbal tak disengaja : adalah semua aspek non verbal dalam perilaku kita yang kita sampaikan tanpa kita kontrol.
“Bila kemampuan anda berkomunikasi meningkat, semakin berkurang pesan tak disengaja yang anda sampaikan”.

SALURAN

Saluran komunikasi tatap-muka adalah organ pengindera : pendengaran, penglihatan, dan perabaan.
Saluran dalam komunikasi organisasional adalah laporan berkala perusahaan, papan pengumuman, “bulletin boards”, memoranda. Dalam komunikasi massa, saluran utama adalah surat kabar, film, radio, dan televisi.

GANGGUAN.

Gangguan (interference) atau kegaduhan (noise), yakni segala sesuatu yang mengubah informasi yang disampaikan kepada penerima atau mengalihkannya dari penerimaan tersebut. Dalam teori komunikasi, interference dan noise merupakan istilah yang sinonim. Interference merupakan kata yang lebih sesuai, namun karena kata noise merupakan istilah pertama yang dipakai dalam bidang telekomunikasi.

Gangguan dapat dibedakan atas dua jenis : gangguan teknis dan gangguan semantik.
 Gangguan teknis adalah faktor yang menyebabkan si penerima merasakan perubahan dalam informasi atau rangsangan yang tiba.
 Gangguan semantik : muncul bila penerima memberi arti yang berlainan atas sinyal yang disampaikan oleh pengirim..

KOMUNIKATOR 2 : Penerima/Pengirim

MENDENGARKAN

Mendengarkan (listening) dan mendengar (hearing) bukanlah dua kata yang sinonim. Bila komunikator 2 (penerima/pengirim) sedang mendengarkan, ada empat proses berbeda – yang saling berkaitan – yang terlibat: memperhatikan, mendengar, memahami, dan mengingat.
Penerimaan pesan oleh komunikator kedua pada gambar 1.1 baru merupakan separuh jalan dari proses yang sedang berlangsung serta berkesinambungan – yakni komunikasi, sebab setiap penerima pesan juga merupakan pengirim pesan, oleh karena itu dinamakan “penerima/pengirim. Lebih lanjut lagi, keunikan orang tersebut sebagai manusia memastikan bahwa usahanya dalam berkomunikasi dapat amat berbeda dari usaha orang lain dalam model tersebut. Sebagai contoh latar belakang budaya komunikator 2 mungkin amat berbeda dari latar belakang budaya komunikator 1. Filter mereka, baik fisiologis atau psikologis, dapat berlainan. Lalu rangsangan yang mereka sampaikan juga tidak sama. Bahkan tidak hanya itu, pemilihan saluran dan sumber kesulitannya pun dapat berlainan.
Penyampaian dan penerimaan pesan tunggal hanya sebagian dari model ini. Komunikasi tatap muka khususnya ditandai oleh kesalingbergantungan para pelakunya serta umpan balik yang eksplisit dan segera di antara mereka.

UMPAN BALIK.

Luft (1969) menyatakan umpan balik (feed back) sebagai “balasan atas perilaku yang anda perbuat”. Bila umpan balik hanya dipandang sebagai istilah dalam konteks antarpersona saja, kita dapat lebih cermat lagi dan mengatakan bahwa umpan balik dapat memperteguh perilaku tertentu dan meniadakan perilaku lainnya. Misalnya, seorang dosen psikologi yang mengajarkan prinsip-prinsip “instrumental learning” dapat dikondisikan oleh para mahasiswanya. Para mahasiswa memutuskan untuk memberinya peneguhan dengan cara rajin mencatat, memperhatikan dengan baik, dan melontarkan pertanyaan bila ia bergerak ke arah kanan kelas. Bila ia bergerak ke kiri, para mahasiswa berusaha menghentikannya dengan cara tidak mencatat, tidak memperdulikannya, serta tidak melontarkan pertanyaan. Sejak menyadari hal ini, sang dosen selalu mangajar sambil berdiri di sudut kanan kelas.
Dengan mengakui adanya kesalingbergantungan berarti anda dipaksa untuk bertanya pada diri sendiri apa yang anda lakukan sehingga menerima respons seperti itu, dan apa yang dapat anda lakukan agar menerima respons sesuai dengan yang anda inginkan. Komunikator yang menyadari kesalingbergantungan ini juga akan menyadari bahwa masalah komunikasi merupakan hasil kontribusi bersama. Tidak ada seorang pun yang seluruhnya benar dan yang lainnya seluruhnya salah.

“Jadi, umpan balik merupakan ciri penting dalam suatu hubungan; ia berperan sebagai sumber informasi penting mengenai diri sendiri”.

WAKTU

Begitu komunikator 2 memberi respons pada komunikator 1, maka interaksi mereka dapat dilukiskan oleh sebuah lingkaran. Namun karena interaksi tersebut berlangsung terus sejalan dengan berlalunya waktu, hubungan di antara mereka akan lebih tepat lagi bila digambarkan dalam beberapa lingkaran. Sebenarnya, semua interaksi ini – kecuali yang paling singkat – memerlukan beberapa siklus komunikasi. Oleh karena itu, waktu merupakan unsur terakhir dalam model komunikasi ini.
Model spiral (atau helix) memberi tekanan pada pengaruh perilaku lampau atas perilaku masa kini ataupun perilaku yang akan datang. Dance (1967) menjelaskan hal ini sebagai berikut :
Setiap saat dan kapan saja, helix memberikan bukti geometrik yang mendukung konsep, bahwa ketika komunikasi bergerak ke muka ia juga bergerak mundur dengan sendirinya pada saat yang bersamaan dan gerakan ini dipengaruhi oleh gerakannya yang terdahulu… Proses komunikasi, sama seperti helix, bergerak maju secara konstan dan sampai tingkat tertentu selalu bergantung pada keadaan yang telah berlalu, yang menjelaskan keadaan sekarang dan yang akan datang. (hlm. 295)

Bentuk spiral juga menjelaskan bahwa peserta dalam proses komunikasi tidak dapat kembali ke keadaan awal. Hubungan yang terjadi pasti mengalami perubahan sebagai hasil setiap interaksi.
Dance (1967) menyimpulkan masalah ini dengan amat baik sehingga kita cukup mengutip pernyataannya sebagai berikut :
Alat untuk meneliti sesuatu yang statik dan tidak bergerak, amat berbeda dengan alat untuk meneliti sesuatu yang berjalan konstan, selalu bergerak dan berproses. Bila komunikasi dipandang sebagai suatu proses, kita harus menyesuaikan penelitian kita dan alatnya dengan sesuatu yang juga bergerak – sesuatu yang berubah bersamaan dengan penelitian yang kita lakukan. (hlm.293-294)

Conner (1993) mengemukakan bahwa kebanyakan orang yang disurvei belakangan ini menunjukkan bahwa kehidupan tampaknya berubah dengan kecepatan yang lebih besar daripada yang pernah terjadi selama ini. Ketegangan yang ditimbulkan oleh banyaknya tugas dalam waktu yang teramat sempit, ikut berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas komunikasi modern masa kini.

KONTEKS KOMUNIKASI

Ada enam konteks yang banyak dipakai dalam literatur komunikasi, yaitu :

1) Komunikasi dua- orang,
2) Wawancara,
3) Komunikasi kelompok – kecil,
4) Komunikasi publik
5) Komunikasi organisasional dan
6) Komunikasi massa.

Meskipun setiap konteks komunikasi memiliki ciri khusus, semuanya memiliki kesamaan yang merupakan proses menciptakan makna di antara dua orang atau lebih.

Komunikasi Dua-Orang

Komunikasi dua-orang atau komunikasi diadik (dyadic communication) adalah satuan dasar komunikasi.
Peristiwa komunikasi dua-orang mencakup hampir semua komunikasi informal dan basi-basi, percakapan sehari-hari yang kita lakukan sejak saat kita bangun pagi sampai kembali ke tempat tidur. Komunikasi diadik juga merupakan komunikasi yang mencakup hubungan antar manusia yang paling erat, misalnya komunikasi antara dua orang yang saling menyayangi.

Wawancara

Wawancara seringkali didefinisikan sebagai percakapan dengan maksud tertentu. Wawancara biasanya melibatkan dua orang, jadi dipandang sebagai bentuk komunikasi diadik yang khusus. Wawancara terutama ditujukan untuk melaksanakan maksud yang jauh lebih spesifik dibandingkan dengan kebanyakan komunikasi dua-orang lainnya. Ada banyak jenis komunikasi dua-orang yang dapat disebut wawancara, misalnya pembicaraan dengan calon pegawai yang melamar pekerjaan, konsultasi dengan professor mengenai tugas akhir, pembicaraan dengan pengamat pasar untuk menguji kekuatan suatu produk, atau dengan jaksa penuntut berkenaan dengan suatu kesaksian.

Komunikasi Kelompok – Kecil

Komunikasi kelompok-kecil diartikan sebagai “ proses pertukaran pesan verbal dan nonverbal antara tiga orang atau lebih anggota kelompok yang bertujuan untuk saling mempengaruhi. Seperti : di masjid, gereja, dalam lingkungan sosial, dalam organisasi, dalam bidang pengobatan, dan lain-lain.
Dinamika kelompok adalah bidang penelitian yang menarik untuk dikaji, yang cenderung diarahkan pada komunikasi kelompok-kecil yang berkecimpung dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Dengan demikian, komunikasi kelompok-kecil lebih banyak dilakukan sebagai cara untuk menyempurnakan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam kelompok. Tim kerja pengarahan-diri (self-directed work team) adalah suatu contoh kelompok kecil yang didirikan untuk menyempurnakan kinerja organisasi.

Komunikasi Publik

Konteks ini sering dinyatakan sebagai “berpidato di depan umum” (public speaking). Ada beberapa cirri yang dimiliki oleh konteks ini :
1. komunikasi publik lebih sering muncul di tempat umum daripada di tempat pribadi, misalnya: di auditorium, ruang kelas, ruang pertemuan, dan sebagainya.
2. komunikasi publik relatif lebih formal dibandingkan dengan komunikasi yang informal serta tidak terstruktur. Biasanya, masalah yang dibicarakan sudah direncanakan sebelumnya. Dalam wisuda sarjana, misalnya, dihadirkan sejumlah pembicara termasuk seorang pembaca doa dan beberapa orang untuk acara penyerahan penghargaan.
3. sejumlah norma yang cukup jelas, yang harus dipatuhi. Misalnya, pertanyaan hanya boleh diajukan bila si pembicara telah menyelesaikan pembicaraannya.

Dengan demikian, pembicara dalam komunikasi publik biasanya memerlukan persiapan yang matang, dan ia harus menghadapi keadaan yang lebih formal daripada dalam komunikasi dua-orang dalam komunikasi kelompok-kecil.

Komunikasi Organisasional

Komunikasi organisasional didefinisikan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling bergantung. Misalnya dalam perusahaan, rumah sakit, lembaga keagamaan, pemerintahaan, organisasi militer, maupun lembaga akademik.. Peranan komunikasi dalam meningkatkan atau menurunkan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Wall dan Rekan (1992) menyatakan :
Hierarki lama telah berakhir. Masa depan perusahaan bergantung kepada kepemimpinan, kepercayaan, dan partisipasi. Satu-satunya cara untuk mewujudkan hal-hal tersebut adalah melalui perluasan wawasan.
Penekanan yang lebih besar terletak pada perbaikan yang berkesinambungan. Di Jepang, dikenal dengan istilah “kaizen” (kai berarti “perubahan” dan zen berarti “baik” atau yang lebih baik”) (Imai, 1986). Contoh mengenai hal ini adalah kisah sejumlah pembeli yang sedang antri (ini bisa terjadi di mana-mana) menunggu giliran dilayani. Seseorang yang berada pada antrean depan ternyata mendapat layanan yang cukup baik; hal ini membuat yang lainnya marah. Mereka berkata: “Memangnya kamu ini siapa hingga diistimewakan? Seharusnya anda mendapat pelayanan yang sama buruknya dengan yang kami semua terima”. Ini hanya suatu indikasi bahwa organisasi harus terus berusaha keras agar selalu lebih baik daripada sebelumnya.

Komunikasi Massa

Konteks yang keenam adalah komunikasi yang menggunakan media. Sumber pesan dikomunikasikan melalui media cetak atau elektronik. Hubungan melalui media berbeda dengan hubungan pribadi.
Diantara keenam konteks komunikasi yang dibahas dalam buku ini, komunikasi massa merupakan komunikasi yang paling formal dan paling mahal. Iklan di televisi selama acara “Super Bowl”(sepak bola ala Amerika – peny.) Setiap Januari bertarif jutaan dolar per menit. Di samping itu, kesempatan memperoleh umpan balik agak terbatas, khususnya bila dibandingkan dengan komunikasi dua-orang ataupun dengan komunikasi kelompok-kecil. Komunikasi massa melibatkan sejumlah besar orang yang heterogen, dan tidak dikenal oleh sumber pesan. Juga komunikasi massa bersifat umum, cepat, dan sekilas.
Komunikasi Antarbudaya

Komunikasi antarbudaya – yaitu, komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda secara ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini).
Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.
Gudykunst dan Kim (1992) memberi contoh komunikasi antarbudaya sebagai berikut ini:
Perhatikan kunjungan seorang asing – yang menganut budaya bahwa kontak mata selama berkomunikasi adalah tabu di Amerika Utara. Bila si orang asing berbicara kepada penduduk Amerika Utara dengan menghindari kontak mata, maka ia akan dianggap menyembunyikan sesuatu tidak berkata benar.

TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Kita semua sudah akrab dengan dunia teknologi komunikasi yang dulu dianggap rumit. Misalnya, komputer pribadi kini menjadi kebutuhan sehari-hari bagi kebanyakan orang. Mahasiswa yang lalu lalang di kampus sambil mendengarkan walkman merupakan hal yang biasa. Mesin faksimili sudah popular sehingga restoran makanan-cepat (fastfood restaurant) seperti McDonald’s menggunakannya untuk menerima pesanan.
Dengan kemampuan komunikasi teknologi tinggi seperti ini, tampaknya segala sesuatu menjadi mungkin diperoleh melalui komunikasi insani dan boleh jadi kadar kemanusiaan komunikasi insani menjadi berkurang. Terlepas dari apakah anda setuju atau tidak pada inovasi-inovasi semacam ini, tak dapat diragukan lagi bahwa pengaruhnya amat besar dan bersifat permanen bagi komunikasi insani.

Etika Komunikasi

Tampaknya jarang suatu hari berlalu tanpa berita skandal, apakah skandal mengenai Senator Packwood dari Oregon yang dituduh melakukan pelecehan seksual, atau tuduhan memanipulasi dana riset yang dilontarkan kepada Universitas Stanford. Karena itu etika komunikasi seyogiyanya membekali anda dengan pengetahuan dan petunjuk untuk menghindari kesulitan yang mungkin timbul.

KOMUNIKASI EFEKTIF

Secara sederhana, komunikasi dikatakan efektif bila orang berhasil menyampaikan apa yang dimaksudkannya. Sebenarnya, ini hanya salah satu ukuran bagi efektivitas komunikasi. Secara umum, komunikasi dinilai efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksudkan oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima.
Bila S adalah pengirim atau sumber pesan dan R penerima pesan, maka komunikasi disebut mulus dan lengkap bila respons yang diinginkan S dan respons yang diberikan R identik (Goyer, 1970, hlm. 10) :

R
makna yang ditangkap penerima

S makna yang dimaksud pengirim

Nilai 1 – yang menunjukkan kesempurnaan penyampaian dan penerimaan pesan – jarang diperoleh. Kenyataannya, nilai ini tidak pernah dicapai, paling-paling hanya dapat dihampiri saja. Semakin besar kaitan antara yang kita maksud dengan respons yang kita terima, semakin efektif pula komunikasi yang kita lakukan. Bisa saja R/S bernilai 0, yang berarti tidak ada kaitan sama sekali antara respons yang kita inginkan dengan respons yang kita peroleh. Lambaian tangan orang yang hampir tenggelam, yang dimaksudkan untuk minta tolong, sama sekali tidak menghasilkan respons yang diharapkannya bila balasan yang diperoleh dari temannya, yang sedang di atas perahu layar, hanya sekedar lambaian tangan balasan.
Komunikasi efektif ini menekankan bahwa, kemampuan meningkatkan manfaat komunikasi antarpersona merupakan suatu keahlian istimewa “tidak hanya bagi pengembangan pribadi dan keluarga, namun juga bagi peningkatan karir”.
Komunikasi efektif tidak memadai adalah bahwa dalam berkomunikasi, mungkin kita menginginkan sebuah hasil atau lebih dari beberapa kemungkinan hasil yang dapat diperoleh.

Lima hal yang dapat dijadikan ukuran bagi komunikasi yang efektif, yaitu :
1. pemahaman,
2. kesenangan,
3. pengaruh pada sikap,
4. hubungan yang makin baik, dan
5. tindakan.

Pemahaman

Pemahaman adalah : penerimaan yang cermat atas kandungan rangsangan seperti yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Dalam hal ini, komunikator dikatakan efektif bila penerima memperoleh pemahaman yang cermat atas pesan yang disampaikannya (kadang-kadang, komunikator menyampaikan pesan tanpa disengaja, yang juga dipahami dengan baik).
Kegagalan utama dalam berkomunikasi adalah ketidakberhasilan dalam menyampaikan isi pesan secara cermat.
Semakin banyak jumlah orang yang terlibat dalam konteks komunikasi, semakin sulit pula untuk menentukan seberapa cermat pesan diterima. Ini merupakan salah satu sebab mengapa diskusi kelompok seringkali berubah menjadi “arena bebas”. Komentar demi komentar menjadi nyaris saling lepas, tanpa kaitan antara satu dengan yang lainnya. Bahkan kelompok yang sudah punya pegangan agenda pun, bisa saja mengalami kegagalan dalam mewujudkan resolusi yang diperlukan bagi pemecahan masalah mereka. Situasi semacam ini memerlukan lebih banyak lagi penjelasan, penyimpulan dan pengarahan pendapat kelompok.
Dalam komunikasi organisasional, salah satu hasil terpenting yang diharapkan adalah pemahaman pesan secara cermat. Mustahil suatu perusahaan akan berfungsi dengan baik bila para pegawainya tidak memahami tugas yang harus mereka kerjakan. Untuk mencapai hal ini, diperlukan pemahaman, baik atas petunjuk verbal dari atasan, maupun atas informasi yang disebarkan melalui memo perusahaan, buku pedoman pegawai, dan penjelasan lainnya yang merupakan kebijakan perusahaan.
Dalam komunikasi massa, penyebaran informasi juga sering menjadi tujuan utama (Siaran warta berita, film dokumenter, acara video tape, segera terlintas dalam pikiran). Mereka yang berkecimpung dalam media massa harus mampu mengembangkan keahlian komunikasi mereka sehingga mereka dapat mengatur, menyajikan, dan menafsirkan informasi dengan cara yang dapat meningkatkan pemahaman. Sebagai contoh, dalam waktu satu jam, sebuah acara khusus televisi mampu menyajikan masalah depresi: gejalanya, penyebabnya, serta penanganannya yang mungkin dilakukan. Namun, karena terbatasnya umpan balik, sulit untuk menilai tingkat pemahaman para pemirsanya.

Kesenangan
Tujuan mazhab analisis transaksional adalah sekadar berkomunikasi dengan orang lain untuk menimbulkan kesejahteraan bersama. Komunikasi semacam ini biasa disebut komunikasi fatik (phatic communucation) atau memperhatankan hubungan insani
Sapaan singkat seperti : “Hei”, “Apa kabar?”, “Bagaimana keadaanmu?”, merupakan contoh komunikasi jenis ini. Berkencan, minum kopi, dan ramah tamah merupakan acara yang sengaja dirancang agar orang dapat memperoleh kesenangan dari perjumpaan dan obrolan-obrolan tersebut. Tingkat kesenangan dalam berkomunikasi berkaitan erat dengan perasaan kita terhadap orang yang berinteraksi dengan kita.
Tujuan komunikasi publik dapat pula untuk kesenangan, misalnya ceramah setelah acara makan malam dan celoteh seorang penghibur yang sengaja dilakukan untuk menyenangkan hadirin.

Memperoleh Sikap
Menurut Acuff (1993), sepanjang sejarah belum pernah ada kebutuhan yang demikian besar akan keahlian berunding secara internasional – yakni kemampuan para perunding untuk mempengaruhi pihak lain dengan cara yang positif dan konstruktif. Ingatlah, memahami dan menyetujui adalah dua hal yang sama sekali berlainan. Ketika anda memahami pesan seseorang, itu dapat saja berarti anda tidak menyetujuinya, bahkan boleh jadi anda jauh lebih tidak setuju daripada sebelumnya.
Tindakan mempengaruhi orang lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai situasi kita berusaha mempengaruhi sikap orang lain, dan berusaha agar orang lain memahami ucapan kita. Proses mengubah dan merumuskan kembali sikap, atau pengaruh sikap (attitude influence), berlangsung terus seumur hidup. Dalam hubungan antara dua orang, pengaruh sikap sering disebut “pengaruh sosial”. Dalam obrolan dengan biro penasihat, hal ini disebut “bujukan halus” (gentle persuasion). Mempengaruhi sikap tidak kalah pentingnya dalam komunikasi kelompok-kecil atau organisasional.
Bila diterapkan pada konteks komunikasi publik dan komunikasi massa, proses mempengaruhi sikap disebut “membujuk” (persuasi). Pengkajian komunikasi massa terutama berkenaan dengan pengaruh persuasif pesan terhadap para pemimpin pendapat yang merupakan bagian dari khalayak yang lebih luas.

Memperbaiki Hubungan
Kegagalan utama dalam berkomunikasi muncul bila isi pesan tidak dipahami secara cermat.
Jenis pemahaman lainnya yang berpengaruh besar dalam hubungan insani adalah : memahami motivasi orang lain. Kadang-kadang komunikasi dilakukan bukan untuk menyampaikan informasi atau untuk mengubah sikap seseorang, tapi hanya untuk “dipahami” dalam pengertian yang kedua ini.

Tindakan
Mendorong orang lain untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan yang kita inginkan, merupakan hasil yang paling sulit dicapai dalam berkomunikasi. Tampaknya lebih mudah mengusahakan agar pesan kita dipahami daripada mengusahakannya agar pesan kita disetujui.
Beberapa prilaku muncul karena paksaan, tekanan sosial, atau karena peranan dokter; semua ini tidak memerlukan perubahan sikap terlebih dahulu.
Kemungkinan respons yang sesuai dengan yang anda inginkan akan lebih besar bila anda dapat :

1) memudahkan pemahaman penerima tentang apa yang anda harapkan,
2) meyakinkan penerima bahwa tujuan anda itu masuk akal, dan
3) mempertahankan hubungan harmonis dengan penerima.

Lima hasil yang dapat diperoleh melalui komunikasi insani yang efektif adalah pemahaman, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang lebih baik, dan tindakan. Demikian pula, konsep kepercayaan, kekompakan dan kredibilitas sumber, semuanya berkaitan dalam memperbaiki hubungan insani.

BAB 2
PERSEPSI MANUSIA

Seperti persepsi kita atas surat, kata-kata, dan objek, persepsi kita atas orang lain seringkali terikat oleh konteks, dengan demikian persepsi dapat keliru, dapat salah. Ketika kita saling mengungkapkan kesan tentang seseorang, kadang-kadang sulit untuk mempercayai bahwa kita membicarakan orang yang sama.
Jadi, kesan kita terhadap orang lain membentuk dasar bagi sejumlah keputusan dalam hidup kita, misalnya dalam pemilihan mata kuliah, membeli mobil dari agen penjual yang dapat dipercaya, memilih teman sekamar atau dalam memilih mitra bisnis. Dafta ini hampir tidak terbatas. Berikut akan ditelaah proses awal pembentukan kesan atas orang lain.

MEMPERSEPSI ORANG DAN MEMPERSEPSI OBJEK :
SEBUAH PERBANDINGAN

Kesadaran total kita mengenai dunia, kita peroleh melalui indera. Jadi semua persepsi kita apakah mengenai gambar, peralatan rumah tangga, atau orang lain memiliki basis yang sama. Meskipun demikian, kita seringkali menyaksikan perdebatan sengit antara dua orang dalam penilaian mereka mengenai orang ketiga.
Penyebab perbedaan persepsi seperti ini dapat menjadi jelas bila kita perhatikan kemiripan antara persepsi antarpersona dengan persepsi secara umum.

Dua Jenis Filter
Kemampuan anda untuk menyerap rangsangan inderawi terbatas. Anda tidak mungkin menyerap semuanya. Anda memiliki beberapa aspek tertentu dari lingkungan anda. Kesadaran anda antara lain ditentukan oleh masukan apa yang anda sebagai penerima pilih dari keseluruhan masukan. “ Kamu hanya mendengarkan apa-apa yang ingin kamu dengar saja,” gerutu seorang ayah yang sedang marah pada anak remajanya, “Ini yang ketiga kalinya pada siang hari ini aku bertanya padamu, kapan kau akan mencuci mobil”. Malam harinya, si ayah duduk tenang membaca Koran hari Minggu, tanpa mengindahkan pertengkaran anak-anaknya yang berlangsung sengit di ruangan yang sama. Kemampuan untuk memproses stimulasi tertentu dari stimulasi yang tersedia, serta untuk membuang/ menyaring yang lainnya disebut perhatian selektif (selective attention).
Dengan demikian, setiap orang hanya memperhatikan sebagian dari stimulasi yang tersedia sekaligus mengabaikan stimulasi lainnya dengan memanfaatkan filter. Ada dua jenis filter yang dilalui semua masukan atau sensasi : filter fisiologis dan filter psikologis.

Filter Perseptual
Salah satu struktur yang terdapat dalam organ pengindera kita adalah filter perseptual, yaitu keterbatasan fisiologis yang terbentuk dalam diri manusia dan hasil kerjanya tidak dapat dikembalikan ke keadaan semula. Keterbatasan dalam kemampuan mempersepsi ini muncul pada saat kita memperhatikan suatu objek atau seorang manusia. Hal ini tidak sama bagi setiap orang sehingga tingkat kecermatan setiap penginderaan yang dihasilkannya, akan berbeda pula.
Bagi seorang komunikator, salah satu filter perseptual yang menyulitkan adalah kemampuan mendengar yang terbatas. Kadang-kadang kita mendengar seseorang mengatakan sesuatu padahal sebenarnya ia mengatakan hal yang lain.

Perangkat Psikologis (psychological sets)
Perangkat psikologis yaitu harapan atau kecenderungan dalam memberi respons besar pengaruhnya terhadap cara kita mempersepsi suatu objek.
Dengan cara yang serupa, perangkat psikologis mempengaruhi persepsi antarpersona. Besarnya pengaruh pengalaman masa lalu pada cara pemilihan suatu stimulasi dari semua stimulasi yang tersedia; dan seringkali penilaian atas seseorang, paling sedikit pada awalnya, didasarkan pada keadaan atau konteks yang berkaitan dengan kesan pada perjumpaan pertama. Hal ini akan menjadi jelas dalam pembahasan mengenai stereotip.

Budaya dan Persepsi
Menurut ilusi Muller-Lyer, orang-orang yang hidup dalam lingkungan visual yang akrab dengan garis lurus dan sudut siku-siku “dunia para tukang” yang dibentuk oleh peralatan seperti gergaji, ketam, dan timbangan pengukur garis tegak lurus belajar untuk membuat kesimpulan-kesimpulan visual tertentu. Misalnya, mereka cenderung menafsirkan sudut lancip dan sudut tumpul sebagai sudut siku-siku yang diperluas dalam ruang.
Kita memiliki persepsi tidak hanya mengenai benda dan kata-kata, tapi juga mengenai orang lain: harus seperti apa mereka itu, bagaimana mereka harus bertindak, dan apa yang akan mereka katakan. Dalam budaya kita, orang yang berkecimpung dalam dunia usaha berharap agar setiap orang selalu menepati waktu bila membuat janji. Mereka tidak mau membiarkan menunggu terlalu lama. Bila semua orang sepakat untuk bersikap serupa, maka komunikasi di antara mereka akan menjadi lebih lancar.

Gambar 2.3

Pada saat dua orang berkomunikasi, masin-masing merumuskan idenya yang kemudian menjadi bahan dalam komunikasi tersebut. Kecermatan penerimaan pesan bergantung pada filter perseptual dan perangkat psikologis yang dimiliki si penerima. Ingatlah, karakteristik psikologis dan fisiologis akan mempengaruhi pemilihan stimulasi dan cara stimulasi tersebut dipahami.

Persepsi Selektif, Organisasi, dan Penafsiran
Persepsi adalah suatu proses aktif : Setiap orang memperhatikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan semua pengalaman secara selektif.
Pada umumnya, anda memperhatikan stimulasi yang kuat, yang diulang-ulang, atau yang sedang dalam proses perubahan. Setiap orang memilih stimulasi, bergantung pada minat, motivasi, keinginan, dan harapan. Terpukau oleh penampilan seorang gadis, seorang pria yang duduk disebelahnya dalam suatu pesta, melihat betapa berisinya betis si gadis sehingga ia hampir tidak memperhatikan apa yang dikatakan si gadis. Orang lain yang berada di dekat mereka mungkin akan lebih tertarik pada perkataannya mengenai pekerjaan di bagian personalia sebuah perusahaan besar, sebab orang tersebut sedang mencari lowongan kerja.
Perbedaan mengurutkan sebab akibat merupakan pangkal utama perbedaan persepsi. Setelah dimintai penjelasan, si suami bersikeras menyatakan bahwa ia berdiam diri semata-mata sebagai cara membela diri atas kecerewetan istrinya. Pada gilirannya, si istri memandang penjelasan tersebut sebagai penjungkirbalikan “kejadian yang sebenarnya”, yaitu ia cerewet karena kepasifan suaminya.
Setelah stimulasi dipersepsi dan diorganisasikan secara selektif, selanjutnya stimulasi ditafsirkan secara selektif pula, artinya stimulasi diberi makna secara unik oleh orang yang menerimanya.
Penafsiran pribadi didasarkan pada pengalaman masa lalu si penerima, asumsi tentang perilaku manusia, pengetahuan mengenai keadaan lingkungan orang lain, suasana hati/ keinginan/ kemauan pada saat itu, serta harapan.

Pengamat/Objek/Konteks
Seperti mempersepsi benda, mempersepsi orang lain dapat ditinjau dari tiga unsur: pengamat (perceiver), objek persepsi (dalam hal ini, manusia lainnya) dan konteks yang berkaitan dengan objek yang diamati. Sebagai pengamat anda juga dipengaruhi oleh atribut-atribut anda sendiri. Misalnya, orang cenderung membuat penilaian umum, positif ataupun negatif; tentu saja kita pernah bertemu dengan seseorang yang berpendapat bahwa “Tidak ada orang yang baik”, atau sebaliknya “Semua orang itu baik”.
Melalui mata pengamat, semua atribut orang kedua (atau benda) disaring.
Unsur yang ketiga, yaitu konteks psikologis dan fisik yang menyertai proses persepsi antarpersona.
Kecermatan persepsi. Sebagai contoh, bila saya tahu bahwa anda baru kembali dari pemakaman, maka berdasarkan pengalaman sendiri saya akan menafsirkan sikap pendiam anda sebagai depresi dan bukan sebagai sikap tidak peduli. Dipihak lain, kita sering salah tafsir mengenai apa yang kita persepsi karena kita berasumsi bahwa orang lain itu seperti kita. Bila saya berasumsi bahwa selera anda pada musik sama seperti saya, maka ketika anda menjawab “Oh, asyik!” atas tawaran untuk mendengarkan musik keras, saya akan menafsirkannya sebagai sikap antusias meskipun jelas bagi kebanyakan orang bahwa ekspresi wajah anda menunjukkan kesinisan.
Hal lainnya, yang membedakan persepsi antarpersona dari persepsi terhadap objek adalah hasil persepsi antarpersona (salah atau benar) akan terus menerus mempengaruhi interaksi kita dengan orang lain, karena mereka pun terus menerus memberi respons atas persepsi tersebut.
Dengan demikian, persepsi antarpersona merupakan bentuk persepsi yang khusus.sambil melanjutkan bahasan mengenai bagaimana kesan atas orang lain dibentuk, kita akan menyimak pula bagaimana anggota-anggota suatu budaya lain dipersepsikan.

PEMBENTUKAN KESAN

Memperhatikan Diri Sendiri
Bila anda diminta menggambarkan diri anda, informasi apa yang akan anda berikan – deskripsi fisik, umur, jenis kelamin, keanggotaan dalam sebuah kelompok etnik? Mungkin anda akan menggambarkan diri anda berdasarkan beberapa ciri tertentu atau berdasarkan apa yang anda lakukan.

Konsep-diri
Konsep-diri anda, yaitu kesan anda yang relatif stabil mengenai diri sendiri, tidak hanya mencakup persepsi anda mengenai karakteristik fisik anda, melainkan juga penilaian anda mengenai “ apa yang pernah anda capai, yang sedang anda jalani, dan apa yang ingin anda capai”.
Konsep-diri tumbuh antara lain melalui umpan balik yang diterima dari orang-orang di sekitar kita. Sebenarnya, teoretisi terdahulu pun percaya bahwa konsep-diri berkembang melalui hubungan dan interaksi dengan orang lain. Dengan perkataan lain, anda menilai diri anda terutama berdasarkan pada bagaimana “menurut anda” orang mempersepsi dan menilai anda. Pandangan seperti ini memberi titik berat pada pengalaman sosial semasa kanak-kanak.
Konsep-diri mempunyai dimensi komparatif. Misalnya, Kagan menulis : “Seorang anak tidak sekadar seorang perempuan, orang kanada, Katolik, bermata coklat, tapi ia juga lebih cantik daripada saudaranya, lebih cerdas daripada sahabat baiknya dan lebih takut pada binatang daripada saudara lelakinya “. Jadi penilaian anda mengenai diri sendiri berhubungan dengan bagaimana anda menilai diri anda dalam hubungan anda dengan orang lain.

Penghargaan-diri (self-esteem)
Salah satu tolok ukur dalam konsep-diri adalah penghargaan-diri, yaitu perasaan anda mengenai nilai-diri (self-worth).
Penghargaan-diri dapat dikaitkan dengan penampilan fisik, kecerdasan, profesi, berbagai kualitas, sifat, dan keanggotaan dalam suatu kelompok, namun semua ini dapat merupakan penilaian yang subjektif. Boleh jadi tidak ada kaitan sama sekali antara keadaan yang sesungguhnya (misalnya sifat anda, apa yang telah anda capai atau kemampuan anda) dengan perasaan mengenai nilai-diri.
Sejumlah penelaahan mengenai kanak-kanak menunjukkan perbedaan dalam penghargaan-diri antara anak laki-laki dan anak perempuan. Umumnya anak laki-laki cenderung melebih-lebihkan kemampuannya sedangkan anak perempuan biasanya mengecilkan kemampuan mereka. Menurut tradisi, budaya kita menyodorkan norma perilaku dan model peran yang berbeda bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Contoh :
Seorang anak lelaki yang dilibatkan dalam proyek penelitian komunikasi massa ditanya, seandainya ia seorang anak perempuan, ingin jadi apa ia kelak. “Oh,” ia menjawab, “andaikan saya seorang anak perempuan, saya tidak ingin menjadi apapun setelah dewasa kelak”.
Ringkasan hasil penelitian mengenai penghargaan-diri, mencakup perbedaan-perbedaan antara perempuan dan lelaki seperti berikut ini :
• lelaki memiliki tingkat harapan sukses yang lebih besar dalam keahlian nonsosial daripada perempuan; bahkan meskipun mereka tidak lebih ahli, orang akan tetap menganggapnya demikian.
• Wanita lajang memiliki penghargaan-diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang menikah.
• Anak-anak yang lebih tua memiliki penghargaan-diri yang lebih tinggi daripada anak-anak yang lebih muda.
• Kemiripan dalam penghargaan-diri tampaknya merupakan suatu alasan untuk memilih teman kencan atau mitra untuk suatu hubungan.
Umpan Balik
Banyak penelitian dalam umpan balik komunikasi lisan menunjukkan bahwa dugaan yang masuk akal ini memang benar: Bila anda memperoleh umpan balik yang positif, maka kepercayaan-diri anda bertambah. Umpan balik yang negatif akan membingungkan dan mengacaukan penyampaian anda; volume suara anda bisa berubah, atau anda menjadi terbata-bata, gelisah, demam panggung, menghindari kontak mata atau muncul gerakan-gerakan tubuh yang tidak tepat.
Penelitian baru-baru ini mengenai bagaimana kita “menilai” kemampuan diri, mendukung pendapat bahwa hubungan kita dengan orang lain merupakan dasar bagi pengembangan rasa-diri (sense of self) dan rasa mampu. Sejumlah peneliti percaya bahwa teori terdahulu mengenai konsep-diri, masih berguna sebagai dasar bagi penelitian selanjutnya mengenai bagaimana diri (self) berkembang dalam konteks sosial.

Rasa Malu
Kini sudah lebih banyak lagi yang diketahui mengenai rasa malu. Misalnya, para peneliti menemukan bahwa ada orang yang “condong bersifat” pemalu atau “secara genetik mudah” merasa malu; cukup menarik, sebab hal ini menyangkut beberapa ciri fisik yang berbeda bagi setiap orang: gemetar, detak jantung lebih cepat, bibir kering, berkeringat, atau wajah memerah. Orang pemalu lebih jarang berkencan, jumlah temannya lebih sedikit, “cenderung memiliki penghargaan-diri yang rendah dan pikirannya dipenuhi oleh pendapat bahwa secara sosial mereka tidak memiliki kemampuan”.
Karena mereka memiliki penghargaan-diri yang rendah, mereka juga cenderung melamar pekerjaan yang kualifikasinya lebih rendah daripada tingkat kemampuan mereka dan langsung menerima pekerjaan yang pertama kali ditawarkan kepada mereka. Secara umum, penghasilan mereka rendah dan kurang berkembang dalam pekerjaan mereka karena, seperti dijelaskan oleh para peneliti, “orang pemalu dengan sendirinya memilih untuk menjauhkan diri dari karier berpenghasilan tinggi”.

Ramalan yang Dipenuhi Sendiri (self-fulfilling prophecy)
Apa yang kita harapkan akan berpengaruh pada kesan kita terhadap orang lain. Mereka yang mengharapkan diterima oleh orang lain dan yang memandang orang lain sebagai bersahabat, seringkali muncul sebagai pribadi yang santai dan menyenangkan; perilaku ini membuat popularitas mereka baik serta mendapat respons positif dari orang lain. Sebaliknya, mereka yang mengharapkan penolakan seringkali memperolehnya pula. Orang-orang yang memandang orang lain sebagai bersikap bermusuhan atau tidak bersahabat, seringkali merekapun bersikap defensif atau sombong; perilaku mereka yang didasari oleh dugaan seperti ini boleh jadi memancing penolakan yang mereka khawatirkan.

Atribusi Perilaku
Serangkaian penelitian mengenal atribusi perilaku menunjukkan bahwa anda memandang perilaku anda sendiri sebagai suatu urutan respons yang diperlukan dalam “situasi tertentu”, tapi anda memandang perilaku orang lain yang sama wataknya, yaitu tabiat tetap atau kebutuhan tetap orang tersebut.
Disamping itu, penelitian mengenai atribusi perilaku menemukan hasil yang konsisten bahwa orang cenderung memandang keberhasilannya sebagai usahanya sendiri, sedangkan kegagalannya disebabkan oleh faktor di luar dirinya.
Ada dua alasan yang diajukan bagi perbedaan perseptual ini:
1. informasi yang tersedia bagi pelaku (yaitu orang yang melakukan tindakan) dan bagi pengamat belum tentu sama. Pengamat melihat pelaku hanya pada suatu penggalan waktu tertentu saja. Secara umum, pengamat tidak tahu latar belakang pelaku, sejarahnya, pengalamannya, motivasinya, atau keadaan emosinya saat itu; pengamat sekadar menduga semua ini.
 Jadi bila kita melihat seseorang bereaksi keras atas sesuatu yang tampak sepele, kita sebagai pengamat tidak tahu peristiwa apa yang mendahului kejadian tersebut, sehingga reaksinya seperti itu.
2. meskipun informasi yang tersedia bagi pelaku dan pengamat sama, mereka memprosesnya dengan cara yang berbeda, sebab aspek yang mereka pentingkan dalam informasi itu tidak sama.
Storms (1973) berpendapat bahwa perbedaan informasi antara pelaku dan pengamat disebabkan oleh cara pandang mereka yang secara harfiah amat berbeda. Anda tidak melihat diri anda bertindak; dalam keadaan biasa anda tidak dapat menjadi pengamat atas perilaku anda sendiri. Ketika anda menjadi pelaku, anda memperhatikan situasi yang melibatkan diri anda sebagai pelaku; tetapi pengamat lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memperhatikan anda, bukan situasinya.
Dengan cara memperlihatkan hasil rekaman video mengenai interaksi mereka. Rekaman video memberi perspektif baru pada pelaku, yaitu sebagai pengamat; hal ini seringkali mengubah pendapatnya mengenai mengapa ia berperilaku seperti itu. Setelah melihat diri sendiri dalam rekaman, kita cenderung menjelaskan perilaku kita sebagai refleksi watak pribadi daripada sebagai respons terhadap lingkungan.
Sementara perubahan orientasi visual tampaknya dapat meningkatkan kesadaran-diri (self-awareness), kemungkinan menyaksikan rekaman perilaku sendiri tidak menarik dan tidak mudah dilakukan, bahkan tampaknya juga tidak menyenangkan.
Meskipun demikian, kita harus tetap ingat bahwa persepsi kita mungkin keliru. Sebagai ulasan dalam penelitian atribusi, Ross dan Fletcher (1985) mengingatkan :
Yang harus digarisbawahi adalah : baik pelaku maupun pengamat hanya dapat menduga penyebab perilaku si pelaku. Bila ada perbedaan pendapat, si pelaku memiliki peluang lebih besar untuk benar sebab ia mempunyai informasi lebih banyak. Meskipun demikian, tidak beralasan untuk menyimpulkan bahwa penilaian si pelaku harus selalu sah.

Melihat Orang Lain (Looking at Others)
Seperti Matt, kebanyakan orang membentuk kesan atas orang lain dengan mudah, namun mereka meras sulit bila diminta menjelaskan prosesnya. Kenyataannya, banyak orang merasa bahwa mereka membuat penilaian secara intuitif.
“kesan” adalah kata yang kita gunakan untuk penilaian kita gunakan untuk penilaian kita. Kita katakan “berdasarkan kesan”, atau “kesan yang baik”. Sistem hukum tidak lepas dari peran kesan yang tercermin dari penilaian yang tergesa-gesa.
Penelitian Barge dan kawan-kawannya (1989) mengenai persepsi antarpersona dalam lembaga hukum, menyatakan bahwa persepsi seorang juri atas kredibilitas pengacara dan atas kesalahan terdakwa akan dipengaruhi tidak hanya oleh pernyataan pembukaan oleh pengacara, namun juga oleh berbagai petunjuk nonverbal ketika membacakan pernyataan tersebut.

Penulis : Fauziah Yanis

Dasar Dasar Logika

Pengantar
Ada dua orang bekas pejabat tinggi Indonesia: BJ Habibie dan Harmoko. Keduanya punya persamaan sekaligus perbedaan. Persamaannya, jika yang pertama pernah menjadi presiden maka yang kedua pernah menjadi ketua MPR/DPR. Keduanya juga dikenal sama-sama suka berbicara. Tetapi di sini pulalah letak perbedaannya.
Di kalangan intelektual secara terbatas beredar anekdot: kalau BJ Habibie berbicara panjang lebar sambil mem-plotot-kan matanya berarti mulutnya tidak mampu mengimbangi kecepatan berpikirnya. Ibarat computer CPU-nya terlalu canggih daripada printer-nya. Sebaliknya dengan Harmoko, banyak berbicara karena tidak berpikir. Bahkan secara sarkastis ada yang mem-pleset-kan namanya sebagai akronim Hari-hari omong kosong.
Orang bijak mengatakan pikir itu pelita hati. Dengan kata lain, berpikirlah dulu sebelum berbicara. Mulutmu harimaumu yang akan menerkam kepalamu. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Di sinilah letak pentingnya logika sebagai pengetahuan dan seni berpikir yang lurus. Artinya, berpikir yang sesuai dengan hukum-hukum logika.
Dalam konteks historis, kajian ini sudah dirintis manusia ratusan tahun sebelum Yesus Kristus lahir. Dimulai oleh para filsuf Yunani kuno. Antara lain Aristoteles (384 – 322 SM) dengan nama analitika atau dialektika. Dalam dunia akademik logika pun mutlak dipelajari sebagai mata kuliah tersendiri. Dengan demikian, apabila ada mahasiswa bahkan dosen yang berbicara plintat-plintut tidak sistematis maka dapat disimpulkan logikanya tidak jalan.
Di sela-sela padatnya aktivitas mengajar, sebagai dosen yang mengasuh mata kuliah: Dasar-Dasar Logika, saya pun mencoba menulis semacam diktat kuliahnya. Ini dimaksudkan untuk memperlancar proses belajar-mengajar di ruang kuliah. Bukan sebagai bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Apalagi sampai sangat tergantung pada diktat yang nanti ujung-ujungnya dikuatirkan mereka akan menjelma jadi “diktator” akademik.
Akhir kata, izinkanlah saya untuk tidak mengharapkan kritik yang membangun atau yang sejenisnya dari pembaca. Serta tidak akan minta maaf jika tulisan ini dianggap tidak layak disebut sebagai tulisan ilmiah. Sebab lebih adil bila Anda membuat tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya. Sekian!
Jakarta, Agustus 2009
Penulis,

Teguh Kresno Utomo, S.IP
I. Introduksi
Tulisan ini hanya memuat tiga pokok bahasan. Pertama, logika dan filsafat yang membahas bagaimana kaitan logika dan filsafat. Artinya, berbicara tentang logika sekaligus berbicara tentang filsafat. Tetapi “logika”-nya tidak bisa dibalik. Sebab berbicara tentang filsafat belum tentu berbicara tentang logika. Banyak kesalahpahaman yang mencampuradukkan logika dengan ilmu. Padahal secara filosofis, logika tidak bisa digolongkan pada ilmu. Ia hanya sekedar pengetahuan (knowledge) yang diramu dengan sedikit seni (art) untuk memahami ilmu pengetahuan (scientific knowledge). Kedua, tinjauan logika yang memaparkan sejarah logika mulai dari logika tradisional Aristotelian di zaman Yunani kuno, logika dalam peradaban Islam yang mengislamkan unsur pagan (syirik) hellenisme (Yunani) sebelum menerjemahkankannya ke dalam bahasa Arab sampai dengan logika modern Barat yang akhirnya menerjemahkan warisan pemikiran Islam itu ke dalam bahasa Latin. Selanjutnya dibahas asas-asas logika. Ada dua asas dalam logika yaitu asas utama dan asas turunan. Kedua asas ini sangat menentukan untuk menuju kebenaran logis. Berikutnya memperkenalkan sepintas logika simbolik yang menjadi bagian dari logika modern dengan menggunakan simbol-simbol secara intensif untuk menghindari makna ganda. Sementara yang terakhir membahas proses berpikir melalui beberapa tahap diantaranya tahap konsep, tahap keputusan dengan segala macam variannya dan tahap kesimpulan. Ketiga, seputar silogisme yang merupakan manifestasi proses berpikir dengan metode rasional-deduktif dalam membuat kesimpulan. Disini diuraikan tiga jenis silogisme yakni silogisme kategoris, silogisme kondisional hipotetis dan silogis disjungtif.
II. Logika dan Filsafat
Sebelum berbicara lebih jauh tentang logika, lebih baik didiskusikan lebih dahulu filsafat yang mendasarinya. Dari sisi the origin and derivation of a word, kata “filsafat” yang berkembang di Indonesia diadobsi dari falsafah (Arab) dan philosophy (Inggris) yang bermuara pada philosophia (Yunani) yang terdiri dari philos (cinta) dan sophos (bijaksana).
Obyek materi filsafat (material object/subject matter: sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan) adalah “yang ada” (being). Ini pun terbagi tiga: Pertama, ada dalam kenyataan (reality). Kedua, ada dalam pikiran (mind). Ketiga, ada dalam kemungkinan (possibility). Sementara obyek formal filsafat (view of point: cara memandang obyek penelitian) adalah “aspek keumuman” (essence) yaitu: ada dalam dunia konsep atau akal budi (logos). Ini berbeda secara diametral dengan dunia empiris (perceptual knowledge).
Logika berkaitan dengan yang disebut terakhir di atas. Artinya, berbicara tentang logika berarti berbicara tentang relasi antarkonsep dan komparasinya dengan memenuhi syarat-syarat koheren (coherence) dan runtut (consistence). Kalau yang pertama dimaknai sebagai kesinambungan cara dengan tujuan maka yang kedua berarti antara satu cara dengan cara lainnya tidak saling menegasikan dalam rangka mencapai tujuan.
Singkatnya, berbicara tentang logika berarti berbicara tentang filsafat. Sebab logika adalah bagian dari filsafat. Tetapi tidak bisa dibalik dengan mengatakan berbicara tentang filsafat berarti berbicara tentang logika. Selanjutnya akan dibahas sepintas tentang bagian-bagian filsafat di bawah ini:
1. Metafisika (metaphysics): meta (Yunani) berarti di balik atau telaah “yang ada” sebagai “ada” (the study of being as such). Ini terdiri dari tiga bidang: Pertama, ontologi (ontology) membahas sifat dasar kenyataan yang sedalam-dalamnya. Kedua, kosmologi (cosmology) membahas perkembangan alam semesta dalam artian ruang dan waktu sebagai sistem yang teratur. Ketiga, antropologi (anthropology) membahas keberadaan manusia dalam arti jasad (matter) dan pikiran (mind).
2. Epistemologi (epistemology): episte (Yunani) berarti telaah tentang asal mula struktur dan validitas pengetahuan.
3. Metodologi (methodology): semacam analisa dan pengaturan secara sistematis dari asas-asas, proses rasional dan eksperimental untuk membimbing suatu penelitian ilmiah. Misalnya, rational method (teologi), axiomatic method (matematika), hypotetic deductive method (silogisme), nomological method/inductive method (kima/farmasi), descriptive method (fisika/ilmu sosial), historical method (sejarah) dan psychological method (psikologi).
4. Etika (ethics): tidak lain dari filsafat moral (moral philosophy) yang mengkaji nilai (judgement of value) dan kewajiban (judgement of obligation).
5. Estetika (aesthetics): berasal dari aesthetikos (Yunani) yang berkaitan dengan pencerapan seni dan keindahan (art and beauty).
6. Logika (logics): berasal dari logos (Yunani) yang berarti akal budi atau nalar (reason). Ini adalah telaah tentang penalaran (reasoning) yang lurus (correct argument) yang menunjukkan bukti bahwa suatu keterangan tertentu (premis mayor) mengikuti keterangan lainnya (premis minor) secara runtut untuk mengambil suatu keputusan (konklusi).

III. Tinjauan Logika
A. Sejarah Logika
Seperti yang telah disebutkan semula, logika berasal dari logos atau logike episteme (Yunani), mantiq (Arab), logica scientia (Latin) dan logics is the knowledge and art of correct thinking (Inggris) yakni, pengetahuan yang diramu dengan sedikit seni dalam kinerja logos agar dapat berpikir lurus yang dinyatakan via bahasa untuk memahami ilmu pengetahuan. Dalam bahasa awam logika sering kali ditukartempatkan dengan logis alias masuk akal.
Perkembangan selanjutnya, logika digolongkan pada beberapa bidang: Pertama, dari sisi metode terbagi atas logika tradisional atau logika filosofis yakni yakni asas-asas penalaran dalam pembahasan filsafat dengan menggunakan sistem logika Aristotelian dan logika modern atau logika matematika yakni asas-asas penalaran dengan menggunakan simbol-simbol khusus untuk menghindari makna ganda yang dimulai pada abad XV. Kedua, dari sisi kualitas terbagi atas logika naturalis atau logika alamiah yakni kinerja akal budi manusia yang telah ada sejak dilahirkan yang belum dipengaruhi oleh keinginan subyektif dan logika artifisialis atau logika ilmiah yakni asas-asas penalaran yang dipelajari untuk mempertajam akal budi manusia. Ketiga, dari sisi obyek terbagi atas logika formal atau logika minor atau logika deduktif yakni asas-asas penalaran yang harus ditaati untuk mencapai kebenaran rasional yang diturunkan dari suatu kesimpulan umum sampai pada hal khusus dan logika material atau logika mayor atau logika induktif yakni asas-asas penalaran dari hal khusus sampai pada kesimpulan umum. Keempat, dari sisi penggunaan terbagi atas logika murni yakni asas-asas penalaran yang berlaku umum sebagai pengetahuan berpikir yang benar dan logika terapan yakni penggunaan asas-asas penalaran dalam kehidupan manusia.
Perintis logika Yunani kuno dimulai oleh Thales (624 – 548) yang menggunakan logos versus mithos dalam memahami air sebagai arkhe (jiwa) dari cosmos (alam semesta). Logika juga digunakan dalam keprihatinan moral Socrates terhadap kaum sophis yang menganut paham subyektivisme, relativisme dan nihilisme. Murid Socrates, Plato (427 – 347 SM) mengatakan bahwa kebenaran itu berasal dari dunia ide. Terakhir murid Plato, Aristoteles (384 – 322 SM) menggagas logika secara lebih sistematis yang kelak menguasai peradaban manusia selama ribuan tahun. Ia menyebutnya analitica: argumentasi dari proposisi yang benar dan dialektica: argumentasi dari proposisi yang diragukan kebenarannya. Pemikiran Aristoteles ini disusun oleh murid-muridnya, diantaranya Zeno (334 – 226 SM) dari Citium pelopor kaum Stoa dengan nama Organon yang terdiri dari categoriae (pengertian), de interpretatiae (keputusan), analytica priora (silogisme), analytica posteriora (pembuktian), topica (perdebatan) dan de sophisticis elenchis (kesesatan pikiran). Logika warisan Aristoteles inilah yang biasa disebut logika tradisional.
Kalau mau jujur, sebenarnya logika modern dalam peradaban Barat yang berkembang pada abad XV berhutang budi pada peradaban Islam yang merajai dunia intelektual sebelumnya. Para pemikir muslim sendiri sudah mengenal logika sejak abad II H. Filsuf neoplatonisme Ya’qub ibn Is’haq al Kindi (275 H/870 M) adalah pemikir Islam pertama yang mengislamkan unsur pagan (syirik) dari pemikiran hellenisme (Yunani) sebelum menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab dalam masa kekuasaan Bani Abbasyiah (749 – 1258) yang berpusat di Baghdad Irak. Serta menganggap Aristoteles sebagai al Mu’allim al Awwal (guru yang pertama). Kemunculan ilmu Kalam (teologi rasional) yang dirintis oleh Mu’tazilah yang menganggap akal budi sama dengan wahyu dalam memahami agama sebagai tanda kuatnya pengaruh hellenisme ini.
Setelah itu giliran Barat yang mulai menerjemahkan logika warisan karya pemikir muslim dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Berikut muncul sederet nama sebagai perintis logika modern: Raymundus Lullus (1232 – 1315) yang memperkenalkan Ars Magna sejenis aljabar untuk membuktikan kebenaran tertinggi. Francis Bacon (1561 – 1626) mempaparkan logika induktif dalam karyanya Novum Organum Scientarium. Gottfried Wilhelm Leibnitz (1646 – 1716) dengan logika simbolik yang menggunakan rumusan aljabar. Immanuel Kantz (1724 – 1804) dengan logika transedental yakni semacam pemikiran yang mengatasi batas pengalaman manusia. John Locke (1632 – 1704) menulis An Essay Concerning Human Understanding. John Stuart Mills (1806 – 1873) menulis System of Logics. George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) menggagas logika dialektik-idealisme untuk menjawab persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh logika formal. Karl Marx (1818 – 1883) meminjam pemikiran dialektis Hegel dengan membuang elemen mistisnya menjadi dialektika materialis-historis. Marx menelaah sejarah peradaban manusia yang tidak lain dari sejarah penindasan manusia atas manusia dalam rangka kepemilikan alat-alat produksi. Varian marxisme sebagai alat analisis sosial berkembang menjadi: marxisme Soviet Rusia (Trotsky, Lenin dan Stalin); marxisme Eropa (Antonio Gramsci); marxisme Amerika Latin (Che Guevara); maoisme China (Mao Tse Tung); mahzab Frankfurt Jerman (Jurgen Habermas). John Venn (1834 – 1923) menciptakan diagram Venn yang terkenal itu. Bertrand Arthur William Russel (1872 – 1970) menulis Principia Mathematica yang mengatakan matematika sebagai masa kedewasaan logika.
B. Asas-Asas Logika
Obyek material logika adalah berpikir (thinking) dan obyek formalnya adalah berpikir yang lurus (correct thinking). Ini berbeda dengan kesesatan (fallacy). Intinya, konklusi logika berupa kebenaran logis (logical truth) adalah kebenaran yang diperoleh sesuai dengan asas-asas logika yang sudah jelas dengan sendirinya (self evident), a priori dan sesuai dengan kenyataan (reality).
1. Asas Utama (first principle):
Asas penalaran yang mendahului atau tidak tergantung pada asas lainnya yang terdiri dari:
a) Asas persamaan (principium identitatis): sesuatu itu identik dengan dirinya sendiri. Contoh: p = p: Aku adalah aku.
b) Asas pertentangan (principium kontradiktoris): rumusan negatif dari pernyataan positif, sesuatu yang bertentangan tidak boleh diakui atau ditolak secara bersamaan. Contoh: p ≠ ¬p: Aku bukanlah bukan aku.
c) Asas tidak ada kemungkinan ketiga (principium exclusii tertii): sesuatu tidak bisa menjadi bagian dari dua hal yang saling menegasikan secara bersamaan. Contoh: p V ¬p: Aku atau bukan aku.
2. Asas Turunan (derived principle):
Asas yang tergantung pada asas utama yang terdiri dari:
a) Asas kesesuaian (principium convenientiae): jika salah satu dari dua hal sesuai dengan yang ketiga maka yang lainnya juga sesuai. Contoh: jika A = B, B = C, maka A = C
b) Asas ketidaksesuaian (principium inconvenientiae/discrepantiae): jika salah satu dari dua hal tidak sesuai dengan yang ketiga maka yang lainnya juga tidak sesuai. Contoh: jika A = B, B ≠ C maka A ≠ C
c) Asas dikatakan semua (principium dictum de omni): jika sesuatu yang berlaku secara universal pada sesuatu maka berlaku pula secara partikularnya. Contoh: Manusia berpikir, Harmoko juga berpikir.
d) Asas tidak dikatakan semua (principium dictum de nulle): jika sesuatu tidak berlaku secara universal maka tidak berlaku pula secara partikularnya. Contoh: Binatang tidak berpikir, keledai juga tidak berpikir.
C. Sekilas Logika Simbolik
Logika simbolik adalah logika modern yang dirintis oleh George Boole dan De Morgan dua ribu tahun pasca kejayaan logika tradisional Aristotelian dengan menggunakan simbol-simbol logika secara intensif untuk menghindari makna ganda.
1. Konjungsi (…dan…)
p: Ia makan nasi goreng.
q: Ia minum teh.
p Λ q: Ia makan nasi goreng dan minum teh.
¬p Λ q: Ia tidak makan nasi goreng tetapi minum teh.
(“tetapi” bisa digolongkan pada “dan”).
p Λ ¬q: Ia makan nasi goreng dan tidak minum teh.
¬p Λ ¬q: Ia tidak makan nasi goreng dan tidak minum teh.
¬(p Λ q) ≡ ¬p V ¬q: Tidak benar ia makan nasi goreng dan minum teh ekuivalen Ia tidak makan nasi goreng atau tidak minum teh.
2. Disjungsi (…atau…)
p: Jakarta ibu kota provinsi DKI.
q: Jakarta ibu kota RI.
p V q: Jakarta ibu kota provinsi DKI atau ibu kota RI.
(disjungsi inklusif, baik p atau q keduanya benar).
p: Ia memberi kuliah logika.
q: Ia menonton berita di televisi.
p V q: Ia memberi kuliah logika atau menonton berita di televisi.
(disjungsi eksklusif, salah satu dari p atau q yang benar. Tetapi tidak bisa keduanya benar sekaligus).
¬p V q: Ia tidak memberi kuliah logika atau menonton berita di televisi.
p V ¬q: Ia memberi kuliah logika atau tidak menonton berita di televisi.
¬p V ¬q: Ia tidak memberi kuliah logika atau tidak menonton berita di televisi.
¬(p V q) ≡ ¬p Λ ¬q: Tidak benar ia memberi kuliah logika atau menonton berita di televisi ekuivalen Ia tidak memberi kuliah logika dan tidak menonton berita di televisi.

3. Implikasi (jika…maka…)
p: Ia menguasai materi kuliah filsafat.
q: Ia lulus ujian filsafat.
p  q ≡ ¬p V q: Jika ia menguasai materi kuliah filsafat maka ia lulus ujian filsafat ekuivalen Ia tidak menguasai materi kuliah filsafat atau lulus ujian filsafat.
¬(p  q) ≡ ¬(¬p V q) ≡ p Λ ¬q: Tidak benar jika ia menguasai materi kuliah filsafat maka ia lulus ujian filsafat ekuivalen Tidak benar ia tidak menguasai materi kuliah filsafat atau lulus ujian filsafat ekuivalen Ia menguasai materi kuliah filsafat dan tidak lulus ujian filsafat.
¬p  ¬q: Jika ia tidak menguasai materi kuliah filsafat maka ia tidak lulus ujian filsafat (invers).
q  p: Jika ia lulus ujian filsafat maka ia menguasai materi kuliah filsafat (konvers).
¬q  ¬p: Jika ia tidak lulus ujian filsafat maka ia tidak menguasai materi kuliah filsafat (kontraposisi).
4. Biimplikasi (…jika dan hanya jika…)
p: Ia beristri dua.
q: Ia setuju dengan konsep poligami.
p  q ≡ (p  q) Λ (q  p): Ia beristri dua jika dan hanya jika ia setuju dengan konsep poligami ekuivalen Jika ia beristri dua maka ia setuju dengan konsep poligami dan jika ia setuju dengan konsep poligami maka ia beristri dua.
¬(p  q) ≡ ¬[(p  q) Λ (q  p)] ≡ ¬[(¬p V q) Λ (¬q Vp)] ≡ ¬(¬p V q) V ¬(¬q Vp) ≡ (p Λ ¬q) V (q Λ¬p): Tidak benar ia beristri dua jika dan hanya jika ia setuju dengan konsep poligami ekuivalen Tidak benar jika ia beristri dua maka ia setuju dengan konsep poligami dan jika ia setuju dengan konsep poligami maka ia beristri dua ekuivalen Tidak benar ia tidak beristri dua atau setuju dengan konsep poligami dan ia tidak setuju dengan konsep poligami atau beristri dua ekuivalen Tidak benar ia tidak beristri dua atau setuju dengan konsep poligami atau tidak benar ia tidak setuju dengan konsep poligami atau beristri dua ekuivalen Ia beristri dua dan tidak setuju dengan konsep poligami atau ia setuju dengan konsep poligami dan tidak beristri dua.
D. Proses Berpikir
1. Konsep (concept):
Pengertian berupa term yang berarti bagaimana fungsi suatu kata dalam kalimat sebagai subyek atau predikat yang mencakup isi (komprehensi) dan luas (ekstensi) dengan perbandingan terbalik. Artinya, semakin banyak isi sesuatu pengertian, semakin sempit pengertiannya. Begitu pula sebaliknya semakin sedikit isi suatu pengertian, semakin luas pengertiannya. Contoh 1: Manusia. Contoh 2: Manusia, laki-laki, menikah, punya dua anak laki-laki, usia 60-an tahun, bekas jenderal bintang empat, bergelar doktor ekonomi pertanian dan tercatat dalam sejarah sebagai presiden RI pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Terlihat pada contoh 1 pengertiannya sangat luas dan tidak jelas acuannya, sebab isinya hanya satu kata “manusia”. Sebaliknya pada contoh 2 pengertiannya semakin sempit karena isinya banyak kata “manusia”, “laki-laki”, “menikah” dst…yang mengacu pada satu sosok SBY.
2. Keputusan (proposition):
Hasil kegiatan penalaran yang menerima atau menolak subyek yang dinyatakan dalam kalimat berita (declarative sentence). Perlu dicatat, subyek adalah sesuatu yang diterima atau ditolak dan predikat adalah apa yang diterima atau ditolak yang terdiri dari:
a). Materi (matter):
1) Keputusan analitis (analytic proposition): proposisi dengan predikat yang seharusnya ada pada subyek. Contoh: Manusia berbudi luhur.
2) Keputusan sintetis (synthetic proposition): proposisi dengan predikat yang tidak harus selalu ada pada subyek. Contoh: Menko Perekonomian Hatta Rajasa berambut putih.
b). Kuantitas (quantity):
1) Keputusan universal (universal proposition): proposisi dengan predikat yang harus ada pada subyek tanpa kecuali. Contoh: Semua manusia pasti mati.
2) Keputusan partikular (particular proposition): proposisi dengan predikat yang mencakup sebagian dari subyek. Contoh: Sebagian perempuan cantik.
3) Keputusan tunggal (singular proposition): proposisi dengan predikat yang mencakup satu hal saja dari subyek. Contoh: Mbak Tutut adalah anak perempuan tertua bekas Presiden (alm) Soeharto.
c). Kualitas (quality):
1) Keputusan afirmatif (affirmative proposition): proposisi dengan subyek yang dinyatakan atau ditegaskan oleh predikat. Contoh: Anjing binatang.
2) Keputusan negatif (negative proposition): proposisi dengan predikat yang menegasikan subyek. Contoh: Bekas Presiden AS George W Bush bukan binatang.
d). Relasi subyek dan predikat (subject and predicate):
1) Keputusan kategoris (categorical proposition): proposisi dengan hubungan subyek dan predikat diterima tanpa syarat. Contoh: Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih perempuan.
2) Keputusan hipotetis (hypothetical proposition): proposisi dengan hubungan subyek dan predikat diterima dengan syarat. Contoh: Jika menteri ekonomi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pro modal asing maka pemerintahannya dicap neoliberal.
3) Keputusan disjungktif (disjunctive proposition): proposisi dengan hanya satu yang benar dari dua predikat yang dinyatakan (disjungsi eksklusif). Contoh: Ketua MPR Taufik Kemas pintar atau bodoh.
e). Gabungan kuantitas dan kualitas (quantity and quality):
1) Keputusan universal afirmatif (affirmative universal proposition) dinyatakan dengan simbol A. Contoh: Semua buaya binatang.
2) Keputusan partikular afirmatif (affirmative particular proposition) dinyatakan dengan simbol I. Contoh: Sebagian advokat perempuan.
3) Keputusan universal negatif (negative universal proposition) dinyatakan dengan simbol E. Contoh: Semua manusia bukan syetan.
4) Keputusan partikular negatif (negative particular proposition) dinyatakan dengan simbol O. Contoh: Sebagian birokrat korup.
f). Pembalikan:
Keputusan dengan perubahan subyek menjadi predikat atau sebaliknya predikat jadi subyek tanpa mengubah arti dengan mengikuti empat hukum di bawah ini:
1). Hukum I (A dibalik menjadi I). Contoh: Semua monyet binatang (A) dibalik menjadi Sebagian binatang monyet (I).
2). Hukum II (E dibalik menjadi E/O). Contoh: Semua manusia bukan syetan (E) dibalik menjadi Semua syetan bukan manusia (E) atau Sebagian syetan bukan manusia (O).
3). Hukum III (I dibalik menjadi I). Contoh: Sebagian mahasiswa pandai (I) dibalik menjadi Sebagian yang pandai mahasiswa (I).
4). Hukum IV (O tidak bisa dibalik). Contoh: Sebagian manusia bukan PNS (O) tidak bisa dibalik menjadi Sebagian PNS bukan manusia (?)
g). Perlawanan:
Pertentangan diantara dua keputusan atau keputusan mengenai hal yang sama tetapi berbeda isinya.
1). Kontradiktoris (contradiction): pertentangan antara kuantitas dan kualitas (A – O) atau (E – I).
Contoh: (1). Semua jaksa jujur (A).
(2). Sebagian jaksa korup (O).
Atau (1). Semua jaksa korup (E)
(2). Sebagian jaksa jujur (I)
Asas-asas kontradiksi: Pertama, jika keputusan universal Benar maka keputusan partikular Salah atau sebaliknya jika keputusan universal Salah maka keputusan partikular Benar. Kedua, kedua keputusan tidak bisa sama-sama Benar atau sama-sama Salah.
2). Kontraris (contrariety): pertentangan dalam kualitas universal (A – E).
Contoh: (1). Semua dosen pintar (A).
(2). Semua dosen bodoh (E).
Asas-asas kontraris: Pertama, jika salah satu keputusan Benar maka keputusan lain Salah, tetapi jika salah satu keputusan Salah maka keputusan lain bisa Benar atau Salah. Kedua, kedua keputusan tidak bisa sama-sama Benar. Ketiga, kedua keputusan kemungkinan bisa sama-sama Salah.
3). Subkontraris (subcontrariety): pertentangan dalam kualitas partikular (I – O).
Contoh: (1). Sebagian anggota parlemen kaya (I).
(2). Sebagian anggota parlemen miskin (O)
Asas-asas subkontraris: Pertama, jika salah satu keputusan Benar maka keputusan lain bisa Benar atau Salah. Kedua, kedua keputusan kemungkinan bisa sama-sama Benar, tetapi tidak bisa sama-sama Salah.
4). Subalternasi (subalternation): pertentangan dalam hal kuantitas saja (A – I) atau (E – O).
Contoh: (1). Semua artis sinetron cantik (A).
(2). Sebagian artis sinetron cantik (I).
Atau (1). Semua artis sinetron jelek (E).
(2). Sebagian artis sinetron jelek (O).
Asas-asas subalternasi: Pertama, jika keputusan universal Benar maka keputusan partikular Benar. Kedua, jika keputusan universal Salah maka keputusan partikular bisa Benar atau Salah. Ketiga, jika keputusan partikular Benar maka keputusan universal bisa Benar atau Salah, tetapi jika keputusan partikular Salah maka keputusan universal Salah.
3. Kesimpulan (inference):
Kegiatan akal budi (logos/mind) manusia dalam rangka memperoleh pengetahuan. Selanjutnya dari pengetahuan itu bergerak maju untuk memperoleh pengetahuan baru. Ini berbeda dari pengetahuan intuitif (intuitive/discursive knowledge) yang terjadi begitu saja. Cakupannya ada dua yaitu: Pertama, penemuan: akal budi bergerak maju dari pengetahuan yang sudah dimengerti (premis) ke kesimpulan yang sebelumnya belum dimengerti. Kedua, pembuktian: kebenaran yang telah dimengerti dan terungkap dalam kesimpulan.

a). Unsur-unsur pokok kesimpulan:
1) Premis (anteseden atau pangkal pikir): pengetahuan yang dipakai sebagai titik tolak untuk memperoleh pengetahuan baru.
2) Kesimpulan (konklusi): pengetahuan baru yang diperoleh dari premis.
3) Konsekuen: hubungan antara premis dengan kesimpulan.
4) Validitas: kesimpulan yang lurus (correct) dan tergantung pada konsekuen. Artinya, jika konsekuennya valid maka kesimpulannya juga valid.
b). Syarat-syarat kesimpulan:
1) Material: premis harus benar (true).
2) Formal: akal budi (logos atau mind) harus lurus (correct) atau konsekuennya harus valid.
c). Hukum kesimpulan:
1) Jika premisnya benar maka kesimpulannya juga benar, tetapi jika kesimpulannya salah maka akal budinya yang salah.
2) Jika akal budinya benar, premisnya salah maka kesimpulannya juga salah.
3) Jika premisnya salah, tetapi kesimpulannya bisa benar atau salah maka itu terjadi secara kebetulan.
4) Jika kesimpulannya benar atau salah maka premisnya juga bisa benar atau salah.

d). Metode kesimpulan:
1) Induksi (induction): kesimpulan dari kekhususan (partikular) ke keumuman (universal). Contoh: hukum alam.
2) Deduksi (deduction): kesimpulan dari keumuman (universal) ke khususan (partikular). Contoh: silogisme.
IV. Seputar Silogisme
Secara sederhana silogisme dimaknai sebagai kesimpulan (c) yang diperoleh dari dua keputusan berbentuk premis mayor (M) dan premis minor (m) yang terdiri dari:
A. Silogisme Kategoris
Semua proposisinya berbentuk kategoris: premis mayor (M) jadi term predikat (P), premis minor (m) jadi term subyek (S) dan keduanya memuat term tengah (middle term) yang juga disimbolkan dengan M sebagai penghubung untuk memperoleh kesimpulan (c) secara deduktif. Artinya, predikat diterima atau ditolak oleh subyek secara mutlak. Tetapi harus memenuhi kriteria sbb: Pertama, premis partikular kesimpulan partikular. Kedua, premis negatif kesimpulan negatif. Ketiga, kedua premis partikular kesimpulan tidak sah. Keempat, kedua premis negatif kesimpulan tidak sah.
Ada sembilas belas ragam silogisme kategoris dengan empat pola dan empat jenis keputusan yang valid di bawah ini:
1. Pola I (Sub pre):
Premis mayor (M) proposisi universal dengan middle term (M) sebagai S dan premis minor (m) proposisi afirmatif dengan middle term (M) sebagai P.
M: M – P
m: S – M
c: S – P

a). BARBARA (AAA)
M: Semua manusia berbudi luhur (A)
m: Semua mahasiswa manusia (A)
c: Semua mahasiswa berbudi luhur (A)
b). CELARENT (EAE)
M: Semua manusia bukan syetan (E)
m: Semua birokrat manusia (A)
c: Semua birokrat bukan syetan (E)
c). DARII (AII)
M: Semua tentara berani (A)
m: Kopassus tentara (I)
c: Kopassus berani (I)
d). FERIO (EIO)
M: Semua koruptor tidak jujur (E)
m: Mr. X koruptor (I)
c: Mr. X tidak jujur (O)
2. Pola II (Bis pre):
Premis mayor (M) proposisi universal, salah satu dari premisnya harus negatif dan kedua middle term (M) pada kedua premis sebagai P.
M: P – M
m: S – M
c: S – P

a). BAROCO (AOO)
M: Semua ikan bisa berenang (A)
m: Kambing tidak bisa berenang (O)
c: Kambing bukan ikan (O)
b). CAMESTRES (AEE)
M: Semua bajaj beroda tiga (A)
m: Semua sedan tidak beroda tiga (E)
c: Semua sedan bukan bajaj (E)
c). CESARE (EAE)
M: Semua manusia tidak berekor (E)
m: Semua monyet berekor (A)
c: Semua monyet bukan manusia (E)
d). FESTINO (EIO)
M: Semua bencong bukan perempuan (E)
m: Peragawati perempuan (I)
c: Peragawati bukan bencong (O)
3. Pola III (Bis sub):
Premis minor (m) proposisi afirmatif, kesimpulan (c) proposisi partikular dan middle term (M) pada kedua premis sebagai S.
M: M – P
m: M – S
c: S – P

a). BOCARDO (OAO)
M: Sebagian PNS bodoh (O)
m: Semua PNS manusia (A)
c: Sebagian manusia bodoh (O)
b). DARAPTI (AAI)
M: Semua peragawan laki-laki (A)
m: Semua peragawan manusia (A)
c: Sebagian manusia laki-laki (I)
c). DATISI (AII)
M: Semua polisi manusia (A)
m: Sebagian polisi berkumis (I)
c: Sebagian yang berkumis manusia (I)
d). DISAMIS (IAI)
M: Sebagian hakim perempuan (I)
m: Semua hakim manusia (A)
c: Sebagian manusia perempuan (I)
e). FELAPTON (EAO)
M: Semua monyet bukan keledai (E)
m: Semua monyet binatang (A)
c: Sebagian binatang bukan keledai (O)
f). FERISTON (EIO)
M: Semua binatang bukan manusia (E)
m: Sebagian binatang berbulu (I)
c: Sebagian yang berbulu bukan manusia (O)
4. Pola IV (Pre sub):
Jika premis mayor (M) proposisi afirmatif dengan middle term (M) sebagai P maka premis minor (m) proposisi universal dengan middle term (M) sebagai S, jika premis minor (m) afirmatif maka kesimpulan (c) proposisi partikular dan jika salah satu dari premis negatif maka premis mayor (M) proposisi universal.
M: P – M
m: M – S
c: S – P

a). BRAMANTIS (AAI)
M: Semua artis sinetron manusia (A)
m: Semua manusia berkaki dua (A)
c: Sebagian yang berkaki dua artis sinetron (I)
b). CAMENES (AEE)
M: Semua pramugari perempuan (A)
m: Semua perempuan bukan laki-laki (E)
c: Semua laki-laki bukan pramugari (E)
c). DIMARIS (IAI)
M: Sebagian binatang kucing (I)
m: Semua kucing berkumis (A)
c: Sebagian yang berkumis binatang (I)
e). FESAPO (EAO)
M: Semua manusia bukan syetan (E)
m: Semua syetan penggoda iman (A)
c: Sebagian penggoda iman bukan manusia (O)
f). FRESISON (EIO)
M: Semua bule bukan pribumi (E)
m: Sebagian pribumi berambut pirang (I)
c: Sebagian yang berambut pirang bukan bule (O)
B. Silogisme Kondisional Hipotetis
1. Silogisme Kondisional Hipotetis Campuran (The Mixed Conditional Hypothetic Syllogism): premis mayor (M) berbentuk proposisi hipotetis, premis minor (m) yang mengakui atau mengingkari anteseden atau konsekuen dan kesimpulan (c) berbentuk proposisi kategoris dengan empat tipe di bawah ini.
a). Tipe I:
Premis minor (m) mengakui anteseden dan kesimpulan (c) mengakui konsekuen.
M: Jika ia menguasai materi kuliah maka ia lulus ujian.
m: Ternyata, ia menguasai materi kuliah.
c: Jadi, ia lulus ujian.
b). Tipe II:
Premis minor (m) mengakui konsekuen dan kesimpulan (c) mengakui anteseden:
M: Jika ia menguasai materi kuliah maka ia lulus ujian.
m: Ternyata, ia lulus ujian.
c: Jadi, ia menguasai materi kuliah.
c). Tipe III:
Premis minor (m) mengingkari anteseden dan kesimpulan (c) mengingkari konsekuen:
M: Jika ia menguasai materi kuliah maka ia lulus ujian.
m: Ternyata, ia tidak menguasai materi kuliah.
c: Jadi, ia tidak lulus ujian.
d). Tipe IV:
Premis minor (m) mengingkari konsekuen dan kesimpulan (c) mengingkari anteseden:
M: Jika ia menguasai materi kuliah maka ia lulus ujian.
m: Ternyata, ia tidak lulus ujian.
c: Jadi, ia tidak menguasai materi kuliah.
Modus Ponnens: premis minor (m) mengakui anteseden dan kesimpulan (c) mengakui konsekuen melahirkan empat pola di bawah ini:
a). Pola I:
M: Jika A maka B
m: Ternyata, A
c: Jadi, B
M: Jika ia menguasai materi kuliah maka ia lulus ujian.
m: Ternyata, ia menguasai materi kuliah.
c: Jadi, ia lulus ujian.
b). Pola II:
M: Jika A maka bukan B
m: Ternyata, A
c: Jadi, bukan B
M: Jika hujan turun maka ia tidak ke kampus.
m: Ternyata, hujan turun.
c: Jadi, ia tidak ke kampus.
c). Pola III:
M: Jika bukan A maka bukan B
m: Ternyata, bukan A
c: Jadi, bukan B
M: Jika dosen tidak hadir maka kuliah dibatalkan.
m: Ternyata, dosen tidak hadir.
c: Jadi, kuliah dibatalkan.
d). Pola IV:
M: Jika bukan A maka B
m: Ternyata, bukan A
c: Jadi, B
M: Jika hujan tidak turun maka ia ke kampus.
m: Ternyata, hujan tidak turun.
c: Jadi, ia ke kampus.
Modus Tollendo Tollens: premis minor (m) mengingkari konsekuen dan kesimpulan (c) mengingkari anteseden melahirkan empat pola di bawah ini:
a). Pola I:
M: Jika A maka B
m: Ternyata, bukan B
c: Jadi, bukan A
M: Jika hujan turun maka selokan meluap.
m: Ternyata, selokan tidak meluap.
c: Jadi, hujan tidak turun.
b). Pola II:
M: Jika A maka bukan B
m: Ternyata, B
c: Jadi, bukan A
M: Jika hujan turun maka ia tidak ke kampus.
m: Ternyata, ia ke kampus.
c: Jadi, hujan tidak turun.
c). Pola III:
M: Jika bukan A maka bukan B
m: Ternyata, B
c: Jadi, A
M: Jika dosen tidak hadir maka kuliah dibatalkan.
m: Ternyata, ada kuliah.
c: Jadi, dosen hadir.
d). Pola IV:
M: Jika bukan A maka B
m: Ternyata, bukan B
c: Jadi, A
M: Jika hujan tidak turun maka ia ke kampus.
m: Ternyata, ia tidak ke kampus.
c: Jadi, hujan turun.
2. Silogisme Kondisional Murni (The Pure Conditional Hypothetic Syllogism): premis mayor (M), premis minor (m) dan kesimpulan (c) berbentuk proposisi hipotetis.
M: Jika ia menguasai materi kuliah maka ia lulus ujian.
m: Jika ia membaca seluruh literatur yang berkaitan dengan mata kuliah maka ia menguasai materi kuliah.
c: Jika ia membaca seluruh literatur yang berkaitan dengan mata kuliah maka ia lulus ujian.
C. Silogisme Disjungtif
Premis mayor (M) berbentuk proposisi disjungtif (alternatif), premis minor (m) yang mengakui atau mengingkari premis mayor (M) dan kesimpulan (c) berbentuk proposisi kategoris.
1. Silogisme Disjungtif sempurna (sempit): premis mayor (M) bersifat alternatif yang kontradiktif, premis minor (m) yang mengakui atau mengingkari premis mayor (M) dan kesimpulan (c) benar jika prosedurnya valid.
M: Ia cantik atau jelek.
m: Ternyata, ia cantik.
c: Jadi, ia tidak jelek.
2. Silogisme Disjungtif tidak sempurna (luas): premis mayor (M) bersifat alternatif nonkontradiktif dengan ketentuan sbb:
Pertama: jika premis minor (m) mengakui salah satu alternatif dalam premis mayor (M) maka kesimpulan (c) benar.
M: Ia di kampus atau di kantin.
m: Ternyata, ia di kampus.
c: Jadi, ia tidak di kantin.
Kedua: jika premis minor (m) mengingkari salah satu alternatif dalam premis mayor (M) maka kesimpulan (c) salah.
M: Ia di kampus atau di kantin.
m: Ternyata, ia tidak di kampus.
c: Jadi, ia di kantin (?) (bisa jadi ia di mall).
Bibliografi
Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius, 1999.

Brouwer, MAW. Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman. Bandung: Alumni, 1986.

Gie, The Liang. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty, 2007.

Hatta. Muhammad. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Tintamas, 1986.

Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat (terj.). Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996.

Kleden, Ignas. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3ES, 1988.

Lanur, Alex. Logika Selayang Pandang. Yogyakarta: Kanisius, 2007.

Madjid, Nurcholis. (ed). Khasanah Intelektual Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1994.

Magnis – Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Mundiri, H. Logika. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.

Pramono, Made. et.al. Filsafat Ilmu: Kajian Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. Surabaya: Unesa University Press, 2005.

Soekardjo, RG. Logika Dasar: Tradisional, Simbolik dan Induktif. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001.

Sumaryono, E. Dasar-Dasar Logika. Yogyakarta: Kanisius, 1999.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu: Suatu Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988.

Surajiyo. et.al. Dasar-Dasar Logika. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Wallace, Walter L. Metode Logika Ilmu Sosial (terj). Jakarta: Bumi Aksara, 1990.

Sosiologi Komunikasi

Pengantar
Mata kuliah ini membahas fenomena komunikasi umumnya dan media massa khususnya dari perspektif sosiologi. Masalahnya, jika meminjam logika berbahasa dalam Bahasa Indonesia yang menganut hukum DM (Diterangkan-Menerangkan) maka nama mata kuliah Sosiologi Komunikasi tampaknya kurang tepat. Sebab ini bermakna sosiologi yang dikaji dari perspektif komunikasi. Padahal yang dimaksudkan malah sebaliknya. Hal ini semakin jelas bila dialihbahasakan dari literatur aslinya yang berbahasa Inggris dengan menganut hukum MD (Menerangkan-Diterangkan) Mass Media: a Sociological Perspective, yang maknanya kurang lebih kajian komunikasi (baca: media massa) dari perspektif sosiologi. Singkatnya, dalam Bahasa Indonesia yang lebih tepat adalah Komunikasi Sosiologi meskipun kedengarannya kurang lazim.
Riwayat penulisan tulisan ini cukup panjang dan melelahkan. Kendala waktu yang terbatas karena diselingi kesibukan mengajar yang cukup padat di beberapa perguruan tinggi. Maklum kehidupan sebagai intelektual di negeri ini belum kondusif secara finansial dalam rangka menjaga “asap dapur” tetap mengepul. Di samping itu beberapa saat sebelumnya muncul tekanan psikologis-politis dari bekas penguasa fakultas yang sangat tidak memahami dan menghargai kejujuran ilmiah. Artinya, kritik yang kami lontarkan terhadap kinerja manajemen-akademis direspon sebagai sentimen pribadi yang bermuara pada ancaman pemecatan yang sewenang-wenang. Mengutip penyair Wiji Thukul, bagi saya pribadi tidak ada pilihan lain selain: “Hanya ada satu kata, lawan!”
Oligarki antiintelektual bergaya semi feodal dengan mengangkangi etika akademik ini mungkin lupa bahwa dunia kampus berbeda dengan dunia birokrasi korup yang menuntut ketaatan dan loyalitas buta terhadap pemimpin (baca: penguasa). Gaya kepemimpinan ala Mataram Kuno: sabda pandita ratu tidak berlaku di dunia akademik yang lebih mengedepankan rasionalitas. Apalagi ini diperparah dengan sikap dan tindakan segelintir elite fakultas yang mengampu sekian banyak mata kuliah di luar kompetensinya sebagai parameter kapasitas intelektual semu. Padahal sudah jadi rahasia umum bahwa maksud sesungguhnya hanyalah sekedar mengejar imbalan finansial yang memang menggiurkan bagi ukuran kantong dosen yang kaya dengan etiket tapi miskin dengan etika. Bahkan ada bekas kajur yang bisa mengajar setengah lusin mata kuliah sekaligus. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada rekan seprofesi perlu dicatat, kita adalah dosen yang spesialis. Bukan guru SD yang generalis yang bisa mengajar setumpuk mata pelajaran: matematika; bahasa; agama; kesenian; olah-raga dll. Bahkan mungkin termasuk kebatinan ala paranormal Ki Djoko Bodo atau air bertuah celupan batu petir dukun cilik Ponari Sweat!
Tulisan ini tidak berpretensi sebagai bacaan instant bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Tapi hanya sekedar pengantar bahan diskusi di ruang kelas. Terakhir, maafkan saya untuk tidak minta maaf apabila tulisan ini Anda nilai jauh dari prasyarat untuk disebut sebagai tulisan ilmiah. Lebih adil bila Anda menulis tulisan dengan tema yang sama sebagai pembandingnya. Sekian.
Jakarta, Oktober 2008
Penulis,
Teguh Kresno Utomo, S.IP I. Introduksi
Tulisan ini membahas tujuh pokok bahasan: Pertama, mengkaji paradigma (kerangka berpikir) baik dari domain sosiologi maupun domain komunikasi. Serta mencari relasi keduanya dalam rangka mengamati fenomena komunikasi dari perspektif sosiologi. Kedua, menelaah kerangka dasar teori komunikasi dan teori komunikasi massa sebelum memasuki wacana yang lebih spesifik tentang bagaimana tinjauan sosiologi atas komunikasi massa. Ketiga, mendiskusikan kerangka konseptual bagaimana sebenarnya eksistensi media massa dalam berbagai sistem sosial atau ideologi yang berbeda. Keempat, memetakan fenomena pers di Indonesia dengan ideologi nasional Pancasila. Ini lebih menarik pasca tumbangnya rezim Orde Baru yang militeristik dengan mencari titik ekuilibrium menuju pers demokratik-partisipan. Kelima, mencoba mengkaji fenomena komunikasi publik oleh media massa dalam masyarakat dari perspektif sosiologi: kekuasaan, integrasi sosial dan perubahan sosial. Keenam, mendiskusikan tipologi media massa berdasarkan strata sosial. Ini membuktikan bahwa diferensiasi media massa sedikit banyak dipengaruhi oleh kelas sosial yang menjadi target audience-nya. Ketujuh, bagian terakhir ini menganalisis relasi antara media massa dengan budaya massa yang diproduksinya.
II. Seputar Paradigma Sosiologi dan Komunikasi
Paradigma sosiologi terbagi tiga: Pertama, fakta sosial yang mencakup pranata sosial (misalnya, norma khusus secara material dan egoisme intersubyektif secara nonmaterial) dan struktur makro masyarakat. Kedua, prilaku sosial (misalnya, pengulangan tingkah laku). Ketiga, definisi sosial yang mencakup aksi sosial, interaksi sosial dan fenomena sosial. Sementara interaksi sosial mencakup kontak sosial dan komunikasi (Soekanto, 2006). Dari sinilah diskursus sosiologi dalam kerangka menganalisis fenomena komunikasi dimulai. Artinya, komunikasi bersifat sosiologis berupa interaksi antarmanusia yang berkembang via simbol pikiran melalui ruang dan waktu. Bentuknya bisa berupa ekspresi wajah, sikap, nada suara, bahasa tubuh, kata-kata, tulisan dll. Serta media massa dilihat sebagai agen sosialisasi dan pembelajaran sosial.
Relasi antara sosiologi dengan komunikasi ini sebenarnya telah tampak pada pemikiran beberapa sosiolog generasi awal. Pertama, George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) asal Prussia (Jerman) mengemukakan konsep dialektika: sejenis cara berpikir dan citra dunia berdasarkan proses; relasi; dinamika konflik; kontradiksi. Pemikiran Hegel dibantah oleh bekas muridnya Karl Marx (1818 – 1883). Singkatnya, Marx mengubah dialektika idealisme Hegel menjadi dialektika materialis. Artinya, menurut Marx bukan kesadaran yang menentukan kenyataan. Tetapi sebaliknya kenyataanlah yang menentukan kesadaran. Itulah tafsir materialis terhadap fenomena sosiologis. Perkembangan berikutnya, awal abad XX giliran Marx yang digugat oleh Jurgen Habermas. Tokoh Frankfurt School aliran kritis ini mengatakan Marx gagal memahami hakekat interaksi sosial yang terbagi dua: tindakan rasional-purposif (kerja) yang selama ini jadi pusat kajiannya dalam karyanya Das Capital dan tindakan komunikatif (interaksi) yang luput dari perhatiannya. Paham ini mengatakan: “communication as a reflective challenge of unjust discourse” (Griffin, 2006).. Kedua, August Comte (1798 – 1857) yang pemikirannya didasari oleh dua pokok persoalan sosiologis yaitu: struktur sosial (social statics) dan perubahan sosial (social dynamic). Tetapi ia lebih memusatkan perhatian pada yang terakhir ini. Ia mengatakan perkembangan perubahan sosial melalui tiga tahap: teologis; metafisis; positivistis. Sosiolog Perancis yang lebih dikenal sebagai Bapak Sosiologi Positivistis ini mengatakan bahwa sosiologi adalah sejenis fisika sosial dengan karakter: obyektif; fenomenologis; reduksionis; naturalis. Ketiga, Emile Durkheim (1858 – 1917) yang memusatkan perhatiannya pada dua jenis fakta sosial: materi (birokrasi dan hukum) dan nonmateri (budaya dan institusi sosial). Yang terakhir ini terbentuk oleh interaksi sosial karena didorong oleh kesadaran kolektif atau moralitas bersama (Bungin, 2008). Keempat, Talcott Parsons (1902 – 1978) adalah sosiolog AS yang belajar di Jerman menganut paham struktural-fungsional dengan tiga premis: (1). masyarakat adalah suatu sistem secara keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang saling tergantung; (2) sistem menentukan bagian-bagian; (3). bagian-bagian itu dipahami dalam kaitan fungsinya terhadap keseimbangan sistem secara keseluruhan (Hoogvelt, 2008)
Sementara paradigma komunikasi terbagi dua, yaitu: Pertama, paradigma lama yang terdiri dari satu paradigma mekanis yang dipengaruhi oleh fisika klasik. Intinya, komunikasi dimaknai sebagai proses mekanistis antarmanusia dengan lokus pada channel (saluran komunikasi). Artinya, pesan mengalir melintasi ruang dan waktu dari komunikator ke komunikan secara simultan berdasarkan logika sebab-akibat. Tekanannya pada efek, metode eksperimental dan kuantitatif. Kedua, paradigma baru yang terdiri dari tiga paradigma. Diantaranya: (1). paradigma psikologis yang dipengaruhi oleh psikologi sosial yang melihat komunikasi sebagai mekanisme internal penerimaan dan pengolahan informasi dalam diri manusia dengan lokus pada filter konseptual individu ybs. Artinya, komponennya bukan lagi komunikator dan komunikan sebagai mana pada paradigma mekanis. Tetapi pada stimulus dan respon yang masih menggunakan metode eksperimental dan kuantitatif. Berikutnya (2). paradigma interaksional yang dipengaruhi oleh sosiologi, khususnya interaksi simbolis. Di sini komunikasi dimaknai sebagai interaksi antarmanusia dengan lokus peran sosial individu ybs dalam konteks tindakan sosialnya. Metode yang dipakai cenderung fenomenologis dengan analisis kontekstual dan kualitatif. Terakhir, (3). paradigma pragmatis yang juga dipengaruhi oleh sosiologi, khususnya teori sistem sosial. Singkatnya komunikasi dipahami sebagai prilaku yang berurutan berupa pola interaksi, sistem, struktur dan fungsi dengan lokus pada sistem sosial tempat individu ybs tersosialisasikan. Metode yang dipakai hanya analisis kualitatif (Fisher, 1990).
III. Teori Komunikasi dan Teori Komunikasi Massa
Mengutip EM Griffin terdapat delapan pendekatan teoritis dalam ilmu komunikasi sebagai berikut: (1). communication as interpersonal influence (socio – psycholological tradition); (2). communication as information processing (cybernetics tradition); (3). communication as artful public address (rhetorical tradition); (4). communication as the process of sharing meaning through sign (semiotic tradition); (5). communication as the creation and enactment of social reality (socio – cultural tradition); (6). communication as a reflective challenge of unjust discourse (critical tradition); (7). communication as the experience of self and others through dialogue (phenomenological tradition); (8). communication as people of character interacting in just and beneficial ways (ethical tradition)” (Griffin, 2006).
Dengan demikian, kalau komunikasi dimaknai sebagai: the management of messages with the objective of creating meaning maka komunikasi massa dimaknai sebagai: the process of creating shared meaning between the mass media and their audience. Serta ada empat teori komunikasi massa yang perlu dikaji lebih dahulu sebelum memasuki kerangka teoritis yang lebih spesifik: Pertama, teori ilmu pengetahuan sosial yang berkaitan dengan sifat dasar, cara kerja dan pengaruh komunikasi massa berdasarkan observasi sistematis yang bersifat obyektif. Kedua, teori normatif yang merupakan cabang filsafat sosial, menelaah bagaimana seharusnya peranan media massa dengan serangkaian nilai-nilai sosial yang ingin dicapai dan diterapkan. Ketiga, teori praktis berbicara tentang tujuan media massa, cara kerja yang seharusnya diterapkan yang sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan sosial yang sifatnya lebih abstrak. Serta cara-cara pencapaian beberapa sasaran tertentu. Keempat, teori akal sehat adalah gagasan yang dimiliki setiap orang dengan begitu saja melalui pengalaman langsung dalam masyarakat (McQuail, 1991).
IV. Media Massa, Masyarakat dan Sistem Sosial
Terdapat enam kerangka konseptual-teoritis untuk membahas fenomena eksistensi media massa dalam masyarakat dengan sistem sosial yang berbeda: Pertama, teori otoriter: pers tunduk pada kekuasaan negara dan kepentingan kelas penguasa. Sejarahnya berawal dalam sistem monarki feodal atau masyarakat prademokratis diktator. Kedua, teori pers bebas: diprakarsai oleh masyarakat liberal borjuis kapitalis yang terlihat pada amandemen pertama konstitusi AS. Intinya, kongres tidak boleh membuat UU yang akan membatasi kebebasan mengeluarkan pendapat termasuk melalui pers. Sebab itu merupakan hak mutlak warga negara. Ketiga, teori tanggung jawab sosial: inisiatifnya berasal dari the commission on freedom of the press AS yang melihat pers bebas telah gagal memenuhi janjinya akan kebebasan pers demi kemaslahatan masyarakat. Sebab masyarakat tidak punya akses ke pers yang dikuasai oleh kelas pemilik modal. Keempat, teori media soviet: postulat dasarnya pada warisan pemikiran Marx dan Engels yang diaplikasikan oleh Lenin. Marx mengkritik para filsuf sebelumnya yang hanya menafsirkan sejarah dunia. Padahal tugas sebenarnya adalah bagaimana mengubahnya (Sztompka, 2008). Salah satunya melalui indokrinasi via media massa yang difungsikan sebagai alat propaganda yang dikuasai dan dikendalikan oleh kelas proletar via partai komunis. Kelima, teori media pembangunan: khusus bagi negara-negara dunia ketiga yang lebih menekankan program pembangunan. Media massa adalah mitra pemerintah dan berfungsi untuk menyebarluaskan nilai-nilai pembangunan. Bahkan dijadikan kajian akademik tersendiri bernama komunikasi pembangunan di perguruan tinggi. Keenam, teori demokratik-partisipan: terjadi pada masyarakat liberal. Komunikasi yang dikehendaki bersifat horizontal, bukan vertikal. Muncul karena frustasi melihat parpol gagal menjalankan fungsi komunikasi politiknya. Serta kecewa baik pada pers bebas maupun pers media pembangunan. Jika yang pertama karena semata-mata berorientasi pasar maka yang kedua terjebak dalam belitan birokrasi yang korup (McQuail, 1991).
V. Tinjauan Pers Pancasila
Pembicaraan tentang pers Indonesia secara sosiologis dalam kerangka ideologi nasional Pancasila dapat dianalisis secara akademik dalam tiga perspektif: Pertama, Pers Pancasila dalam arti mistik yang merupakan implementasi ideologi Pancasila dalam kehidupan pers. Ini dimaknai dalam konteks Pancasila philosophy. Artinya, Pancasila dimaknai sebagai obyek formal dalam kehidupan pers. Kedua, Pers Pancasila sebagai watch dog terhadap proses pembangunan nasional tetapi tidak menyetujui pers liberal yang biasanya berprinsip the bad news is the good news. Ketiga, Pers Pancasila dalam pandangan realistis. Ini melihat Pers Pancasila sebagai mana jamaknya pers di negara-negara dunia ketiga yang mengembangkan ruang gerak kebebasan berekspresi sambil bergerilya secara politik (Lubis, 1993).
Pasca reformasi politik tahun 1998 yang menumbangkan rezim bekas Presiden Soeharto (alm) Orde Baru yang militeristik, konsep Pers Pancasila (baca: Pers Pembangunan) kehilangan eksistensinya. Bahkan terlihat perlahan tapi pasti mulai bergerak ke arah konsep pers demokratik-partisipan. Artinya, tidak ingin mengikuti pers liberal yang dikebiri oleh pemilik modal. Apalagi kembali ke konsep semula pers pembangunan yang dimanipulasi oleh birokrasi korup yang berujung pada kinerja lembaga Deppen RI era rezim sebelumnya. Tetapi rohnya dicurigai mengalami reinkarnasi dalam institusi bernama Depkoinfo RI hasil kebijakan politik bekas Presiden Megawati Soekarnoputeri. Setelah sebelumnya dilikuidasi oleh bekas Presiden Abdurrahman Wahid.
VI. Media Massa dan Komunikasi Publik dalam Masyarakat
Intinya, melihat bagaimana kerja komunikasi publik yang dilakukan oleh media massa dalam masyarakat. Ada tiga hal yang merupakan masalah sosiologi terlibat dalam kajian ini, yaitu: kekuasaan, integrasi sosial dan, perubahan sosial. Dari ketiganya akan dibahas pula tiga variannya: Pertama, dominasi (domination): media massa dikuasai dan dikendalikan oleh kelas dominan yang bersifat kohesif-sentripetal. Integrasi sosial tercapai karena adanya homogenisasi informasi, tetapi kontrol masyarakat via media massa atau media massa via masyarakat pada penguasa terpinggirkan. Kedua, serba media (media centred): singkatnya melihat perubahan sosial semata-mata disebabkan oleh teknologi dan isi media massa. Ketiga, serba masyarakat (society centred): perubahan sosial karena politik dan uang akan mempengaruhi teknologi dan isi media massa. Sisi positifnya adanya pluralisme sebagai refleksi kebutuhan masyarakat yang beragam, modernisasi, kemerdekaan dan mobilisasi.Tetapi sisi negatifnya isolasi, alienasi dan erosi nilai tanpa tujuan yang jelas yang bersifat fragmentatif-sentrifugal.
Selanjutnya, ada lima kerangka teoritis yang bisa menjelaskan komunikasi publik oleh media massa dalam masyarakat: Pertama, teori masyarakat massa: melihat ketergantungan timbal-balik antara institusi kekuasaan dengan integrasi media massa terhadap sumber kekuasaan sosial dan otoritas. Kedua, teori marxisme klasik: media massa dilihat seperti alat produksi yang sesuai tipe umum industri kapitalis. Hubungan faktor produksinya dimonopoli dan dikuasai kelas kapitalis yang dijalankan baik secara nasional maupun internasional untuk melayani kepentingan kelas tersebut. Sebaliknya pada masyarakat sosialis media massa dikuasai dan dikendalikan oleh kelas proletariat via partai komunis sebagai alat propaganda. Ketiga, teori media politik-ekonomi: ideologi tergantung pada kekuatan ekonomi yang tercermin pada struktur kepemilikan, mekanisme kerja dan kekuatan pasar media massa. Artinya, institusi media massa dinilai sebagai bagian dari sistem ekonomi yang berhubungan erat dengan sistem politik. Keempat, teori kritis: biasa disebut mahzab Frankfurt yang bertitik tolak pada pemikiran Marx muda sebagai pembebas. Menilai marxisme sebagai cerminan pemikiran Marx tua yang sudah berubah menjadi ideolog gagal memahami perubahan sosial yang dimulai dari basis. Padahal perubahan sosial pun bisa digagas melalui struktur atas dengan memanfaatkan media massa (Magnis-Suseno, 2003). Kelima, teori hegemoni media: melengkapi kelemahan teori kritis yang tidak membahas aktor perubahan sosial tersebut. Meminjam pemikiran Antonio Gramsci, tokoh sosialis Italia yang mati dipenjara fasis, menunjuk intelektual organiklah yang bisa diharapkan sebagai pelaku perubahan sosial tersebut. Sebab mustahil mengharapkan ide-ide revolusioner ini dilakukan oleh intelektual tradisional yang sudah terkooptasi oleh struktur kekuasaan (McQuail, 1991).
VII. Media Massa, Kelas Sosial dan Selera Publik
Ada lima klasifikasi yang dapat menjelaskan fenomena ini: Pertama, high culture. Jarang ditemukan, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali, dalam content media massa yang dianggap tidak marketable. Sebab ini merupakan produk budaya serius yang hanya dinikmati dan dipahami segelintir kritikus seni atau budayawan yang membutuhkan media khusus. Kedua, upper-middle culture. Meliputi kalangan professional, eksekutif, manajer dsb yang relatif berpendidikan tinggi. Tetapi mereka hanya sekedar penikmat tanpa berpretensi sebagai pekerja atau kritikus seni. Apalagi jadi budayawan. Ini bisa diakomodasi oleh pengelola media massa meskipun content-nya terbatas. Ketiga, lower-middle culture. Biasa disebut pekerja kerah putih (white collar workers) yang dinilai sangat marketable oleh pengelola media massa dengan dua alasan: jumlahnya sangat besar dan berpenghasilan lebih dari cukup. Ini sangat signifikan dalam sistem media kapitalistik. Khususnya pada pemasukan iklan demi eksistensi media ybs. Keempat, low culture. Biasa disebut pekerja kerah biru (blue collar workers). Jumlahnya juga besar, bahkan mungkin melebihi kelas sebelumnya. Tetapi bedanya kurang terdidik atau terlatih dalam bidangnya. Semacam pekerja kasar yang lebih mengandalkan otot daripada otak. Sekitar tahun 1950-1960-an sangat diakomodasi oleh pengelola media massa. Tetapi seiring waktu kian menyusut karena penghasilan dan daya beli mereka yang rendah dianggap tidak menguntungkan secara bisnis. Kelima, quasi-folk low culture. Ini kalangan yang sangat miskin. Baik miskin kota maupun miskin desa dengan sifat subsisten. Sama sekali tidak dilirik oleh pengelola media massa. Kecuali ditampilkan hanya sekedar jadi obyek tontonan dan sinisme kelas sosial lainnya (De Fleur, 1985).
VIII. Media Massa dan Budaya Massa
Berbicara budaya salah satunya meliputi seni (art) yang terpilah menjadi high art dan low art. Kalau yang pertama dinikmati oleh kalangan elite yang dalam istilah media massa disebut high culture audience yang dipenuhi ide-ide abstrak maka yang kedua dikonsumsi oleh kalangan populis yang wujudnya middle culture audience dan low culture audience.
Kalangan yang disebut terakhir di atas tidak terlalu menikmati ide-ide abstrak. Tetapi ide-ide kongkrit dalam realitas sosial sehari-hari. Meskipun demikian, ada sedikit perbedaannya. Singkatnya, jika middle culture audience berbicara “sesuatu” maka low culture audience berbicara “gosip”. Pakar komunikasi memakai istilah Jerman Kitsch sebagai seni rendah yang trendi tapi tidak bermutu yang banyak diproduksi oleh media massa baik cetak maupun elektronik (Vivian, 2008). Targetnya tentu saja kalangan populis ini yang memang marketable dalam konteks keberlangsungan eksistensi media massa ybs.
Bibliografi
Bungin, HM. Burhan. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.
De Fleur, Melvin L. Understanding Mass Communication. Boston: Houghton Mifflin, Co., 1985.
Griffin, EM. A First Look at Communication Theory (Sixth Edition). Singapore: Mc Graw – Hill Education (Asia), 2006.
Hoogvelt, Ankie MM. Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang (terj.). Jakarta: CV. Rajawali Pers, 2008.
Lubis, Todung Mulya. In search of Human Rights: Legal-Political Dillemas of Indonesia’s New Order 1966-1990. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Magnis-Suseno, Franz. Bayang-Bayang Lenin dalam Enam Pemikir Marxisme Dari Lenin Sampai Tan Malaka. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003.
McQuail, Denis. Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar (terj.). Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1991.
Soekanto, Soerjono. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Garfindo Persada, 2006.
Sztompka, Piotr. Sosiologi Perubahan Sosial (terj.). Jakarta: Prenada, 2005.
Vivia, John. Teori Komunikasi Massa (terj.). Edisi Kedelapan. Jakarta: Kencana Prenada Group, 2008.

.

Teknik Mencari dan Menulis Berita

Pengantar
Ada anekdot yang mengatakan bahwa jurnalis adalah orang yang sedikit tahu tentang banyak hal. Artinya, sejalan dengan profesinya yang memilih dan memilah realitas sosial yang akhirnya menjadi produk berita yang kita baca di surat kabar dan majalah, kita dengar di radio atau kita saksikan di televisi ditambah dengan tekanan tenggat waktu (deadline) yang ketat menuntut jurnalis menjadi tahu berbagai peristiwa tetapi serba sedikit.
Diperlukan kemampuan teknis dalam kinerja jurnalistik untuk mengolah suatu realitas menjadi berita yang akan dikonsumsi oleh publik. Sebab tidak semua realitas sosial itu bisa menjadi berita. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhinya, yang dalam konteks jurnalistik disebut nilai berita (news worthy). Di samping itu publik juga semakin cerdas membedakan antara realitas sosial dengan realitas media massa. Singkatnya, serupa tapi tak sama.
Dalam dunia jurnalistik berlaku adagium: the bad news is the good news. Dengan demikian, salah satu tugas jurnalis adalah membongkar kebohongan publik dalam rangka memenuhi tuntutan ethis profesinya sebagai alat kontrol sosial. Tidak jarang bahkan kadang kala menghadapi resiko kehilangan nyawa dalam menjalankan profesinya itu.
Gambaran umum karier dan kinerja jurnalistik sebagai berikut: Pemimpin redaksi (Editorial); Redaktur Pelaksana (Analysis); Redaktur Halaman (Feature); Reporter Senior (Straight/Hard News) dan Reporter Yunior (Spot News). Masalahnya, kinerja jurnalis ini dianalisis berdasarkan perspektif ilmiah-akademik, yang notabene domainnya berbeda dengan domain jurnalis, termasuk jenis yang banyak tahu tentang sedikit hal. Saya termasuk pada yang disebut terakhir ini. Meskipun demikian, sebagai dosen yang dipercaya untuk mengasuh mata kuliah : Teknik Mencari dan Menulis Berita, saya pun berupaya menulis semacam diktat kuliahnya yang jelas bukan dimaksudkan sebagai bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Tetapi hanya sekedar sebagai bahan pengantar diskusi di ruang kuliah tentang seluk-beluk dunia jurnalistik yang sangat kompleks.
Tulisan ini tidak hanya berdasarkan studi literatur tetapi juga sedikit banyaknya dipengaruhi oleh pengalaman pribadi penulisnya ketika dulu aktif di pers mahasiswa di akhir 1980-an sebagai Pemimpin Redaksi majalah mahasiswa tingkat universitas. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa titik berat kajiannya lebih pada media cetak daripada media elektronik. Apalagi mengutip pribahasa Yunani: “Scripta manen verba volent” yang berarti apa yang tertulis tetap ada, apa yang diucapkan menguap.
Akhirnya, bukan basa-basi terdapat kekurangan di sana-sini dalam tulisan ini. Bahkan mungkin tidak layak disebut sebagai tulisan ilmiah. Apabila setelah membacanya Anda menjadi bingung maka percayalah bahwa saya pun ikut bingung. Untuk itu semua saya tidak akan minta maaf, lebih adil Anda membuat tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya dalam rangka dialektika ilmiah. Sekian.
Jakarta, Mei 2009
Penulis,
Teguh Kresno Utomo, S.IP

I. Introduksi
Secara garis besar produk media massa terdiri dari: Pertama, berita (news). Kedua, opini (opinion). Ketiga, iklan (advertising) yang sebetulnya bukan produk jurnalistik tetapi memakai teknik jurnalistik.
Sesuai dengan keperluan mata kuliah: Teknik Mencari dan Menulis Berita maka tulisan ini hanya akan membahas tentang berita dan opini dengan seluk-beluknya yang memuat empat pokok bahasa utama sebagai berikut: Pertama, konsep dasar pers dan berita. Ini membahas antara lain relasi pers dengan berita, pengertian berita, unsur-unsur berita, klasifikasi berita, jenis berita dan elemen berita. Kedua, konsep dasar pemberitaan yang antara lain menyorot fungsi pemberitaan, pembatasan pemberitaan, perbedaan antara fakta dengan opini dan seputar opini. Ketiga, teknik mencari berita. Pada bagian ini akan dijelaskan beberapa teknik mencari berita. Secara umum: observasi (observation), wawancara (interview), cover up dan press release. Kontak resmi pers (formal press contact): konferensi pers (press conference), wisata pers (press tour), resepsi pers (press reception), jamuan pers (press gathering) dan taklimat pers (press briefing). Kontak tidak resmi pers (informal press contact): keterangan pers (press statement), wawancara pers (press interview) dan jamuan pers (press gathering). Keempat, teknik menulis berita. Di bagian akhir ini akan diuraikan beberapa aspek yang perlu diperhatikan sebelum menulis berita. Serta kiat menulis berita langsung (straight news), berita ringan (soft news), berita kisah (feature), artikel dan resensi buku.
Keempat pokok bahasan di atas saling kait-mengait satu sama lain. Artinya, dibutuhkan penjelasan secara holistic, bukan parsial untuk menjelaskan eksistensi pers baik dalam konteks institusi sosial maupun jurnalisme. Dengan demikian, semuanya membutuhkan telaah akademik yang mendalam meskipun tidak terlalu detil karena keterbatasan ruang dan waktu yang tersedia.
II. Konsep Dasar Pers dan Berita
A. Relasi Pers dan Berita
Pers atau press (Inggris) dalam Bahasa Indonesia yang kita kenal saat ini berasal dari Bahasa Belanda. Ini kurang lebih menyiarkan berita dari barang cetakan. Sebagai mana yang telah disebutkan di atas, berbicara tentang pers mencakup dua pengertian sebagai berikut: Pertama, pers sebagai institusi sosial yang berfungsi sebagai watch dog of the press bagi institusi lainnya seperti legislatif, eksekutif dan yudikatif. Dalam konteks ini, sebagian analisis berpendapat di sinilah manifestasi pers sebagai the fourth estate dalam sistem sosial. Masalahnya, pers tidak bisa disebut sebagai institusi sosial apabila produk jurnalistik yang dihasilkannya tidak bermakna secara sosial. Dari sinilah dimulai pembahasan berikutnya pers dalam konteks jurnalisme. Kedua, pers sebagai jurnalisme berarti kinerja dalam rangka memilah dan memilih realitas sosial yang akan diolah sebagai informasi yang Anda baca di surat kabar atau majalah, Anda dengar di radio atau Anda saksikan di televisi.
Dalam konteks jurnalisme ini pulalah realitas sosial diubah menjadi realitas media massa dalam dua bentuk: Pertama, realitas sosiologis dalam tataran obyektif yang bermanfaat bagi publik. Misalnya, berita tentang naiknya harga BBM, TDL, PAM dst. Kedua, realitas psikologis yang hanya bermain dalam tataran subyektif pengisi waktu luang untuk melupakan atau lari sejenak dari realitas empiris yang tidak mengenakkan. Misalnya, berita seputar kawin-cerainya artis x dan sejenisnya produk beberapa infotainment di layar kaca. Secara akademik ini sebetulnya tidak layak disebut pers meskipun mekanisme kerjanya sesuai dengan kinerja jurnalistik.
B. Pengertian Berita
Berita atau dalam Bahasa Inggris disebut NEWS (North; East; West; South) yang bermakna setiap realitas sosial yang berasal dari keempat penjuru arah mata angin di atas berpotensi dijadikan sebagai bahan berita. Tetapi tidak semua realitas sosial itu lantas serta-merta bisa dijadikan berita. Dari sinilah diskursus tentang nilai berita (news worthy) dimulai. Bahkan ada anekdot yang mengatakan bahwa jika ada orang digigit anjing maka itu bukan berita. Sebaliknya jika ada orang menggigit anjing maka itu baru berita. Terdapat unsur kejutan di sini.
C. Unsur-Unsur Berita
Sebagian pakar jurnalistik memaparkan unsur-unsur jurnalistik sebagai berikut: aktual (timeliness); penting (significance); terkenal (prominence); besar (magnitude); dekat (proximity); manusiawi (human interest).
Sementara sebagian pakar lainnya mengatakan sebagai berikut: kebaruan (newness); informatif (informative); luar biasa (unusualness); ekslusif (exclusive); berdampak (impact); pertentangan (conflict); tokoh publik (public figure/news maker); seks (sex).
D. Klasifikasi Berita
Ada tiga klasifikasi berita sebagai berikut: Pertama, berdasarkan sifatnya: berita yang bisa diduga dan berita yang tak terduga. Kedua, berdasarkan peristiwanya: berita yang terjadi di tempat tertutup (in door news) dan berita yang terjadi di tempat terbuka (out door news). Ketiga, berdarkan materinya: berita sosial; berita politik, berita hukum; berita ekonomi; berita budaya; berita olah raga dan kesehatan dll.
E. Jenis Berita
Secara garis besar jenis berita terbagi tiga sebagai berikut: Pertama, berita langsung (straight/hard news) adalah laporan langsung suatu peristiwa. Kedua, berita ringan (soft news) adalah laporan yang berupa kelanjutan atau susulan peristiwa pertama. Ketiga, berita kisah (feature) adalah produk jurnalistik yang melukiskan suatu pernyataan yang lebih terperinci. Sehingga apa yang dilaporkan terasa hidup dan tergambar dalam imajinasi pembaca. Bentuknya berupa laporan suatu peristiwa dengan model bercerita atau bertutur. Sebagian pakar jurnalistik menggolongkannya pada berita ringan juga.
Lebih jauh pakar jurnalistik membagi beberapa jenis berita kisah (feature) sebagai berikut: Pertama, berita kisah minat insani yang mengaduk-aduk suasana hati dan menguras air mata pembaca. Kedua, berita kisah sejarah yang merupakan rekonstruksi peristiwa masa lalu bukan sekedar membeberkan fakta tetapi juga mencakup aspek-aspek manusiawinya yang mengundang simpati dan empati pembaca. Ketiga, berita kisah biografi yang memuat riwayat perjalanan hidup seseorang yang bermanfaat bagi peradaban dunia karena pengabdiannya. Keempat, berita kisah perjalanan untuk mengenal lebih dekat suatu tempat yang memiliki daya tarik tertentu. Kelima, berita kisah petunjuk praktis yang mengajarkan bagaimana melakukan sesuatu. Keenam, berita kisah ilmiah yang mengungkapkan sesuatu yang berkaitan dengan dinamika ilmu pengetahuan.
Di samping itu masih ada beberapa jenis berita yang sebenarnya merupakan derivasi berita sebelumnya sebagai berikut: Pertama, berita menyeluruh (comprehensive news) adalah laporan suatu peristiwa yang bersifat menyeluruh yang ditinjau dari berbagai aspek. Kedua, berita mendalam (depth news) adalah laporan suatu peristiwa yang memerlukan penggalian informasi yang aktual, mendalam, tajam, lengkap dan utuh (dept reporting). Bukan opini jurnalisnya. Ketiga, berita penyelidikan (investigative news) adalah laporan suatu peristiwa yang terpusat pada sejumlah masalah yang kontraversial. Biasanya dengan penyelidikan yang tersembunyi untuk memperoleh fakta. Keempat, berita interpretatif (interpretative report) adalah laporan suatu peristiwa yang fokusnya pada isu atau masalah kontraversial yang memerlukan penafsiran. Kelima, tajuk rencana (editorial writing) adalah laporan suatu peristiwa dengan menyajikan fakta dan opini yang menafsirkan berita-berita penting dan mempengaruhi opini publik. Biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi atau jurnalis senior suatu media massa yang mewakili institusinya. Bukan mewakili pribadi ybs.
F. Elemen Berita
Kajian ini lebih membahas secara spesifik elemen berita di media cetak yang terdiri dari enam bagian sebagai berikut: Pertama, judul (headline) yang biasanya dilengkapi dengan anak judul. Kedua, baris tanggal dan tempat (dateline). Ketiga, teras berita (lead). Keempat, tubuh berita (body) yang bisa terdiri dari beberapa subjudul. Kelima, keterangan subjudul (catch all). Keenam, keterangan tambahan (elaboration).
III. Konsep Dasar Pemberitaan
Berita merupakan kebutuhan primer manusia modern. Serta berperan besar dalam perubahan sosial melalui interaksi antarmanusia dalam masyarakat. Dengan kata lain, berita mempunyai fungsi sosial.
A. Fungsi Pers
Ada empat fungsi dasar pers: Pertama, informatif. Kedua, edukatif. Ketiga, hiburan. Keempat, kontrol sosial.
Dalam konteks ini pers wajib membebaskan dirinya dari berbagai tekanan baik yang berbentuk kapital (pemilik modal) maupun kekuasaan (pemerintah dan masyarakat) yang manifestasinya berbagai regulasi dan demonstrasi kelompok para militer yang mengintimidasi kinerja pers di era reformasi ini.
Tetapi kemerdekaan pers (freedom of the press) bukan dimaksudkan sebagai anything we can sell. Artinya, ia harus mempertimbangkan norma sosial (etiket), norma hukum dan norma moral (etika pers) yang berlaku.
B. Pembatasan Pemberitaan
Pertama, pembatasan oleh hukum positif dalam bentuk delik pers, yaitu: pelanggaran pidana yang dilakukan oleh pers yang menyangkut keamanan negara; penghinaan; pornografi; pelecehan agama; kabar bohong. Kedua, pembatasan oleh kode etik jurnalistik yang antara lain menyangkut pertanggungjawaban; cara pemberitaan dan menyatakan pendapat; pelanggaran hak jawab; sumber berita; kekuatan kode etik dan pentaatan kode etik. Ketiga, pembatasan tidak formal. Ini biasa disebut pembatasan ekstrakonstitusional. Misalnya, tata susila. Tetapi yang lebih dahsyat dari penguasa berbentuk budaya telepon untuk tidak memberitakan hal-hal yang sensitif; sensor preventif; tidak adanya jaminan keamanan bagi wartawan dalam menjalankan profesinya yang marak ketika rezim Orde Baru dulu berkuasa.
C. Perbedaan Fakta dengan Opini
Dalam pemberitaan harus dibedakan antara fakta (fact) dengan opini (opinion). Dalam dunia jurnalistik fakta terbagi tiga: Pertama, fakta pertama: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diberitakan. Kedua, fakta kedua: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diberitakan tetapi tidak utuh. Untuk itu dilengkapinya dengan meminta keterangan pihak lain yang menyaksikannya. Ketiga, fakta ketiga: jurnalis tidak berada di tempat kejadian dan meminta keterangan pihak lain yang juga tidak berada di tempat kejadian, tetapi dianggap punya keahlian yang berkaitan dengan peristiwa yang akan diberitakan (baca: saksi ahli).
Sementara opini dimaknai sebagai penilaian moral seseorang terhadap suatu peristiwa. Masalahnya, dalam kinerja jurnalistik sulit sekali meniadakan opini inj. Artinya, ketika redaktur menyeleksi hasil reportase sampai editing sebenarnya telah beropini dalam kerjanya. Begitu pula ketika jurnalis memilih berita yang pantas dimuat dan membuang bagian lain juga telah beropini. Lantas bagaimana membedakan dengan tegas antara fakta dengan opini? Sebab opini lain di luar jurnalis juga merupakan fakta. Inilah yang akhirnya menimbulkan berbagai aliran jurnalisme sebagai berikut:
Pertama, jurnalisme obyektif yang membedakan dengan tegas antara fakta dengan opini. Kedua, jurnalisme baru yang merupakan kombinasi sastra dengan teknik jurnalistik yang dianut Majalah TEMPO ketika dipimpin oleh Gunawan Mohammad. Ketiga, jurnalisme investigatif yang melakukan penyelidikan mendalam dalam pemberitaannya. Sebagai ilustrasi pengungkapan kasus skandal penyadaban kantor Partai Demokrat yang melibatkan Presiden AS Richard Nixon oleh dua orang jurnalis The Washington Post. Keempat, jurnalisme evaluasi dengan menggabungkan jurnalisme obyektif (primary of fact), jurnalisme baru (reporter subjectivity) dan jurnalisme investigatif (investaigative reporting) sekaligus. Kelima, jurnalisme presisi yang meramu fakta, interpretasi, analisis dan opini jurnalis ybs.
Sementara pakar jurnalistik lainnya menyebutkan versi lain dari aliran jurnalisme sebagai berikut: Pertama, jurnalisme bermakna: ditujukan buat khalayak kelas menengah atas dalam konteks intelektual. Kedua, jurnalisme patriotis: jurnalis merangkap sebagai pejuang dalam revolusi kemerdekaan. Ketiga, jurnalisme pembangunan khas Orde Baru sebagai mitra penguasa. Keempat, jurnalisme selera rendah yang dirintis oleh tabloid MONITOR pimpinan Arswendo Atmowiloto dengan istilah jurnalisme lher. Kelima, jurnalisme plintiran yang dipopulerkan oleh bekas Presiden Abdurrachman Wahid dengan memutarbalikkan fakta dengan opini. Keenam, jurnalisme talang air yang memuat semua berita tanpa proses editing.
D. Seputar Opini
Pertama, tajuk rencana: pendapat atau sikap resmi suatu media massa sebagai institusi terhadap suatu peristiwa yang berkembang dalam masyarakat. Biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi atau jurnalis seniornya. Ciri-cirinya untuk pers papan atas hati-hati, konservatif, menghindari kritik langsung dalam ulasannya. Sementara untuk pers popular berani, atraktif, progresif dan kritik langsung yang lebih bernuansa sosial daripada pertimbangan politis. Kedua, karikatur: opini redaksi berupa gambar yang sarat dengan kritik sosial dengan memasukkan unsur anekdot atau humor. Sehingga membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum. Termasuk tokoh yang dikarikaturkan itu sendiri. Ketiga, pojok: pernyataan singkat nara sumber atau peristiwa tertentu yang dianggap menarik untuk dikomentari oleh redaksi dengan kata atau kalimat yang mengusik, menggelitik, reflektif dan terkadang sinis. Keempat, esai: karangan prosa yang membahas secara sepintas lalu dari perspektif pribadi penulisnya tentang seni, sastra dan budaya. Kelima, artikel: termasuk news by line yaitu tulisan lepas seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah yang bisa mempengaruhi pembaca. Dari sisi penulisnya terdiri dari artikel redaksi dan artikel umum. Sementara dari sisi fungsinya terdiri dari artikel khusus dan artikel sponsor. Bentuknya bisa berupa artikel ringan dalam rubrik anak-anak dan keluarga, artikel halaman opini dan artikel analisis ahli dalam halaman muka, halaman berita atau rubrik tertentu. Panjang tulisan yang ditujukan untuk surat kabar sekitar 5 – 8 halaman kertas kuarto. Sementara untuk jurnal ilmiah sekitar 10 – 20 halaman kertas kuarto. Keenam, kolom: opini singkat dengan tekanan pada aspek pengamatan. Serta pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan tertentu dalam masyarakat. Panjang tulisan biasanya setengah panjang esai atau artikel. Ketujuh, surat pembaca: opini singkat yang ditulis pembaca yang dimuat dalam rubrik khusus Surat Pembaca.
III. Teknik Mencari Berita
A. Secara Umum
Pertama, observasi (observation): pengamatan realitas oleh jurnalis baik secara langsung (participant observation) maupun tidak langsung (non participant observation). Misalnya, kasus luapan Lumpur Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Kalau yang pertama jurnalis tinggal dan hidup di sana berempati dan ikut merasakan penderitaan masyarakat korban bencana itu maka yang kedua jurnalis hanya sekedar bersimpati dan mencari informasi sebagai bahan berita.
Kedua, wawancara (interview): tanya jawab baik lisan maupun tulisan antara jurnalis (interviewer/information hunter) dengan nara sumber (interviewee/information supplier) yang terdiri dari (1). Man in the street interview adalah pengumpulan pendapat umum. Biasanya menyangkut suatu keadaan atau kebijakan baru. (2). Casual interview adalah wawancara mendadak yang sifatnya tidak resmi dengan nara sumber yang dianggap punya informasi berkaitan dengan berita yang akan dimuat. (3). Personal interview adalah wawancara untuk mengenal pribadi nara sumber berkaitan dengan reputasinya, kemanusiaannya dan kehidupannya yang unik. (4). Newspeg interview adalah wawancara dengan nara sumber yang berkaitan langsung dengan berita yang akan diterbitkan atau disiarkan. (5). Telephone interview adalah wawancara telepon yang membutuhkan keberanian jurnalis dan kesediaan nara sumber. (6). Question interview adalah wawancara tertulis sebagai jalan terakhir apabila segala cara sudah ditempuh untuk menggali informasi dari nara sumber. (7). Group interview adalah wawancara dengan beberapa nara sumber sekaligus dalam saat bersamaan untuk membahas suatu persoalan atau implikasi dari suatu kebijakan.
Ketiga, cover up: sejenis wawancara juga. Tetapi lebih dimaksudkan untuk menyusun suatu laporan. Serta dilengkapi dengan dampak dan pengaruh yang mungkin timbul dari suatu masalah yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Keempat, press release: siaran pers yang dikeluarkan oleh suatu organisasi secara tertulis untuk jurnalis. Tetapi tidak ada tanya jawab bila informasi itu dirasa kurang lengkap. Inilah yang membedakannya dengan konferensi pers (press conference) (Basuki, 1983).
B. Kontak Resmi Pers (Formal Press Contact)
Pertama, konferensi pers (press conference): biasanya bernuansa pengenalan (awareness aspect), saling mengerti dan menghargai (mutual understanding and appreciation aspect) dan meluruskan suatu berita negatif (make something to clear and objective) antara juranlis dengan nara sumber.
Kedua, wisata pers (press tour): jurnalis dari berbagai media massa yang telah dikenal baik oleh nara sumber berkunjung ke suatu event atau peninjauan ke luar kota. Bahkan ke luar negeri selama lebih dari satu hari untuk meliput kegiatan yang diadakan oleh nara sumber. Biasanya berbentuk laporan langsung (on the spot news).
Ketiga, resepsi pers (press reception) dan jamuan pers (press gathering): resepsi baik formal maupun informal seperti ulang tahun, pernikahan, acara keagamaan , olah raga dll yang disisipi dengan pemberian keterangan oleh pihak pengundang atau nara sumber.
Keempat, taklimat pers (press briefing): jumpa pers resmi yang diselenggarakan secara periodik awal atau akhir bulan atau tahun. Mirip diskusi dengan saling memberikan masukan yang penting bagi kedua belah pihak, jurnalis dan nara sumber. Di samping itu pihak jurnalis diberikan kesempatan untuk menggali informasi seluas-luasnya agar tidak merugikan nara sumber apabila terjadi salah kutip ketika informasi itu sudah menjadi produk jurnalistik.
C. Kontak Tidak Resmi Pers (Informal Press Contact)
Pertama, keterangan pers (press statement): dilakukan oleh nara sumber tanpa ada undangan resmi. Bahkan cukup via telepon yang jika kurang hati-hati bisa menimbulkan sisi negatif berupa polemik.
Kedua, wawancara pers (press interview): berbeda dengan yang sebelumnya, inisiatif datang pihak jurnalis melalui perjanjian atau konfirmasi dulu dengan nara sumber.
Ketiga, jamuan pers (press gathering): berbeda dengan sebelumnya, sifatnya hanya untuk menjaga hubungan silaturrahmi bagi kedua belah pihak, jurnalis dan nara sumber di luar tugas fungsionalnya masing-masing yang disisipi dengan pemberian keterangan pers oleh nara sumber (Ruslan, 2001).
IV. Teknik Menulis Berita
A. Pertimbangan Sebelum Menulis Berita
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan sebelum menulis berita. Mengutip pakar jurnalistik Paul Johnson terdapat tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sins) dalam dunia jurnalistik sebagai berikut: Pertama, distorsi informasi dengan menambah atau mengurangi informasi yang berakibat pada perubahan makna. Kedua, dramatisasi fakta palsu berupa ilustrasi berlebihan untuk menciptakan suatu citra negatif atau stereotip. Ketiga, mengganggu privasi dengan melontarkan pertanyaan yang bersifat pribadi. Serta wawancara pada situasi atau kondisi yang tidak diinginkan oleh nara sumber. Keempat, pembunuhan karakter yang menonjolkan sisi negatif nara sumber dan menutupi sisi positifnya. Kelima, eksploitasi seks terutama menjadikannya sebagai headline di halaman depan. Keenam, penyalahgunaan kekuasaan terutama di tingkat pemegang kontrol kebijakan editorial. Ketujuh, tidak memperdulikan etika jurnalistik dengan mencampuradukkan dunia obyektif dengan dunia subyektif jurnalis ybs.
B. Kiat Menulis Berita
1. Menulis Berita Langsung (Straight/Hard News)
Secara ringkas bisa dikatakan sebagai kumpulan informasi berdasarkan pertanyaan 5 W (What, Who, Why, When, Where) + 1 H (How) dengan menonjolkan aspek dua dari yang pertama yaitu: What dan Who.
Polanya berbentuk piramida terbalik. Artinya, semakin ke bawah semakin kurang penting. Sebaliknya, semakin ke atas semakin penting. Ini ditujukan pada pembaca yang tidak mempunyai banyak waktu untuk membaca keseluruhan berita. Dengan demikian, setelah membaca kurang lebih dua pertiganya pembaca segera bisa mengambil kesimpulan keseluruhan berita tersebut.
Ada beberapa jenis lead (teras berita) yang biasa digunakan. Pertama, lead bersyarat bila mengandung makna “jika”. Kedua, lead kondisional bermakna “walaupun’. Ketiga, lead kausalitas bermakna “sebab”. Keempat, lead waktu bermakna “sesudah”. Kelima, lead bertanya bermakna “kalimat tanya”.
2. Menulis Berita Ringan (Soft News)
Di samping menyajikan fakta, juga membuat kecenderungan yang akan terjadi. Serta latar belakang suatu peristiwa dengan menonjolkan unsur why dan how. Artinya, tidak mungkin ada soft news tanpa didahului oleh straight/hard news-nya. Ciri-cirinya: Pertama, latar belakang memperjelas kaitan antarfakta. Kedua, jika membuat opini maka itu opini nara sumber bukan opini jurnalis. Ketiga, memenuhi kaedah depth/investigative reporting. Keempat, polanya berbentuk priamida terbalik.
3. Menulis Berita Kisah (Feature)
Berupa laporan kreatif, terkadang subyektif karena dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi pada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan. Terdiri dari kelompok penjelasan (explanation) dan kelompok bujukan (persuasive). Ciri-cirinya: Pertama, menceritakan suatu kebenaran dengan teknik penulisan bergaya sastra. Kedua, berisi opini dengan titik berat tinjauan pada fakta. Ketiga, uraiannya meliputi latar belakang peristiwa, sebab-akibat, interpretasi dan penjelasan arti fakta.. Keempat, uraian ringan yang menyentuh perasaan, menimbulkan tawa, tangis, haru atau senang. Kelima, perhatikan lead, deskripsikan tokoh dan elemen utama dalam pemberitaan.
Jenis berita kisah ini antara lain: (1). Berita kisah berita. (2). Berita kisah human interest. (3). Berita kisah profil pribadi. (4). Berita kisah perjalanan. (5). Berita kisah ilmu pengetahuan. (6). Berita kisah sejarah dll.
Ada beberapa lead yang dapat digunakan dalam berita kisah tergantung pada jenis berit termasuk news by line yaitu tulisan lepas seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah yang bisa mempengaruhi pembaca. Dari sisi penulisnya terdiri dari artikel redaksi dan artikel umum. Sementara dari sisi fungsinya terdiri dari artikel khusus dan artikel sponsor. Bentuknya bisa berupa artikel ringan dalam rubrik anak-anak dan keluarga, artikel halaman opini dan artikel analisis ahli dalam halaman muka, halaman berita atau rubrik tertentu.anya. Pertama, lead ringkasan yang memuat intisari berita. Kedua, lead bercerita yang menciptakan suasana tertentu yang membuat pembaca seolah-olah menjadi tokoh utamanya. Ketiga, lead deskriptif yang menciptakan gambaran dalam benak pembaca tentang suatu tokoh atau tempat kejadian. Keempat, lead kutipan yang memberikan tinjauan pada watak si pembicara. Kelima, lead pertanyaan yang menantang keingintahuan pembaca. Keenam, lead penggoda yang mengelabui pembaca dengan cara bergurau (Asa, 1979).
4. Menulis Artikel
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya artikel termasuk news by line yaitu tulisan lepas seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah yang bisa mempengaruhi pembaca. Artikel bisa dilihat dari empat perspektif. Pertama, dari sisi penulisnya berupa: (1). Artikel redaksi. (2). Artikel umum. Kedua, dari sisi fungsinya berupa: (1). Artikel khusus. (2). Artikel sponsor. Ketiga, dari sisi bentuknya berupa: (1). Artikel ringan dalam rubrik anak-anak dan keluarga. (2). Artikel halaman opini dan artikel analisis ahli dalam halaman muka, halaman berita atau rubrik tertentu. Keempat, dari sisi panjang tulisan yang ditujukan: (1). Untuk surat kabar sekitar 5 – 8 halaman kertas kuarto. (2). Untuk jurnal ilmiah sekitar 10 – 20 halaman kertas kuarto.
Sebelum memulai menulis artikel ada baiknya disimak nasehat yang dikutip dari beberapa penulis artikel. Pertama, cari inspirasi terus-menerus, tidak mudah menyerah dan putus asa dan tiada hari tanpa menulis. Kedua, jabarkan inti masalah yang dibahas, tulis pada kertas, baca kembali, koreksi dan ketik jadi naskah final. Ketiga, andai kata gagal di suatu media massa gantilah topik, tema atau gaya menulis. Jika perlu ganti pula media massa yang disasar. Keempat, perhatikan selera redaktur seputar topik, tema atau gaya menulis yang diinginkan. Kelima, pilih media massa yang memiliki rubrik bervariasi. Jatuhkan pilihan pada satu-dua rubrik yang sesuai dengan minat, latar belakang pendidikan dan keahlian penulis. Keenam, jaga dengan baik mutu tulisan dengan tidak terus-menerus menulis tanpa pernah membaca. Termasuk membaca tulisan penulis lain dan jangan melakukan plagiat. Ketujuh, jangan kecil hati dengan honor yang kurang memadai atau tulisan yang dimuat sangat pendek karena diedit oleh redaktur.
5. Menulis Resensi Buku
Meskipun buku bukan termasuk media massa karena bergerak di dunia ide, tetapi resensi buku ditulis di media massa: surat kabar dan majalah. Makna resensi terdiri dari sasaran resensi, aktualitas buku yang diresensi dan kontribusinya pada dunia ilmiah. Langkah teknisnya: Pertama, penulis memiliki kemampuan menulis dan pengetahuan umum yang berkaitan dengan buku yang akan diresensi. Kedua, buku yang akan diresensi memiliki daya tarik dan layak diresensi. Ketiga, ketahui latar belakang buku yang akan diresensi. Keempat, baca tuntas keseluruhan isi buku. Kelima, tulis ringkasannya dan penilaian tentang isinya. Keenam, kirim ke media massa yang tepat. Bila ditolak, kirim ke media massa lainnya. Ketujuh, sediakan waktu untuk membaca resensi penulis lain.
Bibliografi
Asa, Syubah. Misalkan Anda Seorang Wartawan Tempo. Jakarta: Biro Pendidikan Majalah Berita Mingguan Tempo, 1979.

Basuki, Haryono. Teknik Mencari dan Menulis Berita. Jakarta: Fakultas Publisistik – Universitas Moestopo (Beragama), 1983.

Hakim, M. Arief. Kiat Menulis Artikel di Media Dari Pemula Sampai Mahir. Jakarta: Nuansa,
Ruslan, Rosady. Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi: Konsepsi dan Aplikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001.

S. Tartono, St. Menulis di Media Massa Gampang. Jakarta: Yayasan Pustaka Nusatama,

Sumadiria, AS Haris. Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature: Panduan Praktis Jurnalis Profesional. Bandung: Sembiosa Rokatama Media, 2005.

Produksi Media Cetak

Pengantar
Pembicaraan tentang media cetak berarti membicarakan pers. Sebab terminologi pers terdiri dari: Pertama, pers dalam arti luas adalah seluruh alat komunikasi massa baik cetak maupun elektronik. Kedua, pers dalam arti sempit secara spesifik tertuju pada media cetak berbentuk surat kabar dan majalah. Dalam berbagai literatur surat kabar digunakan sebagai sebutan untuk media cetak yang content-nya mengutamakan hasil jurnalisme berbentuk berita (news). Sementara sebutan untuk pers digunakan untuk seluruh media massa tercetak yang terbit secara reguler baik yang mengutamakan jurnalisme maupun hiburan.
Ada tiga pendekatan yang biasa dilakukan dalam kajian tentang pers. Pertama, pendekatan etika atas eksistensi institusi pers dan prilaku pelaku profesional pers (jurnalis). Kedua, pendekatan ilmu sosial atas eksistensi institusi pers. Ketiga, pendekatan praktis atas kerja teknis pelaku profesional pers dalam institusi pers.
Titik tolak kajian tulisan ini melihat fenomena pers sebagai institusi sosial yang menjadi bagian dari komunikasi massa. Bukan semata-mata berdasarkan pendekatan praktis dan kerja teknis dalam konteks jurnalisme.
Diktat kuliah: Produksi Media Cetak ini ditulis bukan dimaksudkan jadi bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Tetapi hanya sekedar pembuka diskusi di ruang kuliah. Sebab sebagai diktat ia hanya memuat pokok-pokok pikiran penulisnya. Hal-hal yang lebih detil dapat dilihat pada literatur yang diacu atau bahan-bahan lain yang berkaitan dengan mata kuliah ini.
Menuangkan setumpuk gagasan yang ada di kepala menjadi sebentuk tulisan yang belum tentu dimengerti oleh orang lain bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi bila ditulis di sela-sela waktu luang di tengah kesibukan mengajar di beberapa perguruan tinggi dalam rangka bertahan hidup. Maklum, kehidupan intelektual di negeri ini belum senyaman birokrat apalagi legislator di parlemen. Dengan demikian, bukan basa-basi kalau tulisan ini mengandung banyak kelemahan. Bahkan mungkin tidak layak disebut sebagai tulisan ilmiah. Untuk itu semua, izinkanlah saya untuk tidak minta maaf. Sebab lebih adil bila Anda menulis tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya dalam rangka dialektika ilmiah. Sekian.
Jakarta, April 2009
Penulis,

Teguh Kresno Utomo, S.IP
I. Introduksi
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa media cetak termasuk pers dalam pengertian sempit. Artinya, media cetak adalah bagian dari media komunikasi massa. Untuk itu perlu dikaji dulu definisi komunikasi massa (mass communication) untuk membedakannya dengan jenis komunikasi lainnya seperti komunikasi intrapersonal (intrapersonal communication) atau komunikasi interpersonal (interpersonal communication). Secara singkat komunikasi massa dimaknai sebagai berikut: “mass communication is a process in which professional communicator use media to disseminate messages widely, rapidly, and continually to arouse intended meanings in large and diverse audiences in attempts to influence them in a variety of ways” (DeFleur, 1985).
Rumusannya menggunakan formula baku yang dikembangkan oleh sosiolog AS Harold D. Lasswell yang mengatakan “communication is who says what in what channel to whom with what effect”. Ini sangat populer di kalangan para pengkaji ilmu komunikasi yaitu proses yang mencakup komunikator, pesan, media, komunikan dan pengaruhnya.
Selanjutnya mengutip Charles R Wright dalam karyanya Mass Communication: A Sociological Perspective yang mengatakan “mass communication is one way in which social communication has become institutionalized and organized. Our society expects, for example, that certain news will be routinely handled through mass communication so as to reach large number of people, from all ways of life, quickly and publicly. Social communication can be institutionalized in other ways, for example, a society may expect that personal news about family matters will be transmitted privately and kept within the family circle”.
Pers dilihat sebagai fenomena sosial dengan karakteristiknya yang khas sebagai institusi sosial. Dengan demikian peta kajiannya dapat diuraikan sebagai berikut: sistem sosial, institusi sosial, institusi media massa, institusi pers dan jurnalisme. Institusi pers menjalankan fungsinya dengan menyampaikan informasi. Nilai informasi ini dapat dilihat dalam kaitannya dengan eksistensinya dalam sistem sosial. Untuk itu institusi pers dapat menjalankan fungsi politik, ekonomi atau sosio-kultural.
Tulisan ini hanya membahas tiga pokok bahasan: Pertama, memaparkan media cetak dalam perspektif historis. Kedua, Mendiskusikan perbedaan media cetak sebagi institusi sosial dengan media cetak sebagai jurnalisme. Di sini dibicarakan konsep dasar berita; teknik mencari berita; perbedaan fakta dengan opini; aliran jurnalisme. Ketiga, memperkenalkan institusi dan manajemen media cetak yang meliputi manajemen media cetak; zona pasar media cetak; format media cetak; struktur organisasi media cetak; proses media cetak.
II. Media Cetak dalam Perspektif Historis
Dari berbagai literatur yang menitikberatkan pada content media cetak disebutkan bahwa cikal-bakal media cetak bermula pada acta duirna yaitu semacam lembaran yang ditempel pada zaman Romawi kuno. Lembaran ini memuat hal-hal yang dibicarakan dalam senat yang akan disampaikan pada warga kota. Tetapi literatur lainnya yang memusatkan perhatian pada teknologi yang dipakai menyebutkan bahwa media ini sudah ada di China kuno sebelum kertas dan alat cetak dikenal bangsa Eropa.
Identifikasi media cetak sekarang lebih banyak dilakukan atas karakter kultural dan isinya dalam masyarakat. Karenanya pembicaraan selalu dimulai dari acta duirna (Romawi kuno), gazeta (Venesia) dan corantos (Inggris) sejenis lembaran tercetak abad XVII yang berisi informasi tentang negara asing. Baik acta duirna maupun corantos berisi informasi politik. Sementara gazeta berisi informasi ekonomi.
Sejarah media massa modern dimulai dari media cetak. Kenyataannya, suratlah yang merupakan bentuk awal dari surat kabar. Bukan lembaran yang berbentuk buku. Surat kabar abad XVII tidak lahir dari satu sumber. Tetapi gabungan kerja sama antara pihak percetakan dengan pihak penerbit. Ragam surat kabar resmi yang diterbitkan oleh raja atau penguasa memiliki ciri-ciri khas yang sama dengan surat kabar komersial tetapi lebih berfungsi sebagai terompet penguasa dan alat pemerintah. Pengaruh surat kabar komersial menjadi tonggak penting dalam sejarah komunikasi karena menyebabkan beralihnya pola pelayanan ke pembaca anonym. Bukan hanya semata-mata jadi alat propagandis pemerintah dan penguasa.
Sejak awal perkembangannya surat kabar sudah menjadi lawan nyata atau musuh penguasa yang terlanjur mapan. Dalam konteks Indonesia, tekanan terhadap pers dimulai sejak usaha pertama mendirikan surat kabar di Batavia (Jakarta) yang dilarang oleh pihak VOC (Vereenigde Oost-Indische Campagnie) dengan alasan takut Inggris, Perancis, Spanyol dan Portugis sebagai saingan dagangnya akan memperoleh keuntungan dari berita dagang yang dimuat dalam surat kabar tersebut (Smith, 1986).
Tetapi dalam konteks modern institusionalisasi media cetak dalam sistem pasar berfungsi sebagai alat pengendali. Sehingga surat kabar modern sebagai badan usaha besar justru menjadi lemah dalam menghadapi banyak tekanan dan campur tangan daripada surat kabar tempo dulu yang masih sederhana.
Ada perbedaan yang mendasar antara penetrasi pasar pers komersial yang kian meningkat via iklan dan hiburan dengan publik pembaca surat kabar yang membaca karena alasan politis. Ada surat kabar yang menyajikan dan memberikan pandangan politik dan surat kabar yang didirikan oleh partai politik dan dimanfaatkan demi kepentingan partai politik tersebut (McQuail, 1991).
Sementara sejarah media cetak dimulai berbentuk buku yakni penggandaan bibel yang dulunya ditulis tangan oleh para scribist yaitu pendeta sekaligus juru tulis. Seiring waktu dan ditemukannya mesin cetak dari mesin pemeras anggur oleh Johannes Gutenberg (Jerman) tahun 1446 dengan teknik movable metal type (huruf logam yang berpindah). Selanjutnya tahun 1690 Ben Harris menerbitkan Public Occurences surat kabar pertama kali di koloni Inggris. Tahun 1741 Andrew Bond Jord menerbitkan American Magazine yang disusul oleh Benyamin Franklin yang menerbitkan General Magazine di koloni Inggris.
Sementara perkembangan buku dimulai dengan percetakan dan penggandaan bibel menjadi lebih cepat dan massal oleh Johannes Gutenberg tahun 1455 yang kini masih tersimpan dengan nama Gutenberg Bible masterpiece. Tahun 1638 berdiri Cambridge Press sebagai pecetakan buku pertama di AS. Kemudian tahun 1836 William Holmes dan Mc Guffey memanfaatkan penggandaan buku sebagai text book untuk memberantas buta huruf sekitar 122 juta jiwa di AS. Koleksi buku yang terkenal di Library of Congress berasal dari koleksi buku penulis deklarasi kemerdekaan AS Thomas Jefferson. John Harvard dari Cambridge, Massachusetts menyumbangkan 300 koleksi bukunya yang saat itu termasuk jumlah yang sangat besar kepada Newtowne College yang kemudian berubah nama menjadi Harvard University tahun 1638 sebagai penghormatan atas jasa John Harvard (Vivian, 2008).
Kemunculan buku, surat kabar dan majalah dapat dipahami melalui latar belakang masyarakat yang melahirkannya. Ribuan tahun sebelum dikenal alat cetak masyarakat China kuno sudah mengenal lembaran tertulis yang berisi informasi dari kerajaan. Begitu pula acta duirna di zaman Romawi kuno yang disusul lembaran informasi yang diterbitkan pemerintah Venesia yang dijual seharga satu gazette (mata uang Venesia waktu itu).
Secara spesifik buku tidak digolongkan sebagai institusi pers dan jurnalisme karena lebih tertuju pada dunia ide bukan informasi semata. Meskipun tidak dipungkiri banyak buku yang diterbitkan yang berasal dari informasi berisi reportase pers. Tetapi sebagai produk, buku bukanlah media pers.
Institusi pers dapat dilihat dari aspek politik, ekonomi, profesionalisme dan filosofis yang ditempatkan dalam dua bidang. Pertama, secara eksternal institusi pers dilihat dalam kaitannya dengan institusi lain dalam kehidupan masyarakat. Kedua, secara internal dilihat dari motif dan profesionalisme institusi medianya (Siregar, 1992).
III. Media Cetak sebagai Institusi Sosial dan Jurnalisme
Pers atau press (Inggris) dalam Bahasa Indonesia yang kita kenal selama ini berasal dari Bahasa Belanda. Ini berarti menyiarkan berita dari barang cetakan. Sebagai mana yang telah diulas panjang lebar sebelumnya, secara singkat pembicaraan tentang pers mencakup dua pengertian. Pertama, pers sebagai institusi sosial yang berfungsi sebagai watch dog of the press bagi institusi lainnya seperti legislatif, eksekutif dan yudikatif. Di sinilah manifestasi pers sebagai the fourth estate dalam sistem sosial. Masalahnya, pers tidak bisa disebut sebagai institusi sosial apabila produk jurnalistik yang dihasilkannya tidak bermakna secara sosial. Dari sinilah dimulai pembahasan berikutnya pers dalam konteks jurnalisme. Kedua, pers sebagai jurnalisme berarti kinerja pelaku profesi pers dalam rangka memilih dan memilah realitas sosial yang akan diolah menjadi informasi yang akan dimuat sebagai berita (news) baik dalam surat kabar maupun majalah.
Dalam konteks jurnalisme ini pulalah realitas sosial yang diubah menjadi realitas media cetak dalam dua bentuk. Pertama, realitas sosiologis berarti informasi yang berasal dari pelaku obyektif yang terjadi dalam interaksi sosial dan yang terpenting bermanfaat bagi publik. Misalnya, informasi tentang kenaikan BBM, TDL dll. Kedua, realitas psikologis berarti informasi yang berasal dunia subyektif dalam alam pikiran manusia. Dengan demikian, jika realitas sosiologis berbicara tentang tindakan maka realitas psikologis lebih berbicara tentang apa yang dipikirkan tentang tindakan itu dan yang terpenting hanya bermain dalam dunia subyektif pengisi waktu luang. Misalnya, informasi kawin-cerai artis x dan sejenisnya produk infotainment di layar kaca.
A. Konsep Dasar Berita
Berita atau NEWS (Inggris) seringkali ditafsirkan sebagai singkatan dari: North; East; West; South yang bermakna setiap realitas sosial dari empat penjuru arah mata angin berpotensi jadi berita. Tetapi tidak semua realitas sosial itu lantas serta-merta bisa dijadikan berita. Di sinilah diskursus tentang nilai berita (news worthy) dimulai. Ada anekdot yang mengatakan: “jika ada orang digigit anjing itu bukan berita, tetapi jika ada orang menggigit anjing itu baru berita”. Terdapat unsur kejutan di sini.
Secara spesifik ada beberapa unsur berita diantaranya: aktualitas (timeliness); penting (significance); terkenal (prominence); besar (magnitude); dekat (proximity); manusiawi (human interest). Ada pula yang menambahkannya sebagai berikut: kebaruan (newness); informatif (informative); luar biasa (unusualness); ekslusif (exclusive); berdampak (impact); pertentangan (conflict); tokoh publik (public figure/news maker); seks (sex) dll.
Pada proses pemberitaan terdapat pembingkaian (framing) yang memuat maksud (aim) dan tujuan (intention) berita dengan mempertimbangkan kebijakan redaksi (editorial policy) dan kerja keredaksian (news room management) (Siregar, 2003).
Secara garis besar berita terbagi tiga: Pertama, berita langsung (straight/hard news): laporan langsung suatu peristiwa. Kedua, berita ringan (soft news): laporan yang berupa kelanjutan atau susulan dari peristiwa yang pertama. Ketiga, berita kisah (feature): produk jurnalistik yang melukiskan suatu pernyataan yang lebih terperinci. Sehingga apa yang dilaporkan terasa lebih hidup dan tergambar dalam imajinasi pembaca.
Di samping itu ada beberapa derivasi jenis berita di atas sebagai berikut: Pertama, berita menyeluruh (comprehensive news): laporan suatu peristiwa yang bersifat menyeluruh yang ditinjau dari berbagai aspek. Kedua, berita mendalam (depth news): laporan suatu peristiwa yang memerlukan penggalian informasi yang aktual, mendalam, tajam, lengkap dan utuh (depth reporting). Bukan opini jurnalis yang bersangkutan. Ketiga, berita penyelidikan (investigative news): laporan peristiwa yang terpusat pada sejumlah masalah yang kontraversial. Biasanya dengan penyelidikan ala detektif yang tersembunyi untuk memperoleh fakta. Keempat, berita interpretatif (interpretative report): laporan suatu peristiwa yang berfokus pada isu atau masalah kontraversial yang memerlukan penafsiran. Kelima, tajuk rencana (editorial writing): laporan suatu peristiwa dengan menyajikan fakta dan opini yang menafsirkan berita-berita penting dan mempengaruhi opini publik. Biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi atau jurnalis senior institusi pers yang mewakili institusinya. Bukan mewakili pribadi jurnalis yang bersangkutan.
B. Teknik Mencari Berita
Pertama, secara umum: (1). Observasi adalah pengamatan realitas oleh jurnalis baik secara langsung (participant observation) maupun tidak langsung (non participant observation); (2). Wawancara (interview) adalah tanya jawab baik lisan maupun tulisan dengan nara sumber yang terdiri dari pengumpulan pendapat umum (man in the street interview), wawancara mendadak (casual interview), wawancara tokoh (personal interview), wawancara nara sumber yang terkait dengan berita (newspeg interview), wawancara telepon (telephone interview), wawancara tertulis (question interview) dan wawancara kelompok (group interview); (3). Cover up adalah sejenis wawancara juga untuk menyusun suatu laporan yang dilengkapi dengan pengaruhnya terhadap masyarakat; (4). Press release adalah siaran pers yang dikeluarkan oleh nara sumber yang biasanya berbentuk institusi kepada jurnalis. Tetapi tidak ada tanya jawab bila informasi itu dirasa kurang lengkap. Inilah yang membedakannya dengan konferensi pers (press conference). Kedua, kontak resmi pers (formal press contact): (1). Konferensi pers (press conference) biasanya bernuansa pengenalan (awareness aspect), saling mengerti dan menghormati (mutual understanding and appreciation aspect) dan meluruskan suatu berita negatif (make something to clear and objective) antara jurnalis dengan nara sumber; (2). Wisata pers (press tour) adalah undangan pada jurnalis yang sudah dikenal baik oleh nara sumber ke suatu event atau peninjauan keluar kota. Bahkan ke luar negeri selama lebih dari satu hari untuk meliput kegiatan nara sumber. Biasanya berbentuk laporan langsung (on the spot news); (3). Resepsi pers (press reception) dan jamuan pers (press gathering) adalah undangan resepsi baik formal maupun informal pada jurnalis seperti ulang tahun, pernikahan dan acara keagamaan yang disisipi pemberian keterangan oleh pihak nara sumber; (4). Taklimat pers (press briefing) adalah jumpa pers resmi yang diselenggarakan secara periodik setiap awal atau akhir bulan atau tahun. Mirip semacam diskusi dengan memberi masukan bagi kedua belah pihak antara jurnalis dan nara sumber untuk menghindari kesalahpahaman. Ketiga, kontak pers tidak resmi (informal press contact): (1). Keterangan press (press statement) dilakukan oleh nara sumber tanpa ada undangan resmi. Bahkan cukup via telepon dengan sisi negatif menimbulkan polemik bila tidak berhati-hati; (2). Wawancara pers (press interview) adalah wawancara dengan nara sumber melalui perjanjian atau konfirmasi dulu; (3). Jamuan pers (press gathering) berbeda dengan yang resmi, sifatnya hanya sekedar menjaga hubungan baik bagi kedua belah pihak antara jurnalis dan nara sumber di luar tugas fungsionalnya.
C. Perbedaan Fakta dengan Opini
Dalam konteks jurnalisme dibedakan secara tegas antara fakta (fact) dengan opini (opinion). Dunia jurnalistik mengenal tiga jenis fakta sebagai berikut: Pertama, fakta pertama: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya. Kedua, fakta kedua: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya, tetapi tidak utuh. Untuk itu dilengkapinya dengan meminta keterangan pihak lain yang menyaksikannya. Ketiga, fakta ketiga: jurnalis tidak berada di tempat kejadian dan meminta keterangan pihak lain yang juga tidak berada di tempat kejadian, tetapi dianggap punya keahlian berkaitan dengan peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya.
Sementara opini diartikan sebagai penilaian moral jurnalis atau orang lain terhadap suatu peristiwa. Masalahnya, dalam kinerja jurnalistik sangat mustahil meniadakan sama sekali opini ini. Artinya, ketika redaktur menyeleksi hasil reportase sampai proses editing maka sesungguhnya ia telah beropini dalam kerjanya. Begitu juga ketika seorang jurnalis memilih informasi yang akan dijadikan berita yang pantas dimuat atau membuang sebagian atau keseluruhan maka ia juga telah beropini.
Bentuk produk jurnalistik opini di media cetak antara lain sebagai berikut: Pertama, tajuk rencana: pendapat atau sikap resmi suatu media cetak sebagai institusi pers terhadap suatu peristiwa yang berkembang dalam masyarakat. Biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi atau jurnalis seniornya. Karakternya untuk surat kabar atau majalah papan atas: hati-hati, konservatif, menghindari kritik langsung dalam ulasannya. Sebaliknya untuk surat kabar atau majalah populer: berani, atraktif, progresif dan kritik langsung yang lebih bernuansa sosial dengan pertimbangan politis. Kedua, karikatur: opini redaksi berupa gambar yang sarat dengan kritik sosial dengan memasukkan unsur humor. Sehingga membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum. Termasuk tokoh yang dikarikaturkan itu sendiri. Ketiga, pojok: pernyataan nara sumber atau peristiwa tertentu yang dianggap menarik untuk dikomentari oleh redaksi dengan kata atau kalimat yang mengusik, menggelitik, reflektif dan sinis. Keempat, esai: karangan prosa yang membahas secara sepintas lalu dari perspektif pribadi penulisnya tentang seni, sastra dan budaya. Kelima, artikel: termasuk news by line yaitu tulisan lepas seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah yang bisa mempengaruhi pembaca. Keenam, kolom: opini singkat dengan tekanan pada aspek pengamatan. Serta pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan tertentu dalam masyarakat. Panjang tulisan biasanya setengah panjang esai atau artikel. Ketujuh, surat pembaca: opini singkat yang ditulis pembaca yang dimuat dalam rubrik khusus Surat Pembaca.
Pendapat lain mengatakan bahwa opini di luar opini jurnalis yang bersangkutan termasuk fakta juga. Inilah yang akhirnya menimbulkan berbagai aliran dalam jurnalisme.
D. Aliran Jurnalisme
Pertama, jurnalisme obyektif: membedakan dengan tegas antara fakta dengan opini. Kedua, jurnalisme baru: kombinasi sastra berupa opini jurnalis dengan teknik jurnalistik. Misalnya, jurnalisme gaya Majalah TEMPO ketika dipimpin oleh Goenawan Mohammad. Ketiga, jurnalisme investigatif: penyelidikan mendalam dalam pemberitaan. Sebagai ilustrasi terbongkarnya kasus Watergate oleh dua orang jurnalis Washington Post: Bob Woodward dan Carl Bernstein tahun 1972 yang melibatkan Presiden AS Richard Nixon yang akhirnya jatuh dari kursi kekuasaan. Ini menghasilkan penghargaan atas karya jurnalistik tertinggi di AS Pulitzer bagi kedua jurnalis tersebut. Di Indonesia hal yang nyaris sama pernah dilakukan pula oleh jurnalis senior Mochtar Lubis (alm) dengan surat kabar Indonesia Raya yang dipimpinnya. Ia membongkar kasus korupsi Pertamina yang melibatkan Jenderal Ibnu Sutowo (alm). Bedanya, bukannya mendapat penghargaan atas karya jurnalistik Adi Negoro malah sebaliknya surat kabar Indonesia Raya dibreidel oleh penguasa Orde Baru Jenderal Soeharto (alm) (Gaines, 2007). Keempat, jurnalisme evaluasi: gabungan jurnalisme obyektif (primary of fact), jurnalisme baru (reporter subjectivity) dan jurnalisme investigatif (investivigative reporting). Kelima, jurnalisme presisi: meramu fakta, interpretasi, analisis dan opini jurnalis yang bersangkutan.
Di samping itu ada lagi versi lain tentang aliran jurnalisme ini. Pertama, jurnalisme bermakna: ditujukan pada kelas menengah atas dalam konteks intelektual. Kedua, jurnalisme patriotis: dianut oleh para jurnalis sekaligus pejuang pada revolusi kemerdekaan. Ketiga, jurnalisme pembangunan: khas Orde Baru pimpinan Soeharto (alm) yang membuat tafsir tunggal atas Pers Pancasila sebagai pers yang bebas dan bertanggung jawab sebagai mitra pemerintah. Bukan jadi oposan yang mengkritik program pembangunan pemerintah yang menyingkirkan masyarakat dari ruang publik, politik dan birokrasi. Keempat, jurnalisme selera rendah: ini yang dianut tabloid MONITOR yang dipimpin oleh Arswendo Atmowiloto dengan konsep jurnalisme lher dengan mengekploitasi seks. Kelima, jurnalisme plintiran: dipopulerkan oleh bekas Presiden Abdurrahman Wahid (baca: Gus Dur) yang selalu menuduh jurnalis memutarbalikkan fakta dengan opini. Keenam, jurnalisme talang air: semua dimuat tanpa proses editing.
IV. Mengenal Institusi dan Manajemen Media Cetak
Kata manajemen berasal dari management (Inggris) yang diadobsi dari kata manaj (iare) (Italia) yang bermuara pada mamis (Latin) dengan makna tangan. Jadi manajemen dalam arti asalnya adalah memimpin, membimbing atau mengatur (Djuroto, 2000). Secara sederhana manajemen dimaknai sebagai getting result through the work of others. Sementara definisi yang sedikit lebih lengkap dengan mengutip pandangan pakar manajemen Hendry Fayol: “management is the direction of enterprise throught the planning, coordinating and controlling of its human materials resources toward the attainment of pre determined objectives”.
Dengan kata lain manajemen mengandung dua pengertian: Pertama, POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Kedua, 6 M (Men, Materials, Machine, Methods, Money, Market) (Soehoet,2002).
Manajemen merupakan konsekuensi logis dari kepercayaan (responsibility) dan kenyataan (reality) yang harus dibuktikan melalui struktur organisasi media cetak yang bersifat formal dan kecakapan yang bersifat fungsional (authority). Diantaranya bidang: redaksi, iklan, pemasaran dll.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya: peluang usaha, kemampuan SDM, kapital, SWOT dengan kompetitor, keinginan pembaca, perubahan sosial berupa teknologi, ekonomi, politik, budaya dll. Langkah yang perlu dilakukan antara lain: perhatian terhadap lingkungan eksternal, menjual ruang untuk iklan, efesiensi di semua unit usaha, suntikan modal dll. Semua pendapatan diperoleh dari penjualan produk media cetak (eceran, langganan, barter dll), penjualan kolom (iklan baris, duka cita dll) dan penjualan jasa kegiatan off print seperti seminar, pameran dll untuk membentuk image posistif (Djuroto, 2000).
A. Manajemen Media Cetak
Dengan mengutip pakar komunikasi Kanada Marshall McLuhan yang mengatakan the press is the extention of man, Jakob Oetama mengatakan pers merupakan perpanjangan alat untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap informasi, hiburan, pendidikan dan keingintahuan mengenai peristiwa yang terjadi di sekitarnya (Oetama, 1987). Inilah yang dimanifestasikannya dalam surat kabar KOMPAS yang didirikannya bersama dengan PK Ojong (alm) tanggal 28 Juni 1965 dengan struktur yang kurang lebih sebagai berikut: Pertama, owner: pemilik perusahaan yang menerima laporan pertanggungjawaban dari top manager. Terkadang owner identik dengan top manajer. Kedua, top manager: pengambil kebijakan internal dan eksternal. Serta pengendali perusahaan baik redaksional maupun usaha. Juga menerima laporan pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan. Ketiga, pemimpin umum: orang pertama dalam perusahaan yang bertanggung jawab atas maju mundurnya institusi pers yang dipimpinnya. Serta menjadi penentu kebijakan, arah perkembangan laba rugi perusahaan. Termasuk berhak mengangkat atau memecat bawahannya. Terkadang pemimpin umum adalah top manager sekaligus owner. Keempat, wakil pemimpin umum: menjalankan tugas-tugas pemimpin umum atau menggantikannya dalam operasionalisasi harian. Kelima, bidang redaksi: pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, sekretaris redaksi, redaktur pelaksana, redaktur dan reporter bertanggung jawab terhadap semua isi penerbitan pers. Ini meliputi penyajian berita, peliputan fokus pemberitaan, topik, pemilihan headline dll. Keenam, bidang cetak: ditangani oleh operator cetak dan pengepakan hasil penerbitan sehingga sampai ke tangan pembaca. Ketujuh, bidang usaha: menerima laporan para manajer demi kepentingan perusahaan baik produksi dan distrubusi.
B. Zona Pasar Media Cetak
Pertama, CZ (City Zone): batas wilayah media cetak itu berada. Kedua, PMA (Primary Market Area): area utama tempat media cetak itu menyajikan berita dan pelayanan iklannya. Ketiga, RTZ (Retail Trading Zone): wilayah di luar CZ tempat media cetak itu diperjualbelikan. Keempat, NDM (Newspaper Designated Market): area geografis yang dianggap media cetak itu sebagai pasarnya.
C. Format Media Cetak
1. Broadsheet: ukuran surat kabar umum. Misalnya, KOMPAS, Media Indonesia, Republika dll.
2. Tabloid: ukuran setengah broadsheet. Format ini diperkenalkan untuk dikonsumsi oleh pembaca di kalangan masyarakat urban yang sibuk dalam transportasi umum seperti bus, kereta api dll. Misalnya, KORAN TEMPO dll.
3. Magazine: ukuran setengah tabloid atau seperempat broadsheet. Halamannya diikat dengan kawat, sampul lebih tebal dan mengkilap daripada halamannya. Misalnya, Majalah TEMPO dll.
4. Book: ukuran setengah magazine atau seperempat tabloid atau seperdelapan broadsheet. Misalnya, Majalah INTISARI dll.
D. Struktur Organisasi Media Cetak
Pertama, redaksi yang terdiri dari pemimpin redaksi; wakil pemimpin redaksi; sekretaris redaksi; dewan redaksi; redaktur pelaksana; redaktur; koresponden (reporter di luar kota atau di luar negeri). Kedua, tata usaha yang terdiri dari administrasi internal yang mengurusi manajemen internal, kepegawaian, penggajian dll; administrasi eksternal yang mengurusi pemasaran, sirkulasi, iklan, langganan dll. Ketiga, produksi yang terdiri dari percetakan sendiri atau percetakan lain.
E. Proses Media Cetak
Pertama, kebijakan redaksi yang tergantung pada ideologi atau politik media cetak. Misal, KOMPAS (Katolik), Suara Pembaruan (Kristen), Republika (Islam), Suara Karya (Parpol) dll. Kedua, frekuensi terbit: harian; mingguan, dwi mingguan; bulanan. Ketiga, tenggat terbit: jam (harian); hari tertentu (mingguan); minggu tertentu (bulanan). Ini perlu diketahui dan diperhatikan oleh pemasang iklan. Keempat, cetak: off set modern sampai dengan cetak digital jarak jauh. Kelima, sirkulasi: lokal; nasional; regional; internasional. Keenam, pembaca: jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan, profesi, hobby, suku, agama dan ras/etnik. Ketujuh, metode distribusi: bagaimana media cetak itu didistribusikan. Misalnya, eceran, loper, agen, toko dll.
Bibliografi

DeFleur, Melvin L. Understanding Mass Communication. Boston: Houghton Mifflin Co, 1985.

Djuroto, Totok. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2000.

Fink, Condrad C. Strategic Newspaper Management. USA: A Simon and Schuster Co, 1996.

Gaines, William C. Laporan Investigasi Untuk Media Cetak dan Siaran (terj.). Jakarta: Institut Studi Arus Informasi – Kedubes AS, 2007.

McQuail, Denis. Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar (terj.). Jakarta: Penerbit Erlangga, 1991.

Oetama, Jakob. Perspektif Pers Indonesia. Jakarta: LP3ES, 1987.

Siregar, Ashadi. Laporan Penelitian Pers. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, 1992.

____________. Kata Pengantar dalam Politik Editorial Media Indonesia: Analisis Tajuk Rencana 1998 – 2001. Jakarta: LP3ES, 2003.

Smith, Edward C. Pembreidelan Pers di Indonesia (terj.). Jakarta: PT. Pustaka Grafitipers, 1986.

Soehoet, AM Hoeta. Manajemen Media Massa. Jakarta: Yayasan Kampus Tercinta – IISIP, 2002.

Vivian, John. Teori Komunikasi Massa (terj.). Jakarta: Kencana, 2008.

Metode Penelitian Sosial

Pengantar
Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta edisi 11 agustus 2002 memuat komentar GKR Hemas yang merasa tersinggung dengan hasil angket yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan, Pusat Studi Bisnis dan Humaniora yang mengatakan 97,05 % mahasiswi Yogyakarta tidak perawan.
Komentar senada dengan permaisuri Sultan HB X itupun bermunculan. Terlepas dari motif yang melatarbelakanginya: mencoreng muka mahasiswi Kota Gudeg atau mendelegitimasi stataus Yogyakarta sebagai Kota Pelajar, yang jelas sample yang diambil oleh peneliti hanya 1660 dari 200.000 populasi. Artinya, yang diteliti kurang dari 10 % dari jumlah total mahasiswi Yogyakarta. Secara statistik penelitian ini cacat metodologis.
Banyak persyaratan yang harus dipenuhi oleh peneliti sebelum memulai penelitian. Apalagi mengumumkan hasil temuannya. Mulai dari metode yang digunakan, identifikasi masalah, landasan teori, hipotesis, verifikasi dan sebagainya. Dengan kata lain, pengetahuan tentang seluk-beluk metodologi sangat diperlukan oleh peneliti. Termasuk mahasiswa yang harus terlatih berpikir ilmiah, rasional dan sistematis. Diktat ini diharapkan dapat merealisasikan keinginan di atas. Namun demikian, ia tidak berpretensi menjadi semacam bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah: Metode Penelitian Sosial. Sebab sebagai diktat ia hanya memuat pkok-pokok pikiran penulisnya. Hal-hal yang lebih spesifik dan mendetil dapat dilihat pada rangkaian literatur yang menjadi acuannya.
Akhirnya, jika Anda bingung dengan rumusan statistik yang ada dalam tulisan ini maka percayalah bahwa sesungguhnya saya pun ikut bingung. Tetapi mengutip filsuf rasionalis Perancis Rene Descartes bingung itu tanda berpikir dan berpikir itu letak eksistensi Anda sebagai intelektual. Oleh sebab itu selamat menbaca dan semoga bingung. Sekian.
Jakarta, Agustus 2002
Penulis,

Teguh Kresno Utomo, S.IP

I. Introduksi
Tulisan ini didasari telaah berbagai referensi kepustakaan yang berkaitan dengan Metode Penelitian Sosial. Ia memuat sembilan pokok bahasan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Diantaranya sebagai berikut: Pertama, membahas relasi antara ilmu pengetahuan dan metode ilmiah. Di sini di jelaskan perbedaan mendasar antara ilmu, pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Serta metode ilmiah dan penelitian ilmiah. Kedua, membahas konsep dasar penelitian kualitatif dan dasar teoritisnya. Ketiga, membahas langkah-langkah pokok dalam penelitian ilmiah. Mulai dari identifikasi masalah, menentukan tujuan penelitian, landasan teori dan hipotesis. Keempat, membahas topik penelitian ilmiah. Kelima, membahas tahap-tahap penelitian ilmiah. Keenam, membahas variabel dan operasionalisasinya. Ketujuh, membahas pengumpulan dan pengolahan data. Kedelapan, membahas populasi dan sample dengan memaparkan syarat-syarat sample, penarikan sample, faktor-faktor yang menentukan ukuran sample dan rumus ukuran sample. Kesembilan, membahas laporan penelitian dengan menguraikan gambaran umum laporan penelitian dan struktur laporan penelitian.

II. Ilmu Pengetahuan dan Metode Ilmiah
A. Ilmu, Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Sebelumnya perlu dibedakan dulu beberapa istilah berikut: ilmu (science), pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (scientific knowledge). Pertama, ilmu tidak lain dari pengetahuan yang terorganisir (organized knowledge) dengan mengembangkan model sederhana tentang kehidupan empiris. Serta mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variabel yang saling terkait dan bersifat rasional. Kedua, pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental berkaitan dengan hukum alam yang bersifat subyektif untuk keperluan kehidupan. Ketiga, ilmu pengetahuan berupa pengetahuan yang terbuka terhadap segala pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang logis konsisten dan dapat dimengerti secara intersubyektif.
Robert K Merton menyebutkan empat ciri ilmu pengetahuan: universalism, communality, disinterestedness dan organized criticism. Secara filosofis ilmu pengetahuan dapat ditelaah dalam tiga bidang di bawah ini:
Pertama, ontologi: memulai penjelajahan pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman itu. Fungsinya sebagai alat bantu manusia dalam memecahkan masalah kehidupan. Muncul pertama kali untuk mengatasi hal-hal yang bersifat transeden menjadi imanen. Berbeda dengan filsafat dan agama, ilmu pengetahuan tidak berurusan dengan hal-hal metaempiris. Misalnya, kepercayaan pada adanya kehidupan sesudah kematian yang menjadi obyek kajian agama yang menuntut percaya dulu bukti kemudian. Sebaliknya dengan ilmu, bukti dulu baru percaya. Dengan demikian, kalau tesis kepercayaan ada kehidupan setelah kematian dijadikan obyek kajian ilmu pengetahuan maka masalahnya belum pernah ada orang mati yang bisa hidup kembali dan menceritakan pengalamannya kepada kita sebagai verifikasi kebenaran ilmiah. Ini selaras dengan pemikiran August Comte (1798 – 1857) yang mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan dalam konteks sosiologi melalui tiga tahap: teologis; metafisis; positivistis. Sosiolog Perancis yang lebih dikenal sebagai Bapak Sosiologi Positivistis ini mengatakan bahwa sosiologi adalah sejenis fisika sosial dengan karakter: obyektif; fenomenologis; reduksionis; naturalis.
Kedua, epistemologi: telaah tentang bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan. Antara lain terdiri dari: (1). Rasionalisme: pengetahuan diperoleh melalui kegiatan akal budi. Berkembang di Perancis dengan filsuf dan matematikus Rene Descartes (1596 – 1650) sebagai juru bicaranya. Ia menjadikan matematika sebagai model bagi semua ilmu pengetahuan. Dengan meminjam aksioma matematis yang sangat rasional ditarik kesimpulan logis yang tidak terbantahkan. (2). Empirisme: pengetahuan diperoleh melalui pengamatan indera. Berkembang di Inggris dengan John Locke (1632 – 1704) sebagai juru bicaranya. Locke menolak adanya konsep ide bawaan sejak lahir. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa akal budi ibarat sehelai kertas kosong yang hanya dapat diisi dengan pengamatan indera. (3). Fenomenologi: dipelopori oleh filsuf Jerman Immanuel Kant (1724 – 1804) sebagai jalan tengah antara rasionalisme dan empirisme. Ia berpendapat ilmu pengetahuan berdasarkan pada indera tetapi tidak tergantung dari indera. Artinya, kenyataan diberi struktur oleh kegiatan akal budi melalui kategorisasi. Ditambahkannya, yang kita ketahui hanyalah fenomena (gejala). Sebab kenyataan sebagai mana adanya (das ding an sich) tidak akan pernah kita ketahui. Dalam karyanya Kritik der Reinen Vernunft (kritik terhadap akal murni) ia menyebutkan ada empat jenis pengetahuan yaitu: analitis apriopri (konsep/teori); analitis aposteriori (kimia); sintetis apriori (matematika); sintetis aposteriori (statistik). (4). Intuisionisme: diperkenalkan oleh filsuf Perancis Hendry Bergson yang mengemukakan ada dua jenis pengetahuan: diskursif-simbolik (knowledge about) dan intuitif (knowledge of). Yang terakhir ini merupakan pengetahuan dengan empati. (5). Logico-hypothetico: gabungan rasionalisme dengan empirisme yang meletakkan verikasi sebagai unsur utama metode ilmiah yang signifikan dalam ilmu pengetahuan (Brower, 1986).
Ketiga, aksiologi: membahas aspek ethis ilmu pengetahuan. Ia mempertanyakan apakah ilmu pengetahuan itu bebas nilai atau tidak. Ilmu sosial (logic of humanities) tidak bebas nilai. Sebab peneliti adalah bagian dari lingkup semesta yang sedang ditelitinya. Bahkan tindakan penelitian itu sendiri mengubah semesta tersebut (Soedjatmoko, 1994). Begitu pula dengan ilmu alam (logic of science), tidak bisa dicampuradukkan antara obyek ontologis (kenyataan) dengan obyek epistemologis (data) (Kattsoff, 1996). Singkatnya, hukum alam itu obyektif. Sedangkan ilmu pengetahuan alam itu subyektif.
Sebagian ilmuwan menganggap nilai bukan obyek ilmiah karena tidak bersifat empiris. Persoalannya, dalam hal ini harus ditelaah dalam tiga kriteria: (1). Nilai sebagai basis asumsi dan teori. (2). Implikasi nilai sebagai aplikasi ilmu pengatahuan. (3). Penilaian sebagai tindakan ilmiah (Kleden, 1988).
B. Metode Ilmiah
Metode ilmiah (method: Inggris) merupakan penjelajahan terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan logis atau argumentasi rasional. Sementara metodologi ilmiah adalah suatu kajian dalam mempelajari aturan-aturan dalam metode ilmiah. Dengan kata lain, prosedur dalam rangka mendapatkan pengetahuan ilniah sebagai bagian dari epsitemologi. Sebaliknya, kebenaran nonilmiah diperoleh dengan cara kebetulan, akal sehat (common sense), wahyu, intuitif, coba-coba (trial and error), spekulasi dan wibawa.
1. Kriteria Metode Ilmiah
a. Berdasarkan fakta.
b. Bebas dari prasangka (pembuktian obyektif).
c. Menggunakan prinsip analisa (kausalitas).
d. Menggunakan hipotesis.
e. Menggunakan ukuran obyektif.
f. Menggunakan teknik kuantifikasi (nominal, rsnking dan rating).
g. Langkah (step) dalam metode ilmiah: merumuskan masalah, kata kunci (keywords), studi kepustakaan, memformulasikan hipotesis dan kerangka analisis (analytical framework) yang telah ditetapkan, mengumpulkan data, menyusun, menganalisa dan memberikan interpretasi, membuat generalisasi, kesimpulan dan membuat laporan ilmiah.
2. Fungsi Metode Ilmiah
a. Verifikasi: justifikasi, konfirmasi konsep dan hipotesis (deduktif, analisa kuantitatif dan rasionalisme).
b. Heuristik: menggali, menciptakan konsep dan teori baru (induktif, analisa kualitatif dan empirisme).
3. Jenis Metode Ilmiah
a. Observasi alamiah (naturalistic observation): obyek yang diteliti dibiarkan terjadi secara alamiah yang terdiri dari:
1). Lingkungan alamiah (natural environment). Misalnya, penelitian antropologi tentang kehidupan suku Badui di Jawa Barat.
2). Lingkungan alamiah tiruan (simulated natural environment). Misalnya, penelitian zoology kehidupan Panda di kebun binatang yang disesuaikan dengan habitat aslinya di RRC.
b. Penelitian lapangan (field research): obyek yang diteliti dalam situasi alamiah. Tetapi sebelumnya telah diintervensi oleh peneliti agar fenomena yang dikehendaki dapat diteliti. Dengan kata lain, terdapat kontrol parsial di bidang statistik di lapangan yang terdiri dari:
1). Korelasional: datanya alamiah, tetapi ada kontrol parsial dalam statistik agar hubungan antarvariabel (berdasarkan koefisien korelasi) yang diteliti tidak tercemari oleh variabel lain. Misalnya, hubungan kebiasaan merokok dengan peluang kena penyakit jantung dikontrol melalui design penelitian: sample (jenis kelamin dsb).
2). Longitudinal: obyek yang diteliti diamati perkembangannya dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, pengaruh menonton VCD BF terhadap kematangan seksualitas remaja.
3). Ekperimentasi lapangan: obyek yang diteliti diperlakukan secara berbeda tetapi situasinya tetap alamiah. Misalnya, sikap masyarakat terhadap reaktor nuklir yang semula sama. Kemudian mereka dikelompokkan jadi dua. Yang satu diikutkan dalam debat terbuka. Sementara yang lainnya diisolasi. Selanjutnya diteliti kembali sikap keduanya.
4). Ekperimentasi laboratorium: obyek yang diteliti dipisahkan dari lingkungan alamiahnya dan sepenuhnya dikontrol oleh peneliti. Misalnya, psikologi aliran gestalt meneliti aspek kognitif dengan menggunakan simpanse sebagai obyek penelitian.
C. Penelitian Ilmiah
Penelitian (research) adalah rangkaian kegiatan ilmiah yang berupa pencarian (inquiry) secara sistematis dalam rangka pemecahan masalah dengan karakteristik tertentu. Diantaranya: bertujuan untuk memecahkan masalah, sistematis (persiapan, pelaksanaan dan laporannya dengan metodologi yang benar), terkendali dalam arti menentukan obyek yang diteliti agar tidak tercemari oleh fenomena lain, obyektif dalam arti menghindari subyektivitas peneliti dan tahan uji (verifiable) yang berarti didasari oleh teori dan metode yang benar.
Secara garis besarnya, penelitian terdiri dari dua bidang di bawah ini: Penelitian dasar (basic research) yang tidak langsung memberika informasi siap pakai untuk memecahkan masalah. Tetapi ditujukan untuk pengembangan model dan teori yang sifatnya abstrak dan umum.
Penelitian terapan (applied research) dengan hasil kongkrit dan spesifik.
Secara terperinci jenis penelitian ilmiah akan diuraikan di bawah ini:
1. Pendekatan analisis terdiri dari:
a. Penelitian kuantitatif: analisis data numerical (angka) dengan logika statistik inferensial (menguji hipotesis) dan umumnya dengan sample besar.
b. Penelitian kualitatif: analisis terhadap hubungan antarfenomena dan tidak menguji hipotesis. Tetapi memberikan jawaban dengan berpikir formal dan argumentative dengan dukungan data kuantitatif dan umumnya sample kecil.
2. Kedalaman analisis terdiri dari:
a. Penelitian deskriptif: memaparkan fakta secara sistemik dan akurat dan data (angka) tidak diolah secara mendalam. Tetapi dilihat persentase dan kecenderungannya. Tidak menguji hipotesis dan tidak membuat prediksi atau mempelajari implikasi. Misalnya, penelitian survai dengan variabel sederhana dan sample besar.
b. Penelitian inferensial: menguji hipotesis, menarik kesimpulan berdasarkan data kuantitatif dengan mempertimbangkan peluang kesalahan dengan cara deduktif (mendaur ulang konsep atau teori) dan induktif (mengkaji ulang penelitian sebelumnya) yang relevan dengan topik penelitian.
3. Karakteristik masalah (kategori fungsional) terdiri dari:
a. Penelitian deskriptif: pelukisan secara sistematis, faktual dan akurat tentang fakta-fakta, sifat dan korelasi antarfenomena obyek yang diteliti. Data diperoleh melalui schedule quetionair atau interview guide. Berikut ini termasuk dalam penelitian deskriptif: metode survai (survey research); metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive research); metode studi kasus (case study research) dan metode komparatif (comparative research) ex post facto (variabel bebasnya tidak dapat dikontrol), yaitu sejenis penelitian deskriptif yang bertujuan mencari jawaban mendasar tentang sebab-akibat munculnya fenomena masa sekarang. Kalau fenomena masa lalu ia menjadi kajian penelitian sejarah, yaitu rekonstruksi masa lalu secara obyektif dan sistematis dengan mengumpulkan, mengevaluasi, menjelaskan dan mensintesiskan bukti untuk menegakkan fakta dan menarik kesimpulan secara tepat. Data berupa remain/relics dan dokumen. Yang termasuk penelitian sejarah antara lain: sejarah komparatif, yuridis/legal (hukum adapt), biografis dan bibliografis.
b. Penelitian perkembangan: longitudinal (obyek diamati terus-menerus) dan cross sectional (waktunya dibatasi).
c. Penelitian studi kasus dan penelitian lapangan (indepth study): suatu penyelidikan mendalam suatu unit sosial dengan variabel banyak dan sample kecil.
d. Penelitian korelasional: bisa berbentuk korelasi positif atau negatif.
e. Penelitian kausal komparatif: misalnya post facto. Artinya, data dikumpulkan setelah semua peristiwa yang diamati terjadi (berlawanan dengan penelitian eksperimental). Kemudian ditentukan variabel bebas, variabel terikat dan kausalitasnya.
f. Penelitian eksperimental murni: kontrol maksimal yang bertujuan untuk memaksimalkan variabel yang terlibat dalam hipotesis, meminimalisir variabel yang tidak dikehendaki dan error. Validitas internal yang merupakan perbedaan yang terjadi dalam obyek penelitian benar-benar disebabkan oleh perbedaan perlakuan yang merupakan kondisi esensial (sinequanon). Validitas eksternal untuk mengetahui seberapa representatif dan dapat digeneralisir pada obyek serupa yang lebih luas.
g. Penelitian eksperimental semu: melakukan kontrol parsial. Sebab tidak semua variabel dapat dimanipulasi dan dikendalikan.

III. Tinjauan Penelitian Kualitatif
A. Pengertian
Penelitian kualitatif merupakan pengembangan dan penyusunan teori dengan strategi induktif-empiris (a posteriori). Ini berbeda dengan dengan penelitian kuantitatif yang deduktif-logis (a priori).
B. Dasar Teoritis
Paling sedikit ada delapan aliran teori yang mendasari penelitian kualitatif antara lain sebagai berikut:
1. Etnografi berasal dari antropologi budaya yang meneliti bagaimana budaya sekelompok manusia dengan metode partisipan observer yang mengakui relativisme budaya (empati).
2. Fenomenologi dikembangkan oleh filsuf Jerman Edmund H Husserl (1859–1938) yang intinya meneliti penafsiran pengalaman indrawi. Konsekuensinya, tidak ada realitas yang obyektif.
3. Heuristis suatu bentuk fenomenologi yang meneliti makna, hakekat dan kualitas yang mengutamakan pengalaman pribadi peneliti. Ini dipengaruhi oleh psikologi humanistis.
4. Etnometodologi berbeda dengan heuristis yang mengutamakan pengalaman intens, etnometodologi ini lebih mengutamakan pengalaman sehari-hari yang lumrah. Ini dipengaruhi oleh sosiologi mikro yang dipelopori oleh Harold Garfinkel.
5. Interaksionisme simbolis tekanannya pada simbol dan proses penafsiran dalam inteaksi sebagai dasar untuk memahami prilaku manusia. Bermula dari psikologi sosial yang dipelopori oleh Herbert Mead dan Herbert Blumer.
6. Psikologi ekologi menurut teori ini individu dan lingkungannya saling tergantung dan mempengaruhi.
7. Perspektif sistem tekanannya pada satuan yang utuh dan lebih besar. Serta berbeda dari jumlah bagian-bagiannya.
8. Hermeneutis tekanannya pada interpretasi makna sesuai konteks dan tujuan semula. Terutama dalam teologi, filsafat dan sastra (Oetomo, 1995).

IV. Langkah-Langkah Pokok dalam Penelitian Ilmiah
A. Identifikasi Masalah
Masalah dapat berupa: kriteria ekstra ilmiah (pertimbangan) minat pribadi, kepentingan pemerintah, donator dan umum. Serta dapat juga berupa nilai dan ideologi bersama.
1. Latar Belakang Masalah: hal yang umum dikaitkan dengan topik penelitian (khusus). Atau das sollen (what should be) menjadi das sein (what is happening). Serta mengapa sesuatu itu dianggap masalah. Secara spesifik kriterianya: mencerminkan kebutuhan, tidak bersifat hipotetis (fakta), menyarankan adanya hipotesis yang berarti dapat diuji yang dikembangkan dari pernyataan masalah, relevan dan dapat dikelola.
2. Rumusan Masalah: berbentuk kalimat tanya (basic question) yang hendak dicari jawabannya dalam penelitian dengan ciri-ciri sebagai berikut: menunjukkan hubungan minimal dua variabel dan dapat diuji secara empirik. Artinya, data sebagai jawaban harus dapat diperoleh. Serta menghindari pertanyaan yang berkaitan dengan moral dan etika.
B. Menentukan Tujuan Penelitian
1. Mencari informasi sebagai rekomendasi pada pihak-pihak tertentu (sponsor) dalam rangka pemecahan masalah.
2. Memperjelas kebenaran suatu masalah yang menarik perhatian peneliti atau sponsor.
3. Memberi gambaran tentang hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kebijakan yang telah ditentukan (Suparmoko, 1977).
C. Landasan Teori dan Hipotesis
1. Pengenalan Teori
Kata “teori” berasal dari kata theoria (Yunani) yang berarti pandangan atau kontemplasi terhadap cosmos. Dengan demikian, berteori berarti melakukan kegiatan tertinggi manusia dalam rangka mengaktifkan logos (percikan Illahi). Dalam bahasa filsafat disebut mimesis, yaitu: menjadi manusia kontemplatif untuk meniru keabadian yang tercermin dalam struktur cosmos. Singkat kata, berfilsafat berarti mengembangkan ethos, yaitu: sikap teratur pada tatanan kosmis yang abadi (Magnis-Suseno, 1995).
Teori bisa dimaknai sebagai abstraksi intelektual yang memadukan pendekatan rasional (reasoning) dan empiris (fact) untuk menjelajah kebenaran ilmiah. Peranannya sangat signifikan dalam penelitian.
a. Teori koherensi (konsistensi) melalui penalaran deduktif. Misalnya, rasionalisme Perancis.
b. Teori korespondensi melalui penalaran induktif. Misalnya, empiris Inggris (Betrand Russel 1872-1970).
c. Teori pragmatis yang melihat sisi fungsional dalam kehidupan praktis. Misalnya pragmatis AS (Ch. Spierce 1839-1914, John Dewey 1859-1952, CH. Mead 1863-1931).

Lebih jauh dalam konteks variabel sosial, teori sosial dapat diterjemahkan sebagai berikut:
a. Rekayasa sosial: sebagai variabel independen yang mempunyai kekuatan konstitutif dalam transformasi sosial.
b. Legitimasi sosial: sebagai variabel dependen yang mempunyai kekuatan reflektif.
c. Kritik sosial dalam arti mencari jawaban atas pertanyaan yang menarik secara akademis dan penting secara politis. Misalnya, apakah imu sosial itu suatu sistem pengetahuan atau sekaligus sistem nilai (?) (Kleden, 1988).
2. Seputar Hipotesis
Perkembangan ilmu bergerak dari suatu hipotesis ke hipotesis lainnya yang akhirnya diterima atau ditolak (context of discovery). Seterusnya perbendaharaan teori yang telah disusun dalam bidang ilmu tertentu akhirnya dijadikan hipotesis baru (Noerhadi, 1984). Dengan kata lain, hipotesis merupakan proposisi yang sudah dirumuskan dan diterima sementara untuk diuji. Kalau jangkauannya cukup luas dan didukung oleh data empiris disebut dalil (scientific law).
Hipotesis adalah pernyataan tentatif yang berhubungan dengan permasalahan dalam rangka mencari pemecahannya. Dengan kata lain, jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian dengan ciri-ciri sebagai berikut: Pertama, berbentuk pernyataan (declarative statement). Kedua, berbentuk hubungan minimal antara dua variabel. Ketiga, dapat diuji (testable).
a. Hipotesis dua arah: semata-mata berbentuk pernyataan tentang adanya perbedaan atau hubungan (korelasi). Tetapi tidak disebutkan tingkat perbedaan atau korelasi positif/negatifnya. Contoh 1: Ada perbedaan tingkat intelektual mahasiswa PTN dengan mahasiswa PTS. Contoh 2: Ada hubungan antara tingkat intelektual mahasiswa dengan kualitas buku yang dibacanya.
b. Hipotesis satu arah: formulanya lebih spesifik. Artinya, disebutkan tinggi/rendahnya perbedaan atau korelasi positif/negatifnya. Contoh 1: Tingkat intelektual mahasiswa PTN lebih tinggi daripada mahasiswa PTS. Contoh 2: Tingginya tingkat intelektual mahasiswa berbanding lurus dengan baiknya mutu buku yang dibacanya (korelasi positif).
c. Hipotesis nol: dengan simbol Ho adalah hipotesis yang meniadakan (nullify) perbedaan atau hubungan (korelasi) antarvariabel. Contoh 1: Ho: x1 = x2 atau Ho: x1 – x2 = 0 (meniadakan perbedaan, dua variabel). Contoh 2: Ho; x1 = x2 = x3 = 0 (meniadakan perbedaan, lebih dari dua variabel). Contoh 3: Ho: γxy = 0 (meniadakan korelasi, dua variabel). Contoh 4: Ho: γxy1y2 = atau Ho: γyx1x2 = 0 (meniadakan korelasi, lebih dari dua variabel). Menerima atau menolak Ho mengandung dua resiko kesalahan (error) karena mustahil mencapai tingkat kepercayaan 100 % dalam data empiris. Pertama, error tingkat pertama adalah menolak Ho yang seharusnya diterima. Taraf signifikansi (α) dengan tingkat kepercayaan (1-α) 100 5. Contoh: α = 5 % maka tingkat kepercayaan adalah (1 – 0,05) 100 5 = 95 %. Kedua, error tingkat kedua adalah menerima Ho yang seharusnya ditolak. Taraf signifikansi (β) dengan power of test (1 – β) 100 %.
d. Hipotesis statistik: berbentuk simbol parameter Ha (besaran pada populasi) yang menerima atau menolak hipotesis nol. Biasanya disebut juga dengan hipotesis alternatif/kerja (penerjemahan penelitian secara operasional) yang terdiri dari: Pertama, perbedaan M (mean) dengan simbol parameternya x. Kedua, korelasi dengan simbol γ. Contoh 1: Ha: x1 # x2 atau Ha: x1 – x2 # 0 (perbedaan, dua arah, dua variabel). Contoh 2: Ha: x1 # x2 # x3 atau Ha: x1 – x2 # x2 – x3 # 0 (perbedaan, dua arah, lebih dari dua variabel). Contoh 3: Ha: γxy # 0 (korelasi, dua arah, dua variabel). Contoh 4: Ha: γxy1y2 # 0 atau Ha: γyx1x2 # 0 (korelasi, dua arah, lebih dari dua variabel). Contoh 5: Ha: x1 > x2 atau x1 – x2 > 0 (perbedaan, satu arah, dua variabel). Contoh 6: Ha: x1 > x2 > x3 atau x1 – x2 – x3 > 0 (perbedaan, satu arah, lebih dari dua variabel). Contoh 7: Ha: γxy > 0 atau Ha: γxy 0 atau γyx1x2 > 0 atau atau Ha: γxy1x2 < 0 atau Ha: γyx1x2 < 0 (korelasi positif atau negatif, satu arah, lebih dari dua variabel).
V. Topik Penelitian Ilmiah
Topik tidak lain fokus kegiatan penelitian. Yang penting jangan mengada-adakan masalah untuk dijadikan topik penelitian. Sebab itu mengindikasikan bahwa peneliti tidak memiliki sikap ilmiah (scientific attitude).
1. Ciri-ciri topik: urgen diteliti; memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat; aktual
2. Pertimbangan memilih topik: minat dan kemampuan peneliti; sumber referensi; sumber daya (dana).
3. Sumber topik: studi kepustakaan; observasi lapangan; informasi masyarakat; ide kreatif peneliti.

VI. Tahap-Tahap Penelitian Ilmiah
1. Perencananaan: penyusunan TOR (Term of Refernce) atau baby project proposal (usulan pokok-pokok penelitian).
2. Pengkajian secara teliti terhadap rencana penelitian dan penyusunan usulan proyek penelitian.
3. Sampling: pengambilan contoh.
4. Penyusunan daftar pertanyaan.
5. Kerja lapangan.
6. Editing: meneliti daftar pertanyaan yang telah diisi oleh responden dan coding: proses memindahkan jawaban ke dalam berbagai kelompok jawaban yang disusun dalam angka dan tabulasi.
7. Analisis dan laporan: penyajian tabel (frekuensi distribusi tabulasi silang) metode statistik dan interpretasi atas dasar teori yang diketahui (Suparmoko, 1997).

VII. Variabel dan Operasionalisasinya
Variabel berbeda dengan konstanta adalah sesuatu yang secara kuantitatif atau kualitatif dapat bervariasi. Misalnya, usia (kuantitatif) atau jenis kelamin (kualitatif).
1. Variabel bebas (independen variable): variabel yang dapat dimanipulasi dengan variasinya mempengaruhi variabel lain. Contoh: tayangan VCD BF (variabel bebas) meningkatkan agresivitas seksual remaja putra.
2. Variabel terikat (dependent variable): variabel penelitian yang diukur untuk mengetahui besarnya efek atau pengaruh variabel lain. Contoh: tingginya tingkat pendidikan cenderung diikuti sikap percaya diri (variabel terikat) yang tinggi pula.
3. Variabel kendali (control variable): variabel bebas yang efeknya terhadap variabel terikat dikendalikan oleh peneliti dengan cara menetralkan pengaruhnya. Contoh: PHK meningkatkan stress kejiwaan pada laki-laki usia produktif (variabel kontrol).
4. Variabel moderator/kategoris/level: variabel bebas bukan utama yang diamati untuk menentukan sejauh mana mempengaruhi hubungan antara variabel bebas utama dengan variabel terikat. Contoh: putus cinta mengurangi rasa percaya diri remaja putri (variabel moderator/kategoris/level) tetapi tidak pada remaja putra.
5. Variabel antara: variabel yang adanya hanya secara konseptual (hypothetical construct). Secara teoritis berpengaruh terhadap obyek yang diamati. Tetapi tidak dapat dilihat, diukur maupun dimanipulasi. Sehingga efeknya harus disimpulkan dari variabel bebas dan moderator. Contoh: pengaruh status sosial ekonomi (variabel antara) terhadap prestasi belajar mahasiswa.
6. Kovariabel: variabel bebas bukan moderator/kategoris/level tetapi kontinu yang berkorelasi dengan variabel terikat. Contoh: hasil test MPS mahasiswa yang rajin mengikuti kuliah lebih tinggi daripada mahasiswa yang sering bolos. Tingkat IQ (kovariabel)

VIII. Pengumpulan dan Pengolahan Data
Data dalam konteks penelitian adalah obyek epistemologi bukan fakta yang merupakan obyek ontologi, yang dapat dikumpulkan melalui tiga cara di bawah ini:
1. Wawancara yang mendalam dan terbuka.
2. Observasi langsung.
3. Penelahaan dokumen tertulis (Suyanto, 1995).
Dalam pengolahannya data harus memenuhi syarat dapat dibaca (readable) dan dapat ditafsirkan (interpretable). Tabulasi merupakan proses pembuatan tabel induk yang memuat susunan data penelitian berdasarkan klasifikasi yang sistematis sehingga mudah dianalisis. Antara lain melalui files data entry (computerize). Salah satunya dengan program SPSS (Statistical Package for Sosial Sciences).
Sebagai ilustrasi analisis data deskriptif: memberikan lukisan obyek penelitian dasar data variabel yang diperoleh dari kelompok obyek yang diteliti tidak dimaksudkan menguji hipotesis. BIasanya berupa frekuensi dan persentase, tabulasi silang, grafik dan chart (data kategorikal), mean dan varians (data nonkategorikal). Misalnya, frekuensi dan persentase berupa gambaran tentang distribusi obyek menurut kategori nilai variabel (jenis kelamin, asal kelahiran, kebiasan merokok dsb) (Azwar, 1999).

IX. Populasi dan Sample
Populasi (universe) adalah kelompok obyek yang diteliti dan dikenai generalisasi hasil penelitian atau keseluruhan unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Sementara sample adalah bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri populasi.
A. Syarat-Syarat Sample
1. Memberikan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi.
2. Memerlukan presisi (generalisasi hasil estimasi nilai sample/statistik pada estimasi nilai populasi/parameter) dengan penyimpangan baku (standar) dari perkiraan hasil penelitian. Dengan kata lain, menduga nilai populasi/parameter dengan nilai sample/statistik. Misalnya, prediksi M (Mean) uang saku mahasiswa Universitas X adalah Rp. 20.000. Yang diketahui hanyalah M sample (n) dengan presisi ± Rp. 250 yaitu: Rp. 20.250 – Rp. 20.750. Sedangkan M populasi (N) sebenarnya adalah Rp. 20.500.
3. Sederhana dan mudah dilaksanakan.
4. Memberikan keterangan sebanyak mungkin.
B. Penarikan Sample
Biasanya disebut sampling design atau sampling technique yaitu: proses pemilihan beberapa obyek (sample) dari keseluruhan obyek (populasi) yang akan diteliti.
1. Sample probobilitas (probobility sampling)
Setiap satuan elementer dalam populasi yang akan diteliti memiliki peluang yang sama dengan ukuran yang sudah ditetapkan sebagai sample.
a. Sample acak sederhana (simple random sampling): populasi homogen dan tidak terlalu besar, ada kerangka sampling (sampling frame) yaitu daftar lengkap unsur populasi, penarikan sample dengan cara undian atau tabel random, besar sample disarankan minimal 10 % dari keseluruhan populasi dgn rumus n = rm x 20 (ket: r = kategori nilai, m = jumlah variabel). Contoh: Tentukan besar sample dengan 2 variabel dan tiga kategori nilai! N = 32 x 20 = 180
b. Sample sistematis (systematic sampling): harus ada kerangka sampling, penarikan sample dengan cara unsur pertama saja yang dipilih secara acak, yang berikutnya berdasarkan interval sampling ratio secara sismatis. Contoh: Tentukan interval sampling sistematis dengan populasi 100 dan besar sample 10! N/n = 100/10 = 10
c. Sample acak berstrata (stratified random sampling): populasi heterogen (sebab presisi tercapai dalam keberagaman populasi) yang dibagi dalam kelas, kategori atau kelompok (strata) yang harus terwakili semua.
1. Sample strata proporsional (proportional stratified sampling): setelah besar sample ditentukan setiap strata diambil sample yang sebanding dengan besar strata populasi yang disebut SF (sampling fraction) dengan rumus n/N yang menunjukkan % setiap strata yang diambil. Contoh:

Fakultas N % N SF n % n
Hukum 10.000 0,40 0,1 1.000 0,40
Ekonomi 8.000 0,32 0,1 800 0,32
Isip 5.000 0,20 0,1 500 0,20
Teknik 2.000 0,08 0,1 200 0,08
Jumlah 25.000 1,00 2.500 1,00

Keterangan: besar sample (n) adalah 10 % x N = 10 % x 25.000 = 2.500, SF = n/N = 2.500/25.000 = 0,1
2. Sample disproporsional (disproportional stratified sampling): terkadang analisis statistik memerlukan jumlah sample yang sama per strata. Sebab dalam strata proporsional sample yang diperoleh terlalu sedikit dan menyebabkan terjadinya sampling error. Caranya, sample dibagi rata per strata setelah besarnya ditentukan. Untuk mengatasinya SF berbeda dalam setiap strata. Data per strata dikalikan bobot (1/SF). Sementara bobot yang disesuaikan adalah setiap bobot per bobot terendah. Contoh:

Fakultas N % N SF n Bobot Bobot yang disesuaikan
Hukum 10.000 0,40 0,06 625 16,66 5,17
Ekonomi 8.000 0,32 0,07 625 14,28 4,43
Isip 5.000 0,20 0,12 625 8,33 2,58
Teknik 2.000 0,08 0,31 625 3,22 1,00
Jumlah 25.000 1,00 2.500

Keterangan: besar sample (n) adalah (10 % x N)/4 = (10 % x 25.000)/4 = 625, SF = n/N (Hukum: 625/10.000 = 0,06 dst), bobot = 1/SF (Hukum: 1/0,06 = 16,66 dst), bobot yang disesuaikan (Hukum: 16,66/3,22 = 5,17 dst).
d. Sample gugus (cluster sampling): tidak ada kerangka sampling, populasinya heterogen dan tersebar secara geografis. Yang diambil acak hanya gugusnya. Bukan individu yang diteliti. Secara statistic sulit menghitung standard error-nya. Misalnya, Kelurahan X terdiri dari 20 RW. Dipilih sample 2 RW. Kemudian seluruh RT dalam 2 RW tersebut diteliti. Ini disebut single stage. Tetapi bila dalam 1 RW terdiri dari 10 RT dan yang diteliti hanya 1 RT per RW disebut multistage.
2. Sample Non Probobilitas (nonprobobility sampling)
Setiap satuan elementer dalam populasi yang akan diteliti tidak memiliki peluang yang sama sebagai sample.
a. Haphzard/convenience/accidental sampling: penarikan sample berdasarkan unsur kebetulan.
b. Availability sampling: penarikan sample berdasarkan yang tersedia saja. Dalam hal ini peneliti tidak punya alternatif lain. Misalnya, penelitian tentang korban HIV/AIDS.
c. Purposive sampling: penarikan sample berdasarkan penilaian subyektif peneliti yang teridentifikasi secara tipikal dalam populasinya. Serta representatif secara statistik, tingkat signifikansi, hipotesis dll.
d. Quota sampling: penarikan sample berdasarkan jumlah tertentu per strata. Mirip stratified sampling, tetapi sample yang diambil tidak secara acak. Sehingga tidak dapat digeneralisasi secara valid pada populasinya.
C. Faktor-Faktor yang Menentukan Ukuran Sample
Untuk menentukan berapa besarnya ukuran sample tergantung dari beberapa hal di bawah ini:
1. Variasi dalam populasi yang akan dijadikan sample. Biasanya yang dipakai proporsi 50 % ; 50 % dengan asumsi itu adalah angka maksimal populasi heterogen dan tidak mengalami kekeliruan apabila ternyata populasinya homogen.
2. Tingkat kesalahan (sampling error) yang dapat ditoleransi atau keakuratan taksiran yang diinginkan.
3. Tingkat kepercayaan. Sering dipakai 68 % (1,00), 90 % (1,65), 95 % (1,96), 99 % (2,58) dan 100 % (3,00). Artinya, 68 %, 90 %, 95 %, 99 % dan 100 % diyakini bahwa komposisi sample bisa diulang dan tetap identik jika diambil sample lain dari populasi yang sama (Eriyanto, 1999).
4. Derajad keseragaman (degree of homogeneity). Artinya, sample mencerminkan completely homogenous karena informasi yang diperoleh dari sebagian populasi. Ini memberi beberapa keuntungan: cepat, murah, informasi lebih lengkap, mencakup banyak hal lebih teliti (sample kecil) dan memungkinkan studi yang bervariasi. Sebaliknya sensus mencerminkan completely heterogeous karena informasi diperoleh dari seluruh populasi (Suparmoko, 1977).
5. Presisi yang dikehendaki dalam penelitian. Artinya, makin besar ukuran sample makin baik (true value).
6. Rencana analisa data (statistik) dan fasilitas yang tersedia.
7. Tenaga, biaya dan waktu yang dimiliki oleh peneliti (Singarimbun, 1987)
D. Rumus Ukuran Sample
Rumus yang dipakai untuk menentukan ukuran sample tergantung dari informasi yang diketahui dilapangan. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa rumus yang bisa digunakan:
1. n = NZ2S n = NZ2 p (1 – p) S = n∑xi2 – (∑xi)2 V(x) = Τ = (N – n)S
Zd2 + Z2S Nd2 + Z2 p (1 – p) n(n – 1) Nn

Untuk sample kecil (N – n) tidak di perlukan, sehingga rumusnya berubah jadi
N
V(x) = Τ = S/n
Keterangan: n = sample, N = populasi, Z = tingkat kepercayaan, S = varians sample, d = derajat penyimpangan, p = proporsi, V(x) = Τ = varians rata-rata sample, n/N ≥ 5 % (sample besar) dan n/N ≤ 5 % (sample kecil).
Contoh 1:
Suatu desa terdiri dari 250 rumah tangga, tingkat kepercayaan 90 %, varians 8 dan penyimpangan 1 anggota keluarga per rumah tangga. Tentukan besar sample!
n = NZ2S = 250 (1,65)2 8 = 20,01
Zd2 + Z2S 250 12 + (1,65)2 8

Contoh 2:
Masih berkaitan dengan contoh !, jika proporsi pemilik radio 40 %, penyimpangan 10 % dan tingkat kepercayaan naik 100 %. Tentukan besar sample!
n = NZ2 p (1 – p) = 250 (3,00)2 0,40 (1 – 0,40) = 115,87
Nd2 + Z2 p (1 – p) 250 (0,10)2 + (3,00)2 0,40 (1 – 0,40)

Contoh 3:
Masih berkaitan dengan contoh 2, jika nilai proporsi pemilik radio tidak diketahui. Tentukan besar sample!

n = NZ2 p (1 – p) = 250 (3,00)2 0,5 (1 – 0,50) = 118,42
Nd2 + Z2 p (1 – p) 250 (0,10)2 + (3,00)2 0,50 (1 – 0,50)

Catatan: jika p tidak diketahui maka nilai maksimal untuk p (1 – p) = 0,50. Ingat, dipakai proporsi 50 % ; 50 % dengan asumsi itu adalah angka maksimal populasi heterogen dan tidak mengalami kekeliruan apabila ternyata populasinya homogen.
Contoh 4:
Di Universitas X terdapat 6 mahasiswa dengan uang saku sebagai berikut: A = Rp 10.000, B = Rp 6.000, C = Rp 8.000, D = Rp 12.000, E = Rp 5.000 dan F = Rp 7.000. Tentukan varians sample!
S = n∑xi2 – (∑xi)2 = 6∑102 + 62 + 82 + 122 + 52 + 72 – (10 + 6 + 8 +12 + 5 +7)2 =
n(n – 1) 6(6 – 1)

6,8 x Rp 1.000 = Rp. 6.800

Contoh 5:
Masih berkaitan dengan contoh 4, jika populasinya 15. Tentukan varians rata-rata sample!
V(x) = Τ = (N – n)S = (15 – 6)6,8 = 0,68 x Rp 1.000 = Rp 680
Nn 15 6

Catatan: n/N = 6/15 = 0,4 ≥ 0,05 (sample besar)
2. n = (pq)Z2/E2 SE = √p (1 – p)/n (variabel non rasio) SE = SD/√n (variabel rasio) E = SE Z
Keterangan: n = sample, pq = varians proporsi populasi, E = sampling error, Z = tingkat kepercayaan, SE = standard error, SD = standard deviation, p = pro dan (1 – p) = kontra.
SE (standard error) adalah deviasi standar dari distribusi sample yang secara teoritis diasumsikan sama dengan deviasi standar populasinya. Makin besar sample makin kecil SE. Sebab SE mengacu pada kepastian (exactness). Sementara interval kepercayaan (confidence interval) mengacu pada ketepatan (correctness). Sebab ia merupakan karakteristik populasi yang melekat pada sample yang diteliti. Artinya, diyakini jika diambil sample lain dari populasi yang sama dengan besar yang sama maka hasilnya relatif sama dengan sample sebelumnya.
E (sampling error) adalah tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi pada penyimpangan karakteristik sample (statistik) terhadap karakteristik populasi (parameter).

SE (standard error) SD (standard deviation) Z (tingkat kepercayaan) pq (varians proporsi populasi)
± 1,00 34 % 68 % 32 %
± 1,65 90 % 10 %
± 1,96 95 % 5 %
± 2,00 34 % + 13,6 %
± 2,58 99 % 1 %
± 3,00 47,6 % + 2 % 100 % 0,01 %

Contoh 1:
Tentukan besar sample yang harus diambil dengan tingkat kepercayaan 95 %, varians proporsi populasi 25 % dan sampling error 5 %!
n = (pq)Z2/E2 = (0,25)1,962/0,052 = 384,16
Contoh 2:
Tentukan standard error mean populasi usia 35 tahun dengan sample 200 orang dan deviasi standar 10!
SE = SD/√n (variabel rasio) = 10/√200 = 0,70
Contoh 3:
Masih berkaitan dengan contoh 2, jika samplenya diperbesar menjadi 1000 orang. Tentukan standard error!
SE = SD/√n = 10/√1000 = 0,31
Catatan: terlihat interval kepercayaan pada n = 200 adalah 35 ± 0,7 = 34,3 atau 35,7. Ketika n = 1000 adalah 35 ± 0,31 = 34,69 atau 35,31. Ini lebih mendekati mean populasi 35 tahun.
Contoh 4:
Tentukan standar error opini publik tentang seks bebas dengan sample 600 orang dan 55 % setuju!
SE = √p (1 – p)/n (variabel non rasio) = √0,55 (1 – 0,55)/600 = 0,02
Catatan: SE = 0,02 termasuk dalam tingkat kepercayaan 68% (1,00). Sebab 0,02 mendekati 1,00. Artinya, interval kepercayaan yang pro seks bebas adalah 0,55 ± 0,22 = 0,53 atau 0,57. Ini juga bisa dibaca 34 % pro seks bebas diantara nilai parameter 0,53 dan 0,55 (1 SE di bawah parameter). Serta 0,55 dan 0,57 (1 SE di atas parameter). Tetapi 32 % nilai parameter yang benar berada di luar ± 0,02 SE nilai statistik yaitu: 16 % di bawah 1 SE dan 16 % di atas 1 SE
Contoh 5:
Masih berkaitan dengan contoh 4, jika tingkat kepercayaan dinaikkan menjadi 95 %. Tentukan sampling error!
E = SE Z = 0,02 1,96 = 0,03 atau 3 %

Catatan: Interval kepercayaan naik dari 2 % menjadi 3 %. Hasilnya yang setuju seks bebas adalah 0,55 ± 0,03 = 0,52 atau 0,58. Terlihat makin tinggi tingkat kepercayaan makin tepat (correctness). Tetapi makin tidak pasti (exactness). Sebab interval kepercayaan makin melebar (Eriyanto, 1999).
3. n = (Z SD)2/d2 n = N/Nd2 + 1
Keterangan: n = sample, N = populasi, Z = tingkat kepercayaan, d = nilai presisi dan SD = standard deviation (Rakhmat, 1995).
Contoh 1:
Presisi mean intelektual mahasiswa Universitas X 5, tingkat kepercayaan 99 % dan deviasi standar 14. Tentukan besar sample!
n = (Z SD)2/d2 = (2,58 14)2/52 = 52,18
Contoh 2:
Diantara mahasiswa Universitas X 3000 merokok dengan presisi 5 % dan tingkat kepercayaan 95 %. Tentukan besar sample!
n = N/Nd2 + 1 = 3000/3000 0,052 + 1 = 352,94

X. Laporan Penelitian
A. Gambaran Umum Laporan Penelitian
1. Bagian Awal
Terdiri dari: judul, halaman pengesahan, kata pengantar, daftar isi, daftar table, daftar gambar dan abstraksi (tujuan atau target penelitian, metode yang digunakan, peserta penelitian, hasil dan kesimpulan pokok penelitian).
2. Bagian Isi
Terdiri dari: pendahuluan (latar belakang masalah, tujuan penelitian dan definisi variabel), landasan teori (telaah pustaka dan hipotesis), metode penelitian (variabel dan operasionalisasinya, obyek: unsur-unsur populasi (unit of analysis) sebagai unbiased sample, alat pengumpulan data, prosedur dan cara analisis data), hasil analisis (deskripsi data dan pengujian hipotesis), pembahasan dan kesimpulan (rekomendasi).
3. Bagian Akhir
Terdiri dari: daftar pustaka dan lampiran.
B. Struktur Laporan Penelitian
Menurut APA (American Psychological Association’s) Publication Manual struktur laporan penelitian sebagai berikut:
Judul (title), abstraksi (abstract), introduksi (introduction), metode (method), obyek (object), alat dan kelengkapan (apparatus) dan prosedur (procedures), hasil (results), diskusi (discussion) dan referensi (reference) (Singarimbun, 1987).
Secara lebih detil laporan penelitian sebagai berikut:
1. Judul: ringkas dan menggambarkan isi.
2. Kata Pengantar: tujuan penelitian, masalah yang dihadapi selama proses penelitian dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang berkontribusi terhadap penelitian (± satu halaman).
3. Daftar Isi: tabel, diagram (peta/gambar dibuat daftar isi sendiri)
4. Pendahuluan: mengantarkan pembaca ke rumusan masalah, ruang lingkup dan kegunaan teoritis/praktis dari laporan dan metodologi. Ringkasnya, mencakup latar belakang penelitian, tujuan penelitian, metode penelitian, pemprosesan data/analisis data dan prosedur statistik yang ditempuh.
5. Tubuh Laporan: berisi bab demi bab yang merupakan bagian pokok dari laporan penelitian. Tiap bab membahas satu masalah pokok yang merupakan rangkaian yang bulat dengan tema pokok penelitian.
6. Kesimpulan: membicarakan semua bab yang telah dibahas. Juga implikasi dari penelitian. Serta saran untuk penelitian lanjutan.
7. Lampiran: hal-hal yang kurang praktis atau mengganggu bila dimasukkan ke dalam teks. Misalnya, surat izin, formulir dsb.
8. Daftar Pustaka: hindari kecenderungan terjadinya kuasi ilmiah (Singarimbun, 1987).

Bibliografi
Azwar, Saifuddin. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Brower, MAW. Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman. Bandung: Alumni, 1986.

Eriyanto, Metodologi Polling: Memberdayakan Suara Rakyat. Bandung: PT. Remadja Rosdakarya, 1990.

Kerlinger, Fred N. Azaz-Azaz Penelitian Behavioural (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990.

Kleden, Ignas. Sikap Ilmiah dan Kritik Kerbudayaan. Jakarta: LP3ES, 1988.

Magnis-Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Nazir, Mohammad. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988.

Noerhadi, Toety Herati. “Analisa dan Pemahaman dalam Metodologi Ilmu-Ilmu Sosial” dalam M. Amien Rais (ed.). Krisis Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pembangunan Dunia Ketiga. Yogyakarta: PLP2M, 1984.

Oetomo, Dede. “Penelitian Kualitatif” dalam Bagong Suyanto (ed.). Metode Penelitian Sosial. Surabaya: Airlangga University Press, 1995.

Rakhmat, Jalaluddin. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remadja Rosdakarya, 1995.

Singarimbun, Masri (ed.). Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES, 1987.

Suparmoko, M. Metode Penelitian Praktis Untuk Ilmu-Ilmu Sosial dan Ekonomi. Yogyakarta: BPFE UGM, 1997.

Komunikasi Sosial

Pengantar
Mata kuliah Komunikasi Sosial ini di perguruan tinggi lain bernama Komunikasi dan Perubahan Sosial. Dulunya bernama Komunikasi Sosial dan Pembangunan. Jauh sebelumnya lagi merupakan dua entitas mata kuliah yang terpisah yakni: Komunikasi Sosial dan Komunikasi Pembangunan. “Apalah arti sebuah nama” begitu kata sastrawan Inggris Willam Shakespeare. “Segala sesuatu pasti berubah, yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri” kata pemikir Yunani kuno Heraklitos yang hidup empat abad sebelum Yesus Kristus lahir. Artinya, eksistensinya bisa berubah tapi esensinya tetap sama yaitu: menelaah bagaimana peranan komunikasi dalam perubahan sosial umumnya dan pembangunan khususnya. Kata “pembangunan” harap dibaca dengan “P” bukan dengan “p”.
Menuangkan setumpuk gagasan yang berjibun di kepala dalam bentuk tulisan yang belum tentu dimengerti oleh orang lain bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak sekali yang ingin saya paparkan dan diskusikan. Saking banyaknya membuat penyelesaian tulisan ini tertunda-tunda. Apalagi perkembangan ilmu pengetahuan via IT demikian pesat. Sehingga tidak tertutup kemungkinan tulisan ini dengan segala keterbatasan referensi yang menjadi acuannya sudah out of date. Dengan demikian, ia tidak berpretensi menjadi semacam bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Hanya sekedar pembuka diskusi saja ke arah persoalan yang lebih kompleks dalam konteks peranan komunikasi dalam perubahan sosial yang bernama pembangunan itu. Itu saja kalau dapat.
Akhirnya, apabila setelah membacanya Anda jadi bingung maka percayalah bahwa saya juga ikut bingung. Bukankah bingung itu pertanda orang berpikir? Sementara berpikir adalah letak eksistensi kita sebagai manusia. “Cogito ergo sum” kata filsuf rasionalis Perancis Rene Descartes. Singkat kata, dengan tangan terbuka saya menerima kritik yang “membangun”. Termasuk kritik yang mengatakan tulisan ini tidak ilmiah. Tetapi maafkanlah saya untuk tidak minta maaf . Sebab lebih bermartabat jika Anda membuat tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya dalam konteks dialektika ilmiah. Sekian.
Jakarta, April, 2009
Penulis,

Teguh Kresno Utomo, S.IP
I. Introduksi
Secara ringkas mata kuliah ini dapat dibagi menjadi empat pokok bahasan sbb: Pertama, membicarakan konsep dasar komunikasi dan komunikasi sosial. Kedua, membahas dialektika antara komunikasi dan perubahan sosial umumnya. Serta pembangunan khususnya. Ketiga, menelaah eksistensi komunikasi sosial dalam perspektif teoritis. Keempat, melacak sejauh mana aplikasi teoritis di atas dalam tahap praksis dengan segala masalah yang dihadapinya.
Setiap bagian akan diuraikan secara ringkas tanpa menghilangkan relevansinya terhadap keseluruhan materi yang akan dibahas. Artinya, setiap bagian merupakan suatu kesatuan yang bersifat holistik untuk menjelaskan peranan komunikasi dalam perubahan sosial umumnya dan pembangunan khususnya.
II. Konsep Dasar Komunikasi dan Komunikasi Sosial
Istilah komunikasi berasal dari communication (Inggris) yang bermuara pada communicare (Latin) dan communis yang berarti: “sama “makna”. Dengan demikian, komunikasi dapat dimaknai sebagai tindakan untuk mencapai kesamaan makna tentang apa yang dibicarakan (Effendy, 1988). Pengertian yang lebih lengkap sebagai berikut: “communication is a transactional symbolic process which allows people to relate to and manage their environtments by (1). establishing human conduct; (2). exchanging information: (3). reinforcing the attitudes and behaviour of other and; (4). changing the attitudes and behaviour of others” (Book, 1980).
Eksistensi komunikasi dapat ditelaah dari perspektif: Pertama, komunikasi sebagai ilmu (science). Kedua, komunikasi sebagai keahlian (skill). Ketiga, komunikasi sebagai seni (art). Sesuai dengan maksud semula, tulisan ini lebih dititikberatkan pada yang pertama. Artinya, ia tidak membicarakan bagaimana menulis berita dan iklan pembangunan yang cangguh misalnya. Sebab ini merupakan wilayah kajian mata kuliah lainnya yang lebih bersifat teknis dan spesifik seperti news writing dsb. Ia lebih ditujukan pada pemahaman konseptual tentang peranan komunikasi dalam perubahan sosial umumnya dan pembangunan khususnya sebagai suatu fenomena sosial dalam kerangka teori sosial. Bukan berdasarkan pada teori komunikasi an sich. Sebab perlu diingat bahwa komunikasi sebagai ilmu bersifat interdisipliner yang dibangun oleh ilmu-ilmu lain yang telah lebih dahulu mapan seperti: sosiologi dan psikologi sosial. Bahkan matematika yang dipelopori oleh Norbert Wiener dengan konsep cybernetics: communication as information processing (Griffin, 2006). Konsekuensinya, bisa saja seseorang yang dianggap pakar dalam ilmu komunikasi ternyata dalam kesehariannya tidak komunikatif. Elitis dalam konteks keilmuan sekaligus tidak populis dalam konteks sosial.
Seperti yang telah disebutkan semula, sebagai ilmu komunikasi merupakan salah satu jurusan di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik. Bahkan di beberapa universitas baik negeri maupun swasta sekarang telah menjelma menjadi fakultas tersendiri. Dulunya bernama publisistik yang berarti: pernyataan umum yang aktual. Publisistik berasal dari Eropa Kontinental. Tepatnya Jerman, negara asal pemimpin fasis Adolf Hitler dengan partai NAZI yang memporakporandakan benua Eropa dalam PD II. Kata “publisistik” berasal dari publizistikwissenshaft yang senada dengan zaitung wissenshaft (ilmu persuratkabaran).
Pasca kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, orientasi pendidikan di Indonesia berubah kiblat dari Belanda ke AS yang ikut mempengaruhi perubahan publisistik menjadi komunikasi. Disamping untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana mengkaji pernyataan umum yang tidak aktual yang kemudian menjadi obyek kajian komunikasi massa. Seperti film sebagai fenomena sosial dalam mata kuliah filmologi.
Awalnya komunikasi merupakan bagian dari jurusan sastra Inggris dengan nama speech communication. Kemudian menjadi mass communication. Gabungan speech communication dengan mass communication menjelma menjadi communication science. Yang akhirnya berubah nama menjadi human communication (Effendy, 1988).
A. Paradigma Komunikasi
Sebagai mana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ilmu komunikasi bersifat interdispliner yang dipengaruhi oleh berbagai disiplin ilmu lainnya. Konsekuensinya, ini menimbulkan berbagai paradigma. Sejauh ini dalam dunia komunikasi dikenal empat paradigma di bawah ini:
Pertama, paradigma mekanis: yang dipengaruhi oleh fisika klasik. Komunikasi diterjemahkan sebagai proses mekanistis antarmanusia. Lokusnya terletak pada channel (saluran). Pesan mengalir melintasi ruang dan waktu dari komunikator ke komunikan secara simultan. Ini berdasarkan logika sebab-akibat dengan tekanan pada efek; metode ekperimental dan kuantitatif.
Kedua, paradigma psikologis: yang dipengaruhi oleh psikologi sosial. Komunikasi dilihat sebagai mekanisme internal penerimaan dan pengolahan informasi dalam diri manusia. Lokusnya terletak pada filter konseptual individu ybs. Dengan demikian, komponennya bukan lagi komunikator-komunikan tetapi stimulus-respon yang masih menggunakan metode ekperimental dan kuantitatif.
Ketiga, paradigma interaksional: yang dipengaruhi oleh sosiologi. Tepatnya interaksi simbolis. Komunikasi dimaknai sebagai interaksi antarmanusia. Lokusnya terletak pada peran sosial individu ybs dalam konteks tindakan sosialnya. Metodenya cenderung fenomenologis dengan analisis kontekstual dan kualitatif.
Keempat, paradigma pragmatis: yangh juga dipengaruhi oleh sosiologi. Khususnya teori sistem sosial. Komunikasi dipahami sebagai prilaku yang berurutan berupa pola interaksi, sistem, struktur dan fungsinya. Lokusnya terletak pada sistem sosial tempat individu ybs tersosialisasikan. Metodenya hanya dimungkinkan dengan analisa kualitatif (Fisher, 1990).
B. Tinjauan Komunikasi Sosial
Setelah berbicara panjang lebar tentang komunikasi, tibalah saatnya kita mendiskusikan pokok bahasan utama mata kuliah ini: Komunikasi Sosial. Tetapi sebaiknya lebih dahulu dianalisis kata “sosial” (social) yang mengikuti kata “komunikasi” itu. Sosial atau social (Inggris) didefinisikan sebagai concerning the organization of and relations between people and communities. Derivasinya society: system in which people live in organized communities. Ini bermuara pada perubahan sosial (social change) yang mengambil bentuk dalam kata “pembangunan” (development) yang diartikan sebagai perubahan sosial yang terencana ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Bukan dalam pengertian sempit, yaitu: sekedar pemenuhan kebutuhan basis material masyarakat di negara-negara dunia ketiga (baca: pembangunan ekonomi) semata. Tetapi termasuk realisasi basis immaterial seperti dimensi spiritual, etika dan nilai-nilai lainnya (Soedjatmoko, 1985).
Singkat kata, komunikasi sosial membicarakan bagaimana peran komunikasi dalam perubahan sosial umumnya dan pembangunan khususnya.
III. Komunikasi dan Perubahan Sosial
Komunikasi dilihat sebagai faktor penunjang modernisasi dan pembangunan. Tetapi teori pembangunan Barat terasa a historis dalam tingkat praksis di negara-negara dunia ketiga. Sebab ia lebih menekankan pada faktor internal masyarakat daripada faktor eksternal sebagai penyebab utama keterbelakangan dan kemiskinan. Mereka melihat perkembangan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern tidak lain dari eksistensi intelektual kontemporer evolusi sosial Darwin. Ini bisa dilacak dari pemikiran Ferdinand Tonnies dengan konsep gammeinschaft dan gesselscaft atau Emile Durkheim dengan konsep solidaritas mekanis dan organis-nya.
Kritik paling radikal diajukan oleh intelektual asal Amerika Latin Andre Gunder Frank yang intinya melihat kapitalisme negara-negara industri majulah sebagai penyebab utama pemerasan, ketimpangan, keterbelakangan dan kemiskinan negara-negara dunia ketiga (Nasution, 1988).
Komunikasi tidak selamanya sebagai penyebab perubahan sosial. Serta tidak selamanya pula tidak relevan dengan perubahan sosial. Artinya, ada perubahan sosial yang tidak disebabkan oleh komunikasi dan ada pula komunikasi yang ditujukan untuk menghalangi perubahan sosial itu. Misalnya, komunikasi yang bersifat ritual yang pada dasarnya untuk memelihara status quo. Dengan demikian, komunikasi dikatakan sebagai penyebab perubahan sosial sejauh ia dapat mengubah konsepsi seseorang tentang hakekat materi dan dirinya sendiri (Rogers, 1987).
IV. Komunikasi Sosial dalam Perspektif Teoritis
A. Konteks Historis
Komuikasi sosial tidak lain dari penggunaan metode komunikasi untuk menghapuskan kemiskinan dalam proses perubahan sosial dan pembangunan khususnya. Awalnya berupa ide komunikasi penunjang pembangunan (development support communication) UNDP-PBB tahun 1960. kemudian berubah menjadi jurnalisme pembangunan (development reporting) tahun 1968. Setelah itu berubah lagi secara lebih spesifik menjadi komunikasi pertanian (agriculture communication) yang dipelopori oleh University of Phillipines tahun 1970. Era tahun 1980-an berubah menjadi komunikasi pembangunan (development communication) dan komunikasi sosial (sosial communication). Tahun 1990-an berubah lagi menjadi komunikasi sosial dan pembangunan (social and development communication). Akhirnya, sekitar awal tahun 2000-an kembali menjadi komunikasi sosial (social communication). Tetapi di perguruan tinggi lainnya muncul dengan nama komunikasi dan perubahan sosial (communication and social change). Apapun eksistensinya, esensi dan substansinya tetap sama, yaitu: menelaah peranan komunikasi dalam perubahan sosial terutama pembangunan dengan tujuan menghapuskan kemiskinan. Itu saja kalau dapat!
Pasca PD II dalam Marshal Plan tahun 1949 ada keinginan untuk mengubah negara-negara eks jajahan yang nota bene terbelakang dan miskin (under developed/developing countries) menjadi kurang lebih sama dan sederajat dengan eks penjajahnya (developed countries). Tentunya dengan perspektif yang sangat bias Barat dan terselip semangat politik etis dari rasa bersalah Barat. Idenya: paradigma lama pembangunan yang menekankan adanya pertumbuhan ekonomi via industrilisasi sebagai kunci utama menuju modernisasi. Intinya, pertumbuhan ekonomi (growth), kemajuan (progress), modernisasi (industry) yang berbasis teknolgi dan kapital (technology and capital) sebagai pengganti tenaga kerja (labour) dan kemiskinan (poverty) lenyap (?)
Secara akademis ini merupakan photo copy proses modernisasi Barat, yaitu: revolusi industri tahun 1800-an, teknologi padat modal, pertumbuhan ekonomi dan kuantifikasi dalam bentuk GNP (Gross National Product) sebagai indeks utama pembangunan yang mencerminkan iptek, akumulasi kapital, SDA dan jumlah penduduk. Maka disusunlah konsep investasi diantara produksi dan pendapatan perkapita yaitu: Pertama, 10 – 25% (negara maju). Kedua, 5 – 10% (negara berkembang). Ketiga, 0 – 5% (negara miskin).
Kemudian dengan disponsori oleh AS berdirilah beberapa lembaga keuangan untuk mewujudkan ide di atas. Misalnya, USAID (USA for International Development), IBRD (International Bank for Reconstruction and Development), UNDP (United Nation Development Programme) dsb.
WW Rostow dalam karyanya The Stage of Economic Growth: A Non Communist Manifesto (Cambridge University Press, 1965) jelas mencerminkan Barat sebagai the image of the future. Ia melihat lima tahapan yang harus dilalui suatu negara dalam proses modernisasinya: Pertama, masyarakat tradisional subsisten. Kedua, prakondisi tinggal landas dengan pertanian sebagai leading sector-nya. Ketiga, tinggal landas dengan investasi 5 – 10%. Keempat, menjelang kedewasaan dengan investasi 10 – 20%. Kelima, konsumsi massa tinggi dengan tekanan pada sektor produksi jasa (Siregar, 1987).
Rostow melihat lima tahapan di atas sebagai acceleration of history atau mobilization of periphery yang terkenal dengan efek menetes ke bawah (trickle down effect) yang lebih mengutamakan aspek pertumbuhan ekonomi daripada pemerataan pendapatan. Konsep inilah yang diadobsi oleh rezim Orde Baru di bawah pimpinan bekas Presiden Soeharto (alm) selama 32 tahun berkuasa yang tercermin pada Trilogi Pembangunan: pertumbuhan ekonomi; pemerataan hasil pembangunan; stabilitas politk dalam GBHN 1978.
B. Ragam Aliran Pembangunan
Pertama, aliran ekonomi klasik (classical economy) yang berbasis ekonomi murni GNP berupa barang atau jasa yang dihasilkan dalam setahun. Aliran ini dipelopori oleh Adam Smith dalam karyanya The Wealth of Nations tahun 1776. Smith melihat adanya “tangan-tangan tak tampak” yang mengatur perekonomian dengan menghindari campur tangan negara. Konsep ini diperbarui oleh ekonom Malaysia berdarah China Doh Joon Chien dengan indikator sosial MASOL (Minimum Acceptable Standard of Living). Sebagai ilustrasi di AS tahun 1980-an US $ 300/bulan. Ada pula konsep lainnya, NEW (Net Economic Welfare).
Kedua, aliran ekonomi-politik neo klasik (neo classical-political economy). Tokoh yang paling menonjol adalah Andre Gunder Frank di samping tokoh lainnya seperti Thomas Szantes dan Samir Amin. Frank dengan analisis neo marxis-nya digolongkan pada penganut teori ketergantungan klasik yang mencermati penyebab keterbelakangan dan kemiskinan masyarakat di negara-negara dunia ketiga bukan pada faktor internal masyarakatnya. Tetapi lebih pada faktor eksternal, yaitu: penetrasi capitalis mode of production yang disponsori AS dan sekutu Eropa Barat-nya ke dalam masyarakat di negara-negara dunia ketiga yang masih pre capitalist mode of formation (Sumarsono, 1994). Hubungan yang asimetris ini melahirkan tiga kontradiksi: (1). polarisasi sistem kapitalis menjadi negara pusat (metropolitan centre) versus negara pinggiran (peripheral satellites); (2). ekspropriasi surplus ekonomi untuk membangun negara pusat (metropolitan centre) dengan ciri-ciri keuntungan komparatif dan substitusi impor; (3). appropriasi kontradiksi ini dipertahankan terus-menerus oleh negara pusat (metropolitan centre) dengan melebarkan sayap MNC’S seperti Freeport, KFC, Coca-Cola dsb yang menghisap potensi kekayaan SDA negara pinggiran (peripheral satellite) tetapi dengan SDM berkualitas rendah (Nasution, 1988).
Ketiga, aliran neo ekonomi (neo economy). Secara singkat aliran ini mengkritisi aliran klasik dengan tiga pertanyaan pokok: (1). kemiskinan; (2). pengangguran; (3). ketimpangan. Tokohnya Dudley Seers tahun 1969 yang dengan tegas mengatakan bahwa selama tiga hal di atas masih terdapat dalam suatu negara maka pembangunan ekonominya dianggap gagal. Berapa pun tinggi tingkat pertumbuhan eknomi yang telah dicapainya. Ini selaras dengan konsep millenium development goal dewasa ini.
Keempat, aliran pembangunan berwajah manusia (humanities development) yang dipelopori oleh Pastor Katolik Ivan Illich tahun 1973 dengan konsep de schooling society. Ia melihat pembangunan sebagai proses keseimbangan yang multidimensional terhadap manusia dalam konteks kelangsungan hidup (life sustenance); kehormatan (self esteem); kemerdekaan (freedom). Illich melihat pendidikan umumnya dan iptek khususnya bukan lagi sekedar alat tetapi sudah menjadi tujuan yang menciptakan dehumanisasi di segala sektor kehidupan. Ditambahkan oleh pendukung lain aliran ini Rex Mortimer dengan tiga pertanyaan pula: (1). who is development for?; (2). who will in benefit?; (3) who will have to pay the cost it involves? Artinya, jika dua pertanyaan awal jawabannya elite dan pertanyaan terakhir jawabannya rakyat maka pembangunan suatu negara dianggap gagal (Tjokrowinoto, 1987). Singkatnya, sedikit orang mendapat begitu banyak, sebaliknyanya banyak orang mendapat begitu sedikit bahkan tidak mendapat apapun.
C. Pembangunan Ekonomi-Politik Internasional
Bagaimana dengan Indonesia? Mengutip pakar ekonomi-politik UGM Prof. Mohtar Mas’oed, MA, Ph.D dapat dijelaskan dalam perspektif ekonomi-politik internasional di bawah ini:
Pertama, international political economics (economics theory of international politics) dengan karakter: positif; empiris; nomologis yang dapat dilihat dalam perspektif liberal dengan tekanan pada aspek trade as the machine of growth dan comparative advantage. Perekonomian diatur oleh “tangan-tangan tak tampak” dengan menghindari campur tangan negara. Ini terlihat dalam karya Adam Smith The Wealth of Nations tahun 1776 dan David Ricardo The Law of Diminishing Return.
Kedua, international political-economy (political economy) dengan karakter: interpretif; relevansi; ideologis yang dapat terlihat dalam tiga perspektif: (1). Perspektif Merkantilis: yang menitikberatkan pada aspek intervensi negara terhadap harga dan upah buruh, substitusi impor dan manufaktur. Ini tercermin dalam karya John Maynard Keynes The General Theory of Employment, Interest and Money tahun 1935 yang berbicara tentang peran dinamis para investor dan pemerintah. Sebab dalam masa depresi hukum dan pasar bebas tidak berlaku seperti diyakini penganut liberal selama ini. (2). Perspektif Radikal: yang menekankan pada aspek revolusi dengan tokoh utamanya Andre Gunder Frank. Sebagai mana yang telah diulas sebelumnya, Frank lebih melihat faktor eksternal berupa penetrasi cara produksi kapitalis ke dalam masyarakat negara-negara dunia ketiga yang masih dalam format pra kapitalis sebagai biang keladi keterbelakangan dan kemiskinan. Solusinya adalah revolusi dengan memutus ketergantungan terhadap negara-negara kapitalis maju. (3). Perspektif Reformis: yang mencoba mengawinkan dua perspektif sebelumnya sebagai alternatif jawaban untuk mengatasi keterbelakangan dan kemiskinan masyarakat di negara-negara dunia ketiga. Fenomena ini di Indonesia tampak pada keterlibatan NGO’s baik lokal maupun asing dalam berbagai proyek pembangunan nasional.
IV. Komunikasi Sosial dalam Pembangunan
Setelah menguraikan konsep pembangunan dari berbagai perspektif maka tiba saatnya kita menelaah bagaimana peran komunikasi dalam perubahan sosial yang bernama pembangunan itu. Terutama dalam tingkat praksis di negara-negara dunia ketiga umumnya dan Indonesia khususnya. Ternyata komunikasi sebagai agen perubahan sosial seringkali bersifat tidak langsung (indirect process) dan hanya bersifat membantu saja (Rogers, 1987).
A. Seputar Pemuka Pendapat (Opinion Leader)
Pengaruh komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh elite terdidik sebagai kelas menengah dalam konteks intelektual masyarakat ternyata punya peran lebih signifikan dalam proses komunikasi sosial. Para elite ini disebut sebagai pemuka pendapat (opinion leader) dengan karakter sbb: pendidikan lebih tinggi; inovatif dalam menerima gagasan baru; punya akses ke media massa; kosmopolitan; tingkat partisipasi sosial lebih tinggi (Wiryanto, 2000).
Pemuka pendapat ini terdiri dari berbagai varian, diantaranya: pemuka pendapat aktif (opinion giving) dan pemuka pendapat pasif (opinion seeking). Dalam konteks status sosialnya dapat dipilah menjadi homophily yang merupakan pemuka pendapat dengan status sosial sama dengan pengikutnya (follower) dan heterophily dengan status sosial lebih tinggi daripada pengikutnya (follower). Artinya, dalam kasus seperti ini pemuka pendapat harus punya tingkat empati yang tinggi. Sementara itu berdasarkan topik atau isi pesan terpilah jadi polymorphic yang menguasai segala macam hal (all purpose) dan monomorphic yang hanya mendalami topik-topik tertentu saja.
B. Struktur Sosial Indonesia
Masalah utama komunikasi sosial yang dihadapi oleh negara-negara dunia ketiga umumnya dan Indonesia khususnya dapat dipetakan sebagai berikut: Pertama, organisasi sosialnya terfragmentasi berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Kedua, tarik-menarik antara budaya feodal (peasant culture) dengan budaya borjuis masyarakat industri (industrial culture). Ketiga, norma kelompok yang terbelah di antara memberships group dan reference group yang kontradiktif.
Secara singkat dapat disimpulkan karakter masyarakat majemuk sebagai berikut: struktur sosialnya terpecah dalam beberapa subsistem yang berdiri sendiri dalam ikatan primordial yang nonkomplementer; segmentasi kultural yang saling berbeda yang tidak punya konsensus dan loyalitas terhadap nilai-nilai dasar; konflik sosial berbentuk vertikal dan horizontal; intergrasi sosial bersifat koersif dan dominasi politik bersifat rasial (Nasikun, 1989).
Struktur sosial masyarakat majemuk di Indonesia (plural society) terdiri atas dua elemen yang berdiri sendiri tanpa pembauran sebagai masyarakat politik (polity). Ini dapat dicermati dengan pendekatan konflik (conflict approach) dan pendekatan struktural-fungsional (functional-structural approach).
Seorang sosiolog bernama JS Furnivall dalam karyanya Netherland India: A Study of Plural Economy (Cambridge University Press, 1967) melihat masyarakat Indonesia terbelah secara vertikal: kelas sosial ekonomi dan secara horizontal: SARA. Kekuasaan politik didominasi ras tertentu (baca: Jawa) tanpa ada kehendak bersama (common will). Dalam karyanya yang lain Colonial Policy and Practice: A Comparative Study of Burma and Netherlands India (New York University Press, 1956), Furnivall menyebutkan dalam masyarakat majemuk seperti ini tidak ada common social demand. Artinya, hubungan sosial di antara elemen-elemen masyarakat majemuk semata-mata didasari oleh proses produksi material. Kepentingan ekonomi berimpit dengan perbedaan ras yang mengerucut seperti piramida: pribumi sebagai alasnya dalam bidang pertanian sawah (wet rice cultivation) di Jawa dan pertanian ladang (shifting cultivation) di luar Jawa, posisi tengah ditempati oleh Timur Asing (Tionghoa; Arab; India) sebagai pedagang perantara dan puncaknya ditempati oleh bangsa Eropa yang komandani oleh Belanda di sektor perkebunan. Pasca revolusi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 lapisan atas bergeser ditempati oleh segelintir elite pribumi. Lapisan lainnya nyaris tidak berubah.
Masalahnya, pembangunan yang tidak lain dari perubahan sosial yang terencana dengan budaya (culture), situasi (situation) dan waktu (time) yang berbeda antara suatu negara dengan negara lainnya. Dengan demikian, tidak bisa konsep-konsep modernisasi Barat dicangkokkan begitu saja dalam proyek rekaya sosial masyarakat di negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Seperti terlihat dalam pemikiran David Mc Clelland dengan konsep N-Ach (Need for Achievement) dalam karyanya The Achieving Society (Princeton van Nostrand, 1961) yang mirip dengan karya sosiolog Jerman Max Webber The Protestant Ethics and The Rise of Capitalism yang intinya melihat kerja keras dan disiplin tinggi sebagai panggilan Illahi (calling) sebagai dasar modernisasi Barat. Inilah yang tidak dimiliki oleh sebagian besar masyarakat di negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Intinya mereka terbelakang dan miskin karena malas. Untuk itulah perlu disusun strategi komunikasi yang bisa mengubah mental masyarakat yang selaras dengan modernisasi. Pemikiran ini diadobsi oleh rezim Orde Baru dulu. Tayangan “Ria Jenaka” di TVRI yang memanfaatkan komunikasi tradisional dengan tokoh punakawan dalam dunia perwayangan sebagai agen modernisasi. Atau drama radio “Butir-Butir Pasir Laut” di RRI yang memuat pesan KB Nasional bisa dijadikan sekedar ilustrasi.
Begitu pula Daniel Lerner dalam karyanya The Passing of Traditional Society: Modernizing The Middle East (New York: Free Press, 1965). Pemikirannya khas seorang pengamat Barat. Ia mirip Rostow yang percaya bahwa media massa bisa menjadi alat percepatan sejarah (acceleration of history) dan mobilisasi massa (mobilization of periphery). Lerner membandingkan modernisasi Barat sebagai berikut: urbanisasi; melek huruf; partisipasi media massa; partisipasi politik. Sementara proses modernisasi di negara-negara dunia ketiga mengambil bentuk sebagai berikut: harapan meningkat (rising expectation); kekecewaan meningkat (rising frustrations); kudeta militer (military take over).
Tesis inilah yang dikoreksi oleh Johan Galtung dalam karyanya A Structural Theory of Imperialism. Tokoh aliran strukturalis ini mirip dengan Frank yang lebih melihat faktor eksternal daripada faktor internal masyarakat di negara-negara dunia ketiga sebagai penyebab keterbelakangan dan kemiskinan mereka. Ini meliputi political and legal aspect of information dan techno-financial aspect of information yang timpang antara negara-negara maju dengan negara-negara dunia ketiga. Ibarat bumi dengan langit.
Dengan demikian, asumsi dasar dari difusi-inovasi yang selama ini diajarkan oleh Barat kepada dunia ketiga perlu dipertanyakan kembali validitasnya seperti: Pertama, komunikasi an sich dapat menggerakkan pembangunan tanpa melihat situasi-kondisi struktur sosial masyarakat di negara-negara dunia ketiga. Kedua, modernisasi adalah peningkatan produksi-konsumsi barang dan jasa. Serta pemerataan pendapatan dan kesempatan yang perlu dicapai dalam waktu tertentu. Ketiga, kunci peningkatan itu adalah inovasi teknologi tanpa melihat siapa yang diuntungkan dan dirugikan (Rogers, 1987).
Bibliografi

Book, Cassandra L. Human Communication: Principles, Contexts, and Skills. New York: St. Martin’s Press, 1980.

Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: CV. Remadja Karya, 1988.

Fisher, B Aubrey. Teori Komunikasi (terj.). Bandung: PT. Remadja Rosda Karya, 1990.

Griffin, EM. A First Look at Communication Theory (Sixth Edition). Singapore: Mc Graw – Hill Education (Asia), 2006.

Mas’oed, Mohtar. Ekonomi-Politik Internasional dan Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994.

Nasikun, J. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali Pers, 1989.

Nasution, Zulkarimen. Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan Penerapannya. Jakarta: CV. Rajawali Pers, 1988.

Rogers, Everret M. Komunikasi dan Pembangunan: Perspektif Kritis (terj.). Jakarta: LP3ES, 1987.

Siregar, Amir Effendi. “Komunikasi Pembangunan” kumpulan tulisan yang tidak diterbitkan. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, 1987.

Soedjatmoko. Pembangunan dan Kebebasan. Jakarta: LP3ES, 1985.

Sumarsono. et.al. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES, 1994

Tjokrowinoto, Moeljarto. Politik Pembangunan: Sebuah Analisis Konsep, Arah dan Strategi. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1987.

Komunikasi Politik

Pengantar

Ilmu komunikasi perspektif Asia adalah ilmu komunikasi kontekstual dengan mendomestikkan perspektifnya demi kepentingan pembangunan Asia (lokal). Berbeda dengan perspektif  AS – Eropa (universal) yang top down dan vertikal, maka perspektif Asia bersifat bottom up dan horizontal (Manurung, 2007). Sebagai ilustrasi, atmosfir politik berubah ketika di-impeach-nya KH Abdurrachman Wahid (baca: Gus Dur) dari kursi kepresidenan oleh parlemen. Ia digantikan oleh Megawati Soekarnoputri yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden.

Sesuai dengan maksud tulisan ini, yang menarik adalah mencermati sosok puteri bekas Presiden Soekarno (alm) ini dalam konteks komunikasi politik. Berbeda dengan para pendahulunya, termasuk bapaknya sendiri, ia jarang berbicara langsung dengan publik. Konferensi pers, misalnya. Dibandingkan dengan Gus Dur yang suka mengobral kata-kata dan kesannya “murahan”, Mbak Mega cenderung pelit bicara dan kesannya “jual mahal”. Pola komunikasinya mirip bekas Presiden Soeharto (alm), yaitu: meminjam mulut orang lain sebagai juru bicaranya. Ironisnya, sebagai seorang pemimpin publik prilaku seperti ini membuat banyak pihak, mulai dari kalangan awam sampai dengan analisis politik bertanya-bertanya berkaitan dengan policy yang diambilnya. Tentu saja ini menyangkut eksistensi bangsa dan negara ini. Misalnya, berdirinya Depkoinfo dalam kabinet Gotong-Royong yang dulu dipimpinnya  dianggap banyak kalangan sebagai reinkarnasi roh Deppen yang telah dilikuidasi oleh bekas Presiden Abdurrachman Wahid. Ini membuat kalangan pers ekstra waspada mengingat trauma politik terhadap sepak terjang Deppen di masa Orde Baru belum lagi sirna.

Berbeda dengan Gus Dur yang ceplas-ceplos dan Mbak Mega yang jual mahal, Susilo Bambang Yudhoyono atau yang kerap dipanggil SBY, presiden pertama dalam sejarah Indonesia yang dipilih langsung oleh rakyat, punya gaya komunikasi yang berbeda. Ia terkenal sebagai jenderal intelektual yang terkesan hati-hati dan santun dalam berbicara.

Diktat  ini dibuat dalam rangka untuk memperlancar proses belajar-mengajar di ruang kuliah. Bukan dimaksudkan sebagai bacaan siap saji bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah: Komunikasi Politik. Kritik konstruktif dari Anda sangat dihargai dalam rangka sempurnanya tulisan ini. Termasuk kritik yang mengatakan bahwa tulisan ini tidak ilmiah. Untuk itu semua saya tidak akan minta maaf. Lebih adil bila Anda membuat tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya dalam rangka dialektika ilmiah. Sekian.

Jakarta, April 2009

Penulis,

 

Teguh Kresno Utomo, S.IP

I. Introduksi

Mata kuliah ini dipelajari di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik baik di Jurusan Ilmu Komunikasi maupun di Jurusan Ilmu Politik. Meskipun obyek materialnya sama, tetapi obyek formalnya berbeda. Di Jurusan Ilmu Komunikasi, komunikasi politik dimaknai sebagai prilaku atau kegiatan komunikasi melalui media massa yang bersifat politik, punya akibat politik dan berpengaruh terhadap prilaku politik (Dahlan, 1990). Sementara di Jurusan ilmu politik komunikasi politik membahas fungsi dan kontribusi faktor komunikasi dalam proses politik. Serta hubungan timbal balik antara kepentingan politik dengan proses komunikasi dalam konteks nasional, regional dan internasional (Alfian, 1993). Kajian aspek media massa dalam konteks komunikasi politik di Jurusan Ilmu Komunikasi yang membedakannya dengan Jurusan Ilmu Politik (Rauf, 1993). Sebagai mana yang dikatakan oleh Kosicki dan Mc Leod: ‘the centre of the new political system appears tobe the media” (Malik, 1999).

Tulisan ini akan membahas sembilan pokok bahasan sebagai berikut: Pertama, konsep dasar komunikasi politik. Kedua, komponen komunikasi politik. Ketiga, negara dan komunikasi politik. Keempat, elite dan birokratisasi negara sebagai aktor komunikasi politik. Kelima, partai politik dan komunikasi politik. Keenam, opini publik dan propaganda dalam komunikasi politik. Ketujuh, tinjauan kritis ideologi dan Pers Pancasila. Kedelapan, otoritas dan legitimasi politik. Kesembilan, politik fiksi dan fiksi politik.

II. Konsep Dasar Komunikasi Politik

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya ada beberapa pengertian komunikasi politik, diantaranya sebagai berikut: Pertama, komunikasi politik dimaknai sebagai prilaku atau kegiatan komunikasi melalui media massa yang bersifat politik, punya akibat politik dan berpengaruh terhadap prilaku politik (Dahlan, 1990). Kedua, komunikasi politik membahas fungsi dan kontribusi faktor komunikasi dalam proses politik. Serta hubungan timbal balik antara kepentingan politik dengan proses komunikasi dalam konteks nasional, regional dan internasional (Alfian, 1993). Ketiga, pendapat pakar komunikasi politik Michael Schudson: “political communication is any transmission of messages that has or intended to have an effect or distribution or use of power in society or on attitude toward the use of power”. Keempat, pendapat pakar komunikasi politik lainnya Kosicki-Mcleod: “political communication (actual or potential) which regulate human conduct under the condition of conflict” (Malik, 1999).

III. Komponen Komunikasi Politik

Komunikasi politik adalah salah satu dari tujuh fungsi sistem politik yang terdiri dari: sosialisasi politik; rekrutmen politik; artikulasi politik; agregasi politik, pembuatan keputusan politik; penerapan keputusan politik; komunikasi politik (Budiardjo, 1986).

Dengan demikian, realitas komunikasi politik sangat tergantung pada realitas sistem politik, yaitu: Pertama,  suprastruktur politik (institusi negara) sebagai komunikator politik. Kedua, infrastruktur politik (institusi nonnegara) sebagai source sekaligus receiver komunikasi politik.

Ada empat komponen komunikasi politik yang perlu dijelaskan sebagai berikut: Pertama, institusi politik dengan aspek komunikasinya. Sebagai ilustrasi, pasca reformasi tahun 1998 umumnya dan ketika Gus Dur berkuasa  khususnya institusi politik dalam kondisi lemah dan dilemahkan. Dalam konteks komunikasi politik terlihat dari kebijakan Gus Dur yang membubarkan Deppen. Kedua, institusi media dengan aspek komunikasinya. Indikasinya terlihat dengan menguatnya pers partisan (an age of press politics) dengan orientasi idea centred. Ketiga, orientasi khalayak terhadap komunikasi politik. Ini terlihat pada berubahnya distribution of power menjadi multipolar. Serta munculnya neo political resources berupa kalangan symbolic authority. Keempat, aspek-aspek komunikasi lainnya yang berkaitan dengan budaya politik (Malik, 1999). Realitas politik mirip lingkaran syetan. Meskipun  struktur politiknya berubah, budaya politiknya tetap sama patron client. Senada dengan pemikiran pakar propaganda AS Harold D Lasswell tentang says what: bahasa politiknya terdiri dari propaganda dan retorika yang dijangkiti penyakit amnesia historis  dan ideologis (baca: pamrih). Hanya menyentuh hal-hal yang parsial. Bukan substansial (Rauf, 1993).

IV. Negara dan Komunikasi Politik

A. Konsep Negara

Negara dalam tulisan ini tidak sekedar dipahami dalam konteks hukum tata negara saja. Artinya, suatu kesatuan wilayah hukum, berdaulat, berpenduduk dan diakui secara hukum internasional. Tetapi, mengutip Antonio Gramsci, negara diartikan sebagai institusi yang terstruktur dan saling berkaitan dengan memasukkan unsur ideologi sebagai pendukung  tegaknya negara.

Lebih jauh dikatakannya, aparatur negara terdiri dari dua: Pertama, militer dan polisi sebagai kekuatan koersif. Kedua, ideologi yang diartikan sebagai sistem nilai yang diacu bersama dalam konteks sistem sosial negara.

B. Tipologi Negara

Pertama, negara pluralis: negara yang hanya sekedar alat bagi aktor-aktor politik melalui suatu proses politik yang bersaing. Kedua, negara organis: negara yang mempunyai kemauan dan kepentingannya sendiri dengan melakukan intervensi dalam kehidupan warga negara. Ini dilakukan oleh elite politik dengan mengatasnamakan negara. Ketiga, negara korporatis: negara organis yang memperbaiki diri dengan meningkatkan partisipasi politik (baca: mobilisasi politik) dari kelompok-kelompok warga negara secara terbatas. Dengan kata lain, demokrasi ditentukan dari atas (Budiman, 1995).

Menurut pakar politik Amerika Latin Guillermo O’Donnell yang tergolong pada teori ketergantungan modern strategi korporatisasi negara khususnya yang terjadi di negara-negara berkembang mengambil dua bentuk: Pertama, bifrontal yang terdiri dari: (1) Statisasi:  negara menundukkan organisasi civil society yang dianggap mempunyai potensi membahayakan negara. (2). Privatisasi: negara membuka beberapa lembaganya sendiri bagi artikulasi kepentingan masyarakat yang dianggap tidak membahayakan negara. Kedua, segmenter: yang berarti statisasi dipusatkan pada kelas marginal yang mempunyai potensi membahayakan negara dan privatisasi ditujukan pada kelas dominan yang dianggap tidak membahayakan negara (Sumarsono, 1994).

C. Kelas Menengah  dalam Negara Birokratis

Terminologi kelas dominan terkadang dapat ditukartempatkan dengan kelas menengah. Tetapi berbeda dengan kelas menengah di Eropa Barat yang terdiri dari kaum borjuasi yang menjadi penggerak utama dalam tahap kapitalisme, kelas menengah di negara Birokratis seperti Indonesia yang tumbuh dalam era rezim Orde Baru lebih terlibat dalam argumen dan pembenaran ideologi dan kultural dalam rangka mempertahankan eksistensi ekonomi mereka dalam struktur kapitalisme pinggiran. Serta menciptakan ekonomi yang berat sebelah, orientasi ke luar dan memusatkan kegiatan pada bidang ekstraktif dan ekspor daripada mendorong industrialisasi dalam negeri (Bulkin, 1984).

Singkat kata, tidak bisa disejajarkan tokoh sekaliber Bill Gate dengan Liem Swie Liong. Meskipun sama-sama jadi orang terkaya, tetapi Gate meraihnya dengan memonopoli pasar karena penguasaan rekayasa teknologi komputer.  Sebaliknya Liem dengan memonopoli pasar berbasis koloborasi dengan para kapitalis-birokrat yang berkuasa. Atau dalam bahasa yang sedikit lebih sarkastis: Gate berwajah kapitalis-industrialis dan Liem berwajah kapitalis-rente (Budiman, 1995).

Dalam konteks komunikasi politik terlihat pada kebijakan rezim Orde Baru dulu yang tidak mengakui eksistensi AJI (Aliansi Jurnalis Independen) sebagai alternatif PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) atau SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) sebagai alternatif SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Sebab baik AJI maupun SBSI dianggap kelas marginal yang mempunyai potensi membahayakan negara. Mereka lebih independen dan tentunya tidak bisa diintervensi oleh penguasa. Sebaliknya dengan PWI dan SPSI yang tidak lain dianggap sebagai organisasi korporatis tempat berhimpunnya kelas dominan yang tidak membahayakan negara: kuat secara ekonomi tetapi lemah secara politik. Sehingga bisa dikooptasi oleh penguasa.

V. Elite dan Birokratisasi Negara Sebagai Aktor Komunikasi Politik

Istilah elite dapat diartikan sebagai sekolompok kecil orang dengan segala kelebihannya dan mempunyai kemampuan memerintah (Usman, 1990). Mengutip sosiolog Vilfredo Pareto masyarakat terpilah menjadi dua: Pertama, elite (governing elite/non governing elite) (Varma, 1992). Kedua, nonelite (mass society). Sementara sosiolog  lainnya Gaetano Mosca membagi masyarakat jadi dua pula: Pertama, elite (governing elite) dan subelite (non governing elite). Kedua, nonelite (mass society) (MacAndrew, 1993).

Meminjam konsep Karl D. Jakcson, elite yang berkuasa di Indonesia membentuk semacam bureaucratic polity, yaitu: upaya menjadikan birokrasi sebagai akumulasi kekuasaan negara dengan menyingkirkan masyarakat dari ruang politik dan pemerintahan.

Sistem politik yang terbentuk dengan ciri-ciri sebagai berikut: Pertama, birokrasi menjadi arena utama permainan politik. Kedua, yang  dipertaruhkan dalam permainan politik di atas adalah kepentingan pribadi. Bukan kepentingan publik. Ketiga, masyarakat dianggap tidak relevan dalam sistem politik yang elitis semacam ini (Mas’oed, 1994).

Ini sangat berbeda dengan tesis Max Weber tentang birokrasi yang legal rasional dan merupakan tanggapan atas kompleksitas fungsi administrasi pemerintahan seiring dengan perkembangan masyarakat (Rahardjo, 1987).

VI.  Partai Politik dan Komunikasi Politik

Mengacu pada stasiologi (ilmu tentang partai politik), partai politik dapat diartikan sebagai kelompok yang terorganisir dengan anggota yang memiliki orientasi nilai dan cita-cita yang sama dengan tujuan meraih kekuasaan dan kedudukan politik. Partai politik tidak sama dengan gerakan politik atau kelompok penekan (pressure group) yang organisasinya tidak seketat partai politik.

A. Fungsi Partai Politik

Pertama, komunikasi politik (interest/aggregation). Kedua, sosialisasi politik  atau pendidikan politik. Ketiga, rekrutmen politik (selection of leaderships). Keempat, manajemen konflik.

B. Klasifikasi Partai Politik

Pertama, berdasarkan komposisi dan fungsi keanggotaannya terdiri dari: (1). Partai kader  dengan ciri-ciri kenggotaan berdisiplin ketat dan menjaga kemurnian doktrin partai dengan sanksi pemecatan. (2). Partai massa dengan ciri-ciri keanggotaan meluas dari berbagai aliran politik, program luas dan kabur.

Kedua, berdasarkan sifat dan orientasinya terdiri dari: (1). Partai lindungan (patronage party) dengan ciri-ciri organisasi secara nasional lemah tetapi di tingkat lokal cukup kuat, aktif menjelang pemilu dan tidak mementingkan iuran anggota. (2). Partai ideologi (programmatic party) dengan ciri-ciri disiplin yang kuat dan mengikat, seleksi calon anggota yang ketat dan iuran anggota secara teratur.

Ketiga, berdasarkan sistem kepartaiannya terdiri dari: (1). Partai tunggal (one party system) yang nonkompetitif seperti PKC di RRC. (2). Dwi Partai (two party system) dengan dua atau lebih partai politik. Tetapi hanya dua partai politik dominan (anglo saxon) sebagai partai politik berkuasa dan oposisi secara bergantian sesuai hasil pemilu seperti di AS dengan Partai Demokrat dan Partai Republik. Sistem ini berhasil dengan syarat sebagai berikut: komposisi masyarakatnya homogen; ada konsensus dan tujuan sosial; ada kontinuitas sejarah; sistem distrik (single member constituency) yang berarti setiap daerah pemilihan hanya ada satu wakil saja. (3). Multi partai (multy party system) dengan karakter primordialisme yang kuat dan umumnya berbentuk proporsional (proportional representation) yang memberi kesempatan tumbuhnya partai gurem.

VII. Opini Publik dan Propaganda  dalam Komunikasi Politik

Sebelum membahas opini publik, ada beberapa istilah yang harus dipahami lebih dahulu. Pertama, crowd (kerumunan) dengan sifat sementara, tidak bisa dibentuk kembali dan tidak saling kenal. Kedua, group (kelompok) dengan sifat saling kenal, sadar akan keanggotaannya, ada nilai sebagai acuan, strukturnya stabil dan bisa dibentuk kembali. Ketiga, public (publik) dengan sifat terbentuk karena ada masalah atau sasaran tertentu. Keempat, mass (massa) dengan sifat tersebar luas, tidak saling kenal, tidak punya kesadaran  atau identitas diri dan tidak dapat bergerak serempak atau terorganisir.

Milton A Maxwell dalam karyanya Introductory Sociology mengatakan: “public is the collectivity of people who are at the time interested in what going to happen on a social issues”. Jadi yang membedakan publik dengan massa adalah unsur rasionalitasnya.

Mengutip William Albig dalam karyanya Modern Public Opinion, opini publik dapat didefinisikan sebagai berikut: any expression on a controversial topic or the expression of all those members of a group who are giving attention in any way to a given issue. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana opini publik dapat dirumuskan sebagai  ungkapan keyakinan yang jadi pegangan bersama diantara para anggota kelompok (publik) tentang suatu masalah yang menyangkut kepentingan umum. Sementara  Karl Popper dalam teori pelopor opini publik   mengatakan bahwa komunikator politik berhasil membuat beberapa gagasan yang mula-mula ditolak, kemudian dipertimbangkan dan akhirnya diterima oleh khalayak.

Salah satu tujuan komunikasi politik adalah membentuk citra politik yang baik bagi khalayak via opini publik. Artinya, komunikasi  tidak secara langsung menimbulkan pendapat dan prilaku tertentu pada khalayak. Tetapi cenderung mempengaruhi cara khalayak mengorganisasikan citranya yang berujung pada pendapat dan prilakunya. Opini publik dimulai pada akhir abad XVIII dengan istilah vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan) berkaitan dengan munculnya gagasan pentingnya kemerdekaan berserikat dan mengeluarkan pendapat sebagai elemen penting membangun demokrasi. Ada empat tipe pemberi pendapat umum via pemilu: rasional, reaktif, responsif dan aktif (Arifin, 2007).

Komunikator politik  memainkan peran dalam proses pembentukan opini publik yang terdiri dari: Pertama, politikus: di dalam atau di luar pemerintahan, berpandangan nasional atau subnasional dan berurusan dengan masalah berganda atau tunggal. Kedua, profesional: jaringan media massa dan media khusus yang membentuk dan mengelola lambang-lambang dan khalayak khusus. Ketiga, aktivis  (Nimmo, 2006)

A. Pembentukan Opini Publik

Pertama, rasionalisasi: pembenaran dengan alasan semu (pseudologis). Misalnya, atasan melakukan korupsi dengan dalih demi kesejahteraan bawahan. Kedua, proyeksi: pendapat pribadi yang dimanipulir sebagai pendapat umum. Misalnya, iklan pencabutan subsidi BBM pesanan pemerintah yang menampilkan sosok Bajaj Bajuri yang seolah-olah mewakili kaum marginal menyetujui kebijakan pemerintah itu. Ketiga, identifikasi: penyesuaian opini pribadi terhadap opini kelompok. Misalnya, seorang ABG yang mengaku suka makan Pizza Hut karena tidak mau dianggap kurang gaul oleh peer group-nya. Keempat, efek band wagon: pendapat simultan yang terbawa arus. Misalnya, seseorang yang terpaksa setuju karena tidak mungkin berbeda dengan pendapat banyak orang saat terjadinya demontrasi.

B. Strategi Propaganda

Kata “propaganda” berasal dari Bahasa Inggris yang diserap dari Bahasa Latin propagare yang berarti cara tukang kebun menyemai tunas suatu tanaman ke lahan untuk mereproduksi tanaman baru yang kelak tumbuh sendiri.

Mengutip Leonard W Doob dalam karyanya Public Opinion and Propaganda mengatakan sebagai berikut: “propaganda can be called the attempt to affect the personality and control the behaviour of individual towards end considered unscientific or doubtful value in society at particular time”. Dengan kata lain, propaganda dapat dimaknai sebagai ungkapan pendapat seseorang atau sekolompok orang untuk mempengaruhi opini publik dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam artian sosio-historis  propaganda dipakai oleh Paus Urban VII dalam Congregatio de Propaganda Fide (The Congregation of Propaganda) tahun 1633 dalam misi Kristenisasi dunia. Di zaman modern digunakan oleh Menteri Propaganda NAZI Dr. Goebbels dalam PD II untuk menguasai massa.

Klasifikasi propaganda sebagai berikut: Pertama, bentuk: revealed propaganda; concealed propaganda; delayed propaganda. Kedua, bidang: commercial propaganda; political propaganda; cultural propaganda; religious propaganda; war propaganda. Ketiga, sifat: white propaganda; black propaganda; ratio propaganda; mental propaganda. Keempat, tujuan: conversionary propaganda; divisive propaganda; consolidation propaganda. Kelima,  misi dan operasional: defensive propaganda; offensive propaganda; counter propaganda.

Teknik propaganda sebagai berikut: Pertama, stereotype (gambaran karikatural terhadap pihak lawan). Kedua, name calling (pencercaan). Ketiga, selection (pemilihan fakta yang menguntungkan), Keempat, down right lying (berbohong). Kelima, repetition (pengulangan slogan). Keenam, assertion (penonjolan salah satu sisi sambil menutupi sisi lainnya). Ketujuh, delaying strategy (penundaan secara sengaja). Kedelapan, favourable argument (alasan yang menyenangkan). Kesepuluh, appeal to authority/testimonials (pengutipan pihak yang berwenang).

Salah satu bentuk propaganda adalah iklan politik dan retorika. Iklan politik dimaknai sebagai pencitraan untuk membangun reputasi pejabat publik atau pencari jabatan dengan menginformasikan kepada publik tentang kualifikasi, pengalaman, latar belakang dan kepribadian dengan tujuan mendorong dan memproyeksikan ybs.  Sementara retorika diartikan sebagai the art of using language effectively yang dipakai untuk meyakinkan publik atas kebenaran kata-kata si komunikator (baca: politikus). Dalam konteks historis, retorika  sudah digunakan kaum sofis yang sezaman dengan Sokrates di Yunani kuno 400 tahun SM.

Konsekuensi bagi komunikasi politik terjadinya pengkristalan, memperkuat atau memperkecil nilai politik. Pertama,  bersifat primer: khalayak terpengaruh dan melibatkan diri secara langsung dalam proses komunikasi politik. Kedua, bersifat sekunder: khalayak terpengaruh tetapi tidak melibatkan diri secara langsung dalam proses komunikasi politik. Ini terlihat jelas dalam kampanye politik via propaganda, retorika dan iklan politik sebagai katalisator dengan konsekuensi kognitif, afektif dan konatif (Nimmo, 2006)

VIII. Tinjauan Kritis Ideologi dan Pers Pancasila

Ideologi dapat diterjemahkan sebagai interpretasi umum untuk menilai situasi diri sendiri dan orang lain. Mengutip Franz Magnis – Suseno, ideologi dapat dilihat berdasarkan empat perspektif: Pertama, ideologi sebagai kesadaran palsu yang diintrodusir kalangan marxis. Intinya, ideologi adalah sarana kelas borjuis untuk melegitimasikan kekuasaannya atas kelas  proletar. Kedua, ideologi dalam arti netral. Artinya, sistem berpikir, nilai-nilai suatu kelompok sosial atau kebudayaan. Ketiga, ideologi sebagai keyakinan yang tidak ilmiah yang dikritik oleh kaum positivistis. Di sini ideologi  dianggap sebagai keyakinan metafisik yang tidak dapat diuji secara matematis – logis atau empiris. Keempat, ideologi dalam arti ideologis yang berarti pamrih (Magnis – Suseno, 1995).

Jika dikaitkan dengan ideologi nasional Pancasila maka pembicaraan seputar Pers Pancasila secara akademik dapat dianalisis dalam tiga perspektif: Pertama,  Pers Pancasila dalam arti mistik. Dalam hal ini ia merupakan implementasi ideologi Pancasila dalam kehidupan pers yang dianut rezim Orde Baru. Kedua, Pers Pancasila sebagai watch dog terhadap proses politik tetapi tidak setuju dengan pers liberal yang dipelopori oleh wartawan senior Mochtar Lubis (alm). Ketiga, Pers Pancasila dalam pandangan realistis yang melihat fenomena pers tipikal dunia ketiga yang mengembangkan ruang gerak kebebasan berekspresi sambil bergerilya secara politik yang dikembangkan oleh wartawan senior Rosihan Anwar (Lubis, 1993).

Jika pers perjuangan di masa  revolusi yang bertujuan merebut dan mempertahankan kemerdekaan dengan aksentuasi pada masalah sosial dan politik,  maka  Pers Pancasila sering dimaknai dengan istilah pers pembangunan yang diintrodusir oleh Orde Baru, yaitu: pers yang bebas dan bertanggung jawab. Tetapi dalam tahap praksis lebih banyak tanggung jawabnya daripada bebasnya. Ini terlihat dari banyaknya regulasi eksternal yang membelenggu kehidupan pers seperti SIT, SIUPP dan lain-lain. Seiring berubahnya pendulum politik pasca reformasi bekas Presiden BJ Habibie mengesahkan UU No. 40/1999 sebagai pengganti UU No. 21/1982 yang antara lain meniadakan SIUPP. Puncaknya dibubarkannya Deppen oleh bekas Presiden Abdurrahman Wahid. Tetapi terjadi antiklimaks ketika bekas Presiden Megawati Soekarnoputeri mendirikan Depkoinfo yang dicurigai kalangan pers sebagai reinkarnasi roh Deppen.

IX. Otoritas dan Legitimasi Politik

Otoritas (authority) atau wewenang adalah kekuasaan yang dilembagakan yang menuntut ketaatan. Sementara legitimasi adalah mempertanyakan keabsahan suatu otoritas atau wewenang di atas. Sementara politik diartikan sebagai polis (city state) yang kemudian menjadi politikos (kewarganegaraan) yang bermuara menjadi politera (hak-hak kewarganegaraan). Ini semua  merujuk pada perspektif Yunani kuno 400 tahun SM.

A. Legitimasi Materi Otoritas (Fungsi)

Pertama, hukum sebagai lembaga penataan masyarakat yang normatif. Kedua, negara sebagai lembaga penataan efektif dalam mengambil tindakan politik.

B. Legitimasi Subyek Otoritas (Dasar)

Pertama, legitimasi religius: legitimasi adikodrati yang menurut paham positivistis tidak ilmiah karena tidak logis secara nalar dan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Kedua, legitimasi eliter:  legitimasi atas dasar kecakapan khusus. Ini bisa mengambil bentuk: aristokrasi (kasta); pragmatis (militer); ideologis (PKC); teknokratis (ilmuwan). Ketiga, legitimasi demokratis adalah legitimasi berdasarkan pemilu yang jurdil sebagai manifestasi kedaulatan rakyat.

C. Kriteria Legitimasi

Pertama, legalitas: otoritas yang sesuai dengan hukum positif. Kedua, legitimasi sosiologis (motif): tradisional (ningrat); kharismatik (simpati); legal – rasional (hukum). Ketiga, legitimasi etis: otoritas yang sesuai dengan norma moral (etika politik) (Magnis – Suseno, 1999).

X. Politik Fiksi dan Fiksi Politik

Kalau dianalisis dengan logika bahasa Indonesia dengan hukum DM (Diterangkan – Menerangkan) maka politik fiksi dapat diterjemahkan sebagai permainan politik yang dilegitimasikan melalui fiksi. Misalnya, mitos seputar Soekarno putera sang fajar yang menyebut dirinya secara geneologis berkaitan dengan keturunan raja-raja Jawa – Bali dan mempengaruhi gaya komunikasi politiknya yang over confidence di tengah massa rakyat. Begitu pula dengan mitos Soeharto anak desa yang terlihat dari gaya komunikasi politiknya yang merakyat ala “kelompencapir” di hadapan masyarakat desa umumnya dan petani khususnya.  Kalau Soekarno mencari legitimasi sosiologis kekuasaan secara vertikal (raja) maka Soeharto secara horizontal (protelariat). Muaranya tetap sama, yaitu: pengakuan dari rakyat atas eksistensinya sebagai elite yang berkuasa.

Sementara fiksi politik diartikan  sebagai karya sastra yang dilatarbelakangi oleh peristiwa politik yang benar-benar terjadi meskipun tokohnya dibuat fiktif. Kemudian ini dijadikan sebagai kritik sosial terhadap realitas politik kontemporer. Misalnya, novel karya Romo YB Mangunwijaya  (alm) dan Paramoedya Ananta Toer (alm).

Bibliografi

Alfian. Komunikasi Politik dan Sistem Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993.

 

Arifin, Anwar. Komunikasi Politik: Paradigma, Teori, Aplikasi, Strategi dan Komunikasi Politik Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007.

 

Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia, 1986.

 

Budiman, Arief. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995.

 

Bulkin, Farchan. “Kapitalisme, Golongan Menengah dan Negara: Sebuah Catatan Penelitian” artikel dalam Prisma No.2/1984.

 

Dahlan, Alwi. “Perkembangan Komunikasi Politik Sebagai Bidang Kajian” artikel dalam Jurnal Ilmu Politik No.6. Jakarta: PT. Gramedia, 1990.

 

Lubis, Todung Mulya. In Search of Human Rights: Legal – Political Dilemmas of Indonesia’s New Order, 1966 – 1990. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993.

 

MacAndrew, Collin. et. al. Perbandingan Sistem Politik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993.

 

Magnis – Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

 

_____________________. Etika Politik: Prinsip-Prinsip Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999.

 

Malik, Dedy Djamaluddin. “Media Massa dan Krisis Komunikasi Politik: Menguatnya Infra dan Melemahnya Suprastruktur Politik” Kata Pengantar dalam Novel Ali. Peradaban Komunikasi Politik: Potret Manusia Indonesia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999.

 

Manurung, Pappilon H. Komunikasi dan Kekuasaan. Yogyakarta: Fisip Unika Atma Jaya, 2007.

 

Mas’oed, Mohtar. Politik, Birokrasi dan Pembangunan.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994.

 

Nimmo, Dan. Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan dan Media (terj.).. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006.

 

___________. Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. (terj.). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006.

 

Rahardjo, M. Dawam (ed.). Kapitalisme Dulu dan Sekarang. Jakarta: LP3ES, 1987.

 

Sumarsono. et.al. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES, 1994.

 

Usman, Sunyoto. Elite dalam Perspektif Sosiologi: Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fisipol UGM, 1990.

 

Varma, SP. Teori Politik Modern (terj.). Jakarta: Rajawali Press, 1992.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komunikasi Internasional

Pengantar

Tragedi 9/11 yang terjadi delapan tahun lalu masih meninggalkan trauma baik bagi AS maupun negara-negara muslim yang menjadi “kambing hitam” atas luluh-lantaknya WTC dan Pentagon: simbol kedigdayaan ekonomi dan militer AS. Sebagai mana diketahui, telunjuk bekas Presiden George Walker Bush langsung diarahkan kepada Osama bin Laden dengan Al Qaeda-nya sebagai dalang utama peristiwa September hitam ini. Epilognya sudah sama-sama kita ketahui, stigma teroris tidak hanya menempel pada sosok Osma bin Laden dan jaringan Al Qaeda. Tetapi juga meluas ke seluruh negara muslim. Pemerintah Taliban di Afganistan pun ikut terguling dari kekuasaan karena dianggap melindungi sang teoris yang paling diburu hidup atau mati itu, yang sampai tulisan ini dibuat masih tetap lolos dari kepungan mesin perang AS. Ironisnya, Bush Jr pun kini digantikan oleh Presiden Barrack Hussein Obama yang setengah negro dan berayah seorang muslim asal Kenya. Ini keluar dari mainstream politik AS WASP (White, Anglo Saxon, Protestant). Nama akhirnya pun sekilas mirip dengan musuh bebuyutannya. Hanya berbeda huruf “B” dan “S” saja.
Kita pun perlu bertanya: siapa sebetulnya yang layak disebut teroris itu? Osama, Bush Jr atau Obama yang mau tampil beda dan tidak mau disamakan dengan pendahulunya itu. Hanya sejarah yang mencatat dan waktu yang bisa menjawabnya. Kata “teroris” itu pun memerlukan telaah linguistik. Noam Chomsky menyebut istilah news peg yang sadar atau tidak dimanipulasi oleh media massa yang tidak hanya sekedar memetakan realitas. Tetapi sekaligus merekonstruksinya. Dalam konteks terakhir inilah terletak signifikannya kajian komunikasi internasional. Sebagai ilustrasi, eksistensi televisi satelit Qatar Al Jazeera sebagai televisi alternatif yang lebih dipercaya oleh Osama daripada televisi sekelas CNN menarik untuk dikaji. Reputasi CNN merosot drastis ketika tunduk pada kemauan pemerintah Bush Jr untuk tidak menayangkan rekaman video Osama. Sebab kuatir rekaman ini berisi semacam bahasa sandi untuk mengadakan serangan berikutnya. Kecaman pun bermunculan, termasuk dari bekas wartawan CNN Peter Arnett yang dulu sempat mewawancarai bekas Presiden Irak Sadam Hussein (alm) dalam era Perang Teluk. Tindakan ini juga bertentangan dengan amandemen pertama konstitusi AS.
Di sela-sela tugas mengajar yang menyita tenaga dan waktu, sebagai dosen yang mengajar mata kuliah: Komunikasi Internasional, saya pun berusaha menulis semacam diktat kuliahnya. Ini dengan harapan tulisan ini bukan dijadikan semacam bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Sebab ia hanya memuat pokok-pokok pemikian penulisnya. Kajian yang lebih rinci bisa dilihat pada referensi aslinya. Apalagi perkembangan ilmu pengetahuan via IT sangat pesat. Sehingga tidak tertutup kemungkinan referensi yang menjadi acuan tulisan ini pun sudah out of date.
Akhirnya, kutip-mengutip dalam karya ilmiah merupakan hal yang wajar sejauh menyebutkan sumbernya aslinya untuk menghindari tudingan plagiat. Jika terdapat banyak kekeliruan di sana-sini sehingga menurut Anda tulisan ini tidak layak dianggap sebagai tulisan ilmiah, maka sejujurnya maafkanlah saya untuk tidak minta maaf. Sebab lebih bermartabat jika Anda pun membuat tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya dalam rangka dialektika ilmiah. Sekian.

I. Introduksi
Pembicaraan tentang komunikasi internasional mencakup pula disiplin ilmu hubungan internasional; komunikasi politik; komunikasi antarbudaya. Ini dimungkinkan karena disiplin ilmu komunikasi umumnya dan komunikasi internasional khususnya bersifat interdisipliner (Bride, 1980). Misalnya, kutipan dari Encyclopedia Americana tentang konsep ilmu hubungan internasional sbb:
“International relationships denotes the interaction among nations or among individuals of different nations. Such relations maybe political, cultural, economic or military. The concept is closely related to, and often includes, such subject as international diplomacy, international communication and international organization”.
Jelas terlihat bahwa komunikasi internasional adalah bagian dari hubungan internasional. Selanjutnya, mengingat kajian komunikasi internasional ini menembus batas-batas negara dengan budaya yang berbeda maka kajian komunikasi antarbudaya pun tidak bisa dihindari. Pakar komunikasi budaya Edwin R McDaniel mengatakan, “intercultural communication occurs whenever a person from one cultural sends a message tobe processed by a person from a different culture”.
Dalam konteks komunikasi internasional dampak dari perkembangan IT terjadilah peluberan informasi (spill over of information) yang bisa melahirkan masyarakat informasi menurut Naisbitt atau semacam global village menurut Toffler yang bukan tidak mungkin berujung pada sejenis imperialisme budaya (Schiller, 1976);
Tulisan ini membahas enam pokok bahasan: Pertama, membahas konsep dasar komunikasi dan komunikasi internasional. Kedua, menjelaskan proses terjadinya komunikasi internasional. Ketiga, menganalisis perkembangan dan dimensi komunikasi internasional. Keempat, membandingkan sistem komunikasi internasional dalam konteks ideologinya. Kelima, memperlihatkan adanya ketimpangan arus informasi internasional antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang atau miskin. Keenam, memaparkan opini publik dan propaganda dalam komunikasi internasional.
II. Konsep Dasar Komunikasi dan Komunikasi Internasional
Sebelum berbicara panjang lebar tentang komunikasi internasional, sebaiknya dianalisis dulu apa yang dimaksud dengan komunikasi itu. Untuk melacak asal-usul komunikasi harus dikaji dulu perkembangannya di Eropa dan AS. Sebab dari yang disebut pertama, khususnya Jerman inilah cikal-bakal perkembangan disiplin ilmu komunikasi di Indonesia yang dahulu disebut publisistik. Ini berasal dari publizistikwissenshaft. Sementara kontribusi AS berujung pada mass communication science.
Publizistikwissenshaft yang diindonesiakan menjadi publisistik berasal dari zaitungwissenshaft (ilmu persuratkabaran). Perkembangan selanjutnya, obyek penelitian publisistik bukan lagi sekedar surat kabar, tetapi pernyataan umum (offeticheaussage). Artinya, ilmu ini mencoba memahami dan mengendalikan tindakan khalayak yang manisfestasinya terlihat dalam pernyataan umum yang aktual. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menempatkan pernyataan yang tidak umum dan aktual. Dari sinilah titik tolak kajian komunikasi.
A. Gambaran Umum Komunikasi
Seperti yang disebutkan semula, komunikasi berkembang di AS yang juga berasal dari jurnalistik, mirip zaitungskunde di Jerman yaitu sejenis ketrampilan dalam dunia persuratkabaran. Sebelumnya ia hanya bagian dari departemen Bahasa Inggris di berbagai perguruan tinggi AS dengan nama speech communication. Pasca PD II pakar politik, sosiologi dan psikologi seperti Harold D Lasswell. Paul Lazarfewld dan Cari I Hovland memperluas kajian jurnalistik ke bidang radio, televisi dan film. Kelak menjadi mass communication, peleburan speech communication dengan mass communication menjadi communication science. Konsekuensinya, obyek studi komunikasi bukan lagi sekedar pernyataan umum (publisistik); surat kabar (jurnalistik); retorika (speech communication); media massa (mass communication). Tetapi telah menjadi pernyataan antarmanusia (human communication).
Mengutip Wilbur Schramm, komunikasi itu sangat ekletif. Dengan sedikit anekdot ia mengatakan komunikasi ibarat jalan simpang yang ramai dengan segala macam disiplin ilmu yang melintasinya. Terlihat dari para pakar komunikasi yang berasal dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Misalnya, Harold D Lasswell (politik); Carl I Hovland (psikologi); Charles W Wright (sosiologi), Shannon dan Weaver (matematika); Wilbur Schramm (linguistik).
Pengaruh psikologi dan sosiologi jtermasuk fisika sangat besar terhadap disiplin ilmu komunikasi. Hal ini melahirkan berbagai paradigma komunikasi. Paradigma dimaknai sebagai pandangan mendasar suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi subject matter yang semestinya dipelajari. Menurut Thomas S Khun ilmu tidak berkembang secara kumulatif tetapi secara revolusioner. Begitu pula dengan ilmu komunikasi yang melahirkan dua kelompok paradigma: paradigma lama (mekanis) dan paradigma baru (psikologis; interaksional; pragmatis) yang akan dijelaskan di bawah ini:
a. Paradigma mekanis: dipengaruhi oleh fisika klasik dengan mengkonseptualisasikan komunikasi sebagai proses mekanistis antarmanusia. Pesan mengalir melintasi ruang dan waktu dari komunikator ke komunikan secara simultan. Lokusnya (eksistensi empirik) terletak pada channel. Doktrin mekanis ini berdasarkan logika sebab-akibat dengan tekanan pada efek, metode ekperimental dan kuantitatif.
b. Paradigma psikologis: komunikasi dimaknai sebagai mekanisme internal penerimaan dan pengolahan informasi pada diri manusia. Lokusnya pada filter of conceptual individu ybs. Pandangan ini dipengaruhi oleh psikologi sosial. Sehingga komponennya bukan lagi komunikator dan komunikan semata melainkan stimulus dan respon. Metodenya masih ekperimental dan kuantitatif.
c. Paradigma interaksional: dipengaruhi oleh sosiologi khususnya interaksi simbolis. Komunikasi dimaknai sebagaim proses interaksi manusiawi dengan lokus peran sosial manusia dalam tindakan sosialnya. Dunia panggung sandiwara, lagu yang dipopulerkan oleh vokalis God Bless Ahmad Albar sedikit banyak bisa menjelaskan paradigma ini. Metodenya fenomenologis, analisa kontekstual dan kualitatif.
d. Paradigma pragmatis: masih dipengaruhi oleh sosiologi khususnya teori sistem. Komunikasi dipahami sebagai sistem prilaku yang berurutan berupa pola interaksi, sistem, struktur dan fungsinya. Metodenya hanya dimungkinkan dengan menggunakan analisa kualitatif.
B. Komunikasi Internasional
“International relationships denotes the interaction among nations or among individuals of different nations. Such relations maybe political, cultural, economic or military. The concept is closely related to, and often includes, such subject as international diplomacy, international organization and international communication” (Encyclopedia Americana). Dari kutipan di atas terlihat bahwa komunikasi internasional adalah bagian dari hubungan internasional.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kajian komunikasi internasional ini menembus batas-batas suatu negara dengan politik dan kultur yang berbeda. Ini jelas memerlukan pula kajian komunikasi politik dan komunikasi antarbudaya. Sebab kajian komunikasi umumnya dan komunikasi internasional khsususnya sangat interdisipliner (Bride, 1980). Mengutip pakar komunikasi Gerhard Malezke: “Intercultural communication is an exchange of meaning berween culture. Meanwhile international communication take place on the level of countries or nations of different culture, which is to say across frontiers”.
Peluberan informasi (spill over of information) akibat perkembangan IT dalam konteks komunikasi internasional tidak tertutup melahirkan sejenis imperialisme baru berupa imperialisme komunikasi (Galtung, 1971) atau imperialisme budaya (Schiller, 1976). Disamping melahirkan revolusi komunikasi dengan global village yang diperkenalkan oleh Alvin Toffler atau masyarakat informasi menurut John Naisbitt.
Meminjam konsep Jalaluddin Rakhmat, komunikasi internasional dipahami sebagai komunikasi yang dilakukan oleh komunikator yang mewakili suatu negara untuk menyampaikan pesan yang berkaitan dengan berbagai kepentingan negaranya kepada komunikan yang juga mewakili negaranya dengan tujuan memperoleh saling pengertian. Konsep ini menjelaskan bahwa komunikasi internasional merupakan gabungan antara komunikasi dengan hubungan internasional yang bermuara pada diplomasi internasional melalui media massa yang secara teoritis lebih dekat pada komunikasi massa.
III. Proses Komunikasi Internasional
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam konteks teoritis komunikasi internasional termasuk pada kajian komunikasi massa. Dengan demikian prosesnya pun hamper sama dengan komunikasi massa. Mengutip ilmuwan politik AS Harold D Lasswell dalam karyanya Propaganda Technique in The World War, yang juga pendiri Institute for Propaganda Analysis untuk mengantisipasi NAZI Jerman, mengatakan mass communications is who says what in which channel to whom with what effect.
Terlihat jelas tesis Lasswell di atas termasuk dalam kategori paradigma mekanis yang diintrodusir Fisher dengan tekanan pada effect. Ia mengatakan communication is a process by which a source intentionally change the behaviour of a receiver. Pendapat ini juga didukung oleh Carl I Hovland yang mengatakan communication is the process by which an individual (source) change the behaviour of other individuals (audience). Meskipun agak berbeda, tetapi substansinya sama, pakar linguistik Wilbur Schramm dalam karyanya The Process and Effect of Mass Communication menggunakan istilah paradigma sirkular dalam mengkaji how communication work yang mencakup encoder interpreter dan decoder.
Kembali ke Lasswell, ia menyimpulkan bahwa proses komunikasi internasional sebagai berikut: Pertama, who: institutionalized person. Kedua, says what: a message has dimensions in the time and space. It has some structure, it may have a read or listen to or look at. The qualities too contribute to the total response a receiver makes to it. Ketiga, in which channel: the principle channel through which ideas are exchange among nations include international news service and the press, radio and television, film, book and other publication, cultural event and personal contacts pass through national boundaries. The mechanism, as well as, subsidiary ones such as international mail service, telecommunication and recordings are patched together to form a tangled network. Keempat, to whom: international audience. Kelima, with what effect: bullet theory or hypodermic needle (the all powerful media are able to impress ideas defenceless mind); limited effect model (such that opinion leader typically render mass communication a contributory agent, but not the sole cause, in a process of reinforcing the existing conditions); moderate effect model (audience perspective, the use and gratifications, the agenda setting and the culture norm theory).
IV. Perkembangan dan Dimensi Komunikasi Internasional
A. Masalah dan Bidang Perkembangan
Ada 4 (empat) masalah utama dalam perkembangan komunikasi internasional. Pertama, kebebasan versus kontrol terhadap arus informasi atau kebebasan dan keseimbangan arus informasi (free flow of information versus control of information or free flow and balance of information). Kedua, budaya dan imperialisme media (cultural and media imperialism). Ketiga, jaringan komunikasi antardua negara atau lebih yang menembus batas wilayah nasionalnya (communication network of two or more countries pass through national boundaries). Keempat, berita dan informasi versus hiburan dan materi budaya dalam perspektif analisis isi (news and information versus entertainment and cultural materials in content analysis perspective).
Sementara itu ada 4 (empat) bidang perkembangan komunikasi internasional, yaitu:
1. Penelitian:
a. Tidak jelasnya perbedaan antara kajian volume dan arus informasi internasional (transactional analysis technique) yang menggunakan statistik ekonometri dengan kajian liputan berita internasional di berbagai media massa (content analysis).
b. Jarang ada penelitian jangka panjang (longitudinal analysis) yang mempertimbangkan perubahan konstelasi politik dan hubungan internasional sangat langka. Misalnya, liputan pers tentang RRC dari masa Mao Tse Tung sampai masa Deng Xioping. Atau Iran di masa Syah Reza Pahlevi sampai di masa Imam Khomeini.
c. Langkanya analisis korelasional (correlational analysis) yang menelaah liputan dan arus informasi internasional dengan faktor-faktor struktural yang mempengaruhi proses komunikasi internasional.
d. Terjadi ketimpangan analisis pola arus informasi internasional secara menyeluruh. Sebab titik beratnya selama ini lebih tertuju pada kajian negara maju (baca: Barat) seperti AS, Amerika Utara dan Eropa Barat. Dalam konteks perbandingan media massa juga terjadi ketimpangan komposisi surat kabar, majalah, radio dan televisi.
2. Metodologi:
a. Pendekatan Geografis (geographical approach): mengkaji arus informasi dan liputan internasional pada suatu bangsa atau negara dengan lingkup dunia. Misalnya, karya H.D. Fisher dan John Merril (ed.) International and Intercultural Communication.
b. Pendekatan Media (media approach): mengkaji berita-berita internasional dalam suatu media atau multi media. Misalnya, karya Edwar W. Said Covering Islam: How The Media and The Experts Determine How We See The Rest of The World.
c. Pendekatan Peristiwa (event approach): membandingkan sistem pers antarbangsa atau negara. Serta menelaah penyebaran arus berita internasional berdasarkan ideologi negara ybs. Misalnya, karya L. John Martin dan Anju Grover Chaundhary Comparative Mass Media System.
3. Perspektif:
a. Jurnalistik: mempelajari aspek-aspek jurnalistik internasional dan dampak yang ditimbulkannya.
b. Diplomatik: dilakukan melalui jalur diplomasi antarpejabat tinggi negara untuk memperluas pengaruh dan mengatasi salah pengertian antara negara yang diwakilinya. Tekanannya pada proses dan teknik komunikasi dalam berdiplomasi. Bukan pada materi diplomasi yang menjadi obyek kajian disiplin ilmu hubungan internasional.
c. Propaganda: menelaah penggunaan media komunikasi internasional dalam rangka menuangkan ide atau gagasan untuk mengubah opini internasional yang ditujukan pada bangsa atau negara lain.
4. Teori:
Mengutip pakar komunikasi dan linguistik Wilbur Schramm terdapat 4 (empat) kajian sbb:
a. Pola arus berita internasional (the patterns of international news flow).
b. Sifat dan tipologi liputan berita internasional (the nature and type of international news coverage).
c. Struktur organisasi berita internasional dan prilaku jurnalisnya (the structure of international news organization and the behaviour of journalist in the organization).
d. Faktor-faktor struktural yang mempengaruhi arus dan liputan berita internasional (the structural factors affecting international news flow and coverage).
Menurut Schramm, keempat penjelasan di atas dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor berikut: the ownership of the great avenues or exchange agencies; the ownership of long distance telecommunication facilities; the concentration of wealth, technology and power in a few highly developed nations.
Ini dibenarkan oleh Guru Besar jurnalistik Universitas Georgia AS, Al Hester yang mengatakan arus informasi sebagai variabel bebas. Sedangkan kekuasaan, kesamaan budaya dan persekutuan ekonomi sebagai variabel terikat.
B. Dimensi Komunikasi Internasional
Pertama, politik: semua negara pasti merasakan pentingnya sistem komunikasi dalam kehidupan politiknya. Yang perlu dicatat corak atau bentuk sistem komunikasinya secara teoritis tergantung pada sistem politik yang berlaku di negara tersebut. Namun yang jelas semuanya bermuara pada kebebasan mengeluarkan pendapat. Tesis ini bisa dilacak jauh sampai kepemikiran Yunani kuno. Mulai dari zaman Sokrates, Plato dan Aristoteles yang menelaah konsep “yang baik”, “negara ideal” dan “politik”.
Kedua, ekonomi: perkembangan teknologi informasi yang diawali dengan penemuan mesin cetak oleh Gutenberg tahun 1453, radio telegram oleh Marconi tahun 1895 dan televisi pertama di AS tahun 1927 telah mengubah wajah komunikasi dari human communication menjadi mass communication. Komunikasi tidak lagi sekedar fenomena sosiologis tetapi sekaligus punya dimensi ekonomi. Dalam konteks Indonesia munculnya istilah pers konglomerat dan konglomerat pers seakan menjadi pembenarnya. Misalnya, Jakob Oetama dengan KKG (Kelompok Kompas Gramedia)-nya dan Surya Paloh dengan kelompok Media Indonesia-nya.
Ketiga, budaya: selain itu media komunikasi juga merupakan alat kultural. Inilah yang disebut Schiller sebagai imperialisme budaya yang disokong oleh iklan sebagai ujung tombak kapitalisme internasional yang didominasi Barat. Ia mengatakan, “the cultural penetration that has occurred in recent decade embraces all the socializing institutions of the host area and the impact of the penetration is felt through out the realm of individual and social consciousness in the penetrated provinces” (Schiller, 1976). Dengan demikian, ketika kita makan ayam goreng Kentucky Fried Chicken, minum Coca Cola dan menonton film Rambo maka semua itu bukan sekedar makanan, minuman atau tontonan. Tetapi sekaligus produk budaya. Budayawan dan bekas Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Goenawan Mohammad mengintrodusir konsep imogologi: ketika ideologi dikalahkan oleh realitas dan realitas dikalahkan oleh image.
V. Perbandingan Sistem Komunikasi Internasional
Perbedaan sistem komunikasi internasional didasarkan pada sistem politik (baca: ideologi) negara ybs. Mengutip Siebert secara garis besar ada 4 (empat) kelompok sistem komunikasi sbb:
A. Otoriter (authoritarian):
Sistem ini memandang kedudukan negara lebih tinggi daripada individu. Dalam konteks komunikasi, terjadi pengendalian yang ketat atas komunikasi massa. Secara filosofis, sistem ini dapat dilacak dari pemikiran filsuf Yunani kuno: Plato (428 – 348 SM) dalam karyanya The Republic yang mengemukakan tipe pemimpin ideal sebagai raja filosof; filsuf Italia Nicollo Machiavelli (1469 – 1527) dalam karyanya Il Principe (Sang Pangeran) yang intinya dalam situasi chaos dibutuhkan seorang pemimpin otoriter yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan; filsuf Inggris Thomas Hobbes (1588 – 1679) dalam karyanya Leviathan yang melihat manusia secara intelektual tidak jauh berbeda dengan hewan. Tesisnya yang sangat terkenal homo homini lupus; filsuf idealis Jerman Georg Wilhelm Friedrich Hegel yang mengilhami konsep negara fasis NAZI Hitler di Jerman. Ia mengatakan, “the march of God in the world, that the state is”.
B. Liberal (libertarian)
Sistem ini sangat mendukung the free market of idea. Dapat dilacak dari pemikiran filsuf rasionalis Perancis Rene Descartes, “Cogito Ergo Sum” (aku berpikir aku ada); filsuf empiris Inggris John Locke (1632 – 1704) dengan karyanya Social Contract dan John Stuart Mill (1806 – 1873) dengan karyanya On Liberty yang intinya menghendaki kebebasan berpendapat. Termasuk kebebasan berekspresi melalui media massa.
C. Komunis Soviet (soviet communist concept)
Konsep ini tidak lain dari new authoritarian yang berdasarkan pemikiran Karl Marx (1818 – 1883). Ia mengatakan ide adalah manifestasi dari dunia materi. Pemikirannya diadobsi oleh Bapak pendiri USSR Vladimir Oeljanov Lenin (1870 – 1924) yang mengatakan, “freedom of the press is one of the keynote of pure democracy. This freedom is a lie so long as the best printing works and the largest stocks of paper are in capitalist hands. Meanwhile the independence of the Bolshevic press rest in the closes dependence on the working class” (Martin, 1983).
D. Tanggung Jawab Sosial (social responsibility)
Ini tidak lain dari new libertarian sebagai reaksi atas konsep libertarian yang dalam tingkat praksis identik dengan kapitalisme dalam kepemilikan media. Hakekat sistem ini, setiap orang harus punya akses yang sama ke media massa (Rachmadi, 1990).
Mengakhiri topik ini akan dibahas sedikit tentang sistem komunikasi internasional di Barat: AS, Inggris dan Perancis. Media massa AS sangat private ownerships yang eksistensinya bertumpu pada advertising. Semangatnya free fight liberalism. Namun demikian, untuk mengawasi media massa agar tidak “kebablasan” ada lembaga FCC (Federal Communication Commission) yang berfungsi sebagai the watch dog of the press. Sejarah komunikasi AS dimulai dengan zaman keemasan radio tahun 1940 – 1950. Diantaranya CBS (Columbia Broadcasting System) dan ABC (American Broadcasting Company). Pengaruh iklan membuat mutu siarannya dianggap rendah. Kemudian muncullah ETV (Education Television) yang bersifat regional.
Di Inggris Sir Hugh Greene mendirikan BBC (British Broadcasting Coorporation) yang harus steril dari pengaruh para politisi. Kemudian muncul IBA (Independence Broadcasting Authority). Baik BBC maupun IBA diberi wewenang dalam siaran radio dan televisi di seluruh Inggris Raya. Struktur BBC terdiri dari 12 gubernur, redaksi, administrasi dan instalasi yang semuanya diangkat oleh Ratu Inggris atas usul parlemen. Tetapi sifatnya tidak partisan dengan masa jabatan 5 tahun. Sebagai media massa BBC bersifat publik dan tidak menerima pemasukan dari iklan sama sekali.
Berbeda dengan di Inggris yang media massanya berfungsi sebagai alat kontrol terhadap pemerintah yang berkuasa maka di Perancis sejarahnya dimulai sebagai transmisi tindakan pemerintah. Awalnya, baik radio maupun televisi didirikan oleh pendukung Jenderal De Gaulle pemimpin Perancis dalam PD II menghadapi fasis NAZI Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Didirikanlah ORTF (Organization de Radio Diffusion Television) yang merupakan subordinasi partai pendukung De Gaulle. Tetapi tahun 1975 dibubarkan oleh parlemen dengan membentuk Dewan Administratif yang terdiri dari dari 2 wakil pemerintah, 1 wakil parlemen, 1 wakil pers dan 1 wakil pegawai dinas kebudayaan. Untuk mengawasi kinerjanya Dewan Menteri di Paris membentuk Delegation Parlementerie Pour la Radio Diffusion Televison Francaise (Martin, 1983).
VI. Ketimpangan Arus Informasi Internasional
Johan Galtung dalam karyanya A Structural Theory of Imperialism menyatakan penyebaran informasi dari negara maju (baca: Barat) ke negara-negara berkembang dan miskin (baca: Non Barat) berpola interaksi feodal yang menguntungkan pihak pertama.
Dalam konteks komunikasi internasional manifestasinya berupa imperialisme media yang tidak lain berupa peluberan informasi yang tidak berimbang antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang dan miskin. Ini mencakup 3 (tiga) aspek: politik informasi (political aspect of information); hukum informasi (legal aspect of information); teknik dan keuangan informasi (technico-financial aspect of information).
Dengan kata lain, negara-negara berkembang dan miskin cenderung menjadi konsumen daripada produsen informasi internasional. Bisa dicermati di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Berita dari negara-negara berkembang dan miskin yang biasanya terletak di Asia, Afrika dan Amerika Latin biasanya didominasi informasi seputar kemiskinan, keterbelakangan, pengangguran, bencana alam, kudeta milter dll. Sebaliknya informasi dari negara-negara maju seperti AS dan sekutu Eropa-nya, biasanya berupa informasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dll.
Dalam konteks politik konflik Palestina versus Israel dapat dijadikan ilustrasi yang menarik. Dengan dukungan finansial dan lobby politik Yahudi di AS mereka mampu mempengaruhi opini dunia via media massa yang mereka kuasai untuk menciptakan stereotype bahwa Arab umumnya dan Palestina khususnya sebagai teroris (Azra, 1996). Terlebih pasca peristiwa black September 9/11 delapan tahun yang lalu. Serta menjadikan Osama ibn Laden dengan Al-Qaeda-nya sebagai terdakwa utama.
Berbagai usaha untuk memperbaiki kondisi ini pernah dijalankan. Diantaranya ide membentuk Tatanan Informasi Internasional Baru (The New World Information Order) dari pihak Barat pun terkesan bermakna ideologis (baca: pamrih). Ini dicetuskan oleh manajer eksekutif Associated Press Kent Cooper meniru Reuter Inggris yang menggunakan teknologi kabel laut yang mendapat dukungan Federal Communication Commission. Pasca PD II didukung lagi oleh American Society of Newspaper Editor. Selanjutnya pada bulan Februari 1945 di Mexico City gagasan ini diterima oleh Inter-American Conference on Problem of War and Peace. Kemudian dipraktekkan di negara-negara Amerika Latin dan berdasarkan resolusi no. 59 tanggal 14 Desember 1945 diterima oleh UNESCO-PBB sebagai hak atas informasi adalah hak fundamental manusia. Tahun 1948 di Jenewa-Swiss berlangsung konferensi PBB tentang kebebasan informasi dengan hasil: 30 setuju; 5 abstain (Cekoslavakia, Ukraina, Belarusia, Yugoslavia dan USSR); 1 tidak setuju (Polandia). Inilah kemudian yang mendasari Declaration of Human Right pasal 19 yang berbunyi’ “Hak kebebasan memegang keyakinan dan ide melalui media tidak mengenal perbatasan”.
Di sisi lain negara-negara berkembang dan miskin pun tidak tinggal diam mengatasi ketimpangan yang makin menganga dengan negara-negara maju. Sebab yang sebenarnya mereka butuhkan adalah tatanan kebebasan dan keseimbangan arus informasi (free flow and balance of information order). Ini mencakup beberapa faktor sebagai berikut: hukum internasional; politik internasional; teknologi komunikasi; hegemoni dan dominasi budaya. Dalam KTT Non Blok di Peru tahun 1975 muncul NANAP (Non Aligned News Agency’s Pool) dan BONAC (Broadcasting Organisation of Non Aligned Countries) di Sarajevo-Yugoslavia pada bulan Oktober 1977 yang mengajukan usulan A New World Economic Order dan A New International Information and Communication Order. Setahun sebelumnya dalam KTT Non Blok diadakan Symposium on Information di Tunisia tahun 1976 muncul IGC (Intergovernmental Council for the Coordination of Information and Mass Communication) yang menghasilkan free flow of news, cultural, imperialism, information order, technology transfer yang diajukan ke PBB dalam IPDC (International Programme for the Development of Communication).
Masalahnya, ini tidak menguntungkan negara-negara berkembang dan miskin. Dalam konteks negara-negara Amerika Latin ada ECLAC (Economic Commission for Latin America). Pakar teori ketergantungan Andre Gunder Frank dalam karyanya Capitalism and Underdevelopment in Latin America telah lama mengatakan hal ini. Ini diperkuat rekannya Theotonio Dos Santos yang mengindentifikasi dua jenis ketergantungan: kolonial dan finansial-industrial. Data dari Bank Dunia menyatakan bahwa sekitar 19% negara-negara maju memiliki 64,5% GNP dunia. Sebaliknya 32,6% sisanya bagi negara-negara berkembang dan miskin yang hanya berkisar 4,4% GNP dunia. Ironisnya, di sini bermukim sekitar 1,5 milyar manusia. Sementara UNESCO melalui International Comission for The Study of Communication Problem mencatat dua hal. Pertama, ketimpangan sistem informasi internasional: 2/3 didominasi oleh negara-negara maju. Sementara hanya 1/4 untuk negara-negara berkembang dan miskin. Kedua, informasi seputar negara-negara berkembang dan miskin pun didominasi oleh berita negatif. Kondisi ini diperparah dengan merajalelanya paham neoliberalisme yang berlindung di balik konsep globalisasi dengan pemain utamanya MNC’S. Mengutip Martin Albrow, “globalization refers to all those process by which the people of the world are incorporated into a single world society, global society to borderless world.
VII. Opini Publik dan Propaganda dalam Komunikasi Internasional
A. Proses opini publik
Mengutip Milton a Maxwell dalam Introductory of Sociology: “Public is the collectivity of people who are at the time interested in what is going to happen on social issues”. Sementara William Albig dalam Modern Public Opinion mengatakan: “Public opinion is any expression on a controversial topic or the expression of all those members of a group who are giving attention in any way to a given issue”.
Sementara proses terjadinya opini publik dalam 4 (empat) bentuk sebagai berikut:
1. Rasionalisasi: pembenaran dengan alasan semu (pseudologis). Misalnya, korupsi atasan dengan dalih demi kesejahteraan bawahan.
2. Proyeksi: pendapat penguasa yang dimanipulasi seolah-olah pendapat rakyat. Misalnya, iklan kenaikan harga BBM dengan tokoh Bajaj Bajuri sebagai representasi kaum marjinal yang menyetujui kenaikan harga BBM.
3. Identifikasi: penyesuaian opini individu terhadap opini kelompok atau opini umum. Misalnya, para personel F4 asal Taiwan dalam sinetron Mandarin Meteor Garden yang diidolakan oleh banyak remaja putri Indonesia. Secara individual bisa saja ada diantara mereka memiliki pendapat lain, tapi tidak berani mengutarakannya. Sebab kuatir dianggap out group oleh peer group-nya.
4. Efek band wagon: opini simultan atau ikut arus. Misalnya, teriakan-teriakan para demonstran yang senada menyetujui apa yang disuarakan oleh tokohnya. Tidak akan mungkin dalam situasi seperti itu muncul pendapat berbeda yang berlawanan arus.
B. Strategi propaganda
Dalam Public Opinion and Propaganda, Leonard W Doob mengatakan: “Propaganda can be called the attempt to affect the personalities and control the behaviour of individual towards ends considered unscientific or doubtful value in a society at particular time”.
Kata “propaganda” berasal dari propagare (Latin) yang berarti cara tukang kebun menyemaikan tunas suatu tanaman ke lahan untuk mereproduksi tanaman baru yang kelak tumbuh sendiri. Dalam konteks historis digunakan oleh Paus Gregorius XV dalam Congregatio de Propaganda Fide (The Congregation of Propaganda) tahun 1633 dalam rangka misi Kristenisasi. Sementara dalam konteks modern digunakan oleh Dr. Goebbels (menteri propaganda NAZI) dalam PD II dengan tujuan menguasai massa.
1. Klasifikasi propaganda:
a. Bentuk: revealed propaganda: sumber dan tujuannya jelas; concealed propaganda: sumber dan tujuannya tidak jelas biasanya berbentuk rumor atau gosip; delayed propaganda: sumber dan tujuannya tertutup tetapi terbuka bila kondisinya memungkinkan.
b. Bidang: commercial propaganda; political propaganda; cultural propaganda; religious propaganda; war propaganda.
c. Sifat: white propaganda; black propaganda; ratio propaganda; senso/mental propaganda.
d. Tujuan: conversionary propaganda: mengubah kesetiaan; divisive propaganda: memecah-belah; consolidation propaganda: mempersatukan.
e. Misi dan operasionalisasi: defensive propaganda: bertahan; offensive propaganda: menyerang; counter propaganda: menangkis.
2. Teknik propaganda:
a. Stereotype: pemberian julukan karikatural terhadap pihak lain.
b. Name calling: pencercaan dengan konotasi emosional.
c. Selection: pemilihan fakta yang sesuai dengan tujuan.
d. Down right lying: berbohong tujuan menghalalkan cara.
e. Repetition: pengulangan slogan yang menyudutkan pihak lain.
f. Assertion: penonjolan sisi dan menutupi sisi lainnya.
g. Delaying strategy: startegi penundaan dengan sengaja.
h. Favourable argument: alasan yang menyenangkan.
i. Appeal to authority or testimonials: pengutipan pernyataan pihak yang berwenang.
Bibliografi

Azra, Azyumardi, “Zionisme, Media Massa Barat dan Citra Islam” dalam Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme Hingga Post Modernisme. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1996.

Bride, Sean Mac. Aneka Suara Satu Dunia (terj.). Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1980.

Fischer, Heinz Dietrich and John C. Merrill. International and Intercultural Communication. New York: Hasting House Publisher, 1976.

Fisher, B. Aubrey. Teori-Teori Komunikasi (terj.). Bandung: Remadja Karya, 1986.

Martin, L. John and Anju Grover Chaudary. Comparative Media System. New York: Longman Inc, 1983.

McDaniel, Edwin R. et.al. Intercultural Communication A Reader. Nevada: ICC Macmillan Inc, 2009.

Rachmadi, F. Perbandingan Sistem Pers: Analisis Deskriptif Sistem Pers di Berbagai Negara. Jakarta: PT. Gramedia, 1990.

Said, Edward W. Covering Islam: How The Media and The Experts Determine How We See The Rest of The World. New York: Pantheon Books, 1981.

Schiller, Herbert I. Communication and Cultural Domination. New York: International Arts and Sciences Press, 1976.

!.

1) “Sengketa dari Perspektif Diplomasi Internasional”
2) “Regulasi Dunia Maya dan Komunikasi Interaktif: Studi Kasus dari E-Mail ke Penjara”
3) “Buruh Migran dan Peranan Media Massa”

Catatan: kurang lebih 15 halaman kuarto, spasi ganda, arial dalam bentuk cakram (CD RW) dengan nama file: nama Anda dikumpulkan minggu depan (Kamis,11 Juni 2009). Serta diakhir tubuh tulisan sertakan no. telepon seluler yang bias dihubungi. Sekian!

Jakarta, April 2009
Penulis,
Teguh Kresno Utomo, S.IP

FILSAFAT ILMU

Pengantar

Mata kuliah ini mengkaji eksistensi ilmu dari perspektif filsafat. Diantaranya menelaah perbedaan terminologi: ilmu (science), pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (scientific knowledge). Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak. Artinya, apakah ilmu itu mempelajari yang ada (being) atau yang seharusnya ada (value). Serta bagaimana dampak ethis dari aplikasi ilmu dalam kehidupan sosial. Juga mengkaji pemikiran beberapa filsuf dari berbagai aliran filsafat dalam konteks ilmu.

Perkembangan ilmu-ilmu yang kita kenal sekarang sangat erat kaitannya dengan filsafat. Misalnya, fisika klasik Issac Newton (1642 – 1687) dalam karyanya Philosophical Naturalis Mathematica tahun 1686. Begitu juga dengan ekonomi Adam Smith (1723 – 1790) dalam karyanya The Wealth of Nations tahun 1776 yang tidak lain dari moral philosophy.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa logika, matematika, statistik dan bahasa bukan termasuk ilmu. Sebab ia punya metode sendiri dan hanya sekedar sebagai pengetahuan untuk mendukung metode ilmiah dalam rangka memperoleh ilmu yang tujuannya untuk memecahkan masalah (Suriasumantri, 1988).

Tulisan ini tidak berpretensi menjadi semacam bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Tetapi hanya sekedar memperlancar proses beljar-mengajar di ruang kuliah. Kritik konstruktif dari Anda sangat membantu demi sempurnanya tulisan ini. Termasuk kritik yang mengatakan bahwa tulisan

ini tidak ilmiah. Untuk itu semua saya tidak akan minta maaf. Sebab lebih adil bila Anda membuat tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya.

Terakhir, bila ada manfaat yang dapat Anda petik dari tulisan ini, menjadi cerdas bukan cerdik misalnya maka promosikanlah tulisan ini kepada kolega akademis Anda. Tetapi bila yang terjadi sebaliknya maka beritahulah saya. Itu saja kalau dapat. Sekian.

Jakarta, April 2009

Penulis,

Teguh Kresno Utomo, S.IP

I. Introduksi

Tulisan ini terdiri dari delapan bagian: Pertama, membahas perbedaan mendasar antara filsafat dengan ilmu. Kedua, menjelaskan konsep-konsep dasar kefilsafatan. Ketiga, memaparkan beragam aliran pemikiran dalam filsafat. Keempat, menganalisis perbedaan antara ilmu, pengetahuan dan ilmu pengetahuan dari perspektif filsafat. Kelima, mengkaji relevansi ilmu pengetahuan dari sudut epitemologi pengetahuan dan sosiologi pengetahuan. Keenam, mendiskusikan tipologi ilmu pengetahuan dari perspektif teori kritis. Ketujuh, mendeskripsikan perkembangan ilmu pengetahuan dalam konteks paradigma falibilisme dan revolusi ilmiah. Kedelapan, mengulas humaniora dari perspektif historis dan signifikansinya dalam tujuan ilmu pengetahuan.

II. Perbedaan Filsafat dengan Ilmu

Perbedaan filsafat dengan ilmu terletak pada pandangan dunia (world vie/weltanscaung) atau focus of interest-nya. Kalau filsafat membicarakan sesuatu secara komprehensif dan teleologis maka ilmu lebih banyak berbicara tentang fakta (fact). Singkatnya, pertanyaan filsafat selalu berkaitan dengan nilai dan makna (value and meaning). Sementara pertanyaan ilmu selalu seputar fakta.

Perbedaan lainnya berkaitan dengan obyek material (material object/subject matter) dan obyek formal (view of point) yang ditelaah. Obyek material filsafat adalah yang ada (being) yang terdiri dari: Pertama, ada dalam kenyataan (reality). Kedua, ada dalam pikiran (mind). Ketiga, ada dalam kemungkinan (possibility). Obyek formal filsafat adalah aspek keumuman (essence), yaitu: ada dalam dunia konsep atau akal budi (logos) yang berbeda dengan ada dalam dunia empiris (perceptual knowledge).

Di sisi lain perbedaan antarilmu lebih terletak pada obyek formalnya meskipun obyek materialnya sama. Sebagai ilustrasi perbedaan antara sosiologi dengan psikologi. Obyek material keduanya sama-sama prilaku manusia. Tetapi obyek formalnya yang berbeda. Kalau yang pertama melihat prilaku manusia sebagai bagian dari masyarakat maka yang kedua melihat prilaku manusia sebagai bagian dari individu.

III. Uraian Kefilsafatan

Pertama, ada (being): predikat universal dari setiap satuan yang ada dalam kenyataan (reality); ada dalam pikiran (mind); ada dalam kemungkinan (possibility). Misalnya, adanya Tuhan dimaknai sebagai ultimed being. Kedua, kenyataan/realitas (reality): ada yang dapat dipercaya secara subyektif. Singkatnya, sesuatu yang nyata sudah pasti ada. Tetapi sebaliknya sesuatu yang ada belum tentu nyata. Misalnya, mimpi seorang laki-laki yang bertemu seorang perempuan cantik berkulit merah yang ada dalam tataran subyektifnya. Ketiga, keberadaan/eksistensi (existence): ada dalam dimensi ruang dan waktu yang dapat dipahami secara intersubyektif. Singkatnya, sesuatu yang bereksistensi pasti nyata dan ada. Tetapi sebaliknya sesuatu yang ada belum tentu nyata apalagi bereksistensi. Misalnya, adanya perempuan cantik berkulit merah di atas tidak bisa ditarik dalam dimensi ruang dan waktu yang bisa dipahami secara intersubyektif oleh orang lain. Sebab ia hanya dimengerti secara subyektif via mimpi laki-laki ybs. Keempat, hakekat/esensi (essence): ada yang menyebabkan sesuatu menjadi sesuatu. Misalnya, esensi seorang mahasiswa apalagi dosen terletak pada kapasitas intelektualnya. Bukan pada panjangnya gelar akademiknya yang berderet-deret bahkan lebih panjang daripada namanya sendiri. Kelima, substansi (substance): unsur penyusun sesuatu yang beresensi baik dalam arti kongkrit maupun abstrak. Misalnya, piring plastik, gelas plastik dan sendok plastik. Substansinya plastik dan esensinya alat-alat makan dan minum. Keenam, materi (matter): secara sederhana dipahami sebagai substansi terdalam adalah materi dalam artian filosofis bukan sosiologis. Misalnya, substansi alam raya menurut filsuf Yunani kuno Thales (624 – 548 SM) adalah air (Hatta, 1986) Sementara marxisme menafsirkan materi dalam artian sosiologis yaitu: penindasan manusia atas manusia dalam bidang kepemilikan alat-alat produksi yang melibatkan majikan (kapitalis) dan proletariat (buruh). Ketujuh, bentuk (form): dipahami sebagai struktur atau pola sesuatu. Misalnya, konsep hylemorfisme Aristoteles (384 – 322 SM). Hyle (materi) adalah bahan untuk membuat sesuatu dan morfisme (bentuk) adalah ciri-ciri khas yang membedakan sesuatu. Kembali ke piring plastik, gelas plastik dan sendok plastik di atas. Bentuknya piring; gelas; sendok, Substansi materinya plastik dan esensinya alat-alat makan dan minum. Kedelapan, perubahan (change): peralihan dari bukan bentuk sekarang menjadi bentuk sekarang atau dari bentuk sekarang menjadi bukan bentuk sekarang. Misalnya, perubahan fisik manusia mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan tua. Kesembilan, sebab-akibat (causality): sebab adalah sesuatu yang menimbulkan perubahan. Meminjam konsep Aristoteles sebab (causa) terdiri dari empat jenis: materialis; formalis; efisien; finalis. Misalnya, piring plastik, gelas plastik dan sendok plastik di atas dapat dianalisis sebagai berikut: plastik (causa materialis); piring, gelas dan sendok (causa formalis); pabrik pembuatnya seperti Lion Star (causa efisien); alat-alat makan dan minum (causa finalis). Sedangkan akibat dipahami sebagai sesuatu yang dihasilkan oleh sebab. Misalnya, determinisme yang menganggap sesuatu semata-mata akibat dari sesuatu. Kesepuluh, hubungan (relations): dipahami sebagai koneksi atau proposisi dalam logika. Dalam konteks filosofis ada dua yaitu: realisme (hubungan luar) dan idealisme (hubungan dalam) (Katsoff, 1996).

IV. Ragam Pemikiran Filsafat

Pertama, idealisme: kenyataan terdalam adalah roh. Pemikiran ini berkembang di Prussia (Jerman). Ini dapat dilacak mulai dari pemikiran Plato (428 – 347 SM), Immanuel Kant (1724 – 1804) dan George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831).

Kedua, naturalisme: kenyataan terdalam adalah alam kodrat. Sebaliknya tidak mengakui adanya alam adikodrati (supranatural). Misalnya, tidak mempercayai adanya eksistensi Nyai Roro Kidul penguasa laut selatan dan jadi permasuri raja-raja Jawa.

Ketiga, materialisme: kenyataan terdalam adalah materi dalam artian filosofis. Misalnya, filsuf Yunani kuno Thales (624 – 428 SM) mengatakan bahwa air adalah substansi terdalam jagad raya (Hatta, 1986). Berbeda dengan materialisme dialektis yang menyatakan bahwa kenyataan terdalam bersifat materialis dalam artian sosiologis. Serta senantiasa berubah karena ada kekuatan yang saling berlawanan. Misalnya, dialektika materialis-historis yang dikemukakan oleh Karl Marx (1818 – 1883) yang menelaah sejarah peradaban manusia adalah sejarah penindasan manusia atas manusia dalam rangka kepemilikan alat-alat produksi (Magnis-Suseno, 1995). Varian marxisme sebagai alat analisis sosial berkembang menjadi: marxisme Soviet Rusia (Trotsky, Lenin dan Stalin); marxisme Eropa (Antonio Gramsci); marxisme Amerika Latin (Che Guevara); maoisme China (Mao Tse Tung); mahzab Frankfurt Jerman (Jurgen Habermas).

Keempat, realisme: kenyataan tidak tergantung pada subyek yang mengetahui (logos).

Kelima, empirisme logis: pernyataan tentang kenyataan tidak bermakna. Serta merendahkan tugas filsafat semata-mata hanya sebagai analisis bahasa dan makna.

V. Tinjauan Filosofis Ilmu Pengetahuan

Sebelumnya perlu dibedakan dulu beberapa istilah berikut: ilmu (science), pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (scientific knowledge). Dimulai dari Ilmu (science) adalah pengetahuan yang teroganisir (organized knowledge) yang mengembangkan model sederhana tentang kehidupan empiris dengan mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variabel yang saling terkait dan bersifat rasional. Sementara pengetahuan (knowledge) adalah khasanah kekayaan mental yang berkaitan dengan hukum alam yang bersifat subyektif untuk keperluan kehidupan. Sedangkan ilmu pengetahuan (scientific knowledge) merupakan pengetahuan yang terbuka terhadap segala pertanyaan yang membutuhkan jawaban logis konsisten dan dapat dimengerti secara intersubyektif.

Dengan demikian, dalam logika berbahasa sesuai terjemahan bebas dari Bahasa Inggris, ilmu pengetahuan dapat ditukartempatkan pengertiannya dengan pengetahuan ilmiah. Selanjutnya perlu dielaborasi lagi pengertian kata “ilmiah” itu. Ilmiah adalah kata sifat dari kata benda “ilmu”. Sementara ilmu satu akar kata dengan “alam” yang berasal dari Bahasa Arab. Alam dalam Bahasa Yunani disebut cosmos yang berarti teratur atau seimbang. Ini dilawankan dengan chaos yang berarti ketidakteraturan atau ketidakseimbangan. Cosmos terbagi dua: macro cosmos (universe) atau jagad raya dan micro cosmos (manusia) yang berintikan logos. Dengan demikian, bersikap ilmiah berarti menyelaraskan sikap dengan keteraturan alam.

Kalau kita proyeksikan dalam ilustrasi kehidupan sehari-hari, bila ada perempuan mengejar laki-laki maka itu disebut sikap tidak ilmiah. Sebab bertentangan dengan hukum alam yang dalam biologi diketahui bahwa spermatozoa yang mengejar ovum. Bukan sebaliknya ovum yang mengejar spermatozoa. Begitu pula ketika seseorang jatuh sakit yang berarti keteraturan atau keseimbangan micro cosmos-nya terganggu. Masalahnya, jika penyakit yang dideritanya karena perbuatannya sendiri. Misalnya, akibat mengkonsumsi narkoba. Itu berarti bersikap tidak ilmiah dengan merusak micro cosmos (baca: tubuh)-nya sendiri. Serta mengubahnya menjadi chaos.

Dalam dunia akademis, sikap ilmiah tercermin dalam dua pengertian: Pertama, konsekuen: antara cara dengan tujuan saling berkoherensi. Kedua, konsisten: antara satu cara dengan cara yang lainnya tidak saling menegasikan dalam rangka mencapai tujuan. Misalnya, ketika seseorang ingin menjadi sarjana maka ia harus mendaftar di perguruan tinggi dan mengikuti proses belajar-mengajar yang biasa disebut kuliah itu. Kalau kesarjanaan dianggap sebagai tujuan maka mengikuti kuliah dianggap sebagai cara mencapai tujuan.. Dengan demikian, jika ia sudah terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi maka ia sudah konseksuen. Tapi ini belum selesai, masalahnya jika ia jarang atau tidak pernah hadir mengikuti kuliah atau hadir dengan memalsu tanda tangan maka ia tidak konsisten. Andai kata dengan cara seperti itu pun ia berhasil menjadi sarjana maka jadilah ia sarjana yang tidak ilmiah. Jangan heran apabila kita sering kali menemukan pemikiran seseorang sarjana ternyata tidak lebih bermutu daripada pemikiran seseorang yang hanya lulusan sekolah menengah.

Secara filosofis ilmu pengetahuan dapat ditelaah dalam tiga bidang kajian yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya:

Pertama, ontologi: memulai penjelajahan pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman itu. Fungsinya sebagai alat bantu manusia dalam memecahkan masalah kehidupan. Muncul pertama kali untuk mengatasi hal-hal yang bersifat transeden menjadi imanen. Berbeda dengan filsafat dan agama, ilmu pengetahuan tidak berurusan dengan hal-hal metaempiris. Misalnya, kepercayaan pada adanya kehidupan sesudah kematian yang menjadi obyek kajian agama yang menuntut percaya dulu bukti kemudian. Sebaliknya dengan ilmu, bukti dulu baru percaya. Dengan demikian, kalau tesis kepercayaan ada kehidupan setelah kematian dijadikan obyek kajian ilmu pengetahuan maka masalahnya belum pernah ada orang mati yang bisa hidup kembali dan menceritakan pengalamannya kepada kita sebagai verifikasi kebenaran ilmiah. Ini selaras dengan pemikiran August Comte (1798 – 1857) yang mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan dalam konteks sosiologi melalui tiga tahap: teologis; metafisis; positivistis. Sosiolog Perancis yang lebih dikenal sebagai Bapak Sosiologi Positivistis ini mengatakan bahwa sosiologi adalah sejenis fisika sosial dengan karakter: obyektif; fenomenologis; reduksionis; naturalis.

Kedua, epistemologi: telaah tentang bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan. Antara lain terdiri dari: (1). Rasionalisme: pengetahuan diperoleh melalui kegiatan akal budi. Berkembang di Perancis dengan filsuf dan matematikus Rene Descartes (1596 – 1650) sebagai juru bicaranya. Ia menjadikan matematika sebagai model bagi semua ilmu pengetahuan. Dengan meminjam aksioma matematis yang sangat rasional ditarik kesimpulan logis yang tidak terbantahkan. (2). Empirisme: pengetahuan diperoleh melalui pengamatan indera. Berkembang di Inggris dengan John Locke (1632 – 1704) sebagai juru bicaranya. Locke menolak adanya konsep ide bawaan sejak lahir. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa akal budi ibarat sehelai kertas kosong yang hanya dapat diisi dengan pengamatan indera. (3). Fenomenologi: dipelopori oleh filsuf Jerman Immanuel Kant (1724 – 1804) sebagai jalan tengah antara rasionalisme dan empirisme. Ia berpendapat ilmu pengethuan berdasarkan pada indera tetapi tidak tergantung dari indera. Artinya, kenyataan diberi struktur oleh kegiatan akal budi melalui kategorisasi. Ditambahkannya, yang kita ketahui hanyalah fenomena (gejala). Sebab kenyataan sebagai mana adanya (das ding an sich) tidak akan pernah kita ketahui. Dalam karyanya Kritik der Reinen Vernunft (kritik terhadap akal murni) ia menyebutkan ada empat jenis pengetahuan yaitu: analitis apriopri (konsep/teori); analitis aposteriori (kimia); sintetis apriori (matematika); sintetis aposteriori (statistik). (4). Intuisionisme: diperkenalkan oleh filsuf Perancis Hendry Bergson yang mengemukakan ada dua jenis pengetahuan: diskursif-simbolik (knowledge about) dan intuitif (knowledge of). Yang terakhir ini merupakan pengetahuan dengan empati. (5). Logico-hypothetico: gabungan rasionalisme dengan empirisme yang meletakkan verikasi sebagai unsur utama metode ilmiah yang signifikan dalam ilmu pengetahuan (Brower, 1986).

Ketiga, aksiologi: membahas aspek ethis ilmu pengetahuan. Ia mempertanyakan apakah ilmu pengetahuan itu bebas nilai atau tidak. Ilmu sosial (logic of humanities) tidak bebas nilai. Sebab peneliti adalah bagian dari lingkup semesta yang sedang ditelitinya. Bahkan tindakan penelitian itu sendiri mengubah semesta tersebut (Soedjatmoko, 1994). Begitu pula dengan ilmu alam (logic of science), tidak bisa dicampuradukkan antara obyek ontologis (kenyataan) dengan obyek epistemologis (data) (Kattsoff, 1996). Singkatnya, hukum alam itu obyektif. Sedangkan ilmu pengetahuan alam itu subyektif.

Sebagian ilmuwan menganggap nilai bukan obyek ilmiah karena tidak bersifat empiris. Persoalannya, dalam hal ini harus ditelaah dalam tiga kriteria: (1). Nilai sebagai basis asumsi dan teori. (2). Implikasi nilai sebagai aplikasi ilmu pengatahuan. (3). Penilaian sebagai tindakan ilmiah (Kleden, 1988).

VI. Relevansi Intelektual atau Relevansi Sosial

Dalam dunia intelektual ada pemikiran yang rasional tetapi terlambat memenuhi kebutuhan sosial. Sebaliknya ada pemikiran yang compang-camping secara intelektual tetapi diterima secara sosial. Terjadi pergulatan intelektual manakah yang harus didahulukan: relevansi intelektual atau relevansi sosial. Di sini teori sosial dimaknai dengan tiga kriteria: Pertama, sebagai rekayasa sosial dan transformasi sosial dalam arti ia menjelaskan struktur sosial atau perubahan sosial (variabel independen). Kedua, sebagai legitimasi sosial atau kekuatan reflektif dalam arti ia turut menciptakan keadaan yang diprediksikannya atau memantapkan keadaan yang ingin dijelaskannya (variabel dependen). Ketiga, sebagai kritik sosial (Kleden, 1988). Yang terakhir ini dikembangkan dalam Die Frankfurter Schule (Mahzab Frankfurt) Jerman dengan tokoh utamanya Jurgen Habermas. Intinya, kritik terhadap hubungan sosial yang nyata dalam tradisi besar pemikiran Karl Marx (Magnis-Suseno, 1995).

Ada dua masalah utama yang dihadapi ilmuwan dalam dunia ilmu pengetahuan umumnya dan ilmu pengetahuan sosial khususnya adalah: Pertama, epistemologi pengetahuan: validitas suatu sistem pengetahuan berdasarkan ukuran-ukuran rasional. Sejauh mana ia benar dan dapat dibenarkan. Kedua, sosiologi pengetahuan: setiap pengetahuan kontekstual dan dipengaruhi oleh situasi dan nilai-nilai dari sistem pengetahuan. Obyektivitas tercapai bila prasangka sosial dieliminasikan.

Ini sejalan dengan pemikiran Peter L. Berger dalam karyanya The Sosial Construction of Reality yang menyebutkan masyarakat dan lembaganya bukan ada dengan sendirinya (given) melainkan dibuat oleh interaksi antarmanusia. Artinya, apakah struktur sosial yang menentukan sistem nilai (budaya) atau sebaliknya. Misalnya, apakah kemiskinan yang menyebabkan kemalasan atau kemalasan yang menyebabkan kemiskinan (Santoso, 1977).

VII. Tipologi Ilmu dalam Perspektif Teori Kritis

Kata “teori” berasal dari kata theoria (Yunani) yang berarti pandangan atau kontemplasi terhadap cosmos. Dengan demikian, berteori berarti melakukan kegiatan tertinggi manusia dalam rangka mengaktifkan logos (percikan Illahi). Dalam bahasa filsafat disebut mimesis, yaitu: menjadi manusia kontemplatif untuk meniru keabadian yang tercermin dalam struktur cosmos. Singkat kata, berfilsafat berarti mengembangkan ethos, yaitu: sikap teratur pada tatanan kosmis yang abadi.

Teori kritis dikembangkan oleh Mahzab Frankfurt Jerman dengan tokoh-tokohnya: Marx Horkheimer; Theodor W. Adorno; Jurgen Habermas. Aliran ini menggunakan dua pendekatan: Pertama, pendekatan historis: realitas sosial harus dipahami sebagai produk sejarah manusia. Kedua, pendekatan materialis: dalam artian sosiologis-marxisme bahwa sejarah manusia adalah sejarah penindasan manusia atas manusia dalam bidang produksi. Apapun yang bernilai bukan lagi karena nilai pakai. Tetapi sejauh mana ia laku di pasar yang sangat kapitalistik.

Menurut teori kritis, ilmu pengetahuan merupakan perwujudan kebutuhan manusia yang terungkap dalam suatu kepentingan yang fundamental. Ini dapat ditelaah dengan tiga jenis ilmu pengetahuan di bawah ini:

Pertama, ilmu-ilmu empiris analitis: Misalnya, ilmu pengetahuan alam dengan hukum pasti (nomologis). Tujuannya untuk menguasai alam, lingkungannya alam fisik dan kepentingannya teknis-proses produksi.

Kedua, ilmu-ilmu historis-hermeneutis: Misalnya, ilmu sejarah. Tujuannya memahami makna, lingkungannya inetraksi atau bahasa dan kepentingannya praktis (dorongan hidup dengan benar) dan proses komunikasi (interaksi).

Ketiga, ilmu-ilmu tindakan: Misalnya, ilmu politik. Tujuannya membantu manusia dalam bertindak bersama, lingkungannya kekuasaan dan kepentingannya politis dan proses emansipasi (Magnis – Suseno, 1995).

VIII. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Di sini akan dibahas dua paradigma sebagai berikut: Pertama, falibilisme yang dengan tokohnya Karl R. Popper yang mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan memerlukan falsifikasi. Intinya, semacam pengujian pengetahuan secara asimetris. Singkatnya, menurut Popper kebenaran merupakan dugaan tetapi kesalahan merupakan kepastian. Teori dikembangkan secara deduktif yang dalam bahasa logika apabila konsekuensi yang ditarik dari suatu teori salah maka teori itu pun juga salah. Test empiris diperlukan ketika pengetahuan itu diaplikasikan. Kedua, revolusi ilmiah dengan tokohnya Thomas S. Khun yang mengatakan perkembangan pengatahuan terjadi melalui dua tahap, yaitu: (1). Ilmu normal sebagai tahap teori dikembangkan dan diterapkan. (2). Revolusi ilmiah sebagai tahap teori di-test dan dijatuhkan. Artinya, teori baru muncul dari puing-puing teori lama yang merupakan akumulasi anomali.

IX. Seputar Humaniora

Humaniora tidak sama dengan humanities (human science). Sebab ia lebih dahulu ada sebelum humanities terbentuk. Intinya, suatu ilmu pengetahuan yang bertujuan bagaimana menjadikan manusia (humanus) menjadi manusiawi (humanior) yang terdiri dari trivium: Pertama, gramatika: membentuk manusia terdidik yang menguasai sarana komunikasi secara mutlak. Kedua, logika: membentuk manusia terdidik yang dapat menyampaikan pemikirannya yang rasional dan dapat dimengerti secara intersubyektif. Ketiga, retorika: membentuk manusia terdidik dengan kemampuan sesitivitas, adabtasi, simpati dan empati terhadap orang lain.

Singkatnya, humaniora bertujuan membentuk manusia akademis dengan kemampuan bernalar (gramatika/logika) dan bertutur (retorika) yang sistematis. Bernalar dapat diasah dengan matematika (kuantitas). Sementara bertutur diasah dengan kemampuan berbahasa (kualitas).

Dalam konteks historis bahasa humaniora adalah Bahasa Latin (lingua franca) atas desakan suku Latinum yang menguasai Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara. Bahasa Latin yang semula hanya menjadi bahasa hukum, administrasi dan politik berhasil mendepak Bahasa Yunani sebagai bahasa intelektual dan budaya. Ini seiring berkuasanya imperium Romawi dengan Bahasa Italic yang menjadi akar Bahasa Latin. Secara umum bahasa Indo Eropa terdiri dari bahasa: Yunani, Celtic, Italic, Slavic dan Indo Iranian.

Perkembangan humaniora melalui Bahasa Yunani diadobsi oleh Bahasa Arab (Spanyol) yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Kemudian berkembang di Eropa yang bermuara pada zaman pencerahan (renaissance) (Drost, 2002).

Dalam konteks kekinian yang termasuk humaniora antara lain: filsafat; bahasa; sejarah. Tujuannya untuk mengembangkan kerangka moral dan imajinatif dalam bentuk: Pertama, empati: kemampuan untuk sepenuhnya mengidentifikasikan diri dengan orang lain dalam rangka memahaminya. Kedua, toleransi: pengakuan terhadap pluralisme sebagai dasar hubungan damai antarkomunitas (Soedjatmoko, 1994).

Dalam hal ini posisi universitas sangat signifikan. Universitas dewasa ini yang dipengaruhi oleh pemikir Jerman Wilhelm von Humboldt lebih menitikberatkan pada mencari kebenaran. Bukan mengajarkan kebenaran. Ini sejalan dengan kebebasan akademik (Kurtz, 1994). Berbeda dengan universitas abad pertengahan yang tidak lain dari sekolah theologia untuk mengkaji mata kuliah ketuhanan dan ciptaan-Nya. Ia lebih tertarik pada upaya pewarisan pengetahuan yang diterima daripada mengembangkan pengetahuan baru.

Bibliografi

Brower, MAW. Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman. Bandung: Alumni, 1986.

Drost, J. “Humaniora” artikel KOMPAS, 17 Oktober 2002.

Hatta, Muhammad. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Tintamas, 1986.

Kattsoff. Louis O. Pengantar Filsafat (terj.). Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996.

Kleden, Ignas. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3ES, 1988.

Kurtz. Paul. Sidney Hook: Sosok Filsuf Humanisme Demokrat dalam Tradisi Pragmatisme (terj.). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994.

Magnis – Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Newlands, Kathleen (ed.). Menjelajah Cakrawala Kumpulan Karya Visioner Soedjatmoko. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1994.

Rais, M. Amien (ed.). Krisis Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pembangunan di Dunia Ketiga. Yogyakarta: PLP2M, 1984.

Santoso, R. Slamet Iman. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1977.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu: Suatu Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988.

Referensi :

Teguh Kresno Utomo

Dosen Fisip UNTAG JAKARTA

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.