Metode Penelitian Sosial


Pengantar
Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta edisi 11 agustus 2002 memuat komentar GKR Hemas yang merasa tersinggung dengan hasil angket yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan, Pusat Studi Bisnis dan Humaniora yang mengatakan 97,05 % mahasiswi Yogyakarta tidak perawan.
Komentar senada dengan permaisuri Sultan HB X itupun bermunculan. Terlepas dari motif yang melatarbelakanginya: mencoreng muka mahasiswi Kota Gudeg atau mendelegitimasi stataus Yogyakarta sebagai Kota Pelajar, yang jelas sample yang diambil oleh peneliti hanya 1660 dari 200.000 populasi. Artinya, yang diteliti kurang dari 10 % dari jumlah total mahasiswi Yogyakarta. Secara statistik penelitian ini cacat metodologis.
Banyak persyaratan yang harus dipenuhi oleh peneliti sebelum memulai penelitian. Apalagi mengumumkan hasil temuannya. Mulai dari metode yang digunakan, identifikasi masalah, landasan teori, hipotesis, verifikasi dan sebagainya. Dengan kata lain, pengetahuan tentang seluk-beluk metodologi sangat diperlukan oleh peneliti. Termasuk mahasiswa yang harus terlatih berpikir ilmiah, rasional dan sistematis. Diktat ini diharapkan dapat merealisasikan keinginan di atas. Namun demikian, ia tidak berpretensi menjadi semacam bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah: Metode Penelitian Sosial. Sebab sebagai diktat ia hanya memuat pkok-pokok pikiran penulisnya. Hal-hal yang lebih spesifik dan mendetil dapat dilihat pada rangkaian literatur yang menjadi acuannya.
Akhirnya, jika Anda bingung dengan rumusan statistik yang ada dalam tulisan ini maka percayalah bahwa sesungguhnya saya pun ikut bingung. Tetapi mengutip filsuf rasionalis Perancis Rene Descartes bingung itu tanda berpikir dan berpikir itu letak eksistensi Anda sebagai intelektual. Oleh sebab itu selamat menbaca dan semoga bingung. Sekian.
Jakarta, Agustus 2002
Penulis,

Teguh Kresno Utomo, S.IP

I. Introduksi
Tulisan ini didasari telaah berbagai referensi kepustakaan yang berkaitan dengan Metode Penelitian Sosial. Ia memuat sembilan pokok bahasan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Diantaranya sebagai berikut: Pertama, membahas relasi antara ilmu pengetahuan dan metode ilmiah. Di sini di jelaskan perbedaan mendasar antara ilmu, pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Serta metode ilmiah dan penelitian ilmiah. Kedua, membahas konsep dasar penelitian kualitatif dan dasar teoritisnya. Ketiga, membahas langkah-langkah pokok dalam penelitian ilmiah. Mulai dari identifikasi masalah, menentukan tujuan penelitian, landasan teori dan hipotesis. Keempat, membahas topik penelitian ilmiah. Kelima, membahas tahap-tahap penelitian ilmiah. Keenam, membahas variabel dan operasionalisasinya. Ketujuh, membahas pengumpulan dan pengolahan data. Kedelapan, membahas populasi dan sample dengan memaparkan syarat-syarat sample, penarikan sample, faktor-faktor yang menentukan ukuran sample dan rumus ukuran sample. Kesembilan, membahas laporan penelitian dengan menguraikan gambaran umum laporan penelitian dan struktur laporan penelitian.

II. Ilmu Pengetahuan dan Metode Ilmiah
A. Ilmu, Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Sebelumnya perlu dibedakan dulu beberapa istilah berikut: ilmu (science), pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (scientific knowledge). Pertama, ilmu tidak lain dari pengetahuan yang terorganisir (organized knowledge) dengan mengembangkan model sederhana tentang kehidupan empiris. Serta mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variabel yang saling terkait dan bersifat rasional. Kedua, pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental berkaitan dengan hukum alam yang bersifat subyektif untuk keperluan kehidupan. Ketiga, ilmu pengetahuan berupa pengetahuan yang terbuka terhadap segala pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang logis konsisten dan dapat dimengerti secara intersubyektif.
Robert K Merton menyebutkan empat ciri ilmu pengetahuan: universalism, communality, disinterestedness dan organized criticism. Secara filosofis ilmu pengetahuan dapat ditelaah dalam tiga bidang di bawah ini:
Pertama, ontologi: memulai penjelajahan pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman itu. Fungsinya sebagai alat bantu manusia dalam memecahkan masalah kehidupan. Muncul pertama kali untuk mengatasi hal-hal yang bersifat transeden menjadi imanen. Berbeda dengan filsafat dan agama, ilmu pengetahuan tidak berurusan dengan hal-hal metaempiris. Misalnya, kepercayaan pada adanya kehidupan sesudah kematian yang menjadi obyek kajian agama yang menuntut percaya dulu bukti kemudian. Sebaliknya dengan ilmu, bukti dulu baru percaya. Dengan demikian, kalau tesis kepercayaan ada kehidupan setelah kematian dijadikan obyek kajian ilmu pengetahuan maka masalahnya belum pernah ada orang mati yang bisa hidup kembali dan menceritakan pengalamannya kepada kita sebagai verifikasi kebenaran ilmiah. Ini selaras dengan pemikiran August Comte (1798 – 1857) yang mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan dalam konteks sosiologi melalui tiga tahap: teologis; metafisis; positivistis. Sosiolog Perancis yang lebih dikenal sebagai Bapak Sosiologi Positivistis ini mengatakan bahwa sosiologi adalah sejenis fisika sosial dengan karakter: obyektif; fenomenologis; reduksionis; naturalis.
Kedua, epistemologi: telaah tentang bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan. Antara lain terdiri dari: (1). Rasionalisme: pengetahuan diperoleh melalui kegiatan akal budi. Berkembang di Perancis dengan filsuf dan matematikus Rene Descartes (1596 – 1650) sebagai juru bicaranya. Ia menjadikan matematika sebagai model bagi semua ilmu pengetahuan. Dengan meminjam aksioma matematis yang sangat rasional ditarik kesimpulan logis yang tidak terbantahkan. (2). Empirisme: pengetahuan diperoleh melalui pengamatan indera. Berkembang di Inggris dengan John Locke (1632 – 1704) sebagai juru bicaranya. Locke menolak adanya konsep ide bawaan sejak lahir. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa akal budi ibarat sehelai kertas kosong yang hanya dapat diisi dengan pengamatan indera. (3). Fenomenologi: dipelopori oleh filsuf Jerman Immanuel Kant (1724 – 1804) sebagai jalan tengah antara rasionalisme dan empirisme. Ia berpendapat ilmu pengetahuan berdasarkan pada indera tetapi tidak tergantung dari indera. Artinya, kenyataan diberi struktur oleh kegiatan akal budi melalui kategorisasi. Ditambahkannya, yang kita ketahui hanyalah fenomena (gejala). Sebab kenyataan sebagai mana adanya (das ding an sich) tidak akan pernah kita ketahui. Dalam karyanya Kritik der Reinen Vernunft (kritik terhadap akal murni) ia menyebutkan ada empat jenis pengetahuan yaitu: analitis apriopri (konsep/teori); analitis aposteriori (kimia); sintetis apriori (matematika); sintetis aposteriori (statistik). (4). Intuisionisme: diperkenalkan oleh filsuf Perancis Hendry Bergson yang mengemukakan ada dua jenis pengetahuan: diskursif-simbolik (knowledge about) dan intuitif (knowledge of). Yang terakhir ini merupakan pengetahuan dengan empati. (5). Logico-hypothetico: gabungan rasionalisme dengan empirisme yang meletakkan verikasi sebagai unsur utama metode ilmiah yang signifikan dalam ilmu pengetahuan (Brower, 1986).
Ketiga, aksiologi: membahas aspek ethis ilmu pengetahuan. Ia mempertanyakan apakah ilmu pengetahuan itu bebas nilai atau tidak. Ilmu sosial (logic of humanities) tidak bebas nilai. Sebab peneliti adalah bagian dari lingkup semesta yang sedang ditelitinya. Bahkan tindakan penelitian itu sendiri mengubah semesta tersebut (Soedjatmoko, 1994). Begitu pula dengan ilmu alam (logic of science), tidak bisa dicampuradukkan antara obyek ontologis (kenyataan) dengan obyek epistemologis (data) (Kattsoff, 1996). Singkatnya, hukum alam itu obyektif. Sedangkan ilmu pengetahuan alam itu subyektif.
Sebagian ilmuwan menganggap nilai bukan obyek ilmiah karena tidak bersifat empiris. Persoalannya, dalam hal ini harus ditelaah dalam tiga kriteria: (1). Nilai sebagai basis asumsi dan teori. (2). Implikasi nilai sebagai aplikasi ilmu pengatahuan. (3). Penilaian sebagai tindakan ilmiah (Kleden, 1988).
B. Metode Ilmiah
Metode ilmiah (method: Inggris) merupakan penjelajahan terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan logis atau argumentasi rasional. Sementara metodologi ilmiah adalah suatu kajian dalam mempelajari aturan-aturan dalam metode ilmiah. Dengan kata lain, prosedur dalam rangka mendapatkan pengetahuan ilniah sebagai bagian dari epsitemologi. Sebaliknya, kebenaran nonilmiah diperoleh dengan cara kebetulan, akal sehat (common sense), wahyu, intuitif, coba-coba (trial and error), spekulasi dan wibawa.
1. Kriteria Metode Ilmiah
a. Berdasarkan fakta.
b. Bebas dari prasangka (pembuktian obyektif).
c. Menggunakan prinsip analisa (kausalitas).
d. Menggunakan hipotesis.
e. Menggunakan ukuran obyektif.
f. Menggunakan teknik kuantifikasi (nominal, rsnking dan rating).
g. Langkah (step) dalam metode ilmiah: merumuskan masalah, kata kunci (keywords), studi kepustakaan, memformulasikan hipotesis dan kerangka analisis (analytical framework) yang telah ditetapkan, mengumpulkan data, menyusun, menganalisa dan memberikan interpretasi, membuat generalisasi, kesimpulan dan membuat laporan ilmiah.
2. Fungsi Metode Ilmiah
a. Verifikasi: justifikasi, konfirmasi konsep dan hipotesis (deduktif, analisa kuantitatif dan rasionalisme).
b. Heuristik: menggali, menciptakan konsep dan teori baru (induktif, analisa kualitatif dan empirisme).
3. Jenis Metode Ilmiah
a. Observasi alamiah (naturalistic observation): obyek yang diteliti dibiarkan terjadi secara alamiah yang terdiri dari:
1). Lingkungan alamiah (natural environment). Misalnya, penelitian antropologi tentang kehidupan suku Badui di Jawa Barat.
2). Lingkungan alamiah tiruan (simulated natural environment). Misalnya, penelitian zoology kehidupan Panda di kebun binatang yang disesuaikan dengan habitat aslinya di RRC.
b. Penelitian lapangan (field research): obyek yang diteliti dalam situasi alamiah. Tetapi sebelumnya telah diintervensi oleh peneliti agar fenomena yang dikehendaki dapat diteliti. Dengan kata lain, terdapat kontrol parsial di bidang statistik di lapangan yang terdiri dari:
1). Korelasional: datanya alamiah, tetapi ada kontrol parsial dalam statistik agar hubungan antarvariabel (berdasarkan koefisien korelasi) yang diteliti tidak tercemari oleh variabel lain. Misalnya, hubungan kebiasaan merokok dengan peluang kena penyakit jantung dikontrol melalui design penelitian: sample (jenis kelamin dsb).
2). Longitudinal: obyek yang diteliti diamati perkembangannya dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, pengaruh menonton VCD BF terhadap kematangan seksualitas remaja.
3). Ekperimentasi lapangan: obyek yang diteliti diperlakukan secara berbeda tetapi situasinya tetap alamiah. Misalnya, sikap masyarakat terhadap reaktor nuklir yang semula sama. Kemudian mereka dikelompokkan jadi dua. Yang satu diikutkan dalam debat terbuka. Sementara yang lainnya diisolasi. Selanjutnya diteliti kembali sikap keduanya.
4). Ekperimentasi laboratorium: obyek yang diteliti dipisahkan dari lingkungan alamiahnya dan sepenuhnya dikontrol oleh peneliti. Misalnya, psikologi aliran gestalt meneliti aspek kognitif dengan menggunakan simpanse sebagai obyek penelitian.
C. Penelitian Ilmiah
Penelitian (research) adalah rangkaian kegiatan ilmiah yang berupa pencarian (inquiry) secara sistematis dalam rangka pemecahan masalah dengan karakteristik tertentu. Diantaranya: bertujuan untuk memecahkan masalah, sistematis (persiapan, pelaksanaan dan laporannya dengan metodologi yang benar), terkendali dalam arti menentukan obyek yang diteliti agar tidak tercemari oleh fenomena lain, obyektif dalam arti menghindari subyektivitas peneliti dan tahan uji (verifiable) yang berarti didasari oleh teori dan metode yang benar.
Secara garis besarnya, penelitian terdiri dari dua bidang di bawah ini: Penelitian dasar (basic research) yang tidak langsung memberika informasi siap pakai untuk memecahkan masalah. Tetapi ditujukan untuk pengembangan model dan teori yang sifatnya abstrak dan umum.
Penelitian terapan (applied research) dengan hasil kongkrit dan spesifik.
Secara terperinci jenis penelitian ilmiah akan diuraikan di bawah ini:
1. Pendekatan analisis terdiri dari:
a. Penelitian kuantitatif: analisis data numerical (angka) dengan logika statistik inferensial (menguji hipotesis) dan umumnya dengan sample besar.
b. Penelitian kualitatif: analisis terhadap hubungan antarfenomena dan tidak menguji hipotesis. Tetapi memberikan jawaban dengan berpikir formal dan argumentative dengan dukungan data kuantitatif dan umumnya sample kecil.
2. Kedalaman analisis terdiri dari:
a. Penelitian deskriptif: memaparkan fakta secara sistemik dan akurat dan data (angka) tidak diolah secara mendalam. Tetapi dilihat persentase dan kecenderungannya. Tidak menguji hipotesis dan tidak membuat prediksi atau mempelajari implikasi. Misalnya, penelitian survai dengan variabel sederhana dan sample besar.
b. Penelitian inferensial: menguji hipotesis, menarik kesimpulan berdasarkan data kuantitatif dengan mempertimbangkan peluang kesalahan dengan cara deduktif (mendaur ulang konsep atau teori) dan induktif (mengkaji ulang penelitian sebelumnya) yang relevan dengan topik penelitian.
3. Karakteristik masalah (kategori fungsional) terdiri dari:
a. Penelitian deskriptif: pelukisan secara sistematis, faktual dan akurat tentang fakta-fakta, sifat dan korelasi antarfenomena obyek yang diteliti. Data diperoleh melalui schedule quetionair atau interview guide. Berikut ini termasuk dalam penelitian deskriptif: metode survai (survey research); metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive research); metode studi kasus (case study research) dan metode komparatif (comparative research) ex post facto (variabel bebasnya tidak dapat dikontrol), yaitu sejenis penelitian deskriptif yang bertujuan mencari jawaban mendasar tentang sebab-akibat munculnya fenomena masa sekarang. Kalau fenomena masa lalu ia menjadi kajian penelitian sejarah, yaitu rekonstruksi masa lalu secara obyektif dan sistematis dengan mengumpulkan, mengevaluasi, menjelaskan dan mensintesiskan bukti untuk menegakkan fakta dan menarik kesimpulan secara tepat. Data berupa remain/relics dan dokumen. Yang termasuk penelitian sejarah antara lain: sejarah komparatif, yuridis/legal (hukum adapt), biografis dan bibliografis.
b. Penelitian perkembangan: longitudinal (obyek diamati terus-menerus) dan cross sectional (waktunya dibatasi).
c. Penelitian studi kasus dan penelitian lapangan (indepth study): suatu penyelidikan mendalam suatu unit sosial dengan variabel banyak dan sample kecil.
d. Penelitian korelasional: bisa berbentuk korelasi positif atau negatif.
e. Penelitian kausal komparatif: misalnya post facto. Artinya, data dikumpulkan setelah semua peristiwa yang diamati terjadi (berlawanan dengan penelitian eksperimental). Kemudian ditentukan variabel bebas, variabel terikat dan kausalitasnya.
f. Penelitian eksperimental murni: kontrol maksimal yang bertujuan untuk memaksimalkan variabel yang terlibat dalam hipotesis, meminimalisir variabel yang tidak dikehendaki dan error. Validitas internal yang merupakan perbedaan yang terjadi dalam obyek penelitian benar-benar disebabkan oleh perbedaan perlakuan yang merupakan kondisi esensial (sinequanon). Validitas eksternal untuk mengetahui seberapa representatif dan dapat digeneralisir pada obyek serupa yang lebih luas.
g. Penelitian eksperimental semu: melakukan kontrol parsial. Sebab tidak semua variabel dapat dimanipulasi dan dikendalikan.

III. Tinjauan Penelitian Kualitatif
A. Pengertian
Penelitian kualitatif merupakan pengembangan dan penyusunan teori dengan strategi induktif-empiris (a posteriori). Ini berbeda dengan dengan penelitian kuantitatif yang deduktif-logis (a priori).
B. Dasar Teoritis
Paling sedikit ada delapan aliran teori yang mendasari penelitian kualitatif antara lain sebagai berikut:
1. Etnografi berasal dari antropologi budaya yang meneliti bagaimana budaya sekelompok manusia dengan metode partisipan observer yang mengakui relativisme budaya (empati).
2. Fenomenologi dikembangkan oleh filsuf Jerman Edmund H Husserl (1859–1938) yang intinya meneliti penafsiran pengalaman indrawi. Konsekuensinya, tidak ada realitas yang obyektif.
3. Heuristis suatu bentuk fenomenologi yang meneliti makna, hakekat dan kualitas yang mengutamakan pengalaman pribadi peneliti. Ini dipengaruhi oleh psikologi humanistis.
4. Etnometodologi berbeda dengan heuristis yang mengutamakan pengalaman intens, etnometodologi ini lebih mengutamakan pengalaman sehari-hari yang lumrah. Ini dipengaruhi oleh sosiologi mikro yang dipelopori oleh Harold Garfinkel.
5. Interaksionisme simbolis tekanannya pada simbol dan proses penafsiran dalam inteaksi sebagai dasar untuk memahami prilaku manusia. Bermula dari psikologi sosial yang dipelopori oleh Herbert Mead dan Herbert Blumer.
6. Psikologi ekologi menurut teori ini individu dan lingkungannya saling tergantung dan mempengaruhi.
7. Perspektif sistem tekanannya pada satuan yang utuh dan lebih besar. Serta berbeda dari jumlah bagian-bagiannya.
8. Hermeneutis tekanannya pada interpretasi makna sesuai konteks dan tujuan semula. Terutama dalam teologi, filsafat dan sastra (Oetomo, 1995).

IV. Langkah-Langkah Pokok dalam Penelitian Ilmiah
A. Identifikasi Masalah
Masalah dapat berupa: kriteria ekstra ilmiah (pertimbangan) minat pribadi, kepentingan pemerintah, donator dan umum. Serta dapat juga berupa nilai dan ideologi bersama.
1. Latar Belakang Masalah: hal yang umum dikaitkan dengan topik penelitian (khusus). Atau das sollen (what should be) menjadi das sein (what is happening). Serta mengapa sesuatu itu dianggap masalah. Secara spesifik kriterianya: mencerminkan kebutuhan, tidak bersifat hipotetis (fakta), menyarankan adanya hipotesis yang berarti dapat diuji yang dikembangkan dari pernyataan masalah, relevan dan dapat dikelola.
2. Rumusan Masalah: berbentuk kalimat tanya (basic question) yang hendak dicari jawabannya dalam penelitian dengan ciri-ciri sebagai berikut: menunjukkan hubungan minimal dua variabel dan dapat diuji secara empirik. Artinya, data sebagai jawaban harus dapat diperoleh. Serta menghindari pertanyaan yang berkaitan dengan moral dan etika.
B. Menentukan Tujuan Penelitian
1. Mencari informasi sebagai rekomendasi pada pihak-pihak tertentu (sponsor) dalam rangka pemecahan masalah.
2. Memperjelas kebenaran suatu masalah yang menarik perhatian peneliti atau sponsor.
3. Memberi gambaran tentang hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kebijakan yang telah ditentukan (Suparmoko, 1977).
C. Landasan Teori dan Hipotesis
1. Pengenalan Teori
Kata “teori” berasal dari kata theoria (Yunani) yang berarti pandangan atau kontemplasi terhadap cosmos. Dengan demikian, berteori berarti melakukan kegiatan tertinggi manusia dalam rangka mengaktifkan logos (percikan Illahi). Dalam bahasa filsafat disebut mimesis, yaitu: menjadi manusia kontemplatif untuk meniru keabadian yang tercermin dalam struktur cosmos. Singkat kata, berfilsafat berarti mengembangkan ethos, yaitu: sikap teratur pada tatanan kosmis yang abadi (Magnis-Suseno, 1995).
Teori bisa dimaknai sebagai abstraksi intelektual yang memadukan pendekatan rasional (reasoning) dan empiris (fact) untuk menjelajah kebenaran ilmiah. Peranannya sangat signifikan dalam penelitian.
a. Teori koherensi (konsistensi) melalui penalaran deduktif. Misalnya, rasionalisme Perancis.
b. Teori korespondensi melalui penalaran induktif. Misalnya, empiris Inggris (Betrand Russel 1872-1970).
c. Teori pragmatis yang melihat sisi fungsional dalam kehidupan praktis. Misalnya pragmatis AS (Ch. Spierce 1839-1914, John Dewey 1859-1952, CH. Mead 1863-1931).

Lebih jauh dalam konteks variabel sosial, teori sosial dapat diterjemahkan sebagai berikut:
a. Rekayasa sosial: sebagai variabel independen yang mempunyai kekuatan konstitutif dalam transformasi sosial.
b. Legitimasi sosial: sebagai variabel dependen yang mempunyai kekuatan reflektif.
c. Kritik sosial dalam arti mencari jawaban atas pertanyaan yang menarik secara akademis dan penting secara politis. Misalnya, apakah imu sosial itu suatu sistem pengetahuan atau sekaligus sistem nilai (?) (Kleden, 1988).
2. Seputar Hipotesis
Perkembangan ilmu bergerak dari suatu hipotesis ke hipotesis lainnya yang akhirnya diterima atau ditolak (context of discovery). Seterusnya perbendaharaan teori yang telah disusun dalam bidang ilmu tertentu akhirnya dijadikan hipotesis baru (Noerhadi, 1984). Dengan kata lain, hipotesis merupakan proposisi yang sudah dirumuskan dan diterima sementara untuk diuji. Kalau jangkauannya cukup luas dan didukung oleh data empiris disebut dalil (scientific law).
Hipotesis adalah pernyataan tentatif yang berhubungan dengan permasalahan dalam rangka mencari pemecahannya. Dengan kata lain, jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian dengan ciri-ciri sebagai berikut: Pertama, berbentuk pernyataan (declarative statement). Kedua, berbentuk hubungan minimal antara dua variabel. Ketiga, dapat diuji (testable).
a. Hipotesis dua arah: semata-mata berbentuk pernyataan tentang adanya perbedaan atau hubungan (korelasi). Tetapi tidak disebutkan tingkat perbedaan atau korelasi positif/negatifnya. Contoh 1: Ada perbedaan tingkat intelektual mahasiswa PTN dengan mahasiswa PTS. Contoh 2: Ada hubungan antara tingkat intelektual mahasiswa dengan kualitas buku yang dibacanya.
b. Hipotesis satu arah: formulanya lebih spesifik. Artinya, disebutkan tinggi/rendahnya perbedaan atau korelasi positif/negatifnya. Contoh 1: Tingkat intelektual mahasiswa PTN lebih tinggi daripada mahasiswa PTS. Contoh 2: Tingginya tingkat intelektual mahasiswa berbanding lurus dengan baiknya mutu buku yang dibacanya (korelasi positif).
c. Hipotesis nol: dengan simbol Ho adalah hipotesis yang meniadakan (nullify) perbedaan atau hubungan (korelasi) antarvariabel. Contoh 1: Ho: x1 = x2 atau Ho: x1 – x2 = 0 (meniadakan perbedaan, dua variabel). Contoh 2: Ho; x1 = x2 = x3 = 0 (meniadakan perbedaan, lebih dari dua variabel). Contoh 3: Ho: γxy = 0 (meniadakan korelasi, dua variabel). Contoh 4: Ho: γxy1y2 = atau Ho: γyx1x2 = 0 (meniadakan korelasi, lebih dari dua variabel). Menerima atau menolak Ho mengandung dua resiko kesalahan (error) karena mustahil mencapai tingkat kepercayaan 100 % dalam data empiris. Pertama, error tingkat pertama adalah menolak Ho yang seharusnya diterima. Taraf signifikansi (α) dengan tingkat kepercayaan (1-α) 100 5. Contoh: α = 5 % maka tingkat kepercayaan adalah (1 – 0,05) 100 5 = 95 %. Kedua, error tingkat kedua adalah menerima Ho yang seharusnya ditolak. Taraf signifikansi (β) dengan power of test (1 – β) 100 %.
d. Hipotesis statistik: berbentuk simbol parameter Ha (besaran pada populasi) yang menerima atau menolak hipotesis nol. Biasanya disebut juga dengan hipotesis alternatif/kerja (penerjemahan penelitian secara operasional) yang terdiri dari: Pertama, perbedaan M (mean) dengan simbol parameternya x. Kedua, korelasi dengan simbol γ. Contoh 1: Ha: x1 # x2 atau Ha: x1 – x2 # 0 (perbedaan, dua arah, dua variabel). Contoh 2: Ha: x1 # x2 # x3 atau Ha: x1 – x2 # x2 – x3 # 0 (perbedaan, dua arah, lebih dari dua variabel). Contoh 3: Ha: γxy # 0 (korelasi, dua arah, dua variabel). Contoh 4: Ha: γxy1y2 # 0 atau Ha: γyx1x2 # 0 (korelasi, dua arah, lebih dari dua variabel). Contoh 5: Ha: x1 > x2 atau x1 – x2 > 0 (perbedaan, satu arah, dua variabel). Contoh 6: Ha: x1 > x2 > x3 atau x1 – x2 – x3 > 0 (perbedaan, satu arah, lebih dari dua variabel). Contoh 7: Ha: γxy > 0 atau Ha: γxy 0 atau γyx1x2 > 0 atau atau Ha: γxy1x2 < 0 atau Ha: γyx1x2 < 0 (korelasi positif atau negatif, satu arah, lebih dari dua variabel).
V. Topik Penelitian Ilmiah
Topik tidak lain fokus kegiatan penelitian. Yang penting jangan mengada-adakan masalah untuk dijadikan topik penelitian. Sebab itu mengindikasikan bahwa peneliti tidak memiliki sikap ilmiah (scientific attitude).
1. Ciri-ciri topik: urgen diteliti; memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat; aktual
2. Pertimbangan memilih topik: minat dan kemampuan peneliti; sumber referensi; sumber daya (dana).
3. Sumber topik: studi kepustakaan; observasi lapangan; informasi masyarakat; ide kreatif peneliti.

VI. Tahap-Tahap Penelitian Ilmiah
1. Perencananaan: penyusunan TOR (Term of Refernce) atau baby project proposal (usulan pokok-pokok penelitian).
2. Pengkajian secara teliti terhadap rencana penelitian dan penyusunan usulan proyek penelitian.
3. Sampling: pengambilan contoh.
4. Penyusunan daftar pertanyaan.
5. Kerja lapangan.
6. Editing: meneliti daftar pertanyaan yang telah diisi oleh responden dan coding: proses memindahkan jawaban ke dalam berbagai kelompok jawaban yang disusun dalam angka dan tabulasi.
7. Analisis dan laporan: penyajian tabel (frekuensi distribusi tabulasi silang) metode statistik dan interpretasi atas dasar teori yang diketahui (Suparmoko, 1997).

VII. Variabel dan Operasionalisasinya
Variabel berbeda dengan konstanta adalah sesuatu yang secara kuantitatif atau kualitatif dapat bervariasi. Misalnya, usia (kuantitatif) atau jenis kelamin (kualitatif).
1. Variabel bebas (independen variable): variabel yang dapat dimanipulasi dengan variasinya mempengaruhi variabel lain. Contoh: tayangan VCD BF (variabel bebas) meningkatkan agresivitas seksual remaja putra.
2. Variabel terikat (dependent variable): variabel penelitian yang diukur untuk mengetahui besarnya efek atau pengaruh variabel lain. Contoh: tingginya tingkat pendidikan cenderung diikuti sikap percaya diri (variabel terikat) yang tinggi pula.
3. Variabel kendali (control variable): variabel bebas yang efeknya terhadap variabel terikat dikendalikan oleh peneliti dengan cara menetralkan pengaruhnya. Contoh: PHK meningkatkan stress kejiwaan pada laki-laki usia produktif (variabel kontrol).
4. Variabel moderator/kategoris/level: variabel bebas bukan utama yang diamati untuk menentukan sejauh mana mempengaruhi hubungan antara variabel bebas utama dengan variabel terikat. Contoh: putus cinta mengurangi rasa percaya diri remaja putri (variabel moderator/kategoris/level) tetapi tidak pada remaja putra.
5. Variabel antara: variabel yang adanya hanya secara konseptual (hypothetical construct). Secara teoritis berpengaruh terhadap obyek yang diamati. Tetapi tidak dapat dilihat, diukur maupun dimanipulasi. Sehingga efeknya harus disimpulkan dari variabel bebas dan moderator. Contoh: pengaruh status sosial ekonomi (variabel antara) terhadap prestasi belajar mahasiswa.
6. Kovariabel: variabel bebas bukan moderator/kategoris/level tetapi kontinu yang berkorelasi dengan variabel terikat. Contoh: hasil test MPS mahasiswa yang rajin mengikuti kuliah lebih tinggi daripada mahasiswa yang sering bolos. Tingkat IQ (kovariabel)

VIII. Pengumpulan dan Pengolahan Data
Data dalam konteks penelitian adalah obyek epistemologi bukan fakta yang merupakan obyek ontologi, yang dapat dikumpulkan melalui tiga cara di bawah ini:
1. Wawancara yang mendalam dan terbuka.
2. Observasi langsung.
3. Penelahaan dokumen tertulis (Suyanto, 1995).
Dalam pengolahannya data harus memenuhi syarat dapat dibaca (readable) dan dapat ditafsirkan (interpretable). Tabulasi merupakan proses pembuatan tabel induk yang memuat susunan data penelitian berdasarkan klasifikasi yang sistematis sehingga mudah dianalisis. Antara lain melalui files data entry (computerize). Salah satunya dengan program SPSS (Statistical Package for Sosial Sciences).
Sebagai ilustrasi analisis data deskriptif: memberikan lukisan obyek penelitian dasar data variabel yang diperoleh dari kelompok obyek yang diteliti tidak dimaksudkan menguji hipotesis. BIasanya berupa frekuensi dan persentase, tabulasi silang, grafik dan chart (data kategorikal), mean dan varians (data nonkategorikal). Misalnya, frekuensi dan persentase berupa gambaran tentang distribusi obyek menurut kategori nilai variabel (jenis kelamin, asal kelahiran, kebiasan merokok dsb) (Azwar, 1999).

IX. Populasi dan Sample
Populasi (universe) adalah kelompok obyek yang diteliti dan dikenai generalisasi hasil penelitian atau keseluruhan unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Sementara sample adalah bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri populasi.
A. Syarat-Syarat Sample
1. Memberikan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi.
2. Memerlukan presisi (generalisasi hasil estimasi nilai sample/statistik pada estimasi nilai populasi/parameter) dengan penyimpangan baku (standar) dari perkiraan hasil penelitian. Dengan kata lain, menduga nilai populasi/parameter dengan nilai sample/statistik. Misalnya, prediksi M (Mean) uang saku mahasiswa Universitas X adalah Rp. 20.000. Yang diketahui hanyalah M sample (n) dengan presisi ± Rp. 250 yaitu: Rp. 20.250 – Rp. 20.750. Sedangkan M populasi (N) sebenarnya adalah Rp. 20.500.
3. Sederhana dan mudah dilaksanakan.
4. Memberikan keterangan sebanyak mungkin.
B. Penarikan Sample
Biasanya disebut sampling design atau sampling technique yaitu: proses pemilihan beberapa obyek (sample) dari keseluruhan obyek (populasi) yang akan diteliti.
1. Sample probobilitas (probobility sampling)
Setiap satuan elementer dalam populasi yang akan diteliti memiliki peluang yang sama dengan ukuran yang sudah ditetapkan sebagai sample.
a. Sample acak sederhana (simple random sampling): populasi homogen dan tidak terlalu besar, ada kerangka sampling (sampling frame) yaitu daftar lengkap unsur populasi, penarikan sample dengan cara undian atau tabel random, besar sample disarankan minimal 10 % dari keseluruhan populasi dgn rumus n = rm x 20 (ket: r = kategori nilai, m = jumlah variabel). Contoh: Tentukan besar sample dengan 2 variabel dan tiga kategori nilai! N = 32 x 20 = 180
b. Sample sistematis (systematic sampling): harus ada kerangka sampling, penarikan sample dengan cara unsur pertama saja yang dipilih secara acak, yang berikutnya berdasarkan interval sampling ratio secara sismatis. Contoh: Tentukan interval sampling sistematis dengan populasi 100 dan besar sample 10! N/n = 100/10 = 10
c. Sample acak berstrata (stratified random sampling): populasi heterogen (sebab presisi tercapai dalam keberagaman populasi) yang dibagi dalam kelas, kategori atau kelompok (strata) yang harus terwakili semua.
1. Sample strata proporsional (proportional stratified sampling): setelah besar sample ditentukan setiap strata diambil sample yang sebanding dengan besar strata populasi yang disebut SF (sampling fraction) dengan rumus n/N yang menunjukkan % setiap strata yang diambil. Contoh:

Fakultas N % N SF n % n
Hukum 10.000 0,40 0,1 1.000 0,40
Ekonomi 8.000 0,32 0,1 800 0,32
Isip 5.000 0,20 0,1 500 0,20
Teknik 2.000 0,08 0,1 200 0,08
Jumlah 25.000 1,00 2.500 1,00

Keterangan: besar sample (n) adalah 10 % x N = 10 % x 25.000 = 2.500, SF = n/N = 2.500/25.000 = 0,1
2. Sample disproporsional (disproportional stratified sampling): terkadang analisis statistik memerlukan jumlah sample yang sama per strata. Sebab dalam strata proporsional sample yang diperoleh terlalu sedikit dan menyebabkan terjadinya sampling error. Caranya, sample dibagi rata per strata setelah besarnya ditentukan. Untuk mengatasinya SF berbeda dalam setiap strata. Data per strata dikalikan bobot (1/SF). Sementara bobot yang disesuaikan adalah setiap bobot per bobot terendah. Contoh:

Fakultas N % N SF n Bobot Bobot yang disesuaikan
Hukum 10.000 0,40 0,06 625 16,66 5,17
Ekonomi 8.000 0,32 0,07 625 14,28 4,43
Isip 5.000 0,20 0,12 625 8,33 2,58
Teknik 2.000 0,08 0,31 625 3,22 1,00
Jumlah 25.000 1,00 2.500

Keterangan: besar sample (n) adalah (10 % x N)/4 = (10 % x 25.000)/4 = 625, SF = n/N (Hukum: 625/10.000 = 0,06 dst), bobot = 1/SF (Hukum: 1/0,06 = 16,66 dst), bobot yang disesuaikan (Hukum: 16,66/3,22 = 5,17 dst).
d. Sample gugus (cluster sampling): tidak ada kerangka sampling, populasinya heterogen dan tersebar secara geografis. Yang diambil acak hanya gugusnya. Bukan individu yang diteliti. Secara statistic sulit menghitung standard error-nya. Misalnya, Kelurahan X terdiri dari 20 RW. Dipilih sample 2 RW. Kemudian seluruh RT dalam 2 RW tersebut diteliti. Ini disebut single stage. Tetapi bila dalam 1 RW terdiri dari 10 RT dan yang diteliti hanya 1 RT per RW disebut multistage.
2. Sample Non Probobilitas (nonprobobility sampling)
Setiap satuan elementer dalam populasi yang akan diteliti tidak memiliki peluang yang sama sebagai sample.
a. Haphzard/convenience/accidental sampling: penarikan sample berdasarkan unsur kebetulan.
b. Availability sampling: penarikan sample berdasarkan yang tersedia saja. Dalam hal ini peneliti tidak punya alternatif lain. Misalnya, penelitian tentang korban HIV/AIDS.
c. Purposive sampling: penarikan sample berdasarkan penilaian subyektif peneliti yang teridentifikasi secara tipikal dalam populasinya. Serta representatif secara statistik, tingkat signifikansi, hipotesis dll.
d. Quota sampling: penarikan sample berdasarkan jumlah tertentu per strata. Mirip stratified sampling, tetapi sample yang diambil tidak secara acak. Sehingga tidak dapat digeneralisasi secara valid pada populasinya.
C. Faktor-Faktor yang Menentukan Ukuran Sample
Untuk menentukan berapa besarnya ukuran sample tergantung dari beberapa hal di bawah ini:
1. Variasi dalam populasi yang akan dijadikan sample. Biasanya yang dipakai proporsi 50 % ; 50 % dengan asumsi itu adalah angka maksimal populasi heterogen dan tidak mengalami kekeliruan apabila ternyata populasinya homogen.
2. Tingkat kesalahan (sampling error) yang dapat ditoleransi atau keakuratan taksiran yang diinginkan.
3. Tingkat kepercayaan. Sering dipakai 68 % (1,00), 90 % (1,65), 95 % (1,96), 99 % (2,58) dan 100 % (3,00). Artinya, 68 %, 90 %, 95 %, 99 % dan 100 % diyakini bahwa komposisi sample bisa diulang dan tetap identik jika diambil sample lain dari populasi yang sama (Eriyanto, 1999).
4. Derajad keseragaman (degree of homogeneity). Artinya, sample mencerminkan completely homogenous karena informasi yang diperoleh dari sebagian populasi. Ini memberi beberapa keuntungan: cepat, murah, informasi lebih lengkap, mencakup banyak hal lebih teliti (sample kecil) dan memungkinkan studi yang bervariasi. Sebaliknya sensus mencerminkan completely heterogeous karena informasi diperoleh dari seluruh populasi (Suparmoko, 1977).
5. Presisi yang dikehendaki dalam penelitian. Artinya, makin besar ukuran sample makin baik (true value).
6. Rencana analisa data (statistik) dan fasilitas yang tersedia.
7. Tenaga, biaya dan waktu yang dimiliki oleh peneliti (Singarimbun, 1987)
D. Rumus Ukuran Sample
Rumus yang dipakai untuk menentukan ukuran sample tergantung dari informasi yang diketahui dilapangan. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa rumus yang bisa digunakan:
1. n = NZ2S n = NZ2 p (1 – p) S = n∑xi2 – (∑xi)2 V(x) = Τ = (N – n)S
Zd2 + Z2S Nd2 + Z2 p (1 – p) n(n – 1) Nn

Untuk sample kecil (N – n) tidak di perlukan, sehingga rumusnya berubah jadi
N
V(x) = Τ = S/n
Keterangan: n = sample, N = populasi, Z = tingkat kepercayaan, S = varians sample, d = derajat penyimpangan, p = proporsi, V(x) = Τ = varians rata-rata sample, n/N ≥ 5 % (sample besar) dan n/N ≤ 5 % (sample kecil).
Contoh 1:
Suatu desa terdiri dari 250 rumah tangga, tingkat kepercayaan 90 %, varians 8 dan penyimpangan 1 anggota keluarga per rumah tangga. Tentukan besar sample!
n = NZ2S = 250 (1,65)2 8 = 20,01
Zd2 + Z2S 250 12 + (1,65)2 8

Contoh 2:
Masih berkaitan dengan contoh !, jika proporsi pemilik radio 40 %, penyimpangan 10 % dan tingkat kepercayaan naik 100 %. Tentukan besar sample!
n = NZ2 p (1 – p) = 250 (3,00)2 0,40 (1 – 0,40) = 115,87
Nd2 + Z2 p (1 – p) 250 (0,10)2 + (3,00)2 0,40 (1 – 0,40)

Contoh 3:
Masih berkaitan dengan contoh 2, jika nilai proporsi pemilik radio tidak diketahui. Tentukan besar sample!

n = NZ2 p (1 – p) = 250 (3,00)2 0,5 (1 – 0,50) = 118,42
Nd2 + Z2 p (1 – p) 250 (0,10)2 + (3,00)2 0,50 (1 – 0,50)

Catatan: jika p tidak diketahui maka nilai maksimal untuk p (1 – p) = 0,50. Ingat, dipakai proporsi 50 % ; 50 % dengan asumsi itu adalah angka maksimal populasi heterogen dan tidak mengalami kekeliruan apabila ternyata populasinya homogen.
Contoh 4:
Di Universitas X terdapat 6 mahasiswa dengan uang saku sebagai berikut: A = Rp 10.000, B = Rp 6.000, C = Rp 8.000, D = Rp 12.000, E = Rp 5.000 dan F = Rp 7.000. Tentukan varians sample!
S = n∑xi2 – (∑xi)2 = 6∑102 + 62 + 82 + 122 + 52 + 72 – (10 + 6 + 8 +12 + 5 +7)2 =
n(n – 1) 6(6 – 1)

6,8 x Rp 1.000 = Rp. 6.800

Contoh 5:
Masih berkaitan dengan contoh 4, jika populasinya 15. Tentukan varians rata-rata sample!
V(x) = Τ = (N – n)S = (15 – 6)6,8 = 0,68 x Rp 1.000 = Rp 680
Nn 15 6

Catatan: n/N = 6/15 = 0,4 ≥ 0,05 (sample besar)
2. n = (pq)Z2/E2 SE = √p (1 – p)/n (variabel non rasio) SE = SD/√n (variabel rasio) E = SE Z
Keterangan: n = sample, pq = varians proporsi populasi, E = sampling error, Z = tingkat kepercayaan, SE = standard error, SD = standard deviation, p = pro dan (1 – p) = kontra.
SE (standard error) adalah deviasi standar dari distribusi sample yang secara teoritis diasumsikan sama dengan deviasi standar populasinya. Makin besar sample makin kecil SE. Sebab SE mengacu pada kepastian (exactness). Sementara interval kepercayaan (confidence interval) mengacu pada ketepatan (correctness). Sebab ia merupakan karakteristik populasi yang melekat pada sample yang diteliti. Artinya, diyakini jika diambil sample lain dari populasi yang sama dengan besar yang sama maka hasilnya relatif sama dengan sample sebelumnya.
E (sampling error) adalah tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi pada penyimpangan karakteristik sample (statistik) terhadap karakteristik populasi (parameter).

SE (standard error) SD (standard deviation) Z (tingkat kepercayaan) pq (varians proporsi populasi)
± 1,00 34 % 68 % 32 %
± 1,65 90 % 10 %
± 1,96 95 % 5 %
± 2,00 34 % + 13,6 %
± 2,58 99 % 1 %
± 3,00 47,6 % + 2 % 100 % 0,01 %

Contoh 1:
Tentukan besar sample yang harus diambil dengan tingkat kepercayaan 95 %, varians proporsi populasi 25 % dan sampling error 5 %!
n = (pq)Z2/E2 = (0,25)1,962/0,052 = 384,16
Contoh 2:
Tentukan standard error mean populasi usia 35 tahun dengan sample 200 orang dan deviasi standar 10!
SE = SD/√n (variabel rasio) = 10/√200 = 0,70
Contoh 3:
Masih berkaitan dengan contoh 2, jika samplenya diperbesar menjadi 1000 orang. Tentukan standard error!
SE = SD/√n = 10/√1000 = 0,31
Catatan: terlihat interval kepercayaan pada n = 200 adalah 35 ± 0,7 = 34,3 atau 35,7. Ketika n = 1000 adalah 35 ± 0,31 = 34,69 atau 35,31. Ini lebih mendekati mean populasi 35 tahun.
Contoh 4:
Tentukan standar error opini publik tentang seks bebas dengan sample 600 orang dan 55 % setuju!
SE = √p (1 – p)/n (variabel non rasio) = √0,55 (1 – 0,55)/600 = 0,02
Catatan: SE = 0,02 termasuk dalam tingkat kepercayaan 68% (1,00). Sebab 0,02 mendekati 1,00. Artinya, interval kepercayaan yang pro seks bebas adalah 0,55 ± 0,22 = 0,53 atau 0,57. Ini juga bisa dibaca 34 % pro seks bebas diantara nilai parameter 0,53 dan 0,55 (1 SE di bawah parameter). Serta 0,55 dan 0,57 (1 SE di atas parameter). Tetapi 32 % nilai parameter yang benar berada di luar ± 0,02 SE nilai statistik yaitu: 16 % di bawah 1 SE dan 16 % di atas 1 SE
Contoh 5:
Masih berkaitan dengan contoh 4, jika tingkat kepercayaan dinaikkan menjadi 95 %. Tentukan sampling error!
E = SE Z = 0,02 1,96 = 0,03 atau 3 %

Catatan: Interval kepercayaan naik dari 2 % menjadi 3 %. Hasilnya yang setuju seks bebas adalah 0,55 ± 0,03 = 0,52 atau 0,58. Terlihat makin tinggi tingkat kepercayaan makin tepat (correctness). Tetapi makin tidak pasti (exactness). Sebab interval kepercayaan makin melebar (Eriyanto, 1999).
3. n = (Z SD)2/d2 n = N/Nd2 + 1
Keterangan: n = sample, N = populasi, Z = tingkat kepercayaan, d = nilai presisi dan SD = standard deviation (Rakhmat, 1995).
Contoh 1:
Presisi mean intelektual mahasiswa Universitas X 5, tingkat kepercayaan 99 % dan deviasi standar 14. Tentukan besar sample!
n = (Z SD)2/d2 = (2,58 14)2/52 = 52,18
Contoh 2:
Diantara mahasiswa Universitas X 3000 merokok dengan presisi 5 % dan tingkat kepercayaan 95 %. Tentukan besar sample!
n = N/Nd2 + 1 = 3000/3000 0,052 + 1 = 352,94

X. Laporan Penelitian
A. Gambaran Umum Laporan Penelitian
1. Bagian Awal
Terdiri dari: judul, halaman pengesahan, kata pengantar, daftar isi, daftar table, daftar gambar dan abstraksi (tujuan atau target penelitian, metode yang digunakan, peserta penelitian, hasil dan kesimpulan pokok penelitian).
2. Bagian Isi
Terdiri dari: pendahuluan (latar belakang masalah, tujuan penelitian dan definisi variabel), landasan teori (telaah pustaka dan hipotesis), metode penelitian (variabel dan operasionalisasinya, obyek: unsur-unsur populasi (unit of analysis) sebagai unbiased sample, alat pengumpulan data, prosedur dan cara analisis data), hasil analisis (deskripsi data dan pengujian hipotesis), pembahasan dan kesimpulan (rekomendasi).
3. Bagian Akhir
Terdiri dari: daftar pustaka dan lampiran.
B. Struktur Laporan Penelitian
Menurut APA (American Psychological Association’s) Publication Manual struktur laporan penelitian sebagai berikut:
Judul (title), abstraksi (abstract), introduksi (introduction), metode (method), obyek (object), alat dan kelengkapan (apparatus) dan prosedur (procedures), hasil (results), diskusi (discussion) dan referensi (reference) (Singarimbun, 1987).
Secara lebih detil laporan penelitian sebagai berikut:
1. Judul: ringkas dan menggambarkan isi.
2. Kata Pengantar: tujuan penelitian, masalah yang dihadapi selama proses penelitian dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang berkontribusi terhadap penelitian (± satu halaman).
3. Daftar Isi: tabel, diagram (peta/gambar dibuat daftar isi sendiri)
4. Pendahuluan: mengantarkan pembaca ke rumusan masalah, ruang lingkup dan kegunaan teoritis/praktis dari laporan dan metodologi. Ringkasnya, mencakup latar belakang penelitian, tujuan penelitian, metode penelitian, pemprosesan data/analisis data dan prosedur statistik yang ditempuh.
5. Tubuh Laporan: berisi bab demi bab yang merupakan bagian pokok dari laporan penelitian. Tiap bab membahas satu masalah pokok yang merupakan rangkaian yang bulat dengan tema pokok penelitian.
6. Kesimpulan: membicarakan semua bab yang telah dibahas. Juga implikasi dari penelitian. Serta saran untuk penelitian lanjutan.
7. Lampiran: hal-hal yang kurang praktis atau mengganggu bila dimasukkan ke dalam teks. Misalnya, surat izin, formulir dsb.
8. Daftar Pustaka: hindari kecenderungan terjadinya kuasi ilmiah (Singarimbun, 1987).

Bibliografi
Azwar, Saifuddin. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Brower, MAW. Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman. Bandung: Alumni, 1986.

Eriyanto, Metodologi Polling: Memberdayakan Suara Rakyat. Bandung: PT. Remadja Rosdakarya, 1990.

Kerlinger, Fred N. Azaz-Azaz Penelitian Behavioural (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990.

Kleden, Ignas. Sikap Ilmiah dan Kritik Kerbudayaan. Jakarta: LP3ES, 1988.

Magnis-Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Nazir, Mohammad. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988.

Noerhadi, Toety Herati. “Analisa dan Pemahaman dalam Metodologi Ilmu-Ilmu Sosial” dalam M. Amien Rais (ed.). Krisis Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pembangunan Dunia Ketiga. Yogyakarta: PLP2M, 1984.

Oetomo, Dede. “Penelitian Kualitatif” dalam Bagong Suyanto (ed.). Metode Penelitian Sosial. Surabaya: Airlangga University Press, 1995.

Rakhmat, Jalaluddin. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remadja Rosdakarya, 1995.

Singarimbun, Masri (ed.). Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES, 1987.

Suparmoko, M. Metode Penelitian Praktis Untuk Ilmu-Ilmu Sosial dan Ekonomi. Yogyakarta: BPFE UGM, 1997.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: